Indah ketika kata “Kita” terucap dari mulutmu. Seolah
mengandung suatu magic, satu kata itu cukup membuat penabuh genderang ini
bersemangat. Tidakkah kau dengar betapa kuatnya dia berdebar sayang?
Kita adalah aku dan kamu . Aku dan kamu pernah punya masa lalu.
Aku dan kamu pernah merasa di sakiti. Aku dan kamu pernah menyakiti. Aku pernah
menyakitimu, kamu pun pernah menyakitiku. Lalu mengapa kita masih mengulanginya
lagi dan lagi, sayang?
Kita mempunyai banyak persamaan. Kita sama-sama manusia.
Kita sama-sama punya perasaan. Terkadang kita punya pikiran yang sama.
Kata-kata kita pun terkadang sama. Kita sama-sama pernah bimbang dengan
perasaan kita. Jika begitu samanya kita, kenapa kita tidak bisa memahami satu
sama lain, sayang?
Kita berbeda satu sama lain. Aku dengan segala keegoisanku
dan kamu dengan segala pembenaranmu. Aku mencoba untuk mengerti pembenaranmu.
Aku tahu kamu paham keegoisanku. Lalu, mengapa kita tidak pernah mencoba untuk
menjadikannya satu?
Terlalu banyak pertanyaan tentang kita. Bagaimanakah kita
nanti? Bisakah kita bertahan dengan semuanya? Seperti apa awal baru untuk kita?
Dan sebagainya. Tidakkah kau lelah dengan semua itu. Ya, aku lelah. Bukan
berarti aku tak lagi ingin, aku hanya lelah bertanya. Bertanya tentang kita, pada diriku sendiri.