Sunday, December 22, 2013

Petak Umpet

"Aku menang, kamu jaga. Itung sampe 20 ya," kataku.
"Aku pasti bisa nemuin kamu," katamu kemudian mulai menghitung.
Hampir 15 tahun yang lalu kita bermain petak umpet untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya keluargaku membawaku pergi dari dirimu, membuatku jauh dari dirimu. Waktu berlalu dengan cepat, hingga akhirnya aku bertemu denganmu dan menyadari aku sudah terlalu lama berpisah darimu.
Lima tahun lalu secara tidak sengaja aku kembali bertemu denganmu tanpa aku tahu kamu adalah sahabat kecilku, tanpa kamu tahu aku adalah sahabat kecilmu. Aku harus beradaptasi lagi dengamu. Tidak seperti dulu saat kita masih kecil, lahir dan tumbuh di kompleks perumahan yang sama membuatku lebih mudah mengenalmu, lebih mudah mengertimu. Anak-anak lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Mereka masih terlalu polos untuk merasa gengsi. Dunia mereka adalah berteman. Mungkin itu yang membuatmu bisa tetap bermain dengan segala keegoisanku, tidak seperti sekarang.
Akhirnya aku punya waktu untuk berkunjung ke rumah sahabat kecilku, ke rumahmu. Aku masih ingat rumahmu. Aku masih ingat jalan-jalan kecil yang harus aku tempuh menuju rumahmu. Aku masih ingat letak taman yang kini beralih fungsi menjadi perumahan-perumahan. Aku masih ingat ayunan bambu di depan rumahmu. Ada pagar besi berwarna putih di depan rumahmu. Kini pagar itu tetap berwarna putih, catnya masih baru. Mungkin kelurgamu tetap mengecatnya supaya terlihat lebih indah. Di samping rumahmu ada rumahku dulu. Kini rumah itu sudah memiliki penghuni baru. Pasangan muda rupanya. Mereka sudah menanamkan rumput hijau di halaman depan rumah dan menambahkan garasi di samping rumah. Rumah yang dulu sempat aku tempati.
Kemudian kamu keluar dari rumah milik teman kecilku itu. Kamu terkejut mendapatiku duduk dengan santainya di ayunanmu. Tahukah kamu, aku pun sama terkejutnya denganmu. Aku tidak menyangka kamu adalah sahabat kecilku. Suasana tidak menyenangkan itu berakhir cepat. Untunglah ibumu keluar dan mengenaliku. Aku masih ingat padanya. Ibu terbaik yang pernah ada, terbaik setelah bundaku. Kerikuhanku padamu berakhir tawa saat kita saling mengenali satu sama lain lagi. Aku kembali dekat denganmu.
Fisikmu berubah dengan cepat, membuatku tidak bisa mengenalimu di pertemuan pertama setelah sekian lama. Lebih dewasa kataku, tidak ada lagi baju monyet atau celana pendek ditemani sapu tangan untuk mengelap ingus. Kamu rapi dan wangi. Tidak ada perubahan pada sikapmu sewaktu pertama kali bertemu dan berkenalan kembali denganku, tetap hangat. Ramah dan murah senyum, walaupun kamu tetap menjaga jarak dengan orang yang baru kamu kenal.
Waktu juga merubah fisikku, lebih berantakan katamu. Tidak ada rok mini dan kaos lucu yang kupakai. Kini aku identik dengan kaos oblong, jeans sobek di lutut, jaket dan topi. Jauh dari kesan gadis kecil yang lucu. Namun waktu ternyata tidak mampu merubah watakku, membuatmu mungkin bertanya-tanya makhluk apa yang membuatku masih tetap hidup dengan segala keegoisanku yang katamu tumbuh dari masa kecil kita. Aku lebih keras kepala dari pada aku yang dulu. Sore itu kita habiskan waktu untuk mengenang masa lalu kita. Sejak hari itu dua sahabat lama kembali bertemu dan menjalin cerita lagi.
Dua tahun yang lalu, aku merasa ada yang lain denganmu. Sifatmu padaku, perhatianmu padaku lebih dari seorang teman. Aku merasa terkadang kau terlalu bersikap manis padaku. Semua senyum, candaan bahkan ucapan konyol selamat tidur yang pernah kau ucapkan padaku. Semua itu kau lakukan hanya untukku, untuk aku saja. Kamu mulai nyaman bercerita lebih banyak tentang rencana hidupmu, tentang impianmu, tentang ketakutanmu, tentang masalahmu padaku dan hanya padaku. Aku sudah tahu sedikit banyak tentang itu, tetapi kau menceritakannya seolah membuka selembar kertas dihadapanku dan berkata, “inilah aku.” Kita mulai menyendiri, hanya berdua, tidak ada tiga, empat atau lima. Hanya ada kita, aku dan kamu dengan semua cerita, harapan, impian dan masalah, baik dariku ataupun darimu.
Kemudian, aku merasa ada yang berbeda dari caraku melihatmu. Aku merasa mulai menyukaimu, bukan sebagai teman. Lebih dari pada itu. Secara tak sadar, aku mulai mengejarmu. Tak rela membagimu dengan yang lain. Aku mulai memproteksi dirimu dari yang lain. Aku menampakkan rasa cemburu. Kamu menyadari ada yang berbeda dariku. Kamu tetap bergeming seakan tidak pernah rasa yang lain diantara kita. Ketika aku mengungkapkan keganjilan rasaku, kamu juga tetap diam. “Biarkan mengalir. Rasa itu akan berubah, semakin dalam atau semakin hilang,” katamu. Semakin aku mempertanyakannya padamu, aku merasa semakin tersakiti oleh perasaan itu.  

Kini aku mulai lelah mencari. Aku berhenti. Kini giliranmu. Hitunglah sebanyak waktu yang kamu mau, lalu carilah aku. Aku tahu kamu bisa menemukan aku, seperti dulu kamu selalu bisa menemukanku. Aku akan bersembunyi, melihatmu dari jauh. Giliranku menunggumu, menemukanku dan membawaku keluar dari persembunyian dan memulai babak baru.


Yogyakarta, 22 Desember 2013