Monday, March 31, 2014

Orang-Orang Kota : Karaoke

Satu bulan ini saya punya kesempatan berkumpul, belajar hingga tidur bersama hampir 200 teman-teman baru saya. Memang diantara mereka ada yang tidak menjadi teman baru untuk saya, sebagian hingga kini ada juga yang belum benar-benar menjadi teman saya. 

Kami adalah teman satu angkatan. Kami telah beberapa kali dipecah, daijadikan beberapa kelompok yang lebih kecil. Saya sendiri pernah bergabung dalam kelompok inovasi dan satu lagi sebutlah kelompok barbar dan barbarita. 

Di asrama itu, kebetulan saya satu kamar dengan teman dari kelompok inovasi. Saya jadi sudah tidak canggung ataupun merasa rikuh dengannya. Tempat belanja andalan ada di depan asrama dan di seberang tempat belanja ada satu tempat karaoke. Hiburan kami selama satu bulan itu adalah karaoke. 

Suatu malam, seorang teman dari kelompok inovasi mengajak saya dan teman-teman lain untuk karaoke. Rupanya dia sedang suntuk. Akhirnya, walaupun dadakan, berangkatlah kami kira-kira ber-10, 4 perempuan, sisanya laki-laki. Satu orang kebetulan sudah ada di tempat karaoke dan dia membooking ruangan untuk kami. 

Satu jam kami gunakan untuk sedikit melepaskan pikiran. Beberapa lagu kami nyanyikan. Masing-masing membawakan lagu spesialisasinya, ada yang spesialisasi melayu, rock, korea, lagu nostalgia jaman ayah bunda masih muda, ada juga spesialis lagu galau.

Setelah usai, kami diperbolehkan untuk menikmati es krim yang ada di lobby tempat karaoke tersebut. Gratis. Entah karena faktor kesempatan atau apapun itulah, kami yang masih muda-muda dan penggemar es krim ini, mengambil es krim itu sedikit berlebih. Walaupun agak radang tenggorokan dan batuk, saya tetap tidak tahan untuk tidak menyomot es krim itu dan meletakkannya banyak-bayak dalam cone-nya. 

Lain kesempatan, saya diajak lagi berkaraoke di tempat tersebut. Saya sempat membantu teman saya untuk mengambil es krim tersebut. Saat saya akan mengambil es krim itu untuk saya sendiri, saya dihampiri seseorang yang hendak membatu saya mengambilkan es krim untuk saya. Dari nada bicaranya saya bisa menangkap dia tidak begitu suka para pelanggannya mengambil es krim banyak-banyak. Atau mungkin dia menangkap basah saya sedang menyomot es krimnya banyak-banyak? 

Entahlah, tapi yang jelas selepas saya menolak bantuannya, dia selalu mengambilkan es krim pada pelanggannya. Mungkin di atas tempat itu harus ditulisi "HANYA BOLEH 1 SCOOP/ORANG"  supaya orang-orang seperti saya yang suka kalap kalau ada es krim gratisan, bisa dikendalikan :)


Jakarta, Maret 2014

Sunday, March 23, 2014

Orang-orang Kota : Manner atau EmansiSAPI?

Saya adalah pengguna kendaran umum di Jakarta ini. Saya juga kebetulan adalah seorang wanita. Saya tahu bahwa di sini, mulai ada pengkhususan untuk wanita, mulai dari dari ruang khusus wanita, gerbong khusus wanita. Selain itu dalam kendaraan umum sudah ada beberapa kursi prioritas untuk penyandang cacat, wanita hamil dan lansia. 

Beberapa hari yang lalu saya pernah membaca tulisan dari seorang lelaki yang "tidak terima" dengan perlakuan seorang wanita di dalam bus. Ini bukan masalah pelecehan, ini hanya soal tempat duduk. Begini ceritanya. Seorang lelaki di dalam bus yang penuh duduk di depan seorang wanita yang anggaplah sama umurnya. Kemudian Si Wanita meminta Si Lelaki itu berdiri dan memberikan tempat duduknya pada wanita itu. Si Lelaki dengan enggan memberikan tempat duduknya itu pada Si Wanita yang dianggapnya masih bisa berdiri. Si Wanita bukan salah satu orang yang harus di prioritaskan. Kemudian Si Lelaki menulis "kekesalannya" dalam suatu posting. 

Dia menulis, "Katanya emansipasi, tapi masalah kayak gini lupa sama emansipasi. Maunya diprioritaskan. Gak mau disamain sama laki-laki."
 
Buat saya, masalah seperti ini sepertinya bukan masalah emansipasi. Emansipasi adalah persamaan hak pria dan wanita, misalnya saja dalam hal karir atau pendidikan. Jadi masalah sepele seperti ini kenapa harus dikaitkan dengan emansipasi? Menurutsaya pribadi ini hanyalah cara hidup.

Saya ingat, ada teman saya, laki-laki, dia bilang "kenapa cewek harus diprioritaskan. Kalau dia memang masih mampu berdiri ngapain saya berdiri dan memberikan tempat duduk saya buat dia."

Well, sekali lagi itu adalah cara hidup masing-masing dari kaum lelaki. Tetapi sepertinya saya sebagai seorang wanita boleh menilai seorang lelaki. Saya akan menilai lelaki tersebut sebagai lelaki yang kurang mempunyai manner yang baik. Tahu kenapa? Seorang lelaki ditakdirkan untuk menjadi pelindung wanita. Bagaimana pun juga, saya tahu laki-laki memiliki naluri untuk melindungi, wanita, sebaliknya memiliki naluri untuk dilindungi. Ketika ada peristiwa seperti tadi, wajarlah ketika wanita meminta pengertian laki-laki untuk memberikan tempat duduknya.

Jangan salah kira saya adalah wanita tersebut. Bukan. Saya masih setia berdiri sambil sesekali mencari bangku kosong atau pegangan yang enak. Maklum saya tidak tinggi sehingga terkadang tangan saya tak sampai pada pegangan di bus atau di kereta. Saya memang beberapa kali melihat para pria yang dengan cueknya membiarkan wanita-wanita yang agak kesusahan itu berdiri. 

Namun, bukan berarti saya sangat membela para wanita. Beberapa kali saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat wanita muda membiarkan seorang ibu berdiri di depan matanya. Dia pura-pura tidur atau malah bermain dengan gadgetnya. Saya juga menilai wanita tersebut kurang mempunyai manner yang baik.

Saya juga bukan termasuk orang yang sangat baik cara hidupnya, saya hanya berkomentar sekaligus menasehati diri saya untuk menjadi orang yang lebih baik. Hmm... inilah Jakarta, dimana setiap orang bisa melakukan apa saja demi bertahan hidup.



Jakarta, Maret 2014

Nb. Tulisan ini bukan bermaksud menghakimi kaum laki-laki :)