Thursday, January 22, 2009

Ketika Segalanya Menjadi Membosankan

Aku tak tahu pasti apa yang sebenarnya ada pada benakku, apa yang sebenarnya aku inginkan. Dahulu ketika ruangan itu masih terkunci rapat, aku mengharapkan datangya seseorang pembawa kunci yang benar. Bukan bearti pembawa kunci asli, tetapi bisa juga orang lain yang mempunyai kunci yang sama dengan kunciku yang hilang itu.


Ketika orang itu tiba, aku terlalu berharap. Perlahan dia buka kembali ruang itu, ruang penuh cahaya indah yang selalu aku harapkan menghiasi ruangan lainnya. Ruang inti itu. Namun, ternyata aku tertipu kembali dengan semua perasaanku. Ternyata dia hanya mampu bertahan untuk membukanya. Tidak untuk melihat indahnya cahayanya. Atau mungkin aku yangkurang bersabar. Bersabar menunggunya beradaptasi dengan cahaya yan cukup menyilaukan itu.


Dan kini akupun terkunci. Terkunci sendii dalam ruangan itu. Bimbang akan segala yang kuperbuat. Aku di sini, menua. Tanpa memikirkan kembali pemegang kunciku, tanpa memikirkan kembali siapapun itu yang bisa membuka kembali ruangan ini dan tinggal di dalamnya. Aku hampa.


Aku kembali memikirkan akan sebuah dunia lain di atas sana yang dulu pernah menghiasi hariku. Bayangan indah yang setidaknya pernah ku mimpikan. Hanya memimpikan tentu, tapi setidaknya aku masih mempunyai harapan itu di mimpiku. Tidak seperti yang tejadi padakau kini. Kesunyianku, kesepianku, kesendiranku. Hanya itu yang kumiliki.


Aku dan ruangan kosong ini. Bahkan ruangan itu pun tetap tak utuh walaupun memancarkan cahaya indahnya. Ruangan kosong. Hampir semua temboknya lusuh. Ternyata aku membutuhkan lebih dari sekedar orang yang bisa membuka ruang itu. Aku membutuhkan orang yang bisa mengisinya. Namun, bagaimana di bisa mengisi ruang kosong ii jika dia ak mampu masuk kedalamnya.


Aku kembali tersadar dengan keadaanku kini. Tertidur karena lelah dalam ruang yang kembali terkunci ini. Aku bimbang, haruskah aku terus berada di sini dan menunggu, ataukah aku harus keluar dan memulai hidupku di luar sana. Aku menemui diriku dan memandangnya bosan dengan hidupnya. Setidaknya aku dulu pernah punya impian dan terhanyut di dalamnya. Setidaknya aku dulu tidak terhenti kebosanan karenanya.

Friday, January 16, 2009

Kekesalan yang Berlanjut

Well, masih inget hariku waktu ditilang?? Inilah harinya untuk persidangan tilanganku itu...


Jalan cerita dimulai pukul 8 pagi ketika gw harus memaksa diri buat mandi pagi dan berangkat sidang yang sebenernya dimulai jam 9. Pagi tadi gw lum nemu korban yang mau nenmenin gw waktu sidang. Tapi sebelum mandi gw berhasil dapet mangsa yang mau nemenin gw buat sidang.


Jam 9 kurang 2 menit gw ma mba kos dah sampe ke pengadilan negri, itupun pake acara kesasar dan puter arah. Bukannya gw ga cari tau tempatnya, tapi emang gw mengikuti insting gw yang parah tentang arah. Intinya stelah sampe di sana gw sempet syok ngeliat orang2... Dan kupikir gw dah telat, gw langsung tanya ma salah satu pegawai yang masih berseragam olah raga di sana tentang sidang tilangan gw yang ternyata belum dimulai. Gw disuruh nunggu bersama teman2 terdakwa yang lain.


Jam setengah sepuluh mulailah para terdakwa di panggil satu persatu berdasarkan copian surat tilangnya. Berhubung tulisan di surat tilang gw itu amat sangat tidah bisa di baca, begitu pula yang terjadi pada copiannya, jadilah nama gw dilewati oleh si pegawai pengadilan negri itu. Yang hasilnya gw harus dapet hampir antrian terakhir buat di sidang. Alhasil lagi, begitu baru duduk di kursi terdakwa hakim langsung menjudge 15.000 tanpa menanyakan "kenapa?". Padahal terdakwa yang lain sebelum gw ditanyain dulu. Gw ngerasa hak gw buat membela diri di depan hukum ga dikasih. Gw bilang ini disebabkan ma tulisan si polisi yang jelek!


Intinya kemarahan gw ma polisi yang kemaren muncul lagi. Kali ini disebabkan ma tulisan c polisi yang jeleknya minta ampun!Gw jadi mikir jangan2 tuh polisi dulu waktu lulus SDnya nyogok lai ye...makanya sekarang juga suka di sogok!

Satu lagi kritikan gw buat polisi-polisi yang terkadang suka membanggakan dirinya : belajarlah membaca dan menulis yang baik dan benar. Jadinya bisa nulis nama orang dengan tepat. Kalo bisa baca ma tulis yang baik kan masalah nama di persidangan seharusnya ga ada. Ga ada orang yang perlu bertanya "kenapa nama saya tidak dipanggil tapi ternyata ada" hanya karena tulisan yang emang ga bisa dibaca.

Sunday, January 11, 2009

miss...

Aku hanya merindukannya. Kupikir ku telah memilikinya...ternyata aku masih tetap jauh darinya..

Apalah dayaku. Aku hanyalah maya baginya. Aku tak pernah ada di dekatnya. Aku tak nyata baginya. Ataukah dia yang tak nyata bagiku. Namun, kenyataanya memang tak begitu. Tak melihat, tak menyentuh....

Aku hanya merindukannya. Ternyata memang aku harus menunggu. Apakah aku memang dilahirkan untuk menunggu?? Bukan untuk mendapatkan?

Thursday, January 8, 2009

is the police hate a student?

Hari ini mungkin hari yang terbilang lumayan buruk untukku..

setelah berkutat dengan ujian yang yah terbilang cukup melelahkan aku kembali harus didatangi oleh sekumpulan makhluk aneh yang menyebut dirinya sebagai penegak hukum. Siapa lagi kalo bukan polisi...

Yaks...daku kena tilang hari ini...Jalan itu jalan di depan terminal jombor jogja. karena rambu yang nyempil dan entah menghadap ke mana jadilah aku ngga tau kalo ada rambu di situ.

Well, pertama si polisi muda yang nilang gw. trus gantian si polisi yang lebih tua yang menghadapi gw. Layaknya orang yang bersalah dan akan menerima hukuman aku juga mencari pembelaan diri. Ternyata polisi itu juga punya batas kesabarannya masing2.. Si polisi gw rasa dah mulai marah ma gw.. Saat itu gw ga peduli, 'cuz mereka juga udah bikin gw marah siang itu.. Satu hal yang membuatku lebih muak di ruangan sempit itu, si polisi tua menanyaiku tentang hukum dan dia memberikan penerangan tentang hukum itu. Terlintas gw pengen jawab, orang hukum juga banyak yang ngelanggar hukum. Dari pada saya tau dan saya melanggar, lebih baik saya tidak tau dan saya tidak terlalu banyak tau tentang itu.

Akhirnya karena malas berlama-lama dan berdebat yang ga penting tentang hukum. Gw menerima surat tilang itu. Sidang tanggal 16 Januari 2009.

Satu ucapan yang gw ingat dari c polisi "biasanya mahasiswa kan mau tau"

Benar juga katanya "polisi kesel ma mahasiswa yang suka demo!"

Monday, January 5, 2009

Hariku Lalu

Kadang aku merasa aku bukan siapa-siapa. Rasa malu yang ada padaku ketika aku membaca tulisannya. Tulisan dari orang yang menjadi contohku...

Ingatanku kembali pada salah satu tulisannku dimana aku membayangkan diriku menjadi orang lain. Dimana dalam tulisan itu aku hidup bahagia dengan adanya 2 orang kakak yang sangat berbeda karakter.. Sosok 2 orang itu ada, dan mereka memang seperti pelindungku.. Aku belajar dari mereka aku mengenali mereka dan pada akhirnya aku malu pada diriku sendiri..Ternyata selama ini aku belum cukup belajar.

Aku kembali merenungi yang terjadi beberapa hari ini..Ketika aku merasakan ada yang berbeda pada hari-hariku. Aku yang mulai belajar untuk memandang hidup dari sudut pandang yang berbeda. Aku yang mencoba untuk tidak terlalu serius. Lebih menikmati hidupku..

Saat aku mulai mencoba hal baru dan meninggalkan yang lama, seorang sahabatku menjegalku dengan berbagai keraguan dengan hal baruku. Aku hanya mencoba untuk tetap berjalan dengan adanya hal itu. Aku kembali pada diriku sendiri. Aku adalah aku. Aku bukan boneka, aku bukan siapa-siapa. Aku adalah aku yang akan terus mencoba hal baru.

Sepenggal Cerita

Lama aku tak menulis kembali. Menulis segalanya yang ada di benakku.. Berbagai kisah dan cerita telah terjadi selama ini, namun itu hanya menjadi kenangan belaka tanpa tulisan.

Ketika aku membaca satu tulisan lain, akhirnya aku tersadar bahwa ingatan bisa terlupakan. Dan tulisan adalah pengingatnya. Dan disini aku mencoba mengingat kembali apa yang telah aku lewati dan ku pe;ajari dalam hidupku, karena pada dasarnya hidup itu adalah belajar.