Monday, November 25, 2013

Saat Kamu Menangis

Senja sore itu begitu indah. Aku selalu menyukai senja, walaupun tak pernah ku pungkiri indah senja itu tak sebanding dengan suatu magis yang ada pada dirimu. Aku bisa mengalihkan perhatianku pada raja siang yang hendak tenggelam itu hanya untuk melihatmu. Entahlah saat itu naluri perempuanku berkata aku tak akan lagi sama melihatmu. Itulah mengapa aku melihatmu begitu mendetail. Beberapa rambut tipis yang tumbuh di pipi, kumis yang mulai tumbuh karna mungkin belum sempat kau cukur, dan potongan rambutmu yang entah mengapa kurasa kurang cocok untukmu. Aku memandangmu dalam diam, entah kau menyadarinya atau tidak. Kamu masih asyik  melihat matahari tertelan luasnya laut tepat di garis horizon.
“Bahkan matahari yang segitu  besarnya bisa terbenam,” ucapmu memecah keheningan.
“Hah?” aku tak mengerti apa yang kau maksudkan.
“Udah sore, yuk pulang.” Ajakmu. Sepanjang perjalanan aku tidak membahas kata-katamu tadi. Tak ada yang bersuara. Nampaknya kendaraan bermotor yang lalu lalang sudah cukup untuk meramaikan jalan, tak perlu ada kata-kata tambahan dariku ataupun darimu untuk meramaikan jalan.
Naluri perempuanku makin gelisah. Ada yang akan terjadi tapi aku tak tahu apa. Aku makin gelisah. Aku letakkan telingaku di punggungmu mencoba mencari jawaban dari detak jantungmu. Cepat, tidak beraturan. Tanganku yang semula diam di kanan dan kiri pinggangmu kini merambah hingga ke perutmu. Aku memelukmu. Entah siapa yang mengizinkan aku melakukan ini, hanya saja naluri perempuanku terlalu berkuasa pada saat itu. Aku tahu kau merasakannya, aku tahu degub jantungmu makin cepat. Aku hanya tak mau kehilanganmu. Tidak sedetik pun.
Aku memelukmu selama perjalanan pulang. Tak sekalipun aku melepaskan pendengaranku dari degub jantungmu. Aku mencoba menyamakan degub jantungmu dan degub jantungku bahkan hingga kamu mematikan mesin motormu di depan rumahku.
“Aku pulang. Ini terakhir kali kita jalan berdua. Mulai sekarang aku harus tahu diri kalau ada orang lain yang deketin kamu. Aku harap kamu juga begitu.” Kamu menyalakan kembali mesin motormu dan pergi. Aku mendengar suaramu bergetar. Aku tak mendengar sepatah kata pun keluar dari mulutku sampai kau menghilang dari pandanganku. Aku hancur.
Aku hanya merasakan pedih di mataku. Aku hampir menangis. Aku segera menarik nafas panjang, aku tak mau menangis di sini. Tidak. Setidaknya aku harus berada di tempat yang menurutku aman untuk menangis.
Sampai di kamarku aku melihat sekelilingku. Pandanganku terhenti di sebuah bingkai foto. Dua orang tersenyum dalam foto itu. Foto yang diambil karena si pemotret salah mengira tentang aku dan kamu. Saat itu aku ingat, aku masih bersahabat denganmu. Aku mengambil foto itu, melihatnya dan membawanya dalam mimpiku. Aku menangis dalam tidurku.
Esoknya aku terbangun dengan mata sembab. Aku tak sadar menangis semalaman. Untunglah mataku bisa diajak berkompromi. Mata sembabku tak akan bertahan lama. Aku kembali menatap dua orang di bingkai itu. Akal sehatku mulai berkuasa. Dia memikirkan cara agar aku tak lagi melihat foto itu. Sisi perempuanku ikut andil. Aku hanya membalik bingkai itu tak lagi memanjangnya. Aku hanya tak ingin menambah luka.
“Aku masih punya banyak tujuan yang harus aku dapat. Aku punya banyak jadwal kegiatan. Aku terlalu berharga untuk menangisinya.” Aku mengisi hariku dengan kata-kata itu. Aku terus berlari dengan rutinitasku hanya untuk mengalihkan pikiranku. Aku tidur tanpa memandang lagi senyuman anehmu di foto itu. Foto itu tetap terbalik tak tersentuh. Hingga akhirnya satu pesan darimu untuk mengajak bertemu.
“Tidak, aku harus tahu diri. Aku bukan lagi orang terdekatnya. Aku bukan lagi orang yang bisa memeluknya. Aku butuh waktu untuk bisa bertemu lagi dengannya.” pikirku.
Pesan itu terbengkalai beberapa hari. Hingga akhirnya kamu menelepon. Sisi perempuanku sudah terlalu haus akan suaramu. Aku menjawab teleponmu.
“Sayang…” katamu.
Sayang? Satu kata aneh yang muncul darimu setelah dia memutuskan untuk meninggalkan aku. Kata sayang seharusnya tidak lagi muncul di percakapan itu. Namun aku tetap diam. Aku hanya ingin mendengarmu.
“Ya, ada apa?” tanyaku.
“Kamu beberapa hari ini kemana Sayang? Aku khawatir. Kamu gak kenapa-kenapa kan? Gak sakit kan Sayang?” tanyamu.
“Aku baik-baik aja. Agak sibuk akhir-akhir ini. Gimana harimu?” jawabku. Aku senang kau mengkhawatirkan aku. Firasat perempuanku benar, kamu tetap memikirkanku. Aku diam mendengarkan ceritamu. Duniaku seakan berjungkir balik akhir-akhir ini. Kamu yang tiba-tiba meninggalkanku dan kemudian datang lagi seolah-olah tidak pernah ada kejadian mellow dramatis itu.
“Sayang kamu masih di sana?” Tanyamu ketika menyadari aku diam selama kau bercerita.
“Iya aku masih di sini,” Jawabku pelan. Kamu mulai menyadari aku masih memikirkan hal yang telah lalu itu.
“Kamu masih mikir yang kemarin ya?” tanyamu.
“Iya. Apa maksudnya semuanya? Kenapa kamu bisa bilang begitu? Trus kenapa sekarang tiba-tiba datang lagi?” tuntutku. Kamu diam, mengatur nafas. Jantungmu berdegub semakin cepat, eolah-olah aku bisa mendengar degub jantungmu yang tak beraturan. Aku memang bisa mendengarnya dari sini. Sisi perempuanku yang mendengar gedub jantungmu.
“Aku gak bisa. Ternyata aku gak bisa nahan diriku untuk gak deket kamu. Aku gak nyaman,” katamu setelah diam beberapa saat. “Maafin aku. Aku salah, aku cuma mikirin kamu, gimana kamu nantinya kalau sama aku. Aku takut kamu gak bahagia,” suaramu makin serak. Aku sempat mendengar satu isak tangimu.
“Schat, are you crying?” tanyaku mulai khawatir. Amarahku reda seketika. Aku lebih mengkhawatirkan tangismu. Belum pernah sebelumnya aku mendengar tangis seorang laki-laki dewasa. Di ujung sana kau berusaha menenangkan dirimu dari tangismu. “Schat…” aku bingung harus berucap apa. Aku tak pernah bisa meredakan tangis seseorang.
Hening, sampai akhirnya kau bisa menguasai dirimu. “I’m sorry Darl. Aku gak akan ulangin lagi. Aku gak bisa kehilangan kamu, Aku sayang kamu” katamu.
“Ik heb jou lief, Schat,” balasku. Jawaban yang cukup mengejutkan separuh diriku.
Kamu memang berbeda. Jika ada laki-laki yang menangis depanku, mungkin aku akan langsung meninggalkannya. Tapi tidak denganmu. Aku masih terlalu bersabar untukmu. Mungkin karena aku tak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Tidak walau sedetikpun. Kau memang laki-laki hebat. Kamu membuatku lebih toleran padamu daripada laki-laki manapun yang berbuat kesalahan.
Aku hanya ingin memelukmu saat itu. Meredakan tangismu, menenangkan hatiku. “Schat aku cuma mau kamu. Tolong jangan fikirkan apa pun yang memberatkanmu. Aku tak pernah ingin jadi bebanmu. Aku hanya ingin menjadi teman hidupmu. Akan selalu ada kita diantara hidupku dan hidupmu.”

“Kok diem lagi?” tanyamu. Aku tak pernah bisa mengatakannya. Aku hanya ingin kamu mengerti. Tidak sekarang, belum saatnya.

Yogyakarta,  November 2013

No comments: