Monday, July 1, 2013

Kita

Indah ketika kata “Kita” terucap dari mulutmu. Seolah mengandung suatu magic, satu kata itu cukup membuat penabuh genderang ini bersemangat. Tidakkah kau dengar betapa kuatnya dia berdebar sayang?

Kita adalah aku dan kamu . Aku dan kamu pernah punya masa lalu. Aku dan kamu pernah merasa di sakiti. Aku dan kamu pernah menyakiti. Aku pernah menyakitimu, kamu pun pernah menyakitiku. Lalu mengapa kita masih mengulanginya lagi dan lagi, sayang?

Kita mempunyai banyak persamaan. Kita sama-sama manusia. Kita sama-sama punya perasaan. Terkadang kita punya pikiran yang sama. Kata-kata kita pun terkadang sama. Kita sama-sama pernah bimbang dengan perasaan kita. Jika begitu samanya kita, kenapa kita tidak bisa memahami satu sama lain, sayang?

Kita berbeda satu sama lain. Aku dengan segala keegoisanku dan kamu dengan segala pembenaranmu. Aku mencoba untuk mengerti pembenaranmu. Aku tahu kamu paham keegoisanku. Lalu, mengapa kita tidak pernah mencoba untuk menjadikannya satu?


Terlalu banyak pertanyaan tentang kita. Bagaimanakah kita nanti? Bisakah kita bertahan dengan semuanya? Seperti apa awal baru untuk kita? Dan sebagainya. Tidakkah kau lelah dengan semua itu. Ya, aku lelah. Bukan berarti aku tak lagi ingin, aku hanya lelah bertanya. Bertanya tentang kita, pada diriku sendiri.

Jakarta Kali Kedua

Subuh, saat kota ini mulai menggeliat hidup. Ah, aku lupa kota ini tak pernah mati. Dia hidup 24 jam sehari. Kali ini aku datang lebih berani dari sebelumnya, hanya saja aku masih menyimpan ketakutan yang sama.

Fajar di kota ini tidak lebih baik dari kotaku. Bau sampah sudah tercium bahkan saat fajar. Aku menyadarinya karena aku yang menghabiskan waktu sambil mengamati fajar tiba di kota ini dan detilnya. Beberapa ekor nyamuk juga meramaikan pagiku di kota ini. Nyamuk-nyamuk sebesar nyamuk kebun mengerubutiku ketika aku masih mengetik ceritaku.Tak beda banyak dari ingatanku di siang hari, kota ini sama sibuknya. Entah itu siang atau malam bahkan ketika matahari baru akan menampakkan diri. 

Aku duduk dilantai tak jauh dari tempat penurunan penumpang. Bersamaku ada beberapa orang yg tidur beralaskan koran. Sekedar melepaskan lelah setelah perjalanan jauh ataupun menunggu matahari agak tinggi untuk melanjutkan perjalananan lagi.

Kereta lain datang membawa orang-orang dengan berbagai tujuan ke kota ini. Bau parfum bercampur keringat tercium juga olehku. Beberapa orang bergegas keluar dari stasiun sambil membawa tas, ransel, koper dan beberapa kardus. Sisanya berjalan santai sambil memandang orang-orang yang tidur di lantai itu. Wajah mereka seolah bertanya mengapa kami memilih beristirahat dan tidur di lantai daripada langsung keluar dari stasiun dan mencari penginapan atau pulang ke rumah. Walaupun sempat merasa aneh dengan pandangan mereka aku toh tetap acuh dan menuliskan ceritaku sambil merebahkan badanku berbantal tas ranselku. Sepertinya keacuhkan penduduk kota ini mulai menular padaku. 

Kali ini aku lebih siap. Lebih siap untuk menaklukan kota ini. Untuk merasakan panasnya kota ini. Aku mulai terbiasa dengan bising bus, metromini dan bau sampah di kota ini. Aku sepertinya tidak akan sekaget dahulu. 

Langit mulai terang. Orang-orang mulai terbangun dan mempersiapkan perjalanan selanjutnya. Ranselku pun sudah tergendong di bahu, aku pun akan melanjutkan perjalanan singkatku ini.



__Stasiun Pasar Senen, 28 Juni 2013__