Sunday, December 22, 2013

Petak Umpet

"Aku menang, kamu jaga. Itung sampe 20 ya," kataku.
"Aku pasti bisa nemuin kamu," katamu kemudian mulai menghitung.
Hampir 15 tahun yang lalu kita bermain petak umpet untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya keluargaku membawaku pergi dari dirimu, membuatku jauh dari dirimu. Waktu berlalu dengan cepat, hingga akhirnya aku bertemu denganmu dan menyadari aku sudah terlalu lama berpisah darimu.
Lima tahun lalu secara tidak sengaja aku kembali bertemu denganmu tanpa aku tahu kamu adalah sahabat kecilku, tanpa kamu tahu aku adalah sahabat kecilmu. Aku harus beradaptasi lagi dengamu. Tidak seperti dulu saat kita masih kecil, lahir dan tumbuh di kompleks perumahan yang sama membuatku lebih mudah mengenalmu, lebih mudah mengertimu. Anak-anak lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Mereka masih terlalu polos untuk merasa gengsi. Dunia mereka adalah berteman. Mungkin itu yang membuatmu bisa tetap bermain dengan segala keegoisanku, tidak seperti sekarang.
Akhirnya aku punya waktu untuk berkunjung ke rumah sahabat kecilku, ke rumahmu. Aku masih ingat rumahmu. Aku masih ingat jalan-jalan kecil yang harus aku tempuh menuju rumahmu. Aku masih ingat letak taman yang kini beralih fungsi menjadi perumahan-perumahan. Aku masih ingat ayunan bambu di depan rumahmu. Ada pagar besi berwarna putih di depan rumahmu. Kini pagar itu tetap berwarna putih, catnya masih baru. Mungkin kelurgamu tetap mengecatnya supaya terlihat lebih indah. Di samping rumahmu ada rumahku dulu. Kini rumah itu sudah memiliki penghuni baru. Pasangan muda rupanya. Mereka sudah menanamkan rumput hijau di halaman depan rumah dan menambahkan garasi di samping rumah. Rumah yang dulu sempat aku tempati.
Kemudian kamu keluar dari rumah milik teman kecilku itu. Kamu terkejut mendapatiku duduk dengan santainya di ayunanmu. Tahukah kamu, aku pun sama terkejutnya denganmu. Aku tidak menyangka kamu adalah sahabat kecilku. Suasana tidak menyenangkan itu berakhir cepat. Untunglah ibumu keluar dan mengenaliku. Aku masih ingat padanya. Ibu terbaik yang pernah ada, terbaik setelah bundaku. Kerikuhanku padamu berakhir tawa saat kita saling mengenali satu sama lain lagi. Aku kembali dekat denganmu.
Fisikmu berubah dengan cepat, membuatku tidak bisa mengenalimu di pertemuan pertama setelah sekian lama. Lebih dewasa kataku, tidak ada lagi baju monyet atau celana pendek ditemani sapu tangan untuk mengelap ingus. Kamu rapi dan wangi. Tidak ada perubahan pada sikapmu sewaktu pertama kali bertemu dan berkenalan kembali denganku, tetap hangat. Ramah dan murah senyum, walaupun kamu tetap menjaga jarak dengan orang yang baru kamu kenal.
Waktu juga merubah fisikku, lebih berantakan katamu. Tidak ada rok mini dan kaos lucu yang kupakai. Kini aku identik dengan kaos oblong, jeans sobek di lutut, jaket dan topi. Jauh dari kesan gadis kecil yang lucu. Namun waktu ternyata tidak mampu merubah watakku, membuatmu mungkin bertanya-tanya makhluk apa yang membuatku masih tetap hidup dengan segala keegoisanku yang katamu tumbuh dari masa kecil kita. Aku lebih keras kepala dari pada aku yang dulu. Sore itu kita habiskan waktu untuk mengenang masa lalu kita. Sejak hari itu dua sahabat lama kembali bertemu dan menjalin cerita lagi.
Dua tahun yang lalu, aku merasa ada yang lain denganmu. Sifatmu padaku, perhatianmu padaku lebih dari seorang teman. Aku merasa terkadang kau terlalu bersikap manis padaku. Semua senyum, candaan bahkan ucapan konyol selamat tidur yang pernah kau ucapkan padaku. Semua itu kau lakukan hanya untukku, untuk aku saja. Kamu mulai nyaman bercerita lebih banyak tentang rencana hidupmu, tentang impianmu, tentang ketakutanmu, tentang masalahmu padaku dan hanya padaku. Aku sudah tahu sedikit banyak tentang itu, tetapi kau menceritakannya seolah membuka selembar kertas dihadapanku dan berkata, “inilah aku.” Kita mulai menyendiri, hanya berdua, tidak ada tiga, empat atau lima. Hanya ada kita, aku dan kamu dengan semua cerita, harapan, impian dan masalah, baik dariku ataupun darimu.
Kemudian, aku merasa ada yang berbeda dari caraku melihatmu. Aku merasa mulai menyukaimu, bukan sebagai teman. Lebih dari pada itu. Secara tak sadar, aku mulai mengejarmu. Tak rela membagimu dengan yang lain. Aku mulai memproteksi dirimu dari yang lain. Aku menampakkan rasa cemburu. Kamu menyadari ada yang berbeda dariku. Kamu tetap bergeming seakan tidak pernah rasa yang lain diantara kita. Ketika aku mengungkapkan keganjilan rasaku, kamu juga tetap diam. “Biarkan mengalir. Rasa itu akan berubah, semakin dalam atau semakin hilang,” katamu. Semakin aku mempertanyakannya padamu, aku merasa semakin tersakiti oleh perasaan itu.  

Kini aku mulai lelah mencari. Aku berhenti. Kini giliranmu. Hitunglah sebanyak waktu yang kamu mau, lalu carilah aku. Aku tahu kamu bisa menemukan aku, seperti dulu kamu selalu bisa menemukanku. Aku akan bersembunyi, melihatmu dari jauh. Giliranku menunggumu, menemukanku dan membawaku keluar dari persembunyian dan memulai babak baru.


Yogyakarta, 22 Desember 2013

Monday, November 25, 2013

Hoe gaat het met u, Moeder, Vader?

"Udah gak jaman yang muda yang menyambangi, sekarang jamannya yang punya waktu yang menyambangi."

Saya agak sedikit terkejut dengan satu quote dari teman saya ini. Memang benar juga sekarang jamannya yang punya waktu yang datang, yang punya waktu yang bertamu. Namun, jika ini dikaitkan dengan mendatangi rumah orang tua setelah sekian lama tidak kembali ke tempat dimana dia tumbuh. Masih pantaskah kalimat "yang punya waktu yang datang" diucapkan? 

Saya juga bekerja dan ada kalanya saya sibuk. Bahkan ketika saya sibuk saya sangat tidak ingin diganggu bahkan oleh orang tua saya sendiri. Tetapi saya juga manusia, saya masih butuh kasih sayang dari orang tua saya, walaupun saya sudah menginjak usia dewasa saat ini. Saya masih tetap anak mamah dan bapa saya. 

Mungkin kali ini saya setuju dengan quote teman saya yang lain " Saya bekerja untuk hidup, saya tidak hidup untuk bekerja." Saya memang ingin mencapai banyak hal dalam hidup saya. Saya ingin punya rumah sendiri, saya ingin punya mobil pribadi, saya ingin punya usaha sendiri juga, dan semua yang saya ingin itu tentu butuh modal. Sebut saja frontalnya "butuh duit". Money can do lot but it's not everything for me.

Kadang saya juga merasa, ada kalanya saya yang 'dicuekin' orang tua saya. Tetapi akhir-akhir ini saya juga sadar, mereka juga punya kesibukan, dan yang lebih parahnya kadang mereka merasa saya yang sibuk dan takut mengganggu bila saya sedang sibuk. Mungkin sudah saatnya saya yang mencoba mengerti mereka. Bukan lagi mereka yang harus mengerti saya, tetapi saya yang harus mengerti mereka.


Jadi, sudah sempat pulang kah atau sekedar memberi kabar orang tua bahwa "saya baik-baik saja" dan menanyakan kabar mereka yang menantimu di rumah? Ma, Pa, het gaat goed met mij.


Pejaten Village, Jakarta, 20 Nopember 2013


Tidak Malam Ini

Aku duduk lagi di pojok ruang tunggu itu. Aku malas menanti keretaku dari dalam peron, aku memilih duduk di ruang tunggu luar, di satu sudut stasiun itu. Tidak ada cinta. Tapi cinta pernah duduk di sampingku. Aku pernah menyandarkan kepala kantukku padanya karena menunggu kereta paling malam. Tidak malam ini. Malam ini tidak ada cinta.

Aku duduk sendirian. Satu tas punggung dan satu tas berisi novel bersandar di kursi sebelahku. Aku menunggu kereta sambil membaca, mengamati orang-orang disekelilingku lalu lalang dengan barang-barangnya kemudian membaca lagi. Tak ada obrolan kali ini. Tak ada cinta maka tak ada obrolan.

Lima belas menit sebelum keberangkatan. Aku masuk ke peron menunggu kereta. Aku menutup novel yang tengah ku baca, memasukkannya ke dalam tas jinjingku. Menyiapkan tiket, dan kartu pengenalku. Aku berdiri melihat sekilas tempat yang tadi aku duduki. Aku memasuki peron. Tidak ada kecupan dan lambaian. Tidak ada cinta yang mengantarku malam ini.

Keretaku berjalan pelan meninggalkan stasiun. Semakin lama semakin cepat. Lalu keretaku meninggalkan kotaku. Tidak juga ada satu pesan pun yang kuterima dari cinta. Aku melihat sekelilingku. Satu keluarga bahagia dengan 3 gadis kecilnya. Aku mengamati sekelilingku, kemudian aku membaca novelku. Masih saja tak satu pun pesan kuterima. Aku melanjutkan membaca. Hingga lelah lalu tidur di kereta. Tidak ada cinta dikereta itu. Tidak ada cinta untukku.


Ruang Tunggu Stasiun Yogyakarta,  15 Nopember 2013,  22.45

Saat Kamu Menangis

Senja sore itu begitu indah. Aku selalu menyukai senja, walaupun tak pernah ku pungkiri indah senja itu tak sebanding dengan suatu magis yang ada pada dirimu. Aku bisa mengalihkan perhatianku pada raja siang yang hendak tenggelam itu hanya untuk melihatmu. Entahlah saat itu naluri perempuanku berkata aku tak akan lagi sama melihatmu. Itulah mengapa aku melihatmu begitu mendetail. Beberapa rambut tipis yang tumbuh di pipi, kumis yang mulai tumbuh karna mungkin belum sempat kau cukur, dan potongan rambutmu yang entah mengapa kurasa kurang cocok untukmu. Aku memandangmu dalam diam, entah kau menyadarinya atau tidak. Kamu masih asyik  melihat matahari tertelan luasnya laut tepat di garis horizon.
“Bahkan matahari yang segitu  besarnya bisa terbenam,” ucapmu memecah keheningan.
“Hah?” aku tak mengerti apa yang kau maksudkan.
“Udah sore, yuk pulang.” Ajakmu. Sepanjang perjalanan aku tidak membahas kata-katamu tadi. Tak ada yang bersuara. Nampaknya kendaraan bermotor yang lalu lalang sudah cukup untuk meramaikan jalan, tak perlu ada kata-kata tambahan dariku ataupun darimu untuk meramaikan jalan.
Naluri perempuanku makin gelisah. Ada yang akan terjadi tapi aku tak tahu apa. Aku makin gelisah. Aku letakkan telingaku di punggungmu mencoba mencari jawaban dari detak jantungmu. Cepat, tidak beraturan. Tanganku yang semula diam di kanan dan kiri pinggangmu kini merambah hingga ke perutmu. Aku memelukmu. Entah siapa yang mengizinkan aku melakukan ini, hanya saja naluri perempuanku terlalu berkuasa pada saat itu. Aku tahu kau merasakannya, aku tahu degub jantungmu makin cepat. Aku hanya tak mau kehilanganmu. Tidak sedetik pun.
Aku memelukmu selama perjalanan pulang. Tak sekalipun aku melepaskan pendengaranku dari degub jantungmu. Aku mencoba menyamakan degub jantungmu dan degub jantungku bahkan hingga kamu mematikan mesin motormu di depan rumahku.
“Aku pulang. Ini terakhir kali kita jalan berdua. Mulai sekarang aku harus tahu diri kalau ada orang lain yang deketin kamu. Aku harap kamu juga begitu.” Kamu menyalakan kembali mesin motormu dan pergi. Aku mendengar suaramu bergetar. Aku tak mendengar sepatah kata pun keluar dari mulutku sampai kau menghilang dari pandanganku. Aku hancur.
Aku hanya merasakan pedih di mataku. Aku hampir menangis. Aku segera menarik nafas panjang, aku tak mau menangis di sini. Tidak. Setidaknya aku harus berada di tempat yang menurutku aman untuk menangis.
Sampai di kamarku aku melihat sekelilingku. Pandanganku terhenti di sebuah bingkai foto. Dua orang tersenyum dalam foto itu. Foto yang diambil karena si pemotret salah mengira tentang aku dan kamu. Saat itu aku ingat, aku masih bersahabat denganmu. Aku mengambil foto itu, melihatnya dan membawanya dalam mimpiku. Aku menangis dalam tidurku.
Esoknya aku terbangun dengan mata sembab. Aku tak sadar menangis semalaman. Untunglah mataku bisa diajak berkompromi. Mata sembabku tak akan bertahan lama. Aku kembali menatap dua orang di bingkai itu. Akal sehatku mulai berkuasa. Dia memikirkan cara agar aku tak lagi melihat foto itu. Sisi perempuanku ikut andil. Aku hanya membalik bingkai itu tak lagi memanjangnya. Aku hanya tak ingin menambah luka.
“Aku masih punya banyak tujuan yang harus aku dapat. Aku punya banyak jadwal kegiatan. Aku terlalu berharga untuk menangisinya.” Aku mengisi hariku dengan kata-kata itu. Aku terus berlari dengan rutinitasku hanya untuk mengalihkan pikiranku. Aku tidur tanpa memandang lagi senyuman anehmu di foto itu. Foto itu tetap terbalik tak tersentuh. Hingga akhirnya satu pesan darimu untuk mengajak bertemu.
“Tidak, aku harus tahu diri. Aku bukan lagi orang terdekatnya. Aku bukan lagi orang yang bisa memeluknya. Aku butuh waktu untuk bisa bertemu lagi dengannya.” pikirku.
Pesan itu terbengkalai beberapa hari. Hingga akhirnya kamu menelepon. Sisi perempuanku sudah terlalu haus akan suaramu. Aku menjawab teleponmu.
“Sayang…” katamu.
Sayang? Satu kata aneh yang muncul darimu setelah dia memutuskan untuk meninggalkan aku. Kata sayang seharusnya tidak lagi muncul di percakapan itu. Namun aku tetap diam. Aku hanya ingin mendengarmu.
“Ya, ada apa?” tanyaku.
“Kamu beberapa hari ini kemana Sayang? Aku khawatir. Kamu gak kenapa-kenapa kan? Gak sakit kan Sayang?” tanyamu.
“Aku baik-baik aja. Agak sibuk akhir-akhir ini. Gimana harimu?” jawabku. Aku senang kau mengkhawatirkan aku. Firasat perempuanku benar, kamu tetap memikirkanku. Aku diam mendengarkan ceritamu. Duniaku seakan berjungkir balik akhir-akhir ini. Kamu yang tiba-tiba meninggalkanku dan kemudian datang lagi seolah-olah tidak pernah ada kejadian mellow dramatis itu.
“Sayang kamu masih di sana?” Tanyamu ketika menyadari aku diam selama kau bercerita.
“Iya aku masih di sini,” Jawabku pelan. Kamu mulai menyadari aku masih memikirkan hal yang telah lalu itu.
“Kamu masih mikir yang kemarin ya?” tanyamu.
“Iya. Apa maksudnya semuanya? Kenapa kamu bisa bilang begitu? Trus kenapa sekarang tiba-tiba datang lagi?” tuntutku. Kamu diam, mengatur nafas. Jantungmu berdegub semakin cepat, eolah-olah aku bisa mendengar degub jantungmu yang tak beraturan. Aku memang bisa mendengarnya dari sini. Sisi perempuanku yang mendengar gedub jantungmu.
“Aku gak bisa. Ternyata aku gak bisa nahan diriku untuk gak deket kamu. Aku gak nyaman,” katamu setelah diam beberapa saat. “Maafin aku. Aku salah, aku cuma mikirin kamu, gimana kamu nantinya kalau sama aku. Aku takut kamu gak bahagia,” suaramu makin serak. Aku sempat mendengar satu isak tangimu.
“Schat, are you crying?” tanyaku mulai khawatir. Amarahku reda seketika. Aku lebih mengkhawatirkan tangismu. Belum pernah sebelumnya aku mendengar tangis seorang laki-laki dewasa. Di ujung sana kau berusaha menenangkan dirimu dari tangismu. “Schat…” aku bingung harus berucap apa. Aku tak pernah bisa meredakan tangis seseorang.
Hening, sampai akhirnya kau bisa menguasai dirimu. “I’m sorry Darl. Aku gak akan ulangin lagi. Aku gak bisa kehilangan kamu, Aku sayang kamu” katamu.
“Ik heb jou lief, Schat,” balasku. Jawaban yang cukup mengejutkan separuh diriku.
Kamu memang berbeda. Jika ada laki-laki yang menangis depanku, mungkin aku akan langsung meninggalkannya. Tapi tidak denganmu. Aku masih terlalu bersabar untukmu. Mungkin karena aku tak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Tidak walau sedetikpun. Kau memang laki-laki hebat. Kamu membuatku lebih toleran padamu daripada laki-laki manapun yang berbuat kesalahan.
Aku hanya ingin memelukmu saat itu. Meredakan tangismu, menenangkan hatiku. “Schat aku cuma mau kamu. Tolong jangan fikirkan apa pun yang memberatkanmu. Aku tak pernah ingin jadi bebanmu. Aku hanya ingin menjadi teman hidupmu. Akan selalu ada kita diantara hidupku dan hidupmu.”

“Kok diem lagi?” tanyamu. Aku tak pernah bisa mengatakannya. Aku hanya ingin kamu mengerti. Tidak sekarang, belum saatnya.

Yogyakarta,  November 2013

Friday, October 25, 2013

Catatan Kecil (satu)

Saya tadi sempat mampir sebentar di toko buku. Sebenarnya toko buku adalah godaan terbesar saya dalam memegang uang, karena saya suka membaca novel. Hanya saja entah mengapa saya sedang malas untuk membaca novel-novel drama seperti metropop. Jujur novel itu kadang (atau bahkan selalu) sukses membuat saya galau dan mengingat-ingat lagi rasa yang sempat hadir dalam hidup saya. 

Saya sedang tidak ingin galau. Tapi saya ingin membuat orang lain galau. Bukan, saya tidak cari masalah. Saya hanya stuck dengan project pribadi saya yang gak kelar-kelar. Terkadang ganti alur yang malah membuat cerita makin rumit. Saya hanya ingin cerita itu sesimple mungkin. 

Lalu, kenapa saya membuat tulisan ini? Hanya catatan kecil bahwa saya mulai kehilangan rasa. Rasa yang mana, saya juga masih tak paham. Bukan karena tak ingin, hanya saja ada suatu yang lebih besar yang harus saya wujudkan dahulu. Mungkin memang saya harus berdamai dengan perasaan saya dan mulai menikmatinya. Mungkin. 

Setidaknya saya tidak kehilangan rasa untuk ingin menulis lagi :)

Sunday, October 13, 2013

Guci, Wisata Air Panas di Utara Jawa

Mungkin banyak yang sudah tahu keberadaan tempat wisata satu ini. Bagi yang belum tahu, Guci adalah salah satu tempat wisata air panas di Jawa Tengah, tepatnya di daerah Bojong, Tegal. 

Setelah sekian lama bolak-balik ke Tegal akhirnya saya punya kesempatan mengunjungi tempat wisata di kaki Gunung Slamet ini. Saya pergi bersama kedua orang tua saya seorang adek sepupu saya  dan Pak dhe. Cukup menyenangkan perjalanan kali ini. Ayah dan Pak Dhe saya memiliki kenangan sendiri ketika masih muda di sini. Kata mereka, dulunya Guci tak seramai sekarang. Dulu masih sepi, belum bnayak rumah penduduk. 

Jalanannya berkelak kelok dan menanjak. Di kanan kiri saya melihat banyak kebun kubis dan beberapa kebun strawberry, dataran tinggi memang cocok untuk mengembangkan kedua tanaman itu. Saya pun berniat membeli strowberry sepulangnya dari guci nanti. 

Semakin naik, saya merasakan tekanan udara yang sudah agak berbeda. Kuping saya agak tidak nyaman dengan perbedaan tekanan ini. Berkali-kali saya menelan ludah untuk menyamankan kuping saya. Namun, saya tetap memanjakan mata saya dengan melihat kebun-kebun di sepanjang jalan. 

Jalanan terlihat sepi pada awalnya, tetapi ternyata di spot parkir sudah macet. Kami agak susah mencari tempat parkir. Ini salah satu faktor yang sangat disayangkan. Terlalu banyak mobil dan kurang tersedianya lahan parkir. Yang lebih mengecewakan lagi kantor dinas pariwisata pun tidak bertindak. Saya hanya melihat segelintir orang di dalam kantor itu sedang bercakap-cakap ringan tanpa mau peduli dengan keadaan di sekitarnya yang macet, semrawut dan bisa dibilang kurang terurus. Saya menyadari mungkin itu faktor very long weekend, tetapi paling tidak ada dong sedikit pengaturan supaya terlihat lebih teratur.

Kami sampai sekitar pukul 11.00 siang. Kabut sudah mulai turun. Saya kurang bisa menikmati wisata ini karena terlalu banyak orang yang datang. Terlalu ramai, menurut saya.

Sebenarnya saya tertarik untuk menuju ke sumber air panas yang masih berbau belerang, hanya saja melihat ratusan orang yang sudah ada di sana mengurungkan niat saya untuk menuju tempat itu. Akhirnya saya hanya merendam kaki saya di pemandian air panas tertutup. Tempatnya seperti kamar mandi dengan satu bathtub setiap kamarnya. Air panas dari sumber mata air itu dialirkan lewat pipa-pipa ke bathtub itu, sehingga bathtub itu selalu penuh. Yang membuat sedikit kurang menarik, adalah airnya sudah tidak berbau belerang. Padahal saya ingin sedikit mencium bau belerang pada air itu. 

Tidak lama kami ada di pemandian tertutup itu. Kabut sudah semakin tebal, udara makin dingin dan gerimis juga mulai turun. Pulangnya saya sempatkan membeli sedikit manisan cermai, makanan yang menurut saya jarang saya temui akhir-akhir ini. Perjalanan pulang saya masih merasa kurang puas untuk mengeksplor guci. 

Menurut saya guci adalah salah satu tempat yang menyenangkan untuk melakukan perkumpulan keluarga, misalnya. Sayang saat itu pemilihan waktunya kurang tepat, sehingga kami tidak terlalu bisa menikmati guci. Mungkin suatu saat kami bisa mengambil libur dari pekerjaan kami dan meluangkan waktu bersama keluarga untuk menikmati tempat-tempat wisata seperti ini. Saya memang berharap untuk itu.

Monday, July 1, 2013

Kita

Indah ketika kata “Kita” terucap dari mulutmu. Seolah mengandung suatu magic, satu kata itu cukup membuat penabuh genderang ini bersemangat. Tidakkah kau dengar betapa kuatnya dia berdebar sayang?

Kita adalah aku dan kamu . Aku dan kamu pernah punya masa lalu. Aku dan kamu pernah merasa di sakiti. Aku dan kamu pernah menyakiti. Aku pernah menyakitimu, kamu pun pernah menyakitiku. Lalu mengapa kita masih mengulanginya lagi dan lagi, sayang?

Kita mempunyai banyak persamaan. Kita sama-sama manusia. Kita sama-sama punya perasaan. Terkadang kita punya pikiran yang sama. Kata-kata kita pun terkadang sama. Kita sama-sama pernah bimbang dengan perasaan kita. Jika begitu samanya kita, kenapa kita tidak bisa memahami satu sama lain, sayang?

Kita berbeda satu sama lain. Aku dengan segala keegoisanku dan kamu dengan segala pembenaranmu. Aku mencoba untuk mengerti pembenaranmu. Aku tahu kamu paham keegoisanku. Lalu, mengapa kita tidak pernah mencoba untuk menjadikannya satu?


Terlalu banyak pertanyaan tentang kita. Bagaimanakah kita nanti? Bisakah kita bertahan dengan semuanya? Seperti apa awal baru untuk kita? Dan sebagainya. Tidakkah kau lelah dengan semua itu. Ya, aku lelah. Bukan berarti aku tak lagi ingin, aku hanya lelah bertanya. Bertanya tentang kita, pada diriku sendiri.

Jakarta Kali Kedua

Subuh, saat kota ini mulai menggeliat hidup. Ah, aku lupa kota ini tak pernah mati. Dia hidup 24 jam sehari. Kali ini aku datang lebih berani dari sebelumnya, hanya saja aku masih menyimpan ketakutan yang sama.

Fajar di kota ini tidak lebih baik dari kotaku. Bau sampah sudah tercium bahkan saat fajar. Aku menyadarinya karena aku yang menghabiskan waktu sambil mengamati fajar tiba di kota ini dan detilnya. Beberapa ekor nyamuk juga meramaikan pagiku di kota ini. Nyamuk-nyamuk sebesar nyamuk kebun mengerubutiku ketika aku masih mengetik ceritaku.Tak beda banyak dari ingatanku di siang hari, kota ini sama sibuknya. Entah itu siang atau malam bahkan ketika matahari baru akan menampakkan diri. 

Aku duduk dilantai tak jauh dari tempat penurunan penumpang. Bersamaku ada beberapa orang yg tidur beralaskan koran. Sekedar melepaskan lelah setelah perjalanan jauh ataupun menunggu matahari agak tinggi untuk melanjutkan perjalananan lagi.

Kereta lain datang membawa orang-orang dengan berbagai tujuan ke kota ini. Bau parfum bercampur keringat tercium juga olehku. Beberapa orang bergegas keluar dari stasiun sambil membawa tas, ransel, koper dan beberapa kardus. Sisanya berjalan santai sambil memandang orang-orang yang tidur di lantai itu. Wajah mereka seolah bertanya mengapa kami memilih beristirahat dan tidur di lantai daripada langsung keluar dari stasiun dan mencari penginapan atau pulang ke rumah. Walaupun sempat merasa aneh dengan pandangan mereka aku toh tetap acuh dan menuliskan ceritaku sambil merebahkan badanku berbantal tas ranselku. Sepertinya keacuhkan penduduk kota ini mulai menular padaku. 

Kali ini aku lebih siap. Lebih siap untuk menaklukan kota ini. Untuk merasakan panasnya kota ini. Aku mulai terbiasa dengan bising bus, metromini dan bau sampah di kota ini. Aku sepertinya tidak akan sekaget dahulu. 

Langit mulai terang. Orang-orang mulai terbangun dan mempersiapkan perjalanan selanjutnya. Ranselku pun sudah tergendong di bahu, aku pun akan melanjutkan perjalanan singkatku ini.



__Stasiun Pasar Senen, 28 Juni 2013__

Tuesday, May 28, 2013

Orang-orang di Kereta

Suatu hari ketika aku duduk di dalam suatu gerbong kereta ekonomi yang membawaku pergi meraih mimpiku. Aku duduk bersama 5 penumpang lainnya. Tiga orang yang duduk di hadapanku adalah seorang ibu, gadis sebayaku dan juga seorang remaja putri. Dua orang lagi di sampingku adalah sepasang kekasih.

Ku perkirakan Sang Ibu berusia lebih dari 50 tahun. Karena beliau yang pertama duduk di kursi depanku, aku sempat mengobrol sedikit dengannya. Beliau bercerita ini pertama kalinya beliau meninggalkan kota ini. Beliau pergi untuk menemui anak lelaki tunggalnya yang sudah 4 tahun menikah dan baru dikaruniai seorang putri. 
"Nak, nanti Ibu dikasih tahu ya, kalau sudah sampai di Stasiun Cirebon."
Aku hanya tersenyum mengiyakan permintaan Sang Ibu. Kemudian beliau bercerita tentang Rudi, anak lelaki tunggalnya itu dan juga Ratih, istrinya.
"Sebetulnya ibu kurang suka dengan Ratih. Karena hidup berkecukupan dia jadi agak manja, kurang prihatin. Awalnya Ibu agak khawatir, tapi mau gimana lagi, lah Rudi wes kadung tresno. Apapun Ibu lakukan asalkan Rudi bahagia."

Tak berapa lama kereta mulai penuh dengan orang-orang yang akan pergi meninggalkan kota ini. Kemudian perlahan roda kereta mulai berputar meninggalkan stasiun. Di sampingku, Si Remaja Putri mulai sibuk dengan gadgetnya. Kebiasaan anak muda jaman sekarang. Smartphone-nya tak henti berdenting menandakan beberapa notifikasi yang masuk. 

"Adek mau kemana?" Sapaku pada Si Remaja Putri.
"Ke Purwokerto, Kak." Aku sebetulnya agak risih kalau dipanggil dengan sebutan kakak. Kurang akrab di telingaku. Dari sapaannya padaku aku bisa menebak dia adalah mahasiswi baru di kota ini.
"Kuliah di sini?" Tanyaku dan dijawab hanya mengangguk.
"Ambil jurusan apa?" Lanjutku.
"Komunikasi." Kemudian dia kembali sibuk dengan gadgetnya.

Kereta makin menjauh dari kotaku, tetapi belum juga mendekat ke kota tujuan. Satu-satu para penumpang terlelap. Sang Ibu di sebelahku juga sudah terlelap jauh ke alam mimpi. Sementara Si Remaja Putri telah turun beberapa saat yang lalu tanpa permisi. Gadis yang sebaya denganku masih tetap duduk menghadap jendela. Entah tertidur atau hanya memandang kosong pohon-pohon yang seolah bergerak mundur seiring laju kereta. 

Kemudian kereta berhenti beberapa saat di Stasiun Prupuk. Sepasang kekasih itu terbangun. Si laki-laki berpamitan sebentar keluar hendak merokok. Lalu si wanita tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya dan bertanya beberapa pertanyaan basa-basi. 
"Mau kemana, Mbak?" Tanyaku.
"Ini, mau ke rumah Mas saya. Dia ngajak saya untuk ketemu sama orang tuanya. Kalau Mbak sendiri?" Jawabnya ramah.
"Oh, Saya ke Jakarta, untuk lanjut ke tempat lain. Panggilan kerjaan." Kataku.
"Wah, sepertinya menyenangkan. Saya gak pernah boleh kerja jauh-jauh dari orang tua saya. Makanya kuper. Ini aja kalau gak diajak Mase saya gak bakal pergi sejauh ini," katanya. "Saya sebenernya takut, Mbak ketemu sama orang tuanya Mas Arno. Saya takut gak disukai. Ini pertama kalinya buat saya ketemu sama orang tuanya pacar saya. Orang jauh lagi," Lanjutnya.
"Oh, gitu ya, Mbak. Saya malah belum pernah tuh," kataku sambil tersenyum. Pikiranku kemudian melayang sesaat. Wajahnya kembali terbayang. Wajahnya yang aku rindukan, tapi bahkan hingga aku meninggalkan kotaku dia tak juga memunculkan dirinya sekedar berkata "selamat tinggal."
"Mbak sepertinya kerjanya jauh ya? Saya kadang pengen seperti Mbak, bisa kemana-mana," katanya.
"Gimana kalo gak usah panggil 'mbak', panggil aja namaku, Dewi. Kerjaanku itu main. Cari duit buat keluarga, sisanya di pake main-main. Yah, mumpung masih sendiri," kataku tersenyum. 
"Namaku Ayu. Tapi tetep aku pengen seperti kamu, Wi. Aku dan Mas Arno kerja di satu perusahaan dan perusahaan tidak memperkenankan suami istri bekerja di sana. Salah satu dari kami harus keluar. Sepertinya aku yang harus keluar. Mas Arno pernah bilang dia gak mau aku kerja nanti setelah kami menikah."

Kemudian Mas Arno masuk ke dalam kereta, seketika itu percakapan terhenti. Kami sibuk dengan urusan kami lagi. Aku mulai mendengarkan musik, dan kedua pasangan itu mulai mengobrol lagi. Mendekati Stasiun Cirebon aku membangunkan Sang Ibu perlahan. Membantunya untuk menurunkan beberapa tasnya. Sampai di Stasiun Cirebon Sang Ibu dan kedua pasangan itu turun.  

Kereta makin mendekati tujuan akhirnya. Kini tinggal aku dan Si Gadis yang sedari tadi duduk menatap keluar jendela. Kemudian dia menatapku dan tersenyum. "Mbak mau kemana?" Dia bertanya padaku.

"Jakarta. Kalau Mbak sendiri?" Tanyaku balik padanya.
"Saya mau pulang, Mbak. Ke rumah orang tua saya. Tapi saya khawatir. Saya takut. Saya sudah melakukan kesalahan besar," dia berbicara setengah melamun. 
"Setiap orang punya kesalahan, Mbak." Jawabku berusaha sekedar menghiburnya.
"Dulu, saya kabur dengan orang yang saya cinta. Laki-laki itu yang sekarang mencampakkan saya. Orang tua saya tak pernah setuju saya berhubungan dengannya. Jadinya saya kabur, Mbak. Sekarang saya tahu apa kekhawatiran orang tua saya. Saya menyesal, tapi waktu tak pernah berputar kembali kan? Saya bingung, saya harus kemana lagi. Satu-satunya harapan dari saya adalah saya pulang dan minta maaf sama orang tua saya walaupun saya takut sekali." Ceritanya seperti menahan rasa pedih yang dalam. 

Aku diam mendengar ceritanya.  Aku mendengar ceritanya sambil merenungkan kisahku. Aku iri padanya. Dia sangat berani menerima kesalahannya dan mungkin menanggung akibat dari kesalahannya. Akankah orang tuanya memaafkannya? Aku yakin mereka memaafkannya. Tak ada orang tua yang tak sayang dengan anaknya. Ibuku pernah bercerita, sebesar apapun kesalahan seorang anak, orang tua pasti akan dengan tangan terbuka memaafkannya dan menerimanya kembali. 

Wajah orang tuaku terkenang. Aku pergi hanya dengan restu orang tuaku. Aku mulai membayangkan wajah orang tuaku ketika nantinya mereka menyambutku pulang. Akankah mereka bahagia? Akankah mereka memaafkan segala kesalahan dan ketidakpedulianku pada mereka? Lalu aku mengingat remaja putri di sebelahku. 

Seorang remaja putri yang sangat tidak peduli sekitarnya. Aku pun pernah begitu. Tak peduli dengan sekitarku. Aku berjalan terus tanpa mempedulikan apa kata orang. Apa yang aku mau lakukan akan aku lakukan. Orang-orang di sekitarku hanyalah sebuah peramai dalam hidupku. Tokoh utama dalam hidupku adalah aku. Dulu, jika aku tak menyukai seseorang aku akan berkata tidak padanya. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya. 

Aku pergi tanpa sedikit pun melihat wajah orang itu. Fikiranku mulai terpenuhi olehnya. Dimana dia sekarang? Masihkah dia akan menungguku seperti yang pernah dia isyaratkan? Aku telah lama tak mendengar suaranya. Aku telah lama tak melihat senyumnya. Aku kemudian teringat Ayu. 

Dia bersama kekasihnya akan meminta restu pada orang tua si lelaki. Lalu akankah ada waktuku untuk merasakan apa yang Ayu rasakan? Kekhawatiran dia, rasa senangnya, rasa gugupnya. Aku iri pada Ayu. Dia telah sampai di titik itu.  

Kemudian wajah Sang Ibu di sebelahku terkenang. Seorang ibu yang sangat bahagia karena akan menemui cucu pertamanya. Walaupun awalnya kurang menyukai Si menantu tetapi toh dia tetap merasakan kebahagiaan atas kelahiran cucu pertamanya. Wajah ibuku kembali terkenang. Walaupun bukan anak tunggal, aku adalah satu-satunya anak perempuan dengan dua kakak lelaki. Sudahkah Ibu berharap aku segera mengkahiri masa lajangku?

Keretaku kali ini membawa banyak cerita, membawa banyak harapan, membawa banyak pelajaran. Keretaku mulai melambat dan sampai akhirnya berhenti di tujuan akhirnya. Pada akhirnya akupun akan berhenti di tujuan akhirku, hanya saja aku masih mencarinya.


Tuesday, May 21, 2013

Bivak and Be F*cked

Today, in my English course we had to make a group of 3 and discussed about obligation and permission of our English Course. We must create the name of our English Course the rule for teachers and students. Today i was in group with Bondan and Karin.

Then, Karin said that the name of our English Course must be BVK. Suddenly I said how if the name of our English Course is BIVAK, and it was approve.

The lecturer said that each group must tell about their English Course. And viola, when Baron said that our English Course name was Bivak they all think that it was  be f*cked.


Moral message : Bivak and be f*cked has a different meaning even sounded almost same

Apa Artinya Cermin

Kenapa kita membrengsekan keadaan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan?

Aku mengingat cerita tadi pagi. Seseorang berkata padaku apa artinya cermin. Cermin itu untuk memandang diri. Sebelum kita memandang orang lain, pandang diri sendiri dulu. Ketika ada seseorang yang lebih buruk dari kita, tak perlu kita merasa dia hina. Lebih baik jika bersyukur kita diberi keadaan yang lebih baik dari dirinya. 

Ketika kita kurang dari orang lain, kenapa mesti iri. Kita boleh kok untuk menirunya selama itu baik untuk diri kita. Semakin kita mengoceh buruk tentang kelebihan orang lain, semakin kita terlihat iri dan tidak mampu. Kenapa kita tidak belajar untuk menjadi lebih dan lebih baik lagi. Meniru itu bukan berarti kita harus menjadi dia. Orang diciptakan berbeda-beda sifat. Tapi tidak ada salahnya untuk berusaha menjadi lebih baik.

Kenapa harus mengumpat? Mengumpat berarti tidak mau bersaing dengan sehat. Semakin banyak mengumpat semakin terlihat tidak percaya diri. Semakin banyak mengumpat semakin terlihat kelemahannya. Semakin terlihat tidak mampu. Kenapa mesti tidak percaya diri? Toh pasti setiap manusia memiliki kelebihannya sendiri yang tak dimiliki orang lain.

Lihat lagi di cermin. Di sana ada semua tentang dirimu. Kebaikanmu, keburukanmu. Kelebihanmu, kekuranganmu. Buka lagi fikiran, lihat lagi dari lebih banyak sudut pandang, jadilah lebih baik dan lebih bijak dalam hidup.


===SEBUAH RENUNGAN===

Sunday, May 5, 2013

Wedding

Akhir-akhir ini aku semakin banyak mendapat undangan pernikahan yang datang dari teman-temanku, baik teman semasa sekolah ataupun teman semasa kuliah. Irikah aku? Mungkin ada sedikit terbesit rasa iri, tapi aku kembali melihat hidupku. Aku bahkan belum memulai hidupku sendiri. Yang aku maksud di sini adalah aku belum bisa mencari dan membiayai hidupku sendiri, aku masih belum bisa mandiri sepenuhnya, lalu bagaimana aku harus memulai hidupku bersama orang lain?

Ada yang lucu di salah satu comment seorang teman yang mau menikah besok hari ini. Salah satu temannya memposting percakapannya dan ibunya. Kira-kira begini percakapannya dalam bahasa keseharianku:

Mom: Son, kie ana undangan kancamu minggu ngesuk mbojo.. (Son, ini ada undangan temanmu minggu besok nikah)
Son: Oh ya Alhmdulillah, melu seneng kulo Bu..(Oh ya Alhamdulillah, ikut senang saya Bu)
Mom: lah kowe kapan??? kancamu sing liyane wes pada nikah kabeh lohh.. (Lah kamu kapan? Temenmu yang lainnya udah pada nikah semua lohh)
Son: he.. insyaAlloh sekedap malih Bu.. tunggu wae, syarate namung kurang KALIH kok.. (InsyaAlloh sebentar lagi Bu.. tunggu aja, syaratnya kurang dua kok)
Mom: alah alah.. syarat KALIH kuwe apa bae emange... ( ya ampun, syarat dua itu apa aja emangnya?
Son: KALIH Sinten..... :D ( Dengan Siapa :D )

Mungkin itu juga yang akan aku katakan ketika ditanya, kamu kapan menikah? Jalanku masih panjang, setidaknya aku masih bisa menunggu beberapa tahun lagi. Masih banyak yang harus aku lakukan. Seperti saat ini, aku masih harus belajar untuk ujian Bahasa Belandaku nanti pukul 8 pagi. Lalu, kenapa aku malah menghabiskan waktuku di depan komputer dan bercerita tentang pernikahan? Ah, tak apalah hanya sekedar membagi apa yang terlintas di otak bodohku saat ini.

Satu lagi, selamat untuk teman-temanku yang akan dan telah menempuh hidup baru. Semoga membawa kebahagiaan dan ketenangan hati. 

Thursday, May 2, 2013

Waktu Minum Teh

Pernah membaca karya-karya Enid Blyton? Aku salah satu penggemar bukunya saat masih kecil, sampai sekarang aku juga masih menyukai ceritanya. Walaupun tak punya lengkap semua seri karya Enid Blyton, tapi aku mempunyai beberapa karangannya seperti Lima Sekawan, Malory Towers dan serial dengan cerita lepas seperti Si Babi Ungu, Si Gadis Penakut, Monyet Mike, Tommy si Pengadu, Tiga Permintaan, Cermin Ajaib, Gadis Kaya yang Sombong dan Anak dalam Cermin. 

gambar diambil dari google
Dari beberapa buku itu aku mendapat gambaran atau mungkin khayalan tentang kehidupan di Asrama Putri di Inggris sana, ataupun kehidupan orang-orang Barat, seperti jamuan minum teh. Aku hanya bisa membayangkan seperti apa jamuan minum teh itu. Di beberapa cerita, Enid Blyton sempat mennyebutkan makanan apa saja yang ada pada jamuan minum teh itu. Ada gula-gula, kue plum dengan taburan gula halus (yang sampai saat ini aku tak bisa membayangkan seperti apa bentuknya), roti jahe dan tentu saja secangkir teh hangat. Biasanya kue-kue itupun masih fresh dari panggangan. Mereka menjamu tamunya dengan kue-kue yang hangat. 

gambar diambil dari google
Kalau aku bandingkan di Indonesia, sepertinya ada juga suasana seperti itu. Walaupun kebanyakan bukan menjadi suatu tradisi atau kebiasaan. Ada juga waktu kumpul bersama, minum teh dengan beberapa camilan, walaupun camilannya bukan kue plum ataupun kue jahe. Kalau di keluargaku teman minum teh biasanya adalah pisang goreng, ubi goreng, mendoan atau terkadang serabi. Tentunya mereka nikmat dinikmati hangat. Apalagi di hari yang cukup berangin (mengingat kotaku dekat dengan pantai) atau di saat hujan. Menyenangkan rasanya menghangatkan diri bersama orang-orang terkasih ditemani segelas teh manis hangat dan teman-temannya.

Berawal dari konsep itu, aku mempunyai mimpi mengelola suatu tempat yang menawarkan kehangatan dalam kesederhanaan. Seperti layaknya jamuan minum teh di Inggris ataupun kumpul keluarga di Indonesia. Itu masih menjadi mimpi bagiku. Belum ada suatu rencana yang jelas untuk mewujudkannya. Tapi, cukuplah kali ini dengan segelas cokelat hangat di samping si Lepi aku menuliskan sedikit cerita dan mimpiku. Setidaknya semuanya berawal dari mimpi bukan?

Tuesday, April 30, 2013

Cerita Tentang si Pinky

Kemarin, sehari setelah aku sampai di Cilacap aku dapet sms dari seorang teman yang menanyakan dompetnya padaku. Sebelum aku pulang kami memang bersama bahkan dia yang mengantarku. Dia memang sempat menitipkan dompetnya di tasku, waktu kami membelikan titipan kado. Saat itu aku belum packing dan saat packing aku sempat membongkar tas 4 lockerku itu. 

Isi smsnya "Lek...kemaren tuh dompet gw ketinggalan gak yah?? Gue luppa..udah gw ambil dari tas lw belom pas pulang??"

Dengan sekenanya (waktu itu aku baru selesai mandi dan belom sempat membongkar-bongkar isi tas) aku membalas "lah enggak. Kan maren gw bongkar dolo tasnya. Klopun ketinggalan paling di kasur gw :D" 

Ku tambah emot senyum lebar karena sedikit geli dengan kesialan temanku yg satu itu. Karena dompet dia itulah hartanya satu-satunya. Semua uang dan atmnya ada di dompet pink kotak-kotak itu.

Lalu, karena penasaran akupun kembali melihat isi tasku, khususnya dimana dia meletakkan dompetnya itu. Dan...violllaaa si pink kotak2 tergeletak dengan sangat kurang ajar disana.

Hehehe maaf ya teman, kadang ketelodaranku (dan tentu saja ketelodaranmu) selalu menyimpan cerita yang lucu walau menyebalkan. Paling tidak aku mempertemukanmu dengan si pink ini sehari lebih cepet dari jadwal yang seharusnya.

Saturday, April 13, 2013

Early Morning on the Weekend

Early morning in Jogja. Pagi-pagi begini aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu di Cilacap. Pagi-pagi begini, aku pernah bersepeda ke pantai sama mamah. Tidak ada acara yabg istimewa, hanya sekedar menemani mamahku bersepeda menghirup udara pagi yang masih segar. Berangkat setelah subuh dan sudah sampai di rumah lagi sekitar pukul 6.30. Lumayanlah untuk olahraga pagi sambil refreshing otak dan mata.

Pulangnya, kami mampir beli serabi hangat dan mendoan yang juga hangat untuk dimakan di rumah bersama segelas teh hangat.

Mmm....yummi. Sepertinya menyenangkan bila pagi ini akan berlalu seperti saat itu. Sayangnya sekarang aku ada di Jogja dan pagi ini mungkin hanya akan berakhir di warung bubur ayam. Yeah.

Friday, April 5, 2013

Alibi Di KRL

Di gerbong khusus wanita aku berada. Layaknya gerbong khusus wanita aku lihat di sana isinya cewek semua, kecuali anak-anak kecil ekornya para ibu-ibu. Walaupun gitu, aku tetep gak suka dengan suasananya. Walaupun sama-sama perempuan, harusnya yang muda ngalah dong sama yang tua ataupun sama anak-anak. Selama beberapa kali perjalanan naik kereta ini aku masih liat anak muda duduk, mainan mobile phonenya dan membiarkan ibu-ibu dan anak-anak berdiri di depannya. 

Seperti waktu itu, aku ke Salemba naik krl dari Pondok Cina ke Cikini. Seperti biasa, krl itu penuh, untungnya aku naik kereta gak saat jam berangkat kerja ataupun pulang kerja. Jadi walaupun berdiri aku masih bisa bernafas dengan agak lega. Di situ aku lihat ada beberpa wanita muda yang masih seger, padahal gak jauh dari mereka ada ibu-ibu setengah baya yang berdiri. Lalu, di stasiun berikutnya ada seorang ibu yang gendong anak masuk ke gerbong yang sama denganku. Dengan gayanya yang cuek, dia meminta orang di depanku untuk berdiri karena dia mau duduk karena bawa anak. Aku gak dengar jawaban Mbak di depanku itu, dia hanya memegang perutnya. Aku hanya mendengar si Ibu berkata bahwa Mbak di depanku lagi hamil. 

Tips yang aku dapet di KRL adalah : 
1. Bawalah anak kecil saat naik kereta, itu bisa jadi alibi anda untuk dapet tempat duduk di krl
2. Orang yang (maaf) gendut lebih bisa dapet tempat duduk, berpura-puralah hamil dan mungkin anda bisa dapet tempat duduk dan gak disuruh berdiri. Cukup pegang perut dan orang akan mengerti anda sedang hamil. 

Perlu di perhatikan tips ini efektif hanya untuk kaum hawa, khususnya nomor 2. Jika anda lelaki dan punya perut buncit, jangan pernah pura-pura hamil di krl. :) Selamat menikmati krl dan nikmatilah Jakarta, walaupun sampai kemarin aku gak ngerti apa nikmatnya di Jakarta!

A Little Boy And His Mom

When I was at Cikini Station, Ria asked me to go to restroom. In the restroom, I see a little boy who was arguing with his Mom.

Mom : Sini nak, nanti ibunya pergi kamu gak tahu.
Little Boy : Aku mau pipis di sini aja. Aku gak mau di situ.
Mom : Loh, kenapa? Udah sini aja sama Ibu.
Little Boy : Gak mau. Ini cowok, itu cewek. Aku mau pipis di tempat cowok aja.

That was a good answer which made his Mom silent suddenly. Sometimes a little child is more attentive than the grown person. Or perhaps they forget how to be attentive because they were busy with other thing such as earn money.

Once Upon A Time In Sentul International Circuit

Kemarin waktu di Jakarta Big Uncle-ku sempat membawaku mampir ke Sentul, tepatnya di Sirkuit Internasional Sentul. Tujuan utamanya adalah kerjaan dia, sebagai salah satu dari pegawai sponsor di acara itu. Tujuan sampingan jelas nonton balapan meski bukan di tribun penonton. 

Kami nonton balapan di sekitar arena balap. Aku jadi lebih tahu sebenernya nonton di situ itu bahaya. Bayangin kalau ada motor crash dan dia kepental keluar arena. Masih mending kalau cuman orangnya yang keluar arena, nah kalau motornya. Bayangan adegan film Final Destination 4 langsung berputar di otakku sekarang. 

Nonton balapan itu menurutku seru kalau ada yang tabrakan. Oke, bukan aku berharap bakal ada kecelakaan di setiap pertandingan balap tapi itu keren, pake banget! Pastilah sakit orang kecelakaan walaupun mereka udah pake jaket, helm dan semua safety yang melekat di badan mereka, tapi justru itu serunya (iya gak sih? kalau menurutku sih, iya!). Jadi, nonton di tv itu seru, tapi nonton kecelakaan pas balap motor langsung dengan mata kepala sendiri itu lebih seru, dan saya sempat tertawa puas dan high five sama si Big Uncle pas liat motor crash itu. Kejadiannya cepet banget. Pas di belokan, salah satu motor kegelincir dan ngenain motor lain. Aku lupa udah lap berapa waktu itu, tapi yang jelas mereka sebenernya udah cukup ada di depan. Urutan ke 3 dan 4 kalau aku gak salah hitung. 

Hal lain yang aku perhatikan waktu nonton di pinggir lapangan di bawah pohon  waktu itu. Aku nonton di tengah-tengah keluarga salah satu pembalap yang lagi berjuang. Aku bisa ngerti bahwa mereka berharap si pembalap ini menang. Tapi yang aku gak bisa ngerti adalah buat apa mereka teriak-teriak nyemangati si pembalap ini. Jelas-jelas si pembalap ini cuman fokus ke depan, kanan kiri pun kalau ada motor lain di sampingnya dan dengan suara motor yang bikin kupingku iritasi ini aku yakin dia juga gak akan denger suara teriakan semangat dari keluarganya. Okelah kalau dia ini lagi balap karung, dia masih bisa denger masih bisa liat keluarganya nyemangati dia, tapi ini balap motor dengan semua safety yang melekat. Ok, perhaps it's too much. I know they just cheer up their family but c'mon he didn't know and perhaps he didn't care. I just think why they don't just pray for his safety and being a winner, why should they're yelling him. That's a funny thing.

Emm, tapi mungkin jika aku adalah keluarga salah satu dari pembalap ini aku juga akan melakukan hal yang sama. Yeah, once upon a time in Sentul International Circuit.

Monday, April 1, 2013

Oh, Please

I don't know what happend to me. I don't know what a damn thing in my head which makes me want to cry in a train on my way to Jogja. I'm so excite back home, back to my normal life, normal activities, my commond people. But right now, I want somebody hugs me and tell me that everthing will be fine. I will be ok.

Monday, March 18, 2013

Surat Untuk Jono


Jono sayang, apa kabar? Aku baik adanya di sini. Walaupun tidak sebaik seperti saat ada dirimu. 

Jono sayang, sedikit-sedikit aku mulai mencari tahu tentang dirimu, tentang jiwamu dan juga tentang dirinya yang sering kau sebut-sebut saat kita bersama. Terkadang aku iri pada dirinya. Kau selalu menyebutnya berkali-kali. Dia begini dan dia begitu. Yah, karena saat itu hanya ada aku. Tak mungkin kau bercerita tentangku pada diriku sendiri kan? Jadi sekarang setelah kita tidak lagi bersama, apakah kau masih menceritakan tentang dia pada teman dekatmu kini, atau malah kau menceritakan tentang aku?


Jono sayang, tanpa ku sadari kini aku mulai merindukanmu. Aku kangen sekali dengan semua ceritamu, semua rencana masa depanmu, semua masalahmu dan apapun itu yang berasal darimu. Walaupun banyak hal yang tak kusepakati darimu aku toh tetap mendengarkanmu dan menikmati setiap detil ceritamu. Saat dia bilang dia menyukaimu misalnya. Kau mendengarnya langsung dari bibirnya. Saat itu kamu ragu. Aku tahu itu karena aku melihat ada keraguan di wajahmu. Tapi kamu menikmatinya. Jujurlah pada dirimu, Sayang. Kau tak akan bisa selamanya menahan perasaan itu. Kemungkinannya hanya ada dua, perasaan itu mati atau meledak. 

Jono sahabatku, jangan pernah salahkan dia akan perasaannya. Kamu memang tahu perasaannya, tapi kamu tak tahu sedalam apa perasaannya padamu. Jangan pernah kamu menganggap kamu bisa mengukurnya dari apa yang terlihat padanya. Aku takut suatu saat kesoktauanmu itu akan menjadi bumerang untukmu. Wanita itu bisa menahan sakit hati lebih dari pada pria. Dia lebih kuat dari pada kamu. Percayalah padaku, aku mengenal baik dirinya dan aku juga tahu tentangmu.

Jono, apabila aku bilang aku sayang kamu apa yang akan kamu lakukan? Melihat setiap sosial media yang kumiliki kah? Lalu akankah kau akan memakannya mentah-mentah dan bilang aku terlalu hiperbolis, terlalu terburu-buru, terlalu expresif, terlalu frontal? Aku harap tidak. Banyak hal yang tak kau ketahui tentangku. Apa yang aku tulis belum tentu semuanya menggambarkan tentangku. Mungkin hanya lonjakan emosi sesaat. Mungkin juga karena aku tertarik dan mulai melamun dan akhirnya aku mendongengkan lamunanku dalam sebuah blog pribadi. Kau tahu, kau tak akan pernah tahu apakah aku berbohong padamu dan aku juga tak pernah tahu apakah yang kau ceritakan padaku benar adanya. Yang kita bisa lakukan adalah percaya satu sama lain tanpa ada jaminan apapun. 

Kalau diteruskan, mungkin ceritaku akan lebih panjang lagi dan entah kapan berakhir. Aku akan terus mengabarimu sesempatku.


Salam manis,


Yuka



Ps. Salam juga untuk teman-teman di sampingmu.

Sunday, March 17, 2013

When Women Become Lovers

Tiba-tiba aku teringat akan quote dari 2 temanku yang lagi dilanda asmara. Biasanya mereka bakal cerita baik secara sengaja ataupun engga sama orang terdekatnya tentang seseorang yang berhasil mencuri hatinya. Hal ini sering terjadi jika si korban adalah wanita. Yang aku maksud sebagai si korban adalah orang yang hatinya tercuri dan si pencuri itu yang akan selalu ada dalam cerita si wanita. 

Quote dari temen deketku adalah "Si A itu adalah cinta pertama gue, sedang Si B adalah cinta sejati gue." Walaupun kenyataannya kini Si B tidak berhasil menjadi cinta sejatinya. Ini adalah kata-kata yang diucapakan temen dekatku lebih dari 5 tahun yang lalu. Saat itu setiap kali kami mengobrol pasti ada percakapan tentang si B. Si B beginilah, Si B begitulah dan aku hampir mati bosan mendengar ceritanya tentang si B ini. Tambahan lagi saat seorang wanita sedang jatuh cinta biasanya dia tidak bisa melihat kekurangan dari si lelaki, atau kalaupun bisa dia menampik dan memaklumi kekurangan itu. 

Temanku yang lain memiliki quote yang berbeda. "Kenapa sih, tiap sudut kota ini mengingatkanku padanya." 'Nya' yang dia maksud di sini tentulah pacarnya. Padahal dia lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku untuk menjelajah kota ini dari pada dengan pacarnya. Aku sering berjalan-jalan sekedar lebih mengenali gang-gang kecil dan mencari tempat makan berdua bersama temanku ini. Tapi, karena sebelumnya dia berjalan-jalan bersama kekasihnya di kota ini jadilah dia mendeklarasikan bahwa tiap sudut kota ini akan mengingatkannya pada pacarnya itu.

Aku bukannya sirik, aku pun melakukan hal yang sama. Aku menyadari kekurangan orang yang ku suka, tapi aku memakluminya (kali ini hanya untuk diriku sendiri). Aku pun akan bercerita (lebih sering tanpa sadar) tentang dirinya tanpa diminta, dan mengulangi cerita yang sama hingga orang lain akan bosan mendengarnya. Aku akan mengingat tiap sudut yang aku datangi bersamanya dan mengenang apa saja yang kami lakukan di sana bahkan hingga kata-kata apa saja yang terucap dari mulutnya. 

Sedang quote dari aku adalah "Aku bahagia bisa mengenalnya, karna aku bahagia maka aku bersyukur atas tiap detik yang kuhabiskan bersamanya." Dan quote dari kamu?

Tuesday, March 5, 2013

Untuk Teman yang Kehilangan

Aku pernah merasa kehilangan yang sangat dalam. Saat aku kelas 2 SMA, aku kehilangan orang yang sangat aku sayang. Orang yang selalu melindungiku, orang yang selalu percaya padaku dan orang yang selalu berkata iya saat orang lain di sekelilingku berkata tidak. 

Saat beliau pergi aku limbung, aku goyah. Aku tak tahu lagi kemana lagi aku harus melangkah. Aku tak tahu lagi siapa yang akan mempercayaiku, siapa yang akan berdiri di sisiku saat semua orang menyalahkanku. Saat itu aku tidak sanggup lagi untuk menangis.

Sekarang, setelah aku lebih dewasa aku merasa beliau selalu ada di sisiku. Sebagian dari dirinya hidup di diriku. Segala nasihatnya dan kepercayaannya menumbuhkan kepercayaan diriku. Terkadang aku rindu padanya, rindu pada dongengnya sebelum aku tidur, rindu pada guyonannya, rindu pelukan hangatnya. Daripada mengenang kepergiannya aku memilih untuk percaya pada nasihatnya dan percaya beliau akan bahagia melihatku. 

Kawan, jangan nangis lagi ya. Aku tahu kamu rindu, tapi carilah dirinya pada dirimu. Setidaknya itu caraku untuk mengurangi kerinduanku pada orang yang tak lagi bisa kutemui.

Dia

Ada kata-kata bijak seperti  "manut critane tresno iku jalarane soko kulino. Biso gawe tentreming ati yen tresno iku biso mligi nyawiji mring siji ati," yang lebih kurangnya berarti bahwa suka itu datang karena biasa. Suka itu bisa membuat hati tentram jika ditujukan hanya untuk satu hati. Aku tidak sedang mencoba untuk berpuitis dengan meng-copy kata-kata di atas, aku hanya mencoba untuk menjalani apa yang aku rasakan dan menujukannya hanya pada satu hati. 

Ada yang beranggapan bahwa bahagia itu gak ribet.  Aku setuju dengan itu. Buatku bahagia adalah jika kita bersyukur, dan aku sangat bersyukur bahkan sekedar untuk mengenalnya. Benar juga saat bahagiaku adalah saat-saat bersamanya, duduk bersamanya dan bercerita dari A sampai Z dan kembali lagi ke A. 

Aku belajar sesuatu yang lain darinya. Mungkin karena aku suka padanya, maka aku akan mendengarkannya. Aku hanya mendengarkan beberapa lagu yang mengingatkanku pada saat-saat bersamanya.

Aku percaya bahwa orang-orang yang hadir di sekitar kita memiliki makna sendiri dalam hidup kita. Dia yang ini mungkin membuatku lebih dewasa dan kembali pada kodratku sebagai wanita, dia yang lain mungkin juga membuatku lebih sabar dan menikmati tiap perjalanan hidup yang aku tempuh. Dia yang di sana mungkin pernah mengajariku tentang bagaimana aku harus menjadi pendengar yang baik dan membuka wawasanku. 

Hidup akan terus berjalan. Seberapa banyak dia yang akan kutemui juga aku tak tahu. Yang aku yakin mereka akan memberikan warna dalam hidupku, karna untukku pada dasarnya hidup itu untuk belajar menjadi lebih baik lagi.

Tuesday, February 19, 2013

The Graduation

Hari ini saya resmi menjadi salah satu alumni dari salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Hari ini juga saya resmi mendapat tambahan huruf S dan T di belakang nama saya. Bangga? Mungkin ada sedikit rasa bangga. Tetapi menurut saya sendiri wisuda adalah pengesahan anda menjadi pengangguran kalau emang belom dapet pekerjaan seperti saya sekarang. Tapi di sini saya gak bakal bahas masalah pengangguran di Indonesia, cukuplah tadi sambutan dari pak rektor yang membahas panjang dan lebar mengenai pengangguran. 


Jadi, hari saya mendapat kejutan lain. Kejutan dari teman-teman kost saya. Cerita berawal dari saat saya pulang dari hotel ke kost. Saat sampai di depan pntu saya hanya sempat melihat ada kata "engineer" dan saat itu saya berfikir ada yang mencari seorang engineer, yang berarti peluang kerja buat saya. Setelah saya lihat...ternyata itu adalah ucapan selamat datang untuk saya dari teman-teman kost. 



Kemudian saya juga mengira akan ada surat-surat lain bertebaran di pintu kamar saya, dan viola inilah dia. Ternyata sudah ada kertas lipat warna warni dari mereka untuk saya. Sekali lagi terima kasih teman-teman.  





Belum bermaksud untuk merusaknya, saya teringat motor saya yang masih di luar dengan mesin menyala. Saat bermaksud masukin motor ke garasi depan saya melihat kertas putih yang tertempel pada jendela kamar saya. Kebetulan jendela kamar saya adalah satu-satunya jendela kamar yang langsung menghadap ke jalan. Walaupun sudah saya lepas dari jendela kamar (malu juga ketauan ma orang-orang lewat  nama si pemilik kamar paling depan yang suka nyanyi-nyanyi dengan suara ala kadarnya), tetapi ini adalah kertas yang "pernah" tertempel di jendela kamar saya yang menghadap ke jalan. 


Setelah motor aman dalam kandangnya, saya menuju kamar saya yang berada di sebelah kandang motor saya. Ternyata bukan saja di pintu kamar, tetapi di dinding ruang tamu yang berada di depan kamar saya ada beberapa tulisan tentang si empunya kamar yang notabene sudah sarjana (huhuhu...saya mengingatkan diri bahwa saya masih pengangguran)





Selain itu ada hal lain yang sebenarnya cukup menggoda sebelum sampai ke tulisan-tulisan warna warni di pintu kamar saya. Saya sebut itu sebagai daftar request mereka.

Request memang bisa macam-macam, termasuk aa' burjo nan imut (walaupun rada lola dan lama kalo masak) dan sembako + pita cantik. Khusus pita, sepertinya itu bisa di akali dengan tali rafia, kebetulan saya ada tali rafia warna pink (lol). Untuk yang lain-lainnya ada juga makanan wajar seperti es teh dan gorengan burjo tapi ada juga yang maruk minta salad buah + iga bakar + lumpia boom, padahal setahu saya yang request tiga hal ini sekaligus punya badan yang paling kecil. Yah biasanya yang paling kecil itu yang makannya banyak.

Hal terakhir yang saya lakukan sebelom masuk ke kamar saya dan menuliskan semua ini adalah membaca doa dari teman-teman kost. Ada satu ucapan yang menurut saya paling misterius. Ucapan ini entah mengapa agak tergulung dan di letakan di paling atas sebelah kiri. Saya harus jinjit-jinjit untuk membaca ucapan ini. Misteriusnya lagi ucapan ini di tulis di atas kertas berwarna ungu gelap dengan tinta yang tidak kalah gelapnya. 




Terima kasih teman-teman untuk segala pertemanan, kejuatan, cerita dan apapun itu yang terbagi di atap Niera kost khususnya bagian Selatan. Terima kasih, terima kasih dan terima kasih.

Wednesday, February 13, 2013

Januari

Sudah hampir 2 minggu Januari berlalu. Namun untukku Januari ini adalah Januari akhir, awal dan mungkin Januari yang paling beda dari Januari-Januari yang pernah aku lewati.

Januari ini, aku lulus. Akhir masa kuliahku, tapi bukan akhir dari proses pembelajaranku. Aku lulus hanyalah salah satu "hadiah" yang Tuhan berikan untukku.

Di akhir Januari, dia datang dengan sebuah kue ulang tahun dan beberapa lilin di atasnya. Surprise yang menyenangkan dari orang yang juga menyenangkan. Entahlah, saat itu aku bersyukur karena ada dia ada di sana. Mungkin penabuh genderangku terlalu bersemangat hingga terkadang aku letih menahannya. Ada lonjakan rasa seolah aku ingin memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Tapi aku masih bisa menahan diri.

Ah Januari telah lewat. Bagaimanapun aku memohon agar hari berhenti di saat itu tetap saja hari berganti, waktu berlalu. Walaupun masih suka tersenyum sendiri mengingatnya tetapi hidupku harus berjalan dengan atau tanpa dirinya. Cepat atau lambat aku mungkin akan meninggalkannya di kota ini.

Tuhan terima kasih, setidaknya dia pernah singgah dan membahagiakan diriku dengan atau tanpa disadarinya. Dan untukmu, mungkin kamu telah menumbuhkan rasa yang lain di sini. Berjanjilah takan pernah berubah.

Friday, January 25, 2013

Katakan Saja

Katakan saja. Aku selalu disini untuk membantumu. Aku temanmu.
Katakan saja. Aku tak tahu isi hatimu. Aku tak akan pernah bisa menebaknya.
Katakan saja. Aku hanya melihat kau gundah akhir-akhir ini.
Katakan saja. Sepertu biasanya kau menceritakan padaku.
Katakan saja. Aku akan mendengarmu. Aku sahabatmu.
Katakan saja. Mungkin akan sedikit melegakanmu.
Aku katakan, aku hanya ingin melihat senyummu kembali.

Wednesday, January 23, 2013

Surat Biru

Aku sedang galau. Entahlah. Semalam tidurku tak nyenyak. Saat aku sepenuhnya tersadar aku melihat beberapa remasan kertas bertebaran di lantai kamarku serta sebuah pena dan kertas putih belum tersentuh di meja kerjaku. Aku ingat, sebenarnya aku ingin menulis padamu.

Aku mencoba mengingat mimpiku semalam. Tentang apa aku tak ingat yang aku ingat hanya wajahmu. Wajah yang sama yang membuatku terjaga beberapa kali semalam dalam keadaan lemas. Mimpi yang berulang tiga kali semalam.

Kopi pagi ini tak juga bisa menenangkanku. Aku bahkan tak lagi berharap menemui canduku untuk meringankan fikiranku. Aku ingin bertemu, kamu. Mungkin sedikit bicara padamu menyakinkanku tak ada kejadian buruk menimpamu.

Sisi lain membuatmu diam. Perkataanku yang mungkin sedikit mengejutkanmu. Aku tahu sepertinya aku menghancurkan semuanya. Aku bahkan tak bisa lagi merangkai kata yang kiranya membuatmu kembali mengerti. Maaf. Kata yang tak mudah keluar dari mulutku tapi itu yang ingin ku ucap. Aku hanya tak bisa ungkapkan alasanku mengatakan maaf padamu. Aku hanya takut terbawa perasaan, hal yang sangat tak kupahami.

Aku selalu bilang aku benci hal ini. Aku membenci bila perasaanku mulai bicara. Otakku berhenti, mulutku bicara tak tahu arah. Aku hanya ingin kamu ada tetap seperti adanya dirimu. Aku pun akan begitu. Saat ini mungkin itu yang terbaik.

Ah sudahlah. Toh mungkin tulisan ini tak akan pernah kamu baca atau mungkin suatu saat dia akan menjadi remasan kertas lain yang tersebar di kamarku sebelum akhirnya masuk ke tong sampah. Kita lihat saja nanti.


Friday, January 18, 2013

Flashback

Ternyata saya menjadi blogger sudah hampir seusia kuliah saya. Mulai dari tahun 2006 saya sudah membuat blog, walaupun sempat berganti-ganti alamat karena lupa kata sandi untuk masuk ke blog itu.

Blog pertama saya ada di http://valoeries.blogspot.com/ Kenapa valoeries, mungkin karena saya saat itu masih merasa nama valoeries itu menyenangkan. Valoeries adalah nama gabungan saya dan kedua sahabat saya. Va dari Vanny, Loe dari Luthvia dan Rie dan Ria. Itu adalah awal saya bermain-main di dunia blogger. Isinya hanyalah curhatan awal seorang mahasiswa baru dan puisi-puisi konyol seorang anak lulusan SMA. Walaupun begitu sepertinya saat itu tidak ada syndrom alay jadi tulisan saya pun masih biasa saja. Saya menggunakan blog ini hanya 7 bulan dengan 10 kali posting yang berarti setiap bulan sekali saya posting. Saat ini blog ini masih belum bisa saya akses karena memang saya lupa kata sandi dan email dari blog ini. 

Blog kedua saya ada di http://birulangit-yuka.blogspot.com/ Kenapa biru langit, karena saya memang suka biru langit. Sepertinya sebelum ke alamat ini saya pun pernah menggunakan alamat wordpr*s. Namun, saya kesulitan untuk menggunakannya dan kembali pindah ke blogsp*t. Di alamat biru langit saya menggunakan nama yuka, sama seperti di valoeries. Nama yuka dipilih karena saya dulu pernah membaca komik dengan seseorang tokoh bernama yuna dan akio. Gabungan kedua nama ini yang membuat saya memilih nama Yuka untuk blog saya yang kedua. Di blog ini saya tidak bertahan lama tetapi cukup sering menulis. Saya menggunakan blog ini dari Juli 2007 hingga Mei 2008 dengan total 41 posting. Isinya, masih ada beberapa puisi (yang sebenarnya saya mulai iri karena saya rasanya sudah tak bisa lagi membuat puisi), tulisan-tulisan pengalaman saya dan beberapa hasil pemikiran saya dengan otak ala kadarnya saat itu. Sepertinya saat itu saya sedang tergila-gila dengan raditya dika, mengingat gaya tulisan saya yang hampir mirip dengannya, melihat suatu kejadian dari sisi yang konyol.

Lalu blog saya yang lain adalah yang saya pakai sekarang. Mungkin terlihat lebih formal akhir-akhir ini karena menggunakan kata ganti saya, bukan gw. Bukan tidak mungkin saya akan menggunakan gw lagi, tergantung apa yang mau saya ceritakan dan bagaimana harusnya saya menceritakannya.

Saya banyak belajar dari blog-blog saya. Mengenali perubahan apa saja yang terjadi pada diri saya selama ini. Mulai dari awal masuk kuliah, mengenal jogja, cara pandang hidup saya, kegiatan saya waktu itu dan pengalaman-pengalaman yang mungkin akan saya lupakan jika tidak saya tuliskan. Bahkan sebagian dari tulisan-tulisan itu khususnya puisi, saya tak ingat kenapa saya menulis itu dan apa maknanya. Tapi ya sudahlah. Itu adalah apa yang saya rasa saat itu dan saya bisa menilainya kini untuk menjadi lebih baik.

So, let's write.