Thursday, February 18, 2010

Catatan Kecil part 3

Gw kecewa. Merasa bahwa sistem akademik saat ini bukan mempermudah mahasiswa untuk mengambil mata kuliah yang dapat meningkatkan kualitasnya bukan hanya sebagai mahasiswa tetapi juga calon alumni. Gw sendiri dibikin bingung dengan sistem admistrasi yang baru. Bukankah sesuatu yang baru seharusnya dapat berjalan lebih sistematis dibandingkan dengan sistem sebelumnya? Bukankah seharusnya ada antisipasi2 yang terfikirkan jika nantinya terdapat masalah pada sistem yang baru.

Sistem baru ini malah membuat semua semakin kacau. Kerja semakin tidak efisien, karena mahasiswa yang biasanya bisa mandiri dalam menentukan kelas yang akan malah menjadi semrawut karena sistem baru ini. Contoh saja : tidak ada revisi dan jadwal yang terkadang berubah membuat para mahasiswa kalang kabut karena beberapa mata kuliah yang seharusnya tidak bentrok jadwalnya menjadi bentrok. Jadwal mata kuliah pilihan yang sama dengan jadwal mata kuliah wajib mengesankan bahwa tak ada pilihan bagi mahasiswa untuk memilih mata kuliah pilihan tersebut. Intinya tak ada mata kuliah "pilihan" mahasiswa, yang ada adalah mata kuliah "pilihan" kampus.

Entahlah, gw berharap semester depan sudah ada penyesuaian terhadap sistem yang baru ini sehingga "kesemrawutan" ini dapat teratasi.

Wednesday, February 17, 2010

catatan kecil part 2

Gw cuman mahasiswa biasa yang lagi berusaha buat menjadi lebih baik. Tapi kenapa malah jurusan mempersulit gw buat dapet pendidikan yang seharusnya? Kenapa dengan sistem yang baru malah bikin mahasiswa bingung?

Dalam mata kuliah yang ditawarkan ada satu mata kuliah yang diambil hanya satu mahasiswa yaitu gw. Menurut jurusan minimal harus ada 10 mahasiswa untuk 1 matakuliah, jika tidak maka mata kuliah itu dibatalkan. Kebetulan mata kuliah yang bersangkutan adalah mata kuliah pilihan.

Ada mata kuliah pilihan lain yang hanya diambil oleh 5 mahasiswa. Karena revisi KRS(kartu rencana studi) tidak diadakan, maka mata kuliah tersebut tetap ada. Tapi gimana dengan nasib mata kuliah yang hanya mempunyai peminat 1 mahasiswa?

Gw udah berusaha untuk tanya dosen wali gw. Dari beliau gw disarankan untuk menghubungi pihak sekretaris jurusan. Gw pun menghubungi sekretaris jurusan. Jawaban yang gw dapet sungguh tidak memuaskan. "Saya belum mengecek ke pengajaran sehingga saya belum bisa memberikan jawaban apa-apa."

Lalu gimana dengan kuliah gw? Sungguh membingungkan sistem administrasi kali ini.

Monday, February 15, 2010

Catatan Kecil part 1

Hari ini awal gw kuliah. Gw berangkat kuliah dengan sisa-sisa semangat yang semalam gw kumpulin kembali setelah hancur berantakan dalam waktu beberapa menit. Lima belas menit sebelum perkuliahan dimualai gw udah sampai di kampus. Segala pikiran tentang peningkatan ip udah ada di otak gw. Gw yang ga mau lagi jatuh dalam kuliah gw.

Sampai di sana suasana sempat ricuh akibat pembagian kelas. Kelas yang gw ikutin ternyata di bagi menjadi 2 kelas. Sedangkan pembagian kelas bisa dilihat pada jam itu juga di pengajaran. Bayangkan hampir 100 anak (atau bahkan lebih?) membanjiri pengajaran yang kira2 hanya muat untuk berdiri 7-8 orang. Sedangkan waktu menunjukkan hampir jam 7 pagi. Hal ini tidak praktis. Kenapa pembagian kelas harus diberitahukan mendadak sebelum perkuliahan dimulai. Sangat tidak efektif.

Saat perkuliahan berlangsung. Gw berusaha buat mendengarkan apa kata dosen gw. Gw gak mau gagal lagi dalam mata kuliah ini. Tapi saat itu terdenger suara gaduh dak-duk-dak-duk palu pada dinding. Apakah jurusan akan membangun atau merombak gedung, gw sendiri kurang paham. Permasalahannya adalah mengapa suara-suara itu sampai mengganggu mahasiswa yang mau belajar untuk menjadi lebih baik akhirnya. Bagaimana jurusan dapat menjanjikan prestasi mahasiswanya akan meningkat jika mereka terganggu belajarnya dengan suara gaduh yang ditimbulkan para tukang untuk merombak gedung. Merusak konsentrasi belajar.

Hal yang sama pada kejadian jam 7 pagi terulang kembali. Kelas kembali di bagi 2 tanpa tau siapa di kelas mana, bahkan sampai beberapa orang diantara temen2 masuk ke kelas yang salah. Gw tetap di kelas itu karena kebetulan gw terdaftar di kelas itu (gw juga baru tahu bahwa gw di kelas itu setelah beberapa temen minta waktu ke dosen yang sudah mengajar buat ngecek siapa2 aja yang seharusnya ada di kelas lain) Kebetulan salah satu dosen yang mengajar pun sedang ke luar negeri tanpa meninggalkan pesan. Padahal beliau biasanya pasti menuliskan pesan untuk mahasiswanya di papan pengumuman, tapi saat itu tidak ada (entah gw yang kurang teliti melihat papan pengumuman atau memang tidak ada). Kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Sebelum kuliah setelah istirahat gw iseng2 liat nilai2 yang terpasang di papan pengumuman. Gw liat beberapa nilai dicoret dan diganti (dengan pulpen lain). Kebetulan ini adalah perubahan yang lebih baik. Hal itu menandakan bahwa jika mahasiswa tidak mau menanyakan nilainya maka nilainya akan tetap jelek, tapi jika dia mau/berani meminta keterangan atas perolehan nilainya itu maka kemungkinan nilainya akan bertambah (kebetulan salah nilai yang diganti itu adalah nilai salah satu temen gw yang sebelumnya menanyakan remidiasi ke gw). Gw gak tau apakah ini hanya kesalahan penulisan yang berdampak pada kesalahan di portal atau memang hanya salah catat.

Gw sangat mengerti tugas dosen yang bukan hanya mengoreksi ujian-ujian mahasiswanya, yang bukan hanya 30-40 orang. Gw sangat mentolerir jika ada kesalahan penulisan yang dosen lakukan dalam pemberian nilai. Seharusnya itu menjadi masalah yang perlu di carikan jalan keluarnya bagi para bapak ibu dosen kita itu. Agar mahasiswa tak lagi menjadi korban (kalau gw boleh bilang ini sebagai) kecerobohan dosen. Dosen tetaplah manusia yang punya lelah.

Catatan kecil untuk mahasiswa (termasuk saya) : "Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberi keadilan." Terkadang kita memang harus menuntut hak kita agar tak tertindas dengan kecerobohan2 orang lain.

Sunday, February 7, 2010

Semarang part 2

Dua hari satu malem di Semarang, saatnya pulang lagi ke Cilacap. Pulang naek taksi dari rumah Eyang sampai ke Banyumanik (kalo gak salah) buat nunggu bis yang bawa gw sama mama pulang ke Cilacap.

Ternyata bis yang gw naikin udah lumyan keisi satu-satu. Jadi gw gak isa duduk bareng mama. Yang ada tinggal bangku belakang sendiri. Jadilah gw duduk di situ. Sampai di Ungaran ternyata ujan deres. Habis itu gw gak perhatian sama jalan karna sesuai kebiasaan gw klo di bis pasti tidur.

Gw baru isa pindah ke kursi yang rada depan setelah di purworejo, waktu di tempat peristirahatan. Di depan gw duduk seorang anak laki-laki kecil, perkiraan kelas 1-2 sd. Dia bareng seorang cewek usia sekitar 23 th an. Gw pikir tadinya si cewek itu adalah kakak dari si anak lelaki kecil itu. Perkiraan gw itu berdasarkan tingkah si anak itu. Dengan entengnya tangan si lelaki kecil itu memukul kepala si perempuan saat si perempuan mengatainya ngapak.

Namun tiba-tiba si lelaki kecil itu berkata dalam bahasa jawa yang masih ngapak "Yung, aku mengko ngaji ya." (Bu, nanti aku berangkat mengaji ya). "Yung" disini berasal dari kata "Biyung" yang artinya Ibu. Yang gw ga habis pikir jika dia itu anak dari perempuan itu, kenapa dia berani memukul kepala ibunya dengan gampangnya. Dan kenapa si Ibu gak menegur anaknya yang bertindak kurang pantas buat anak seusianya?

Pendapat akhir gw : Si Ibu selama ini jauh dari anaknya dan selama ini si anak diasuh keluarganya. Kenyataan yang mendukung : bahasa jawa si Ibu yang sudah tidak terlalu ngapak, dan tingkah si anak yang tidak mencerminkan sikap seorang anak pada ibunya.

Dari situ gw ambil pelajaran ternyata seorang anak memang sangat membutahkan orang tuanya dalam perkembangan pribadi dan mentalnya. Untug aja si anak kecil ini bukan termasuk anak yang rewel yang membuat orang lain jengah dengan sikapnya.

Semarang part 1

Liburan ini bisa dibilang gw isi dengan acara berkunjung. Gw pulang ke Cilacap 1 minggu setelah liburan akhir semester dimulai. Dua hari di Cilacap, gw sama mama pergi ke Semarang naik bus. Seinget gw ini adalah kali kedua gw ke Semarang. Pertama kali ke Semarang waktu gw masih kecil, sd mungkin.

Sedikit kenangan yang gw inget dari rumah Eyang di Semarang adalah salah satu pak dhe yang waktu itu berambut panjang untuk ukuran laki2 (yang sampai saat ini sering ngingetin waktu kecil gw selalu bawa2 kacu buat ngelap ingus). Rasa bersalah itu masih ada. Rasa bersalah karna sempat menganggapnya perempuan. Waktu itu aku berkata dalam hati "kayaknya Eyang Su punya 2 anak laki2 deh, Mas Oni sama Mas Oki. Nah trus cewek ini siapa? Apa anaknya Eyang Su? Jangan2 aku salah inget bahwa yang namanya Oni itu perempuan?" Syukurlah kata2 itu gak pernah terucap karna mama bilang "Wah rambutmu gondrong On kaya cewe, jangan2 dikampus ada yang panggil mbak Oni ya?" Aku kecil pun kembali ke jalan yang benar tanpa harus mempermalukan diri di hadapan keluarga Eyang Su dengan memanggilnya Mbak Oni :)

Kenangan lainnya (yang ini gw inget gara2 selalu di ingatkan juga) bahwa gw dulu suka naik turun tangga. Rumah di Semarang emang di tingkat, kamar ada di atas. Waktu ngeliat tangga itu gw mikir, apa ia dulu gw suka naik turun tangga? Gw sekarang lebih memilih untuk tetap di bawah ataupun di atas ketimbang harus bolak balik naik turun. Disampng karna capek naik turun, gw juga takut jatoh dari tangga.

Ternyata di rumah Eyang masih banyak pedangang keliling lewat. Lima menit sekali pasti ada yang lewat. Entah itu odong-odong atau penjual makanan apapun. Jadi inget waktu ditratir kedua Pak dhe makan es krim yang ga abis-abis :) Waktu itu gw ga inget ada buku2 yang begitu menarik buat dibaca. Apa karena gw yang belum tertarik sama buku atau karna alasan keterbatasan ingatan gw sendiri juga ga paham.

Tapi yang jelas kemaren di Semarang gw dimanjakan dengan "perpustakaan" di kamar atas.