Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Thursday, November 13, 2025

Orang-orang kota : Lastri Si Penjual Minuman

Pukul 05.00 bulan Agustus di sudut Kota Jogja. Pagi itu mendung, seakan menandakan matahari akan tertutup awan seharian. Harapan Lastri masih sama seperti hari-hari sebelumnya, bahwa hari ini matahari akan terik menyengat. Jika hujan, maka wisatawan yang menjadi target penjualan minumannya di kawasan Malioboro akan makin sedikit. Apalagi Malioboro saat ini tidak seramai dulu, ketika lorong-lorong pertokoan masih dipenuhi penjaja kaki lima dan pengunjung pencari oleh-oleh khas Jogja,  sewaktu usianya jauh lebih muda. Selain kontrakan, Lastri juga butuh menabung untuk biaya sekolah anaknya kelak. Kamar seharga lima ratus ribu per bulan saja sudah membuat pusing, lalu bagaimana dengan biaya sekolah anaknya nanti. Walaupun yang Lastri dengan sekarang sekolah gratis, tapi seragam dan buku-buku tetap perlu dibeli. 

Anaknya menggeliat karena usapan Lastri. Diusianya yang menginjak 25 tahun saat ini dia harus menghidupi anaknya yang masih berusia 5 tahun. Sejenak pikirannya melayang pada saat dia memutuskan untuk merelakan Anto, suaminya, untuk merantau ke Jakarta. "Demi hidup yang lebih baik," kata Anto sebelum menaiki bus yang membawanya ke Jakarta. Lastri tidak pernah tahu apa yang dikerjakan Anto di Jakarta, namun saat itu sesekali dia menerima pesan dari Anto yang mengakatan bahwa dia masih berjuang di sana. Pesan terakhir yang dia terima dari nomor HP Anto adalah kabar Anto akan dikuburkan bersama orang-orang yang terkena virus COVID-19. Saat itu dirinya tengah hamil besar dan berharap Anto bisa pulang untuk menemaninya melahirkan buah hati pertama mereka. Lastri kembali mengusap pelan rambut anak perempuannya. Jauh di lubuk hatinya, dia tidak rela anaknya menjajakan tissue di sepanjang lampu merah, atau terpaksa bertepuk tangan dan menyanyi ala kadarnya. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin anaknya bisa sekolah seperti seharusnya. Tetapi untuk itu dia harus bekerja lebih keras.

 "Nduk, ayo bangun. Sudah siang. Ibu mau ke rumah Bu Ika, siapa tau butuh bantuan untuk setrika baju, setelah itu kewarung Bu Sum untuk ambil minuman," ujar Lastri pelan kepada anaknya. 

"Ikut Bu, aku mau ikut ke rumah Bu Ika ben entuk jajan," jawab anak perempuannya. Lastri tersenyum mendengar celotehan anaknya. Bu Ika adalah harapan lain anaknya bisa sekolah. Lastri mengenal Bu Ika dari tetangga kosnya yang terkadang memotong rumput di rumah Bu Ika. Saat itu Bu Ika perlu bantuan untuk bersih-bersih karena asisten rumah tangganya terkilir dan belum bisa bekerja. Lastri sekedar membantu bersih-bersih dan menyetrika baju. Saat itu, Lastri menitipkan anaknya di warung Bu Sum, dan situlah anaknya mulai belajar untuk menjajakan tissue. Lastri tidak banyak bercerita tentang hidupnya kepada Bu Ika, tetapi ketika tahu bahwa Lastri memiliki anak kecil, terkadang Bu Ika membekali Lastri dengan beberapa jajanan yang ada di rumah Bu Ika. 

Namun, sepertinya hari ini bukan hari yang baik untuk Lastri. Pintu rumah Bu Ika tertutup rapat, dan tidak terlihat adanya seorang pun di rumah. Dengan langkah gontai, Lastri melanjutkan perjalanan kembali menuju ke salah satu kios di pinggiran Malioboro. 

"Kok esuk banget nduk? Parjo mau wes keliling, jare iseh sepi. Wong yo toko-toko rung do buka. Nyoh, kowe ngewangi ibukmu nggowo tissue" sapa Bu Sum sembari menyerahkan minuman-minuman yang akan Lastri jajakan dan beberapa tissue kepada anak perempuan Lastri. 

Lastri berjalan gontai menyusuri Malioboro. Benar kata Bu Sum, toko-toko belum buka, belum banyak pengunjung di Malioboro. Saat ini orang-orang lebih suka membawa minum sendiri daripada beli minum di kaki lima, atau mereka lebih memilih es dengan tampilan yang lebih menarik di toko-toko. Sesekali Lastri menawarkan jualannya ke para pelari yang sedang beristirahat sejenak, dan dijawab dengan gelengan atau gestur tangan penolakan. Lastri menggandeng anak perempuannya untuk melanjutkan menyelusuri tepi Malioboro. 

"Mbak Lastri," panggil suara yang tak asing. Lastri menoleh ke arah datangnya suara kemudian tersenyum menghampiri. Bu Ika menyambut Lastri dan anak perempuannya. "Wah, alhamdulillah ketemu di sini. Aku nggak punya nomormu mbak, njuk aku ingat, katanya kamu jualan es teh di Malioboro. Mbak, kamu bisa nggak kalau bantu-bantu aku dulu beberapa hari ini? Pulang pergi nggak masalah, nanti aku gaji di akhir minggu. Mbak Yanti, yang biasa di rumah itu semalam harus pulang ke Gunung Kidul dan sepertinya nggak akan kembali lagi. Aku masih cari gantinya," cerita Bu Ika penuh harap sambil menggengam tangan Lastri. 

Lastri terdiam. Dalam hatinya dia masih tidak percaya doa yang selalu dia panjatkan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih pasti, mendapatkan jalannya. 

"Bu, apa boleh saya yang gantikan? Tapi, saya nggak bisa tinggalin dia sendirian, jadi mungkin dia saya bawa, apa boleh, Bu?" jawab Lastri sambil memandang anak perempuannya.

"Alhamdulillah, boleh Mbak Lastri. Ini anaknya Mbak Lastri? Siapa namanya, Nak?" Ujar Bu Ika sambil mengelus kepala anak perempuan Lastri. 

"Atin." ucap anak perempuan Lastri sambil salim kepada Bu Ika. 

"Atin?" ulang Bu Ika.

"Iya Bu, namanya Prihatin, dia biasa dipanggil Atin." terang Lastri. 

Lastri tersenyum lega. Setidaknya dia akan punya kesempatan untuk menyekolahnya anaknya, Atin. Anak yang dia beri nama sesuai dengan kondisinya saat melahirkannya, Prihatin. Anak yang diharapkan akan senantiasa hati-hati dalam bertindak hingga dia dewasa. Harapan Lastri, Atin, anaknya tidak akan berakhir seperti dirinya, menjadi seorang penjual minuman keliling. 

 

 

 

Wednesday, December 23, 2020

Sepenggal Cerita di Bukit Aceh

Sepanjang jalan itu tidak ada yang bicara. Kami diam. Dia sibuk mengendarai mobil menuruni bukit kembali ke kota. Sayup-sayup terdengar lagu milik 5 Minutes, bercerita tentang kenangan yang ditinggalkan. Sama halnya kami meninggalkan kenangan yang terjadi di pantai di balik bukit yang kini kami tinggalkan.

"Abang masih memikirkan dia?" seperti kebanyakan lelaki berdarah Sumatera, dia pun aku panggil abang.
"Hm? Iya dan engga. Sudahlah. Cerita lama," katanya.
"Iya, Abang memang masih memikirkannya," pembicaraan selesai. Kami hanyut ke pikiran masing - masing.

Mobil berbelok ke satu warung bambu di pinggir jalan.
"Nyaris senja. Sayang untuk dilewatkan," katanya.
Dua buah kelapa muda menemani kami diiringi dengan ceritanya.
"Setiap bukit di sini menyimpan cerita," katanya mengawali ceritanya.
"Termasuk cerita Abang?" tanyaku.
"Dia cantik. Sama sepertimu, dia pun pernah tinggal di sini. Aku pernah tertarik padanya, dan pernah terucap pula dari mulutku akan menjaganya," kembali dia diam dan menghela nafasnya.
"Saat aku mengatakan aku tak akan meninggalkannya, dia hanya berkata dia tidak yakin padaku. Padahal kali itu aku sungguh-sungguh. Iya, aku tahu aku punya yang lain saat itu, tapi kali itu berbeda. Padanya, rasaku utuh,"
"Lanjutkan," kataku.
"Aku bertanya padanya, mungkinkah dia juga sepertiku. Jawabnya, dia hanya tak yakin dengan perasaannya padaku. Dia mencintaiku, tetapi katanya dia takkan bisa bersamaku. Entah saat itu ada firasat apa yg membuatnya berkata begitu. Dia bilang padaku tak perlu menunggunya," pandangannya jauh ke arah matahari terbenam.

"Sudahlah, ceritaku sudah berlalu. Aku tahu dia bahagia di sana. Lalu, bagaimana dengan bukit ini dan ceritamu?" tanyanya.
"Hmm.. Dia tak pernah menjanjikan apapun padaku. Hanya aku yang terlalu berharap banyak padanya," aku mulai bercerita. 

"Hingga saat ini?" tanyanya. 

"Aku sudah tidak senaif dahulu, Bang. Saat ini yang terpenting untukku adalah diriku, kebahagiaanku," jawabku. 

"Bersamaku?" tanyanya lagi.

"Hahaha.. iya, mendengarmu bercerita di bukit ini juga merupakan kebahagianku," jawabku. 

Bukit itu sekali lagi menyimpan cerita. Kali ini bahagia. Kemudian nanti atau kapan ada orang lain yang akan bercerita pada bukit itu. Bukit yang membuat orang nyaman untuk bercerita di belaian angin dan tatapan senja. Bukit yang meyimpan cerita-cerita dari kota. Bukit yang meneduhkan hati yang dilanda amarah dan dendam. Bukit yang meluaskan padangan bagi otak-otak yang berfikiran sempit. Senja yang menghilangkan lelah dan angin yang menepiskan lara.


 
Kala itu, Senja di Bukit Aceh sekitar tahun 2015. 

22 Desember

Hari itu feedku dipenuhi banyaknya ucapan untuk ibu. Ah benar, itu adalah hari ibu. Terbesit dibenakku ingin mengucapkannya nanti setelah aku sampai di kantor. Berbahaya terlalu sering melihat hp saat berkendara. 

Hari itu entah kenapa pekerjaan di kantor menumpuk. Belum selesai yang satu ada yang lain datang. Rencana makan siang terlewatkan begitu saja. Beberapa pesan dari ibu menanyakan kabar dan mengingatkan makan siang pun tak bisa aku tanggapi. Semua rencana yang awalnya ada di benak, terlupakan begitu saja. Hari itu adalah hari yang sibuk. 

Malamnya beberapa kawan mengajak hang out untuk sekedar melepas penat. "Kenapa tidak?" batinku. Aku mengikuti mereka menuju tempat makan untuk memuaskan perut yang sedari siang tidak terurus dan bergossip ini dan itu. 

"Eh, ini hari ibu ya? Kalian-kalian ada tradisi ngucapin ke emak-emak kalian nggak sih?" tanya salah seorang temanku. 

"Gue udah ngucapin dong, ke nyokap gue sama sekalian calon mertua," timpal temanku yang lain. 

Seketika itu aku teringat rencanaku tadi pagi. Perlahan aku melihat pesan yang hari ini ibuku kirim. Beliau memang rajin mengirimi aku pesan hanya sekedar menanyakan kegiatanku dan mengingatkan aku makan. 

"Bentar ya, gue telp nyokap gue dulu. Jadi kepikiran," kataku sembari beranjak dari teman-temanku. 

Pukul 9 lebih malam itu. Sebetulnya aku ragu ibuku belum terlelap. Beliau biasa bangun pagi dan tidur lebih cepat malam harinya. Nada sambung terdengar di ponselku. "Ah, pasti udah tidur," pikirku.

"Halo.." Suara yang sangat membuatku nyaman terdengar di ujung telepon. 

"Mah, udah tidur ya?" tanyaku ragu

"Belum. Ini dimana, Dek? Belum pulang?" tanyanya.

"Belum mah, masih nongkrong sama anak-anak kantor. Mah, selamat hari ibu ya. Doa terbaik buat Mamah," kataku.

"Emang ini tanggal berapa? Mamah sih nggak penting hari ibu itu, yang penting Mamah tau kabarmu aja udah ayem" jawab ibuku. 

Telepon berlanjut sekitar 10 menit. Beliau tidak suka menganggu waktuku bersama teman-temanku atau pekerjaanku. Katanya beliau sudah cukup tenang dengan hanya membaca jawaban pesanaku dan mendengarkan suaraku 5 sampai 10 menit sudah membuatnya yakin anaknya baik-baik saja di negeri orang. Sejak itu, kupikir tidak ada lagi hari ibu. Setiap hari harusnya adalah menjadi harinya. Hari dimana kita nggak boleh bikin beliau khawatir, kita mendoakan beliau untuk semua kebaikannya, kita memanjakan beliau, harusnya terjadi setiap hari. Bukan hanya tiap tanggal 22 Desember dan kemudian besoknya kita lupa. 

Memang sih, terkadang ada saja pendapatku yang  nggak sesuai dengan pendapatnya. Sering kali beliau juga kesal dengan segala pemikiran dan keegoisanku. Namun, kupikir terkadang beliau juga lupa bahwa caranya mungkin berbeda dengan cara kita mendapatkan kebahagiaan. Tapi yang pasti beliau ingin kita bahagia bukan. 

Aku percaya tidak ada satu ibupun di dunia ini yang ingin anaknya tidak bahagia, dan tidak ada seorang anakpun di dunia ini yang ingin menyakiti ibunya. Terkadang jika keduanya tidak akur, mereka hanya lupa untuk melihat dari sisi satu sama lain, mereka terlalu fokus untuk melihat dari sisinya masing-masing.

Friday, July 5, 2019

Pukul 2 Pagi

Waktu menunjukkan pukul 6 petang. Aku berjalan gontai ke parkiran motor dimana Si Butut senantiasa menungguku. Siapa lagi temanku saat aku kesepian selain motorku? Pagi, siang bahkan tengah malam, hanya dia yang bersedia menemaniku membunuh waktu menikmati panas atau dinginnya udara saat itu. Malam ini, kita akan istirahat saja, aku lelah, pikirku. 

Aku mencoba merebahkan badanku sembari memejamkan mata seusai mandi sore. Berharap ada sedikit ide, ilham, wangsit, atau apapun namanya itu masuk ke dalam kepala kecilku. Aku butuh ide untuk menulis lagi. Seandainya inspirasi semudah itu datangnya. 

HPku bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Sebetulnya aku agak malas untuk mebukanya. Aku takut, pesan itu adalah pesan tagihan untuk semua hutang-hutangku.

"Sudah selesai? Mau kutemani mengerjakan?" 

Ternyata pesan darimu. Sebetulnya aku masih malas mengerjakan pekerjaan itu. Tapi, meluangkan waktu bersamamu entah mengapa selalu menjadi godaan tersendiri untukku. 
"Ok" balasaku. Segera aku mengganti bajuku dengan jeans dan jaket yang siap menghangatkanku sebelum kamu datang menjemputku. Tak perlu waktu lama untuk kita menemukan satu tempat yang cocok yang menurutmu baik untukku mencari inspirasi untuk menulis. 

Waktu perjalan cepat. Aku sendiri belum bisa menyelesaikan tulisanku. 

"Maaf, Mas, Mbak. Kami jam 2 sudah mau tutup, masih ada yang mau diorder lagi?" tanya seorang pramusaji yang tiba-tiba menghampiri meja kita. Sejenak, aku melepaskan pandanganku dari laptop yang dengan kursor yang berkedip menanti huruf-huruf perangkai kata. Aku memandang sekitarku, memang tinggal beberapa gelintir orang yang masih tertinggal di kafe ala mahasiswa itu. 

"Sudah, Mbak. Kami sebentar lagi selesai kok," jawabku dan dijawan dengan anggukan sopan pramusaji itu.

"Udah kelar?" tanyamu.
"Belum. Sedikit lagi. Pulang aja yuk, ini aku kelarin di kosan aja," ajakku. Kemudian aku menghabiskan minuman yang kau pesankan untukku. Walaupun sudah dingin, minuman itu masih mampu menghangatkan di udara malam yang dingin. Sudah hampir pukul 2 pagi ternyata. 

Beberapa malam kemudian, hal yang sama terjadi lagi. Kamu selalu ada di saat aku memang membutuhkan teman dalam merangkai kata. Kali itu, kita sudah mulai biasa untuk diusir jam 2 pagi, seolah ada kesepakatan kita akan pulang jam 2 kurang 15 menit. Memaksimalkan waktu yang diperbolehkan untuk menggunakan listrik kafe tanpa harus diusir secara halus karena karyawan kafe butuh pulang dan tidur. Dalam hati aku berterima kasih padamu karna membuat malam-malamku yang tadinya hampir tidak produktif sama sekali menjadi sedikit lebih produktif. Entah karena ada kamu yang membantuku atau karena memang ide datang ada karena kamu ada.

Lepas beberapa tahun setelah aku menyelesaikan semua drama di dunia perkuliahan, aku mulai tidak terbiasa dengan kehidupan malam. Aku bukan lagi orang yang bisa terjaga hingga pagi. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Suatu kebetulan, pekerjaan yang kamu kerjakan ternyata berkaitan dengan pekerjaan yang aku lakukan. Bertemu sahabat lama, pikirku saat itu. 

"Aku mau konsultasi. Pekerjaanku belum selesai buat presentasi besok. Please bantuin, udah nggak tau harus gimana" isi pesanmu yang masuk ke HPku.
"Boleh, mau dimana?" jawabku.

Tak berapa lama kamu sudah menungguku di depan hotel tempat aku menginap. Sembari mencari tempat untuk mengerjakan presentasi besok, kamu menceritakan ketidaksiapanmu untuk presentasi besok. Kamu berharap, aku tidak terlalu membantaimu dalam presentasi besok. Dunia ini lucu, kamu yang selalu mengajariku banyak hal, tetapi sekarang kamu harus presentasi hasil pekerjaanmu kepada timku. Jika aku bisa bertindak tidak profesional, aku hanya akan bilang, "lanjutkan saja, kamu lebih berpengalaman dariku. Aku tahu kamu tahu yang terbaik," tetapi atasanku pasti tidak akan memaklumi hal tersebut.

Kamu memilih restoran cepat saji di seberang hotel. Selain dekat, tidak ada kemungkinan kita untuk diursir, ujarmu. Rupanya pengalaman kita diusir jam 2 pagi masih melekat di benakmu. Aku tertawa mendengar penjelasanmu. Banyak hal yang terjadi diantara kita, tetapi ternyata hal tersebut masih ada dalam ingatanmu.

Malam berlalu. Entah berapa orang yang sudah duduk di samping kita. Sedang kita masih asyik berdiskusi untuk kemungkinan-kemungkinan yang besok terjadi. Mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak. Mana yang bisa membantumu dan mana yang akan menjebakmu. Harusnya aku tak boleh membantumu, karena keesokan harinya, harusnya aku yang akan bertanya padamu mengenai yang kau jelaskan padaku malam ini. 

"Permisi, selamat malam, Ibu, Bapak. Maaf, ruangan ini akan ditutup jam 2 pagi" kata seorang pramusaji yang tiba-tiba menghampiri.
"Bukanya ini buka 24 jam?" tanyamu.
"Iya betul, Pak. Ruangan yang dibuka 24 jam ada di lantai 2, Pak," jawab pramusaji itu.
"Outdoor?" tanyamu kembali.
"Betul, Pak," jawab pramusaji itu sambil berlalu. Outdoor berarti tidak ada stopkontak yang bisa kita gunakan untuk menjaga laptopmu tetap menyala. Laptop tidak menyala berarti tidak ada lagi alasan untuk berlama-lama berdiskusi tentang pekerjaan untuk besok.

Kita berdua saling pandang dan tersenyum. Mungkin menertawakan betapa kamu dan aku selalu dibatasi waktu sampai jam 2 jika mau bertemu. 

"Jadi, mau minum apa?" tanyamu. Aku melihat jam tangan yang selalu melingkar di tanganku. Pukul 2 pagi.
"Ini, kita nggak bakal diusir kan?" tanyaku.
"Kalau diusir ya kita bungkus aja, kita bawa pulang, minum di rumah" jawabmu sambil tersenyum.

Kali ini, tidak ada huruf yang perlu dirangkai menjadi kata. Tidak ada lagi paparan yang butuh untuk dijelaskan esok pagi. Tidak ada batasan jam 2 pagi. Kamu, aku dan dua buah minuman yang kita pesan adalah akhir bahagia dari kisah kita hari ini hingga akhirnya kita memejamkan mata sebelum tidur.

 

Thursday, August 16, 2018

Senyum Tulus dari Natsepa


Ada satu saat dimana saya berkesempatan menginjakan kaki di tanah Ambon. Indonesia bagian timur memang menyimpan sesuatu yang lain dari pada yang biasa saya dapat di tempat biasa saya tinggal. Panasnya luar biasa menyengat. Alamnya luar biasa memikat. Dalam kesempatan perjalanan wisata dinas ke Ambon kemarin saya sempat mampir sebentar ke Pantai Natsepa.

Sampai di sana, saya disambut senyum anak-anak usia sekolah yang menjajakan dagangannya berupa pisang dan sukun goreng. Saya sudah lupa berapa harga tiap buahnya, tetapi yang saya ingat tidak mahal, karena sukun dan pisang masih mudah ditemui di sana.


by Huisvanvie

Namun, yang paling saya ingat adalah senyum bahagia mereka ketika dagangannya laris. Dan ketika kami memintanya mengambil lagi dagangannya untuk kami bungkus, dia berlari dengan semangat dan ceria. Dan, sebari bercanda memberi tahu temannya "andai kamu datang lebih awal, daganganmu juga bakal laris seperti daganganku. Kakak-kakak ini beli banyak."

Senyuman itu sedikit dari senyuman indah yang saya jumpai di tengah senyum basa basi orang-orang. Konon, itu adalah senyum tulus yang hanya bisa hadir dari hati yang juga masih tulus.

Wednesday, November 22, 2017

Cerita Tentang Teman

Teman bisa jadi siapa saja. Teman bisa datang dari mana saja. Pertemanan bisa terjadi kapan saja. Saya punya sedikit cerita tentang teman. 

Saya "bertemu" dengannya sekitar tahun 2010. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa (yang nyaris abadi) sedangkan dia sudah bekerja. Saya "bertemu" dengannya dalam satu forum chatting. Kala itu Yahoo Messenger masih menyediakan fasilitas room untuk sekedar mengobrol dengan siapa saja yang kebetulan sedang online dan masuk ke forum yang sama. Dari situ obrolan berlanjut tentang siapa saya dan siapa dia, apa yang kami kerjakan saat itu. Pertemanan berlanjut dengan pertemanan di facebook.

Hari berganti. Kami mulai meninggalkan forum tersebut dan mulai sibuk dengan urusan masing-masing yang lebih penting daripada sekedar mengobrol. Tiga tahun lalu, saya kembali bertemu dengannya. Kala itu kebetulan saya sedang online di facebook begitupun dengannya. Lama tak mengobrol, kami pun bertukar kabar. Kala itu, saya sudah lulus dan masih On Job Training di Lampung. Sedangkan dia sedang melanjutkan kuliahnya setelah mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya. Saya sudah hijrah ke Jakarta kemudian untuk sementara waktu harus tinggal di Lampung, sedangkan dia masih betah tinggal di Bandung. Janji untuk bertemu mulai terucap saat itu. "Kalau sudah pulang ke Jakarta, kapan-kapan main ke Bandung" atau "kalau saya sudah di Jakarta, kapan-kapan mailah ke Jakarta."

Waktu berlalu hingga akhirnya masa On Job Training saya berakhir dan dia selesai sekolah. Saya sudah kembali ke Jakarta dan dia sudah kembali bekerja dan masih betah di Bandung. Padahal saat itu saya sudah sering bolak balik ke Bandung, karena kebetulan kantor saya ada yang di Bandung. Baru satu tahun belakangan ini kami bertukar nomor HP. Janji-janji bertemu pun berulang diucapkan. Saya bolak-balik ke Bandung tapi tak juga punya kesempatan bertemu dengannya secara langsung, bukan lewat FB, line ataupun whatsapp. 

Akhirnya, setelah sekian kali gagal, baru hari ini saya bertemu dengannya secara langsung. Janji bertemu di tempat nongkrong yang oke berujung di warung makan Ampera (tempatnya juga nggak kalah asyik!). Tak apalah kami banyak mengobrol tadi. Sedikit mengenang masa lalu saat masih sama-sama suka ngobrol ngalor ngidul dengan orang entah siapa hingga cerita tentang hari ini cukuplah untuk "perkenalan" kami di dunia nyata. 

Akhirnya, setelah 7 tahun, saya bisa bertemu dengannya. 

Hai teman, salam kenal dari termanmu yang cerewet ini.




Bandung, 22 November 2017

Buat Nia, sukses untuk semua progress tulisannya :)

Monday, February 22, 2016

Cowok Pinter VS Cewek Pinter

Ada satu hal yang aku pelajari akhir-akhir ini. Oke sebenarnya ini adalah kasus yang umum dan sepertinya mulai di-iya-kan oleh hampir semua kaum adam, "Cewek itu adalah makhluk paling ribet sedunia". Mau tau ribetnya cewek? Banyak! Banyak banget malah. Aku sebagai cewek merasa ribet juga? Hmm aku jawab, kadang iya! Ribet kan kalau mikirin aku maunya seperti apa, tapi usaha yang aku jalankan untuk menjadi seperti yang aku inginkan malah berbuah sebaliknya. Setiap cewek itu pengen terlihat sempurna, cantik apalagi di depan cowoknya. Itu salah satu yang bikin cewek itu ribet. Mereka (kadang termasuk aku sendiri) sibuk memikirkan apa yang dia ingin orang lain lihat dari dirinya.

Hasil perenungan aku beberapa hari ini menyimpulkan bahwa cewek itu suka cowok yang pinter. Pernah gak sih kita (sebagai cewek) dan kalian (sebagai cowok) tanya ke cewek, kenapa dia suka ama seorang cowok. Jawabannya, biasanya selain baik pasti ada pinternya. Entah pinter itu dalam kategori apa. 

Tapi emang bener, menurut analisis yang aku lakukan terhadap diri sendiri dan beberapa sosok cewek baik di kantor ataupun di rumah, cowok pinter itu menarik. Pinter disini bisa macem-macem. Pinter dalam artian sesungguhnya di bidang akademis misalnya, atau pinter ngibul dan pinter bikin cewek sakit hati :P (yang disebutkan terakhir hanya ada pada kasus tertentu).

Jadi nih, saran aja buat para cowok yang sedang mencari cewek, jadilah cowok yang pinter. Walaupun kalian itu cuman pinter ngibul, karena percayalah sesungguhnya cewek itu mudah di jatuhkan hatinya oleh lelaki yang pintar, pintar menjatuhkan hati wanita tentunya. 

Karena tulisanku ini, aku gak pernah bermaksud bilang bahwa cewek itu gampang di kibulin ya. Cewek juga punya kepintarannya sendiri. Pintar dandan, jadi cowoknya betah lama-lama makan malem berdua. Pinter ngerayu, jadi cowoknya gak sadar berapa banyak duit di dompetnya berpindah tangan ke si cewek, (yaps, dua kepintaran ini sayangnya ga pernah ada di diriku :P) Pinter masak, jadi cowoknya bisa ngirit selalu makan masakan si cewek. Tapi ada juga cewek yang pinter bikin cowoknya nyaman dan akhirnya sering jadi tempat curhat dan kemudian mereka pun terjebak dalam zona pertemanan saja, tapi 'gak semua. Dalam cerita pasti ada happy endingnya sendiri-sendiri, meskipun tidak semua cerita ber-ending happy.  

Well, inilah yang aku lakukan di tengah kebosanan rutinitas kantor yang itu-itu aja :P
Semoga mencerahkan :D

Lantai 3 suatu gedung yang tidak terlalu tinggi di Jakarta Selatan
Saat makan siang.

Friday, February 19, 2016

Hai Hai Apa Kabar

Hai hai apa kabar? Hampir satu tahun tidak berjumpa. Hampir satu tahun tidak memposting apa-apa di sini. Hampir satu tahun yang....yah mungkin sudah banyak yang berubah dengan aku.

Bagaimana kabarmu?
Kabarku? Ah iya, aku masih tetap ada di Jakarta dan mungkin membusuk di kota ini. Mungkin agak kejam kata-kataku. Iya memang, aku masih memandang sinis kehidupan di sini, tetapi jangan salah aku adalah salah satu makhluk yang kusinisi sendiri. Mungkin aku sudah berubah menjadi orang-orang kota yang cuek dan tak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekitarnya, dengan kata lain "yang penting gue..." lanjutkan sendiri lah kata-katanya.

Lama tak menulis
Tidak, jangan salah. Aku banyak menulis. Banyak draft yang aku hasilkan selama hampir setahun ini. Tetapi sepertinya aku sedang kehilangan separuh diriku untuk menulis. Aku seperti bukan aku. Seperti ada yang salah dengan diriku. Ah betul, mungkin bisa dibilang aku sedang berperang dengan diriku sendiri, menentukan sikap seperti apa yang akan aku ambil. Akan menjadi siapa aku nantinya dengan sikap itu. Maklumlah, usiaku sudah tidak semuda dulu dimana belum terlalu banyak pengalaman yang aku dapatkan sehingga jendela pikiranku lebih sempit dari diriku kini. Bukan berarti kali ini pengalamanku sudah banyak, ya. No. Aku yakin masih banyak hal di luar sana yang belum aku tahu dan belum aku coba, jalanku masih panjang kawan. Masih banyak bahan tulisan yang belum temukan, masih banyak kehidupan yang bisa aku jadikan bahan untuk tulisanku.

Menyimpan cerita
Aku menyimpan beberapa cerita sebenarnya. Hanya aku belum yakin aku harus menuliskan seperti apa. Tidak semua cerita itu aku alami sendiri, ada banyak cerita yang menurutku menarik untuk aku ceritakan, untuk menjadi catatan dalam hidupku. Sebagai pengingatku bahwa hidup itu tidak datar-datar saja.

Sementara.
Kali ini aku hanya sempat berbagi kabar, bukan berarti aku berhenti menulis. Sabarlah menanti. Aku hanya bisa menjanjikan aku akan menulis lagi tentunya, walaupun hanya satu huruf saja. Jadi, seperti biasa aku akan bilang, sampai nanti dan tunggulah ceritaku selanjutnya, karena aku akan terus bercerita.


Salah satu gedung yang 'enggak tinggi di Jakarta, Lantai 3, sebelum Jumatan
19 Februari 2016

Thursday, March 19, 2015

Yes, I Remember

Jakarta selalu macet saat jam pulang kantor. Aku tak pernah memahami kenapa orang-orang betah tinggal di Jakarta dengan segala kemacetan itu. Namun, sekali waktu saat pulang kerja dengan kemacetan yang luar biasa di daerah Kemang aku bisa menikmati perjalanan pulangku.

Kala itu aku memang sedikit mengeluhkan jalanan yang terlalu macet. Aku mampir sebentar untuk membeli mendoan dan mengistirahatkan tanganku yang lelah memutar gas motor biruku. Tiba-tiba aku mendengar lagu yang entah bagaimana membawa ingatanku ke suatu ketika di kota tua itu. Kilasan-kilasan kejadian yang menyenangkan tiba-tiba muncul dan membawa kenangan seperti saat itu.

Dan tiba-tiba aku merasakannya lagi. I felt in love. I don't know for sure which one I'm in love to. What I know is I love both of it. The people and the place, both of them are special for me. Aku bahagia bisa merasakannya lagi. Bukan berarti sebelumnya rasa itu telah hilang. Tidak, dia tidak hilang hanya sedikit terlupakan oleh segala aktivitas di kota ini. Saat itu aku seperti merasakan kembali atmosfer kota tua itu dengan segala aktivitasku di dalamnya. Senyumku mengembang seolah aku berada di sana. Tidak ada yang berbeda, ada dia, mereka ataupun dia yang lain. Seolah aku bisa mencium tiap detil aroma yang keluar di kota itu. Ya, mungkin aku terlalu rindu akan kenyaman yang aku buat sendiri di kota itu. Aku memang rindu, bersamanya, aku rindu untuk pulang. 

Thank's God I could still have a memory of it and I could still have the same feeling. Not everyone could feel like this.  

i remember the way you read your books,
yes i remember the way you tied your shoes,
yes i remember the cake you loved the most,
yes i remember the way you drank you coffee,
i remember the way you glanced at me, 

yes i remember when we caught a shooting star,
yes i remember when we were dancing in the rain in that december
and the way you smile at me, yes i remember


 *penggalan lagu I remember - Mocca

 

Monday, January 12, 2015

Teh Hangat Manis

Hujan hari itu serasa tidak akan pernah berhenti. Sedari pagi matahari sudah malas menampakkan sinarnya walau sebentar saja, membuat hari yang malas bertambah malas. Tak banyak yang kukerjakan di kantorku hari itu. Januari, belum banyak kegiatan yang dilaksanakan. Aku hanya membereskan dokumen-dokumen pekerjaan tahun lalu yang morat-marit di mejaku serta menyusun rencana-rencana kegiatan di tahun ini. Hal yang sebenarnya bisa dikerjakan dalam waktu singkat, jika tidak malas.

Hujan mulai turun siang itu. Dari gerimis kecil-kecil yang membasahi jendela hingga menjadi siraman-siraman air yang terbawa angin terhempas ke jendela dan dinding, menimbulkan suara yang khas. Aku sedikit melongok ke bawah. Jalanan lumayan lengang. Beberapa mobil melintas satu-satu dalam beberapa menit. Rupanya orang malas keluar di cuaca seperti ini. Kopi yang semula berasap mulai kehilangan panasnya setelah setengah jam disajikan, membuatku tak berminat lagi meminumnya.

Menjelang malam, hujan malah semakin deras. Daun pohon-pohon palem bergoyang menandakan derasnya hujan yang turun. Jalanan mulai ramai meski tidak padat seperti layaknya jam pulang kantor. Hanya mobil-mobil yang mengantre untuk berbalik arah. Jarang sekali motor yang melintas. Ah, siapa pula yang mau berbasah-basah ria menaiki motor di tengah dingin hujan. Akupun malas beranjak. Di cuaca begini aku malas harus berjalan kaki dan berbecek-becek ke terminal dan menunggu bus yang mengantarku pulang. Aku menunggu dan berharap hujan mereda hingga aku bisa pulang. Pulang, rasanya aku malas sekali pulang. Pulang berarti mengingat semua masalahku. Pulang berarti menghadapi masalah lain dalam hidup.  Di kantor, masalah-masalah tersebut seolah lenyap tertutup beragam pekerjaan dan cerita dari teman.

Malam makin gelap. Hujan tetap saja riuh, meskipun tanpa angin yang menerpa. Malam itu aku memutuskan untuk pulang, tidak nyaman juga rasanya harus pulang terlalu malam. Kali itu angkutan tidak terlalu ramai penumpang. Mungkin orang-orang lebih memilih naik taksi daripada hujan-hujanan nunggu bus yang lewat, belum lagi bonus terciprat air hujan dari kendaraan yang lewat.

Lewat pukul sembilan malam aku sampai di rumah. Pagar hitam besi telah terkunci meski belum digembok. Hujan gerimis masih saja turun meskipun tidak sederas sore tadi. Langkahku gontai menuju pintu kayu yang dibiarkan tanpa pelitur itu. Pintu tidak terkunci, berarti Ibu belum tidur. Raut lelah tak bisa ku sembunyikan dari wajahku.
“Kok malam sekali, Nduk, pulangnya,” Tanya Ibu yang kala itu telah selesai membereskan meja makan.
“Hujan Bu,” kataku sambil menutup pintu kamarku. Rasa lelah dan semua permasalahan tiba-tiba menyerang. Ingatan buruk cerita yang telah lalu masih saja membayangi. Aku merebahkan diri di kasur tanpa dipan tanpa mengganti bajuku terlebih dahulu. Tas selempang yang aku kenakan aku singkirkan di tepian kasur.
“Mandi dulu, Nduk. Itu di termos ada air panas buat mandi kamu. Tadi kamu kehujanan, tho? Cepet sana mandi biar gak sakit,” kata Ibu dari luar kamarku.

Perlahan aku melangkahkan kaki keluar dari kamarku menuju kamar mandi. Ibu masih uplek di dapur, entah menyiapkan apa. Ember sudah ada di kamar mandi. Termos air yang seharusnya ada di dapur pun telah berpindah ke kamar mandi. Ibu telah menyiapkan semuanya. Cepat-cepat aku mandi. Aku tak suka mandi malam hari. Rasa dingin akan menyerangku selepas aku mandi meskipun aku telah menggunakan air panas untuk membasuh tubuhku.  
Selesai mandi, aku dapati Ibu sedang menaruh segelas teh hangat untukku.
“Teh anget, Nduk,” katanya tersenyum.
“Nggih, Bu,” jawabku sebelum menyeruput teh yang dibuat untukku. Rasanya pas, tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin. Tidak terlalu manis yang membuat tenggorokan sakit, tidak juga hambar.

Ibu tidak beranjak dari kamarku. Mata tuanya masih memperhatikanku, seolah meyakinkan dirinya bahwa anaknya telah dewasa dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Ibu tidak pernah banyak bertanya. Namun, di matanya terbesit banyak pertanyaan yang tidak terucap. Aku merebahkan diri di kasur.
“Kamu pasti capek sekali ya, Nduk,” kata Ibu sambil duduk di tepian kasur. Tangannya perlahan membelai kepalaku.
“Enggak kok, Bu” kataku mencoba menyembunyikan masalahku.
“Oalah, Nduk. Meskipun kamu bilang begitu, Ibu juga paham. Gusti ora sare, Nduk. Semoga apa yang kamu inginkan, kamu panjatkan di setiap doamu dikabulkan. Ibu cuma pingin kamu bahagia, Nduk. Ibu mana yang nggak sakit lihat anaknya sakit, Ibu mana yang nggak bahagia kalau anaknya juga bahagia,” kata Ibu sambil tetap mengusap kepalaku.
Aku tersenyum, mencoba menghapuskan segala keresahan di wajah Ibuku.
“Iya, Bu. Aku baik-baik aja,”
“Ya sudah. Istirahat,” kata Ibu saat beranjak dari kasurku.
“Bu. Ibu tidur sini, ya malam ini. Udah lama kita nggak cerita-cerita sebelum tidur,” kataku menahan Ibu saat akan menutup pintu kamar.

Hujan beserta angin mengamuk lagi di luar, memukul-mukul jendela di rumahku. Kilat menyala disertai petir menambah suramnya malam itu. Namun, cerita yang mengalir dari ibu dan anak di kamar dua kali tiga itu mampu menghangatkan suasana. Tidak ada dingin menusuk yang kurasakan malam itu. Segelas teh hangat dari Ibu mampu menghangatkan badanku. Sepenggal cerita dari Ibu mampu menenangkan hatiku. Dan belaian dari Ibu mampu melelapkan tidurku.



                                                                                                                                Buat Mamah,


                                                                                                                         Jakarta, 10 Januari 2015

Friday, September 19, 2014

Next Chapter : Angkringan

Pulang. Aku pulang ke kotamu, ke kotaku, ke kota kita. Aku pulang membawa segudang cerita untukmu. Aku pulang dengan antusias untuk mendengar lagi ceritamu. Di benakku sudah terbesit pikiran untuk memelukmu ketika nanti aku melihatmu. Aku hanya memastikan bahwa kau memang benar adanya. Kamu adalah nyata.

Sehari sebelum kepulanganku aku memberimu kabar, memintamu untuk menjemputku seperti yang dulu pernah kau lakukan. Lalu kau pun ada di sana, menungguku kepulanganku. Dua detik adalah waktu yang cukup untuk mengambil tasku dan berjalan padamu. Aku membutuhkan waktu lebih dari itu. Dua detik adalah waktu yang cukup untuk duduk nyaman di belakang punggungmu. Dan aku membutuhkan waktu lebih dari itu untuk hanya untuk berdiri di sampingmu melihat detail wajahmu. 

"Yuk, mau makan dulu atau langsung pulang?" tanyamu.
"Aku laper, makan dulu yah, tadi masih males makan," jawabku.
"Kamu gak mau meluk aku?" Tersenyum sambil memasktikan aku sudah nyaman dan aman duduk bersamamu. Gaps. Tebakanmu tepat dan membuatku mengurungkan niat untuk memelukmu.

Kamu membawaku menuju angkringan kesukaanmu. Angkringan yang katamu enak buat ngobrol tanpa menguras dompet. Mbak pelayan menyapa kita ramah, salah satu yang sangat aku rindukan di kota ini. 
"Minumnya mau apa?" tanya si Pelayan ramah.
"Es teh," jawabku cepat.
"Jangan. Kamu kedinginan. Teh anget aja dua. Satu manis satu tawar, ya" katamu.
Kamu masih tetap sama. Teh tawar hangat menjadi pilihanmu tiap kali makan bersamaku. Perhatian kecilmu juga masih seperti dulu. Kamu tahu aku agak tidak mempedulikan kondisi badanku yang kedinginan terkena angin malam.
Kamu memberiku piring kecil untuk meletakkan lauk-lauk yg akan kita santap nanti. Sate usus menjadi favoritku disini. Aku merindukan makanan-makanan manis khas kota ini, salah satu yang faktor yang membuat kota ini semakin manis untukku.

Aku mengikutimu duduk di salah satu meja di sudut angkringan. Aku memilih duduk bersebelahan denganmu walaupun aku harus berkali-kali menolehkan kepalaku untuk melihatmu.
“Gak makan?” tanyaku.
“Gak, aku makan lauknya aja,” katamu.
“Cerita dong. Aku pengen denger ceritamu,” pintaku.
“Cerita apa,” katamu datar sambil mulai menyomot pecel dari piringku. Jawaban yang selalu kamu keluarkan ketika aku memintamu untuk bercerita. Kamu tahu aku sangat menikmati ceritamu.
“Apa?” katamu saat aku memandangmu lebih lama dari yang dibutuhkan. Aku menggelengkan kepalaku. Sebenarnya aku tidak suka membiarkankan hening ada diantara kita.
“Dari pada kita diem-dieman gini, kamu yang cerita. Ada yang baru?” tanyamu kalem, memancing reaksiku. Gaps kedua.
“Bukannya kamu yang punya. Aku masih sama,” kataku. Ada nada bicara yang tak pernah bisa aku kontrol jika membicarakan hal ini denganmu. Aku masih tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukaku.
“Udah makan dulu, gimana Jakarta?” katamu. Kamu selalu bisa mengatasi masalah ini dengan cepat. Mengatasi atau mengalihkan pembicaraan ini.
“Sama siapa lagi kamu sekarang,” jawabku.
“Udah. Gak usah dibahas. Ga usah mancing. Entar kamu cemburu lagi,” katamu sambil tersenyum. Gaps ketiga. Aku mulai curiga kamu bisa membaca pikiranku Ataukah memang tulisan “aku cemburu” ada di dahiku dan kamu bisa membacanya dengan jelas.

Aku mau membalas ucapanmu saat Mbak Pelayan mengantarkan 2 potong ayam bakar pesanan kita. Setelah si Mbak Pelayan pergi aku mulai membanjirimu dengan semua yang aku dengar tentangmu setelah aku tak lagi bersamamu. Semua cerita yang aku dengar aku sampaikan lagi padamu walaupun itu membuatku sesak dan sulit bernafas. Kemudian perlahan-lahan kamu menghilang. Aku tidak ada di kotamu. Aku tidak ada di kota kita. Aku berada di kamarku jauh dari kota kita. Aku terbangun sendiri. Saat aku sepenuhnya sadar, aku mendapati diriku di atas kasur kamarku terengah-engah menahan semua rasa yang bergolak.

“Jangan ngelamun,” katamu membuyarkan lamunanku. Aku menggelengkan kepalaku perlahan. Membuang jauh mimpiku. Aku sadar akhir-akhir ini aku memimpikanmu. Aku mengubah pikiranku. Aku tidak mau menceritakan padamu cerita-cerita yang pernah aku dengar tentangmu. Aku tidak mau kamu tiba-tiba menghilang dan aku terbangun sendiri di kamarku. Setidaknya tidak secepat ini. Aku masih mau melihatmu. Aku masih mau bersamamu.

Aku mengalihkan pembicaraan kita yang sempat tertunda tadi. Menceritakan pekerjaan adalah hal yang aman bersamamu. Aku tidak akan khawatir kita bertengkar hanya masalah pekerjaanku ataupun pekerjaanmu. Kamu pun akan bebas bercerita padaku. Hingga malam sudah dirasa terlalu larut, kau mengajakku untuk pulang. Aku memang butuh istirahat setelah perjalanan yang kutempuh. Kali ini aku memeluk pinggangmu erat. Rasanya masih sama seperti dulu, saat aku sering melakukannya.

Kemudian kamu perlahan menghilang. Setidaknya kali ini, kalaupun besok aku terbangun sendiri di kamarku jauh dari kotaku, mimpiku malam ini berakhir bahagia. Aku lalu mengambil hpku dan mengirimkan pesan padamu. Setidaknya jika pesan itu benar adanya aku tahu kali ini aku tak bermimpi.


'Nice Dream.'


19 September 2014
Garuntang, Bandar Lampung

Monday, September 8, 2014

Chapter : Martabak Telor

Angin malam terasa dingin menyentuh kulit tanganku. Hujan sedari pagi menyisakan hawa dingin dan jalan-jalan yang menjadi becek akibat tidak berfungsinya saluran drainase jalan. Tanpa sadar aku mengusap lenganku, berharap sedikit gesekan dari telapak tangan menyisakan kehangatan.
“Dingin? Tadi kamu gak pake jaket,” katamu.
“Malas. Lagian kamu juga nyuruh buru-buru,” balasku.

Aku kembali melihat sekelilingku, sembari menunggu pesanan yang kami pesan. Aku memang penyuka martabak telur. Setelah isya adalah waktu yang tepat untuk menikmati secangkir teh hangat dengan satu piring martabak telur hangat. Dinginnya malam sempurna untuk menambah kenikmatan menikmati martabak telur kesukaanku.

Aku melihat si penjual sibuk melayani pelanggannya. Dia memutar mutar adonan kulit martabak hingga menjadi satu lembar tipis yang lebar. Aku selalu menyukai melihat mereka bekerja, menyulap adonan tepung bulat menjadi lembaran-lembaran tipis yang lebar sebelum di letakkan ke wajan datar berisi minyak panas.

Rupaya yang tertarik melihat proses membuat martabak telur bukan hanya aku saja. Beberapa anak kecil berdiri di belakang si pembuat martabak, menghalangi pemandanganku. 
“Itu anak siapa?” celetukku pelan, sedikit terganggu dengan keberadaan anak-anak kecil itu.
“Bukan anak kita, kan?” jawabmu tersenyum melihat kejengkelan di mataku.
Kamu selalu bercanda mengenai hal itu. Anak-anak. Kamu tahu benar, aku dan kamu sama-sama menyukai anak-anak. Tetapi mungkin sesuatu bernama “anak-anak kita” belum bisa diwujudkan dan hanya akan ada dalam hayalanku saja. Walaupun begitu kamu berhasil membuatku tersenyum.

“Mbak, ini pesanannya,” seorang pramusaji membawakan sebuah kantong plastik berisi 2 kotak berisi martabak telur. Hayalanku hilang, kau pun lenyap. Aku kembali ke duniaku. Aku berjalan menuju sebuah mobil yang menungguku. Aku membuka pintu penumpang di sebelah sopir.
“Kenapa gak kita makan di sini aja sih?” Tanya seseorang di sebelahku.
“Enakan makan bareng sama temen-temen kan,” jawabku. Dingin AC mobil menerpa lenganku yang terbuka. Tanpa sadar aku mengusap lenganku.
“Dingin? Tadi kamu gak pake jaket,” katanya. Seketika ingatanku kembali padamu.



To be continue...



8 Septermber 2014
Garuntang, Bandar Lampung


Tuesday, June 3, 2014

Orang-orang Kota : Si Kecil Penjaja Tissue

Si Kecil menggigil dalam dinginnya hujan sore itu. Perempatan besar seperti ini memang cocok digunakan untuk menawarkan beberapa dagangan diantara mobil-mobil yang terjebak macet sambil menunggu lampu hijau menyala. Beberapa kali dia mengusap mukanya yang basah oleh air hujan. Terkadang dia menggigil kemudian mengusap lengan kurusnya, mengharap sedikit kehangat dari gesekan tangan basahnya mengaliri tubuh kecilnya. 

Saya masih nyaman di dalam mobil yang semakin dingin karena ac mobil. Walaupun dingin, setidaknya baju saya tidak basah. Kecil kemungkinan saya akan masuk angin malam nanti. Lampu merah masih menyala dan timer di atas lampu tersebut masih menunjukkan angka 100. Di depan sana masih banyak lampu-lampu merah dari kendaraan-kendaraan yang berhenti. Pengendara sepeda motor yang tak memakai mantel berhenti di pinggiran jalan dan membiarkan motornya tertimpa hujan sedang pengendaranya menepi mencegah air semakin membasahi baju mereka. Motor mereka mempersempit ruang gerak bagi pengendara lain, menambah macetnya jalan sore itu. 

Mobil yang kutumpangi berjalan berlahan saat lampu hijau menyala. Kemudian berhenti lagi. Sudah tiga kali lampu merah menyala dan mobil yang kutumpangi itu belum berhasil membawaku keluar dari kemacetan di perempatan itu.

Si Kecil kembali ke jalan setelah menepi sebentar mempersilakan kendaraan-kendaraan melewatinya untuk lepas dari kemacetan di perempatan itu. Si Kecil kembali melewati kendaraan-kendaraan dan menjajakan dagangannya. Dia mengernyitkan wajahnya untuk menepis air hujan yang menghalangi pemandangannya. Satu per satu kaca mobil di datanginya berharap seseorang akan membuka dan membeli tissue yang dijualnya seharga 2000 rupiah. Hujan sore itu terlalu deras. Telak, tak ada yang rela membuka sedikit jendela mobil dan membiarkan air hujan memasuki mobil yang nyaman. Tissue seharga 2000 rupiah tak laku sore itu.

Mobil yang kutumpangi berjalan perlahan, kemudian makin cepat dan makin cepat. Dia berhasil membawaku pergi dari perempatan macet itu. Dia membawaku pergi meninggalkan Si Kecil penjaja tissue di jalan. Di kala bocah-bocah seusianya nyaman di dalam mobil yang dingin karena AC, dia pun berdingin-dingin tetapi karena guyuran hujan sore hari itu. Di saat anak-anak merasa senang karena diajak orang tuanya ke kebun binatang di akhir minggu, Si Kecil penjaja tissue menjajakan dagangannya di tengah hujan deras Minggu sore itu. Inilah Jakarta, dimana orang-orang bisa melakukan apa saja untuk bertahan hidup.



Blok M, Jakarta,    April 2014  

Sunday, March 23, 2014

Orang-orang Kota : Manner atau EmansiSAPI?

Saya adalah pengguna kendaran umum di Jakarta ini. Saya juga kebetulan adalah seorang wanita. Saya tahu bahwa di sini, mulai ada pengkhususan untuk wanita, mulai dari dari ruang khusus wanita, gerbong khusus wanita. Selain itu dalam kendaraan umum sudah ada beberapa kursi prioritas untuk penyandang cacat, wanita hamil dan lansia. 

Beberapa hari yang lalu saya pernah membaca tulisan dari seorang lelaki yang "tidak terima" dengan perlakuan seorang wanita di dalam bus. Ini bukan masalah pelecehan, ini hanya soal tempat duduk. Begini ceritanya. Seorang lelaki di dalam bus yang penuh duduk di depan seorang wanita yang anggaplah sama umurnya. Kemudian Si Wanita meminta Si Lelaki itu berdiri dan memberikan tempat duduknya pada wanita itu. Si Lelaki dengan enggan memberikan tempat duduknya itu pada Si Wanita yang dianggapnya masih bisa berdiri. Si Wanita bukan salah satu orang yang harus di prioritaskan. Kemudian Si Lelaki menulis "kekesalannya" dalam suatu posting. 

Dia menulis, "Katanya emansipasi, tapi masalah kayak gini lupa sama emansipasi. Maunya diprioritaskan. Gak mau disamain sama laki-laki."
 
Buat saya, masalah seperti ini sepertinya bukan masalah emansipasi. Emansipasi adalah persamaan hak pria dan wanita, misalnya saja dalam hal karir atau pendidikan. Jadi masalah sepele seperti ini kenapa harus dikaitkan dengan emansipasi? Menurutsaya pribadi ini hanyalah cara hidup.

Saya ingat, ada teman saya, laki-laki, dia bilang "kenapa cewek harus diprioritaskan. Kalau dia memang masih mampu berdiri ngapain saya berdiri dan memberikan tempat duduk saya buat dia."

Well, sekali lagi itu adalah cara hidup masing-masing dari kaum lelaki. Tetapi sepertinya saya sebagai seorang wanita boleh menilai seorang lelaki. Saya akan menilai lelaki tersebut sebagai lelaki yang kurang mempunyai manner yang baik. Tahu kenapa? Seorang lelaki ditakdirkan untuk menjadi pelindung wanita. Bagaimana pun juga, saya tahu laki-laki memiliki naluri untuk melindungi, wanita, sebaliknya memiliki naluri untuk dilindungi. Ketika ada peristiwa seperti tadi, wajarlah ketika wanita meminta pengertian laki-laki untuk memberikan tempat duduknya.

Jangan salah kira saya adalah wanita tersebut. Bukan. Saya masih setia berdiri sambil sesekali mencari bangku kosong atau pegangan yang enak. Maklum saya tidak tinggi sehingga terkadang tangan saya tak sampai pada pegangan di bus atau di kereta. Saya memang beberapa kali melihat para pria yang dengan cueknya membiarkan wanita-wanita yang agak kesusahan itu berdiri. 

Namun, bukan berarti saya sangat membela para wanita. Beberapa kali saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat wanita muda membiarkan seorang ibu berdiri di depan matanya. Dia pura-pura tidur atau malah bermain dengan gadgetnya. Saya juga menilai wanita tersebut kurang mempunyai manner yang baik.

Saya juga bukan termasuk orang yang sangat baik cara hidupnya, saya hanya berkomentar sekaligus menasehati diri saya untuk menjadi orang yang lebih baik. Hmm... inilah Jakarta, dimana setiap orang bisa melakukan apa saja demi bertahan hidup.



Jakarta, Maret 2014

Nb. Tulisan ini bukan bermaksud menghakimi kaum laki-laki :)

Saturday, February 22, 2014

Orang-orang Kota : Sales Girl

Saya pernah punya kipas tangan kecil. Terbuat dari mika, berwarna biru dengan gagang putih. Kipas yang saya bilang sempurna untuk mengusir hawa panas di kendaraan umum. Namun, saya akan "ngiklan" jika menggunakan kipas ini. Kipas ini memang tidak saya beli, saya mendapatkannya dari seorang SPG asuransi di luar Stasiun Sudirman saat menuju ke Halte Transjakarta. 

Saat itu saya bersama seorang teman lama dan seorang teman baru. Mereka dengan sangat baik hati mengajak saya untuk sedikit mengenal Kota Jakarta. Kami saat itu akan menuju ke Blok M. Saat itu, saya yang sama sekali tidak mengenal daerah hanya mengikuti mereka berdua. Saat berjalan keluar dari Stasiun Sudirman saya didatangi seorang SPG. Dia hanya mendekati saya saat itu sedang kedua teman saya dibiarkan berlalu begitu saja. Saya paling malas berubungan dengan sales, hanya akan menyita waktu saya. Saya bukan orang yang gampang dirayu.

Sebisa mungkin saya menghindari mbak cantik itu. Mengerti saya menghindarinya, dengan cepat dia berkata "Ini mbak, cuman mau ngasih kipas."  Dia tetap tersenyum walaupun gerakan tubuh saya tadi menghindarinya. Oho, sebagai anak kost (yang terkadang tidak punya malu), saya dengan sumringah menyambut tawarannya dan menerima kipasnya. "Oh, iya ya? Makasih ya," kata saya dengan senyum termanis di wajah saya. Buat anak kost seperti saya, barang gretongan alias gratisan tentu haram hukumnya untuk di tolak. Teman saya, panggilah dia Abang Nokie, cuma cengar-cengir melihat perubahan ekspresi  di wajah saya dari "apaan sih, ini sales deket-deket" menjadi "Oho...siip sini-sini mana kipasnya :D". 

Lain kesempatan dia bercerita pengalamannya menghadapi sales. Dulu, hampir tiap pagi saat orang-orang berangkat kerja, selalu ada sales yang menawarkan kopi. Lumayan untukknya satu cangkir kecil kopi panas gratisan di pagi hari. 

Sepertinya sales di Jakarta ini baik-baik. Suka memberi barang gratisan bagi orang-orang penyuka gratisan seperti saya. Namun, setelah hampir 1 bulan saya bekerja di sini belum ada satupun sales kopi yang bagi-bagi kopi gratisan pagi-pagi. Mungkin karena saya berangkat terlalu pagi. Hmm.... Inilah Jakarta dimana orang-orang bisa melakukan apa saja untuk bertahan hidup.


Jakarta, Desember 2013

Orang-orang Kota : Sebuah Pengantar

Akhirnya aku punya kesempatan juga untuk mengunjungi dan (sementara) menetap di kota ini. Kota yang disebut sebagai kota metropolitan, dimana banyak orang dari berbagai daerah mengadu nasib. Mereka berharap dapat memperbaiki kehidupan mereka di sini, mengubah nasib dengan datang ke Jakarta.

Sementara aku masih punya kesempatan untuk tinggal di sini, aku akan menuliskan beberapa catatan kecil tentang secuil kehidupan mereka di sini, tentulah dari sisi pandanganku yang hanya sawang sinawang. Catatan kecil ini hanyalah bentuk pikiranku, yang mungkin sebagian telah tercampur dengan imajinasiku.'

Di sini aku akan bercerita tentang kehidupan orang-orang kota ini, dari hasil interaksiku dengan mereka. Di kota ini cerita baru akan dimulai. Di kota ini, dimana apapun bisa dilakukan untuk mempertahanakan hidup, aku akan bercerita.

Sunday, December 22, 2013

Petak Umpet

"Aku menang, kamu jaga. Itung sampe 20 ya," kataku.
"Aku pasti bisa nemuin kamu," katamu kemudian mulai menghitung.
Hampir 15 tahun yang lalu kita bermain petak umpet untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya keluargaku membawaku pergi dari dirimu, membuatku jauh dari dirimu. Waktu berlalu dengan cepat, hingga akhirnya aku bertemu denganmu dan menyadari aku sudah terlalu lama berpisah darimu.
Lima tahun lalu secara tidak sengaja aku kembali bertemu denganmu tanpa aku tahu kamu adalah sahabat kecilku, tanpa kamu tahu aku adalah sahabat kecilmu. Aku harus beradaptasi lagi dengamu. Tidak seperti dulu saat kita masih kecil, lahir dan tumbuh di kompleks perumahan yang sama membuatku lebih mudah mengenalmu, lebih mudah mengertimu. Anak-anak lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Mereka masih terlalu polos untuk merasa gengsi. Dunia mereka adalah berteman. Mungkin itu yang membuatmu bisa tetap bermain dengan segala keegoisanku, tidak seperti sekarang.
Akhirnya aku punya waktu untuk berkunjung ke rumah sahabat kecilku, ke rumahmu. Aku masih ingat rumahmu. Aku masih ingat jalan-jalan kecil yang harus aku tempuh menuju rumahmu. Aku masih ingat letak taman yang kini beralih fungsi menjadi perumahan-perumahan. Aku masih ingat ayunan bambu di depan rumahmu. Ada pagar besi berwarna putih di depan rumahmu. Kini pagar itu tetap berwarna putih, catnya masih baru. Mungkin kelurgamu tetap mengecatnya supaya terlihat lebih indah. Di samping rumahmu ada rumahku dulu. Kini rumah itu sudah memiliki penghuni baru. Pasangan muda rupanya. Mereka sudah menanamkan rumput hijau di halaman depan rumah dan menambahkan garasi di samping rumah. Rumah yang dulu sempat aku tempati.
Kemudian kamu keluar dari rumah milik teman kecilku itu. Kamu terkejut mendapatiku duduk dengan santainya di ayunanmu. Tahukah kamu, aku pun sama terkejutnya denganmu. Aku tidak menyangka kamu adalah sahabat kecilku. Suasana tidak menyenangkan itu berakhir cepat. Untunglah ibumu keluar dan mengenaliku. Aku masih ingat padanya. Ibu terbaik yang pernah ada, terbaik setelah bundaku. Kerikuhanku padamu berakhir tawa saat kita saling mengenali satu sama lain lagi. Aku kembali dekat denganmu.
Fisikmu berubah dengan cepat, membuatku tidak bisa mengenalimu di pertemuan pertama setelah sekian lama. Lebih dewasa kataku, tidak ada lagi baju monyet atau celana pendek ditemani sapu tangan untuk mengelap ingus. Kamu rapi dan wangi. Tidak ada perubahan pada sikapmu sewaktu pertama kali bertemu dan berkenalan kembali denganku, tetap hangat. Ramah dan murah senyum, walaupun kamu tetap menjaga jarak dengan orang yang baru kamu kenal.
Waktu juga merubah fisikku, lebih berantakan katamu. Tidak ada rok mini dan kaos lucu yang kupakai. Kini aku identik dengan kaos oblong, jeans sobek di lutut, jaket dan topi. Jauh dari kesan gadis kecil yang lucu. Namun waktu ternyata tidak mampu merubah watakku, membuatmu mungkin bertanya-tanya makhluk apa yang membuatku masih tetap hidup dengan segala keegoisanku yang katamu tumbuh dari masa kecil kita. Aku lebih keras kepala dari pada aku yang dulu. Sore itu kita habiskan waktu untuk mengenang masa lalu kita. Sejak hari itu dua sahabat lama kembali bertemu dan menjalin cerita lagi.
Dua tahun yang lalu, aku merasa ada yang lain denganmu. Sifatmu padaku, perhatianmu padaku lebih dari seorang teman. Aku merasa terkadang kau terlalu bersikap manis padaku. Semua senyum, candaan bahkan ucapan konyol selamat tidur yang pernah kau ucapkan padaku. Semua itu kau lakukan hanya untukku, untuk aku saja. Kamu mulai nyaman bercerita lebih banyak tentang rencana hidupmu, tentang impianmu, tentang ketakutanmu, tentang masalahmu padaku dan hanya padaku. Aku sudah tahu sedikit banyak tentang itu, tetapi kau menceritakannya seolah membuka selembar kertas dihadapanku dan berkata, “inilah aku.” Kita mulai menyendiri, hanya berdua, tidak ada tiga, empat atau lima. Hanya ada kita, aku dan kamu dengan semua cerita, harapan, impian dan masalah, baik dariku ataupun darimu.
Kemudian, aku merasa ada yang berbeda dari caraku melihatmu. Aku merasa mulai menyukaimu, bukan sebagai teman. Lebih dari pada itu. Secara tak sadar, aku mulai mengejarmu. Tak rela membagimu dengan yang lain. Aku mulai memproteksi dirimu dari yang lain. Aku menampakkan rasa cemburu. Kamu menyadari ada yang berbeda dariku. Kamu tetap bergeming seakan tidak pernah rasa yang lain diantara kita. Ketika aku mengungkapkan keganjilan rasaku, kamu juga tetap diam. “Biarkan mengalir. Rasa itu akan berubah, semakin dalam atau semakin hilang,” katamu. Semakin aku mempertanyakannya padamu, aku merasa semakin tersakiti oleh perasaan itu.  

Kini aku mulai lelah mencari. Aku berhenti. Kini giliranmu. Hitunglah sebanyak waktu yang kamu mau, lalu carilah aku. Aku tahu kamu bisa menemukan aku, seperti dulu kamu selalu bisa menemukanku. Aku akan bersembunyi, melihatmu dari jauh. Giliranku menunggumu, menemukanku dan membawaku keluar dari persembunyian dan memulai babak baru.


Yogyakarta, 22 Desember 2013

Monday, November 25, 2013

Tidak Malam Ini

Aku duduk lagi di pojok ruang tunggu itu. Aku malas menanti keretaku dari dalam peron, aku memilih duduk di ruang tunggu luar, di satu sudut stasiun itu. Tidak ada cinta. Tapi cinta pernah duduk di sampingku. Aku pernah menyandarkan kepala kantukku padanya karena menunggu kereta paling malam. Tidak malam ini. Malam ini tidak ada cinta.

Aku duduk sendirian. Satu tas punggung dan satu tas berisi novel bersandar di kursi sebelahku. Aku menunggu kereta sambil membaca, mengamati orang-orang disekelilingku lalu lalang dengan barang-barangnya kemudian membaca lagi. Tak ada obrolan kali ini. Tak ada cinta maka tak ada obrolan.

Lima belas menit sebelum keberangkatan. Aku masuk ke peron menunggu kereta. Aku menutup novel yang tengah ku baca, memasukkannya ke dalam tas jinjingku. Menyiapkan tiket, dan kartu pengenalku. Aku berdiri melihat sekilas tempat yang tadi aku duduki. Aku memasuki peron. Tidak ada kecupan dan lambaian. Tidak ada cinta yang mengantarku malam ini.

Keretaku berjalan pelan meninggalkan stasiun. Semakin lama semakin cepat. Lalu keretaku meninggalkan kotaku. Tidak juga ada satu pesan pun yang kuterima dari cinta. Aku melihat sekelilingku. Satu keluarga bahagia dengan 3 gadis kecilnya. Aku mengamati sekelilingku, kemudian aku membaca novelku. Masih saja tak satu pun pesan kuterima. Aku melanjutkan membaca. Hingga lelah lalu tidur di kereta. Tidak ada cinta dikereta itu. Tidak ada cinta untukku.


Ruang Tunggu Stasiun Yogyakarta,  15 Nopember 2013,  22.45

Saat Kamu Menangis

Senja sore itu begitu indah. Aku selalu menyukai senja, walaupun tak pernah ku pungkiri indah senja itu tak sebanding dengan suatu magis yang ada pada dirimu. Aku bisa mengalihkan perhatianku pada raja siang yang hendak tenggelam itu hanya untuk melihatmu. Entahlah saat itu naluri perempuanku berkata aku tak akan lagi sama melihatmu. Itulah mengapa aku melihatmu begitu mendetail. Beberapa rambut tipis yang tumbuh di pipi, kumis yang mulai tumbuh karna mungkin belum sempat kau cukur, dan potongan rambutmu yang entah mengapa kurasa kurang cocok untukmu. Aku memandangmu dalam diam, entah kau menyadarinya atau tidak. Kamu masih asyik  melihat matahari tertelan luasnya laut tepat di garis horizon.
“Bahkan matahari yang segitu  besarnya bisa terbenam,” ucapmu memecah keheningan.
“Hah?” aku tak mengerti apa yang kau maksudkan.
“Udah sore, yuk pulang.” Ajakmu. Sepanjang perjalanan aku tidak membahas kata-katamu tadi. Tak ada yang bersuara. Nampaknya kendaraan bermotor yang lalu lalang sudah cukup untuk meramaikan jalan, tak perlu ada kata-kata tambahan dariku ataupun darimu untuk meramaikan jalan.
Naluri perempuanku makin gelisah. Ada yang akan terjadi tapi aku tak tahu apa. Aku makin gelisah. Aku letakkan telingaku di punggungmu mencoba mencari jawaban dari detak jantungmu. Cepat, tidak beraturan. Tanganku yang semula diam di kanan dan kiri pinggangmu kini merambah hingga ke perutmu. Aku memelukmu. Entah siapa yang mengizinkan aku melakukan ini, hanya saja naluri perempuanku terlalu berkuasa pada saat itu. Aku tahu kau merasakannya, aku tahu degub jantungmu makin cepat. Aku hanya tak mau kehilanganmu. Tidak sedetik pun.
Aku memelukmu selama perjalanan pulang. Tak sekalipun aku melepaskan pendengaranku dari degub jantungmu. Aku mencoba menyamakan degub jantungmu dan degub jantungku bahkan hingga kamu mematikan mesin motormu di depan rumahku.
“Aku pulang. Ini terakhir kali kita jalan berdua. Mulai sekarang aku harus tahu diri kalau ada orang lain yang deketin kamu. Aku harap kamu juga begitu.” Kamu menyalakan kembali mesin motormu dan pergi. Aku mendengar suaramu bergetar. Aku tak mendengar sepatah kata pun keluar dari mulutku sampai kau menghilang dari pandanganku. Aku hancur.
Aku hanya merasakan pedih di mataku. Aku hampir menangis. Aku segera menarik nafas panjang, aku tak mau menangis di sini. Tidak. Setidaknya aku harus berada di tempat yang menurutku aman untuk menangis.
Sampai di kamarku aku melihat sekelilingku. Pandanganku terhenti di sebuah bingkai foto. Dua orang tersenyum dalam foto itu. Foto yang diambil karena si pemotret salah mengira tentang aku dan kamu. Saat itu aku ingat, aku masih bersahabat denganmu. Aku mengambil foto itu, melihatnya dan membawanya dalam mimpiku. Aku menangis dalam tidurku.
Esoknya aku terbangun dengan mata sembab. Aku tak sadar menangis semalaman. Untunglah mataku bisa diajak berkompromi. Mata sembabku tak akan bertahan lama. Aku kembali menatap dua orang di bingkai itu. Akal sehatku mulai berkuasa. Dia memikirkan cara agar aku tak lagi melihat foto itu. Sisi perempuanku ikut andil. Aku hanya membalik bingkai itu tak lagi memanjangnya. Aku hanya tak ingin menambah luka.
“Aku masih punya banyak tujuan yang harus aku dapat. Aku punya banyak jadwal kegiatan. Aku terlalu berharga untuk menangisinya.” Aku mengisi hariku dengan kata-kata itu. Aku terus berlari dengan rutinitasku hanya untuk mengalihkan pikiranku. Aku tidur tanpa memandang lagi senyuman anehmu di foto itu. Foto itu tetap terbalik tak tersentuh. Hingga akhirnya satu pesan darimu untuk mengajak bertemu.
“Tidak, aku harus tahu diri. Aku bukan lagi orang terdekatnya. Aku bukan lagi orang yang bisa memeluknya. Aku butuh waktu untuk bisa bertemu lagi dengannya.” pikirku.
Pesan itu terbengkalai beberapa hari. Hingga akhirnya kamu menelepon. Sisi perempuanku sudah terlalu haus akan suaramu. Aku menjawab teleponmu.
“Sayang…” katamu.
Sayang? Satu kata aneh yang muncul darimu setelah dia memutuskan untuk meninggalkan aku. Kata sayang seharusnya tidak lagi muncul di percakapan itu. Namun aku tetap diam. Aku hanya ingin mendengarmu.
“Ya, ada apa?” tanyaku.
“Kamu beberapa hari ini kemana Sayang? Aku khawatir. Kamu gak kenapa-kenapa kan? Gak sakit kan Sayang?” tanyamu.
“Aku baik-baik aja. Agak sibuk akhir-akhir ini. Gimana harimu?” jawabku. Aku senang kau mengkhawatirkan aku. Firasat perempuanku benar, kamu tetap memikirkanku. Aku diam mendengarkan ceritamu. Duniaku seakan berjungkir balik akhir-akhir ini. Kamu yang tiba-tiba meninggalkanku dan kemudian datang lagi seolah-olah tidak pernah ada kejadian mellow dramatis itu.
“Sayang kamu masih di sana?” Tanyamu ketika menyadari aku diam selama kau bercerita.
“Iya aku masih di sini,” Jawabku pelan. Kamu mulai menyadari aku masih memikirkan hal yang telah lalu itu.
“Kamu masih mikir yang kemarin ya?” tanyamu.
“Iya. Apa maksudnya semuanya? Kenapa kamu bisa bilang begitu? Trus kenapa sekarang tiba-tiba datang lagi?” tuntutku. Kamu diam, mengatur nafas. Jantungmu berdegub semakin cepat, eolah-olah aku bisa mendengar degub jantungmu yang tak beraturan. Aku memang bisa mendengarnya dari sini. Sisi perempuanku yang mendengar gedub jantungmu.
“Aku gak bisa. Ternyata aku gak bisa nahan diriku untuk gak deket kamu. Aku gak nyaman,” katamu setelah diam beberapa saat. “Maafin aku. Aku salah, aku cuma mikirin kamu, gimana kamu nantinya kalau sama aku. Aku takut kamu gak bahagia,” suaramu makin serak. Aku sempat mendengar satu isak tangimu.
“Schat, are you crying?” tanyaku mulai khawatir. Amarahku reda seketika. Aku lebih mengkhawatirkan tangismu. Belum pernah sebelumnya aku mendengar tangis seorang laki-laki dewasa. Di ujung sana kau berusaha menenangkan dirimu dari tangismu. “Schat…” aku bingung harus berucap apa. Aku tak pernah bisa meredakan tangis seseorang.
Hening, sampai akhirnya kau bisa menguasai dirimu. “I’m sorry Darl. Aku gak akan ulangin lagi. Aku gak bisa kehilangan kamu, Aku sayang kamu” katamu.
“Ik heb jou lief, Schat,” balasku. Jawaban yang cukup mengejutkan separuh diriku.
Kamu memang berbeda. Jika ada laki-laki yang menangis depanku, mungkin aku akan langsung meninggalkannya. Tapi tidak denganmu. Aku masih terlalu bersabar untukmu. Mungkin karena aku tak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Tidak walau sedetikpun. Kau memang laki-laki hebat. Kamu membuatku lebih toleran padamu daripada laki-laki manapun yang berbuat kesalahan.
Aku hanya ingin memelukmu saat itu. Meredakan tangismu, menenangkan hatiku. “Schat aku cuma mau kamu. Tolong jangan fikirkan apa pun yang memberatkanmu. Aku tak pernah ingin jadi bebanmu. Aku hanya ingin menjadi teman hidupmu. Akan selalu ada kita diantara hidupku dan hidupmu.”

“Kok diem lagi?” tanyamu. Aku tak pernah bisa mengatakannya. Aku hanya ingin kamu mengerti. Tidak sekarang, belum saatnya.

Yogyakarta,  November 2013

Tuesday, May 28, 2013

Orang-orang di Kereta

Suatu hari ketika aku duduk di dalam suatu gerbong kereta ekonomi yang membawaku pergi meraih mimpiku. Aku duduk bersama 5 penumpang lainnya. Tiga orang yang duduk di hadapanku adalah seorang ibu, gadis sebayaku dan juga seorang remaja putri. Dua orang lagi di sampingku adalah sepasang kekasih.

Ku perkirakan Sang Ibu berusia lebih dari 50 tahun. Karena beliau yang pertama duduk di kursi depanku, aku sempat mengobrol sedikit dengannya. Beliau bercerita ini pertama kalinya beliau meninggalkan kota ini. Beliau pergi untuk menemui anak lelaki tunggalnya yang sudah 4 tahun menikah dan baru dikaruniai seorang putri. 
"Nak, nanti Ibu dikasih tahu ya, kalau sudah sampai di Stasiun Cirebon."
Aku hanya tersenyum mengiyakan permintaan Sang Ibu. Kemudian beliau bercerita tentang Rudi, anak lelaki tunggalnya itu dan juga Ratih, istrinya.
"Sebetulnya ibu kurang suka dengan Ratih. Karena hidup berkecukupan dia jadi agak manja, kurang prihatin. Awalnya Ibu agak khawatir, tapi mau gimana lagi, lah Rudi wes kadung tresno. Apapun Ibu lakukan asalkan Rudi bahagia."

Tak berapa lama kereta mulai penuh dengan orang-orang yang akan pergi meninggalkan kota ini. Kemudian perlahan roda kereta mulai berputar meninggalkan stasiun. Di sampingku, Si Remaja Putri mulai sibuk dengan gadgetnya. Kebiasaan anak muda jaman sekarang. Smartphone-nya tak henti berdenting menandakan beberapa notifikasi yang masuk. 

"Adek mau kemana?" Sapaku pada Si Remaja Putri.
"Ke Purwokerto, Kak." Aku sebetulnya agak risih kalau dipanggil dengan sebutan kakak. Kurang akrab di telingaku. Dari sapaannya padaku aku bisa menebak dia adalah mahasiswi baru di kota ini.
"Kuliah di sini?" Tanyaku dan dijawab hanya mengangguk.
"Ambil jurusan apa?" Lanjutku.
"Komunikasi." Kemudian dia kembali sibuk dengan gadgetnya.

Kereta makin menjauh dari kotaku, tetapi belum juga mendekat ke kota tujuan. Satu-satu para penumpang terlelap. Sang Ibu di sebelahku juga sudah terlelap jauh ke alam mimpi. Sementara Si Remaja Putri telah turun beberapa saat yang lalu tanpa permisi. Gadis yang sebaya denganku masih tetap duduk menghadap jendela. Entah tertidur atau hanya memandang kosong pohon-pohon yang seolah bergerak mundur seiring laju kereta. 

Kemudian kereta berhenti beberapa saat di Stasiun Prupuk. Sepasang kekasih itu terbangun. Si laki-laki berpamitan sebentar keluar hendak merokok. Lalu si wanita tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya dan bertanya beberapa pertanyaan basa-basi. 
"Mau kemana, Mbak?" Tanyaku.
"Ini, mau ke rumah Mas saya. Dia ngajak saya untuk ketemu sama orang tuanya. Kalau Mbak sendiri?" Jawabnya ramah.
"Oh, Saya ke Jakarta, untuk lanjut ke tempat lain. Panggilan kerjaan." Kataku.
"Wah, sepertinya menyenangkan. Saya gak pernah boleh kerja jauh-jauh dari orang tua saya. Makanya kuper. Ini aja kalau gak diajak Mase saya gak bakal pergi sejauh ini," katanya. "Saya sebenernya takut, Mbak ketemu sama orang tuanya Mas Arno. Saya takut gak disukai. Ini pertama kalinya buat saya ketemu sama orang tuanya pacar saya. Orang jauh lagi," Lanjutnya.
"Oh, gitu ya, Mbak. Saya malah belum pernah tuh," kataku sambil tersenyum. Pikiranku kemudian melayang sesaat. Wajahnya kembali terbayang. Wajahnya yang aku rindukan, tapi bahkan hingga aku meninggalkan kotaku dia tak juga memunculkan dirinya sekedar berkata "selamat tinggal."
"Mbak sepertinya kerjanya jauh ya? Saya kadang pengen seperti Mbak, bisa kemana-mana," katanya.
"Gimana kalo gak usah panggil 'mbak', panggil aja namaku, Dewi. Kerjaanku itu main. Cari duit buat keluarga, sisanya di pake main-main. Yah, mumpung masih sendiri," kataku tersenyum. 
"Namaku Ayu. Tapi tetep aku pengen seperti kamu, Wi. Aku dan Mas Arno kerja di satu perusahaan dan perusahaan tidak memperkenankan suami istri bekerja di sana. Salah satu dari kami harus keluar. Sepertinya aku yang harus keluar. Mas Arno pernah bilang dia gak mau aku kerja nanti setelah kami menikah."

Kemudian Mas Arno masuk ke dalam kereta, seketika itu percakapan terhenti. Kami sibuk dengan urusan kami lagi. Aku mulai mendengarkan musik, dan kedua pasangan itu mulai mengobrol lagi. Mendekati Stasiun Cirebon aku membangunkan Sang Ibu perlahan. Membantunya untuk menurunkan beberapa tasnya. Sampai di Stasiun Cirebon Sang Ibu dan kedua pasangan itu turun.  

Kereta makin mendekati tujuan akhirnya. Kini tinggal aku dan Si Gadis yang sedari tadi duduk menatap keluar jendela. Kemudian dia menatapku dan tersenyum. "Mbak mau kemana?" Dia bertanya padaku.

"Jakarta. Kalau Mbak sendiri?" Tanyaku balik padanya.
"Saya mau pulang, Mbak. Ke rumah orang tua saya. Tapi saya khawatir. Saya takut. Saya sudah melakukan kesalahan besar," dia berbicara setengah melamun. 
"Setiap orang punya kesalahan, Mbak." Jawabku berusaha sekedar menghiburnya.
"Dulu, saya kabur dengan orang yang saya cinta. Laki-laki itu yang sekarang mencampakkan saya. Orang tua saya tak pernah setuju saya berhubungan dengannya. Jadinya saya kabur, Mbak. Sekarang saya tahu apa kekhawatiran orang tua saya. Saya menyesal, tapi waktu tak pernah berputar kembali kan? Saya bingung, saya harus kemana lagi. Satu-satunya harapan dari saya adalah saya pulang dan minta maaf sama orang tua saya walaupun saya takut sekali." Ceritanya seperti menahan rasa pedih yang dalam. 

Aku diam mendengar ceritanya.  Aku mendengar ceritanya sambil merenungkan kisahku. Aku iri padanya. Dia sangat berani menerima kesalahannya dan mungkin menanggung akibat dari kesalahannya. Akankah orang tuanya memaafkannya? Aku yakin mereka memaafkannya. Tak ada orang tua yang tak sayang dengan anaknya. Ibuku pernah bercerita, sebesar apapun kesalahan seorang anak, orang tua pasti akan dengan tangan terbuka memaafkannya dan menerimanya kembali. 

Wajah orang tuaku terkenang. Aku pergi hanya dengan restu orang tuaku. Aku mulai membayangkan wajah orang tuaku ketika nantinya mereka menyambutku pulang. Akankah mereka bahagia? Akankah mereka memaafkan segala kesalahan dan ketidakpedulianku pada mereka? Lalu aku mengingat remaja putri di sebelahku. 

Seorang remaja putri yang sangat tidak peduli sekitarnya. Aku pun pernah begitu. Tak peduli dengan sekitarku. Aku berjalan terus tanpa mempedulikan apa kata orang. Apa yang aku mau lakukan akan aku lakukan. Orang-orang di sekitarku hanyalah sebuah peramai dalam hidupku. Tokoh utama dalam hidupku adalah aku. Dulu, jika aku tak menyukai seseorang aku akan berkata tidak padanya. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya. 

Aku pergi tanpa sedikit pun melihat wajah orang itu. Fikiranku mulai terpenuhi olehnya. Dimana dia sekarang? Masihkah dia akan menungguku seperti yang pernah dia isyaratkan? Aku telah lama tak mendengar suaranya. Aku telah lama tak melihat senyumnya. Aku kemudian teringat Ayu. 

Dia bersama kekasihnya akan meminta restu pada orang tua si lelaki. Lalu akankah ada waktuku untuk merasakan apa yang Ayu rasakan? Kekhawatiran dia, rasa senangnya, rasa gugupnya. Aku iri pada Ayu. Dia telah sampai di titik itu.  

Kemudian wajah Sang Ibu di sebelahku terkenang. Seorang ibu yang sangat bahagia karena akan menemui cucu pertamanya. Walaupun awalnya kurang menyukai Si menantu tetapi toh dia tetap merasakan kebahagiaan atas kelahiran cucu pertamanya. Wajah ibuku kembali terkenang. Walaupun bukan anak tunggal, aku adalah satu-satunya anak perempuan dengan dua kakak lelaki. Sudahkah Ibu berharap aku segera mengkahiri masa lajangku?

Keretaku kali ini membawa banyak cerita, membawa banyak harapan, membawa banyak pelajaran. Keretaku mulai melambat dan sampai akhirnya berhenti di tujuan akhirnya. Pada akhirnya akupun akan berhenti di tujuan akhirku, hanya saja aku masih mencarinya.