Thursday, November 18, 2010

Romantis Tak Selalu Harus Sedih

Aku tertarik dengan pernyataan "romantis itu gak selalu harus sedih".

Ya, memang benar. Romantis gak selalu harus sedih. Romantis gak selalu harus mendayu-dayu. Romantis gak selalu harus personifikasi. Romantis tidak harus selalu berupa puisi.

Kadang, buatku romantis itu melihat dia senyum. Romantis itu waktu tertawa bersamanya. Romantis itu waktu aku menghabiskan waktu bersamanya. Hem....layaknya orang lagi jatuh cinta. Tapi tidak, aku tidak sedang jatuh cinta. Aku hanya ingin menikmati kenangan-kenangan romantis bersama orang yang kukasihi.

Bukankah romantis itu timbul karena perasaan sayang? Jadi gak selalu harus mendayu-dayu dong. Kalau kamu tanya aku, aku lebih memilih 'romantis yang ceria', walaupun terkadang ketenangan juga dibutuhkan dalam membangun romantisme. Seperti saat ini, aku mencoba mengingat romantisme yang pernah kudapat dengan ketenangan, hingga terkadang aku tersenyum sendiri mengingatnya.

Ah, satu hal lagi. Ketika kamu tau apa yang terlewatkan dariku, itu adalah saat yang tepat untuk membangun romantisme denganku, karna mungkin saat itu aku mendengarkanmu.

That's Why Jogja so Crowded

Gw gak suka macet. Itu alasan utama kenapa gw gak pengen kuliah di Jakarta. Kalo liat macet atau kejebak macet di jalan berasa ubun-ubun kepala mau pecah. Tapi, kayaknya fenomena macet di jalan bakal terjadi di Jogja.

Mungkin kasus macat di Jogja berbeda dengan kasus macet di Jakarta, karena macet di Jogja bukan disebabkan oleh banyaknya kendaraan yang melintas, tetapi lebih disebabkan karena kurangnya lahan parkir.

Lihat aja di daerah Rumah Sakit Sardjito Jogjakarta. Jalan depan rumah sakit terlalu lebar, tetapi kanan kiri jalan digunakan sebagai tempat parkir mobil, entah mobil dokter, pengunjung, pasien, dan juga taxi. Selain itu pedagang kaki lima juga pada mangkal di sana.

Gak isa dipungkiri, daerah tersebut emang jadi lahan basah buat para pedagang makanan kaki lima. Tetapi malah itu jadi nambah keruwetan jalan. Jalan tersebut merupakan jalan 2 arah, tetapi di sepanjang jalan banyak mobil yang parkir dan bikin jalan makin sempit. Makanya gw selalu senewen kalo siang-siang naek mootor lewat Sardjito.

Alternatifnya, kadang gw potong jalan lewat kedokteran ugm - Jl. Kaliurang. Gw lebih milih motong jalan lewat kedokteran - mipa ugm karna di perempatan MM UGM adalah salah satu perempatan dengan lampu merah yang lama. Tentu bisa dimengerti kalo gw juga gak mau panasan akibat kehalang lampu merah kan :)

Tuesday, November 16, 2010

Protes..protes.....protes....

Gw bingung dengan sistem yang dipake di kampus gw. Gw sedikit gak nyaman dengan berjalannya sistem tersebut. Kalo ini mau disebut protes, silakan saja.

Misalnya gini. Pengumuman tentang aktivitas kuliah setelah adanya libur akibat adanya keadaan darurat engga di upload di web resmi kampus, malah di upload di fb milik salah satu pengurus jurusan. Jadulah kabar aktivitas kuliah yang gw denger serampangan, karena satu jurusan dan lainnya punya kebijakannya sendiri. Bukan gw gak setuju, tapi selama ada situs resmi kenapa mesti harus pake situs pribadi?

Hal yang lain, misalnya dalam libur idul adha kali ini. Tahun ini, ternyata ada 2 versi idhul adha, ada yang merayakan tanggal 16 ada juga yang tanggal 17. SK rektor menyatakan libur akademik tanggal 17 November, tanggal 16 November perkuliahan seperti biasa. Nyatanya? Hari ini dosen yang harusnya mengajar gw gak ada yang masuk. Yang lebih menyebalkan, pengumuman dosen tidak hadir pada hari ini enggak ada, kalaupun ada pengumumannya ada 5 menit sebelum kelas seharusnya mulai. Hal itu bikin mahasiswa terpaksa bolak-balik karna emang ga ada kelas.

Begitulah kampus gw. Atau mungkin harus gw bilang, begitulah birokrasi? Terserahlah. Yang jelas, gw kecewa sama kampus hari ini. Harusnya keadaan yang gak kondusif ini bisa di kondusifkan dengan informasi yang lebih jelas dan tegas, tentunya dengan toleransi di dalamnya.

Takbir Keliling

Serasa di Tarub waktu tadi denger ada anak kecil-kecil pada takbir keliling. Kebetulan gw baru selesai mandi. Jadilah gw ngintip dikit dari jendela kamar. Itu salah satu untungnya punya kamar paling depan, deket jalan.

Ini adalah lebaran pertama dimana gw gak ngerayain di rumah. Gak isa pulang karena emang harinya nanggung. Sedikit sedih sih tadi liat anak-anak kecil pada takbiran keliling. Serasa ada yang kurang di idul adha kali ini.

Tapi gak apalah. Mendengarkan dan melihat anak-anak kecil takbir keliling lewat depan kosan sedikit menghibur. Walaupun tak selengkap saat takbiran di rumah atau saat liat takbir keliling di Tarub, tapi takbir keliling ini cukup mengobati kangen.

Selamat idul Adha.

Monday, November 15, 2010

Gara-gara Sepatu

MALLLLUUUU.....malu banget hari ini.......Gw dengan bagusnya jatuh sedikit meluncur gara-gara ngejar temen dan kepleset. Ugh...mending kalo cuman temen-temen seangkatan aja. Lah ini, jatuh di depan lobby kampus, banyak temen-temen ma angkatan lain yang masih pada duduk-duduk.

Lah terus keluarlah komentar-komentar dari temen-temen, dari yang berbaik sangka menanyakan aku kenapa sampe yang bener-bener ngetawain sampe dibilang "ngepel lantai yah"

Huh! Ya, gw tau, gw pecicilan. Tapi itu terlalu memalukan. Hua....baru kerasa kaki sakit gara-gara jatoh tadi. Habis yang tadi lebih kerasa malunya ketimbang sakitnya sih.

Ugh, kalo gini caranya trus kapan yah gw isa dibilang bener-bener cewek (mengingat komentar teman-teman yang selalu dengan baik hati mengingatkan bahwa gw separo cowok!). Tapi ya sudahlah, gw menikmatinya kok. Ada kalanya gw bakal jadi cewek yang sesungguhnya...kan hati gw udah cewek (halah!)

Oya, trus sepatunya mau gw apain ya? Padahal kan itu sepatu cewek yang gw beli bareng Ria. Gw bakalan males pake sepatu itu kalo keadaan masih kek gini, habisnya lantai kampus jadi tambah licin gara-gara debu2 itu sih. Huah, buat sementara berhenti pake sepatu itu dolo dah.

Menapaki Jejaknya

Tak terasa sudah dini hari. Sudah beberapa jam aku duduk di depan laptop untuk melihat, membaca, menapaki jejaknya.

Dia diam, tak bicara. Akupun tak menyapa. Entah apa yang dilakukannya sekarang. Terlelap? Kupikir dia bukan orang yang terbiasa tidur pada apa yang kusebut "baby sleep time". Tetapi, sekarang memang sudah terlalu larut malam.

Aku tertarik, terhanyut menapaki jejaknya. Tiap langkah yang pernah dia goreskan, tiap cerita yang pernah dijalani. Dia, salah satunya yang membuatku berfikir bahwa hidup itu mengalir. Bahagia, sedih, suntuk, layaknya hidup itu berwarna. Tak selalu harus ceria. Karna jika selalu bahagia, kita takkan tau rasanya bahagia.

Sebelum tidur, aku melihat kembali jalan yang ku tempuh. Seneng, sedih, jatuh cinta, cemburu kemudian patah hati. Betapa lucunya hidupku. Yah, aku memang masih pada fase itu. Aku masih menunggu. Mungkin, sampai jatuh cinta lagi.


Ahhh.....pikiran saya kemana-mana.^.^
met tidur, sambil menunggu apapun yang kau tunggu.

Tuesday, November 2, 2010

Let The World Know Everything About You

"ih, ada orang yang sok tua (apa emang udah tua ya?) tapi kelakuannya masih kek anak kecil. Ngapain sih bawa-bawa orang tua, kek anak kecil aja."

Ketika status itu di publiskan lewat jejaring sosial kek facebook dan teman-temannya maka hal itu isa jadi "perang" status.

Gw baru sadar sekarang bahwa status itu secara gak langsung isa mencerminkan karakter kita. Intinya dari status-status yang kita pasang, kita membiarkan orang lain tau masalah kita, bahkan lebih jauh orang lain isa ikut campur masalah pribadi kita, karena orang isa comment di status itu.

Emang sih, kita isa mengilah kita udah pasang privacy untuk jejaring sosial kita, tapi kan tetep aja status kita keliatan kan? Tetep ada orang lain yang tau tentang apa sih masalah kita, walaupun mungkin gak secara langsung.

Jujur, terkadang gw menilai sisi lain seseorang dari status-status yang dia buat. Buat gw, hidup gw itu privacy. Dan dari obrolan siang tadi tentang "status di jejaring sosial", gw jadi lebih ati-ati pasang status di jejaring sosial. Emang sih, kadang gw psang status-status konyol, tanpa harus mengungkapkan masalah gw yang sesungguhnya.

Di sisi lain, gw juga manusia, kadang kesel dan pengen nunjukin ke semua bahwa gw lagi kesel. Tapi coba deh pikir, bijak gak sih kita perlihatkan segala emosi kita ke orang lain? Itu semua tergantung sudut pandang yang kalian ambil. Setuju gak setuju, terserah kamu.