Tuesday, February 19, 2013

The Graduation

Hari ini saya resmi menjadi salah satu alumni dari salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Hari ini juga saya resmi mendapat tambahan huruf S dan T di belakang nama saya. Bangga? Mungkin ada sedikit rasa bangga. Tetapi menurut saya sendiri wisuda adalah pengesahan anda menjadi pengangguran kalau emang belom dapet pekerjaan seperti saya sekarang. Tapi di sini saya gak bakal bahas masalah pengangguran di Indonesia, cukuplah tadi sambutan dari pak rektor yang membahas panjang dan lebar mengenai pengangguran. 


Jadi, hari saya mendapat kejutan lain. Kejutan dari teman-teman kost saya. Cerita berawal dari saat saya pulang dari hotel ke kost. Saat sampai di depan pntu saya hanya sempat melihat ada kata "engineer" dan saat itu saya berfikir ada yang mencari seorang engineer, yang berarti peluang kerja buat saya. Setelah saya lihat...ternyata itu adalah ucapan selamat datang untuk saya dari teman-teman kost. 



Kemudian saya juga mengira akan ada surat-surat lain bertebaran di pintu kamar saya, dan viola inilah dia. Ternyata sudah ada kertas lipat warna warni dari mereka untuk saya. Sekali lagi terima kasih teman-teman.  





Belum bermaksud untuk merusaknya, saya teringat motor saya yang masih di luar dengan mesin menyala. Saat bermaksud masukin motor ke garasi depan saya melihat kertas putih yang tertempel pada jendela kamar saya. Kebetulan jendela kamar saya adalah satu-satunya jendela kamar yang langsung menghadap ke jalan. Walaupun sudah saya lepas dari jendela kamar (malu juga ketauan ma orang-orang lewat  nama si pemilik kamar paling depan yang suka nyanyi-nyanyi dengan suara ala kadarnya), tetapi ini adalah kertas yang "pernah" tertempel di jendela kamar saya yang menghadap ke jalan. 


Setelah motor aman dalam kandangnya, saya menuju kamar saya yang berada di sebelah kandang motor saya. Ternyata bukan saja di pintu kamar, tetapi di dinding ruang tamu yang berada di depan kamar saya ada beberapa tulisan tentang si empunya kamar yang notabene sudah sarjana (huhuhu...saya mengingatkan diri bahwa saya masih pengangguran)





Selain itu ada hal lain yang sebenarnya cukup menggoda sebelum sampai ke tulisan-tulisan warna warni di pintu kamar saya. Saya sebut itu sebagai daftar request mereka.

Request memang bisa macam-macam, termasuk aa' burjo nan imut (walaupun rada lola dan lama kalo masak) dan sembako + pita cantik. Khusus pita, sepertinya itu bisa di akali dengan tali rafia, kebetulan saya ada tali rafia warna pink (lol). Untuk yang lain-lainnya ada juga makanan wajar seperti es teh dan gorengan burjo tapi ada juga yang maruk minta salad buah + iga bakar + lumpia boom, padahal setahu saya yang request tiga hal ini sekaligus punya badan yang paling kecil. Yah biasanya yang paling kecil itu yang makannya banyak.

Hal terakhir yang saya lakukan sebelom masuk ke kamar saya dan menuliskan semua ini adalah membaca doa dari teman-teman kost. Ada satu ucapan yang menurut saya paling misterius. Ucapan ini entah mengapa agak tergulung dan di letakan di paling atas sebelah kiri. Saya harus jinjit-jinjit untuk membaca ucapan ini. Misteriusnya lagi ucapan ini di tulis di atas kertas berwarna ungu gelap dengan tinta yang tidak kalah gelapnya. 




Terima kasih teman-teman untuk segala pertemanan, kejuatan, cerita dan apapun itu yang terbagi di atap Niera kost khususnya bagian Selatan. Terima kasih, terima kasih dan terima kasih.

Wednesday, February 13, 2013

Januari

Sudah hampir 2 minggu Januari berlalu. Namun untukku Januari ini adalah Januari akhir, awal dan mungkin Januari yang paling beda dari Januari-Januari yang pernah aku lewati.

Januari ini, aku lulus. Akhir masa kuliahku, tapi bukan akhir dari proses pembelajaranku. Aku lulus hanyalah salah satu "hadiah" yang Tuhan berikan untukku.

Di akhir Januari, dia datang dengan sebuah kue ulang tahun dan beberapa lilin di atasnya. Surprise yang menyenangkan dari orang yang juga menyenangkan. Entahlah, saat itu aku bersyukur karena ada dia ada di sana. Mungkin penabuh genderangku terlalu bersemangat hingga terkadang aku letih menahannya. Ada lonjakan rasa seolah aku ingin memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Tapi aku masih bisa menahan diri.

Ah Januari telah lewat. Bagaimanapun aku memohon agar hari berhenti di saat itu tetap saja hari berganti, waktu berlalu. Walaupun masih suka tersenyum sendiri mengingatnya tetapi hidupku harus berjalan dengan atau tanpa dirinya. Cepat atau lambat aku mungkin akan meninggalkannya di kota ini.

Tuhan terima kasih, setidaknya dia pernah singgah dan membahagiakan diriku dengan atau tanpa disadarinya. Dan untukmu, mungkin kamu telah menumbuhkan rasa yang lain di sini. Berjanjilah takan pernah berubah.