Thursday, November 13, 2025

Orang-orang kota : Lastri Si Penjual Minuman

Pukul 05.00 bulan Agustus di sudut Kota Jogja. Pagi itu mendung, seakan menandakan matahari akan tertutup awan seharian. Harapan Lastri masih sama seperti hari-hari sebelumnya, bahwa hari ini matahari akan terik menyengat. Jika hujan, maka wisatawan yang menjadi target penjualan minumannya di kawasan Malioboro akan makin sedikit. Apalagi Malioboro saat ini tidak seramai dulu, ketika lorong-lorong pertokoan masih dipenuhi penjaja kaki lima dan pengunjung pencari oleh-oleh khas Jogja,  sewaktu usianya jauh lebih muda. Selain kontrakan, Lastri juga butuh menabung untuk biaya sekolah anaknya kelak. Kamar seharga lima ratus ribu per bulan saja sudah membuat pusing, lalu bagaimana dengan biaya sekolah anaknya nanti. Walaupun yang Lastri dengan sekarang sekolah gratis, tapi seragam dan buku-buku tetap perlu dibeli. 

Anaknya menggeliat karena usapan Lastri. Diusianya yang menginjak 25 tahun saat ini dia harus menghidupi anaknya yang masih berusia 5 tahun. Sejenak pikirannya melayang pada saat dia memutuskan untuk merelakan Anto, suaminya, untuk merantau ke Jakarta. "Demi hidup yang lebih baik," kata Anto sebelum menaiki bus yang membawanya ke Jakarta. Lastri tidak pernah tahu apa yang dikerjakan Anto di Jakarta, namun saat itu sesekali dia menerima pesan dari Anto yang mengakatan bahwa dia masih berjuang di sana. Pesan terakhir yang dia terima dari nomor HP Anto adalah kabar Anto akan dikuburkan bersama orang-orang yang terkena virus COVID-19. Saat itu dirinya tengah hamil besar dan berharap Anto bisa pulang untuk menemaninya melahirkan buah hati pertama mereka. Lastri kembali mengusap pelan rambut anak perempuannya. Jauh di lubuk hatinya, dia tidak rela anaknya menjajakan tissue di sepanjang lampu merah, atau terpaksa bertepuk tangan dan menyanyi ala kadarnya. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin anaknya bisa sekolah seperti seharusnya. Tetapi untuk itu dia harus bekerja lebih keras.

 "Nduk, ayo bangun. Sudah siang. Ibu mau ke rumah Bu Ika, siapa tau butuh bantuan untuk setrika baju, setelah itu kewarung Bu Sum untuk ambil minuman," ujar Lastri pelan kepada anaknya. 

"Ikut Bu, aku mau ikut ke rumah Bu Ika ben entuk jajan," jawab anak perempuannya. Lastri tersenyum mendengar celotehan anaknya. Bu Ika adalah harapan lain anaknya bisa sekolah. Lastri mengenal Bu Ika dari tetangga kosnya yang terkadang memotong rumput di rumah Bu Ika. Saat itu Bu Ika perlu bantuan untuk bersih-bersih karena asisten rumah tangganya terkilir dan belum bisa bekerja. Lastri sekedar membantu bersih-bersih dan menyetrika baju. Saat itu, Lastri menitipkan anaknya di warung Bu Sum, dan situlah anaknya mulai belajar untuk menjajakan tissue. Lastri tidak banyak bercerita tentang hidupnya kepada Bu Ika, tetapi ketika tahu bahwa Lastri memiliki anak kecil, terkadang Bu Ika membekali Lastri dengan beberapa jajanan yang ada di rumah Bu Ika. 

Namun, sepertinya hari ini bukan hari yang baik untuk Lastri. Pintu rumah Bu Ika tertutup rapat, dan tidak terlihat adanya seorang pun di rumah. Dengan langkah gontai, Lastri melanjutkan perjalanan kembali menuju ke salah satu kios di pinggiran Malioboro. 

"Kok esuk banget nduk? Parjo mau wes keliling, jare iseh sepi. Wong yo toko-toko rung do buka. Nyoh, kowe ngewangi ibukmu nggowo tissue" sapa Bu Sum sembari menyerahkan minuman-minuman yang akan Lastri jajakan dan beberapa tissue kepada anak perempuan Lastri. 

Lastri berjalan gontai menyusuri Malioboro. Benar kata Bu Sum, toko-toko belum buka, belum banyak pengunjung di Malioboro. Saat ini orang-orang lebih suka membawa minum sendiri daripada beli minum di kaki lima, atau mereka lebih memilih es dengan tampilan yang lebih menarik di toko-toko. Sesekali Lastri menawarkan jualannya ke para pelari yang sedang beristirahat sejenak, dan dijawab dengan gelengan atau gestur tangan penolakan. Lastri menggandeng anak perempuannya untuk melanjutkan menyelusuri tepi Malioboro. 

"Mbak Lastri," panggil suara yang tak asing. Lastri menoleh ke arah datangnya suara kemudian tersenyum menghampiri. Bu Ika menyambut Lastri dan anak perempuannya. "Wah, alhamdulillah ketemu di sini. Aku nggak punya nomormu mbak, njuk aku ingat, katanya kamu jualan es teh di Malioboro. Mbak, kamu bisa nggak kalau bantu-bantu aku dulu beberapa hari ini? Pulang pergi nggak masalah, nanti aku gaji di akhir minggu. Mbak Yanti, yang biasa di rumah itu semalam harus pulang ke Gunung Kidul dan sepertinya nggak akan kembali lagi. Aku masih cari gantinya," cerita Bu Ika penuh harap sambil menggengam tangan Lastri. 

Lastri terdiam. Dalam hatinya dia masih tidak percaya doa yang selalu dia panjatkan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih pasti, mendapatkan jalannya. 

"Bu, apa boleh saya yang gantikan? Tapi, saya nggak bisa tinggalin dia sendirian, jadi mungkin dia saya bawa, apa boleh, Bu?" jawab Lastri sambil memandang anak perempuannya.

"Alhamdulillah, boleh Mbak Lastri. Ini anaknya Mbak Lastri? Siapa namanya, Nak?" Ujar Bu Ika sambil mengelus kepala anak perempuan Lastri. 

"Atin." ucap anak perempuan Lastri sambil salim kepada Bu Ika. 

"Atin?" ulang Bu Ika.

"Iya Bu, namanya Prihatin, dia biasa dipanggil Atin." terang Lastri. 

Lastri tersenyum lega. Setidaknya dia akan punya kesempatan untuk menyekolahnya anaknya, Atin. Anak yang dia beri nama sesuai dengan kondisinya saat melahirkannya, Prihatin. Anak yang diharapkan akan senantiasa hati-hati dalam bertindak hingga dia dewasa. Harapan Lastri, Atin, anaknya tidak akan berakhir seperti dirinya, menjadi seorang penjual minuman keliling. 

 

 

 

Wednesday, November 3, 2021

Situ Gunung

Memanfaatkan libur 1 hari di tengah minggu, kenapa tidak? Tentunya tempat wisata yang nggak terlalu jauh dari Jakarta dan nggak bikin macet, karena kalau bisa dalam 12 jam kita sudah sampai di rumah lagi. Pilihan libur kali itu adalah ke Situ Gunung di Sukabumi. Situ Gunung ini berada di kawasan Gunung Gede Pangrango. Sebetulnya nggak sampai Sukabuminya juga sih, hanya sampai Cisaat.

Image result for stasiun bogor paledang (bogor - sukabumi) bogor city west java
Stasiun Bogor Paledang By Google
Kami (Mbak-mbak kost dan saya) memilih naik KRL dari Jakarta ke Bogor. Kereta ke Cisaat (Sukabumi) berangkat jam 7.50 dari Stasiun Bogor Paledang. Stasiun Bogor Paledang ini terletak nggak jauh dari Stasiun Bogor pemberhentian terakhir KRL itu, hanya di seberang jalan. Tiket kereta ke Cisaat adalah Rp 35.000,- untuk kelas ekonomi dan Rp 80.000,- untuk kelas executive. Karena waktu tempuh yang nggak terlalu lama, hanya 2 jam, kami memilih kelas ekonomi. Kereta ini kursi di kelas ekonomi 3 - 2, sudah ada AC juga jadi nggak perlu kepanasan. 

Sampai di Cisaat beberapa angkot sudah siap menunggu menuju ke Situ Gunung. Kalau pergi sendiri atau dalam rombongan kecil, lebih baik gabung atau ikut rombongan lain, biar biaya angkotnya murah. 1 angkot biasanya minta Rp 300.000,- pulang - pergi. Artinya si angkot akan jemput saat rombongan yang sama balik lagi ke stasiun. Kalaupun misalnya nggak sewa angkot, 1 orang dikenakan tarif Rp 15.000,- sampai Rp 20.000,- sekali jalan. Karena si Abang angkot nggak mau rugi, 1 angkot biasanya diisi 10 - 12 orang. Perjalanan naik dari Stasiun Cisaat ke Situ kira-kira butuh waktu sekitar 1 jam dengan kondisi jalan yang nggak mulus.
Belum sampai di depan gerbang situ, kami terpaksa turun karena jalan masuk ke Situ sudah macet. 
  
Image result for suspension bridge situ gunung site map
Peta Situ Gunung by Google
Untuk masuk kawasan situ, dikenakan biaya Rp 18.000,-. Untuk dapat melewati Suspension Bridge dikenakan biaya Rp 50.000,-. Biaya ini termasuk welcome snack (pisang rebus dan teh atau kopi panas). Setelah membayar tiket untuk Suspension Bridge ini, kita akan mendapat gelang kertas sebagai penanda pengunjung. 

Sebenarnya ada 1 lagi lokasi wisata di kawasan ini selain Curug Sarwer, yaitu Danau Situ Gunung. Kami tidak sempat berkunjung ke Danau ini, karena fokus menuju ke air terjun. Tapi kata pengunjung lain jalur menuju ke danau naik turun yang cukup menguras tenaga. Antrian untuk menikmati Suspension Bridge pada hari itu cukup panjang, karena jembatan inilah jalur tersingkat menuju Curug Sawer. Oleh karenanya kami memilih untuk lewat jalur darat, atau tracking menaiki jalur non Jembatan. Waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke air terjun via darat tanpa melalui jembatan sekitar 30 - 1 jam, tergantung kecepatan kita untuk mengajak kaki-kaki melintasi medan yang lumayan menguras tenaga saya yang nggak pernah olahraga tentunya. 

Di dekat lokasi air terjun, tersedia beberapa tempat makan seperti bakso, mi instan dan makanan-makanan lain yang bisa menghangatkan badan. Kami tidak sempat mampir dan mencicipi makanan di sini, kami pikir akan mampir makan nanti saja ketika pulang atau paling tidak sampai di bogor. 
 
Kami memutuskan untuk menaiki jembatan gantung ketika kembali ke pintu gerbang depan.  Ternyata pengalaman menaiki jembatan gantung cukup membuat saya berdebar-debar. Jembatan yang cukup tinggi dengan seutas tali cukup memacu adrenalin. Walaupun setiap orang yang akan melewati jembatan gantung diberikan pengaman, tetap saja jembatan yang mudah bergoyang-goyang jika dilalui banyak orang cukup membuat saya ingin cepat-cepat sampai ujung jembatan. Waktu tempuh jembatan tersebut mungkin hanya sekitar 10 menit. Saya melewatkan sesi foto-foto karena memang terlalu ngeri untuk berlama-lama di jembatan (ini bukannya saya menakut-nakuti, hanya saya saja yang penakut). Namun, jembatan ini memang merupakan spot foto yang keren (asal pas nggak banyak orang yang lewat dan berfoto juga). 
 
Waktu sudah cukup sore saat kami memutuskan pulang. Di luar area Situ Gunung sudah banyak angkot yang menunggu penumpang untuk kembali ke Stasiun Cisaat. Kemacetan tidak terhindarkan di dekat pintu keluar situ. Karenanya kami memutuskan berjalan kaki sedikit, demi menemukan angkutan yang terbebas dari macet. Beberapa angkutan sudah penuh terisi oleh para pengunjung yang hendak pulang, untungnya kami menemukan angkot lain yang masih bisa menampung kami. Sempat terjadi sedikit drama ketika angkutan yang kami milih, memutuskan untuk turun mogok di tengah jalan. Untunglah angkutan pengganti segera datang sehingga kami masih bisa mengejar kereta ke Stasiun Bogor. 
 
 
Note : perjalanan dilakukan sebelum masa pandemi C-19.

Tuesday, November 2, 2021

Pulang

Aku pulang. Kembali ke kota ini berarti aku pulang. Kepadanya yang banyak menyimpan cerita, dia yang banyak bercerita tentang orang-orang yang datang, pergi ataupun tetap tinggal.

Di kota inilah sekali lagi aku belajar. Bukan hanya mengenai ilmu-ilmu pengetahuan dan hitungan-hitungan yang njlimet, tetapi juga kehidupan. Darinya aku belajar merelakan yang pergi dan menerima yang datang, darinya aku belajar menerima apa yang menjadi takdir di hidupku. 

Kota ini memberikan damai. Aku tenang di sini. Hidup tidak harus selalu grusa-grusu seperti layaknya di kota-kota besar. Hidupku di sini mengalir seperti air. Selalu ada hukum alam yang berlaku. 

Kota ini adalah rumah bagiku. Bukannya aku lelah berlari di kota-kota besar, hanya saja aku mudah bosan. Sejatinya rumah adalah tempat untuk kembali. Maka, aku kembali ke sini untuk pulang. 



Yogyakarta.

Wednesday, December 23, 2020

Sepenggal Cerita di Bukit Aceh

Sepanjang jalan itu tidak ada yang bicara. Kami diam. Dia sibuk mengendarai mobil menuruni bukit kembali ke kota. Sayup-sayup terdengar lagu milik 5 Minutes, bercerita tentang kenangan yang ditinggalkan. Sama halnya kami meninggalkan kenangan yang terjadi di pantai di balik bukit yang kini kami tinggalkan.

"Abang masih memikirkan dia?" seperti kebanyakan lelaki berdarah Sumatera, dia pun aku panggil abang.
"Hm? Iya dan engga. Sudahlah. Cerita lama," katanya.
"Iya, Abang memang masih memikirkannya," pembicaraan selesai. Kami hanyut ke pikiran masing - masing.

Mobil berbelok ke satu warung bambu di pinggir jalan.
"Nyaris senja. Sayang untuk dilewatkan," katanya.
Dua buah kelapa muda menemani kami diiringi dengan ceritanya.
"Setiap bukit di sini menyimpan cerita," katanya mengawali ceritanya.
"Termasuk cerita Abang?" tanyaku.
"Dia cantik. Sama sepertimu, dia pun pernah tinggal di sini. Aku pernah tertarik padanya, dan pernah terucap pula dari mulutku akan menjaganya," kembali dia diam dan menghela nafasnya.
"Saat aku mengatakan aku tak akan meninggalkannya, dia hanya berkata dia tidak yakin padaku. Padahal kali itu aku sungguh-sungguh. Iya, aku tahu aku punya yang lain saat itu, tapi kali itu berbeda. Padanya, rasaku utuh,"
"Lanjutkan," kataku.
"Aku bertanya padanya, mungkinkah dia juga sepertiku. Jawabnya, dia hanya tak yakin dengan perasaannya padaku. Dia mencintaiku, tetapi katanya dia takkan bisa bersamaku. Entah saat itu ada firasat apa yg membuatnya berkata begitu. Dia bilang padaku tak perlu menunggunya," pandangannya jauh ke arah matahari terbenam.

"Sudahlah, ceritaku sudah berlalu. Aku tahu dia bahagia di sana. Lalu, bagaimana dengan bukit ini dan ceritamu?" tanyanya.
"Hmm.. Dia tak pernah menjanjikan apapun padaku. Hanya aku yang terlalu berharap banyak padanya," aku mulai bercerita. 

"Hingga saat ini?" tanyanya. 

"Aku sudah tidak senaif dahulu, Bang. Saat ini yang terpenting untukku adalah diriku, kebahagiaanku," jawabku. 

"Bersamaku?" tanyanya lagi.

"Hahaha.. iya, mendengarmu bercerita di bukit ini juga merupakan kebahagianku," jawabku. 

Bukit itu sekali lagi menyimpan cerita. Kali ini bahagia. Kemudian nanti atau kapan ada orang lain yang akan bercerita pada bukit itu. Bukit yang membuat orang nyaman untuk bercerita di belaian angin dan tatapan senja. Bukit yang meyimpan cerita-cerita dari kota. Bukit yang meneduhkan hati yang dilanda amarah dan dendam. Bukit yang meluaskan padangan bagi otak-otak yang berfikiran sempit. Senja yang menghilangkan lelah dan angin yang menepiskan lara.


 
Kala itu, Senja di Bukit Aceh sekitar tahun 2015. 

22 Desember

Hari itu feedku dipenuhi banyaknya ucapan untuk ibu. Ah benar, itu adalah hari ibu. Terbesit dibenakku ingin mengucapkannya nanti setelah aku sampai di kantor. Berbahaya terlalu sering melihat hp saat berkendara. 

Hari itu entah kenapa pekerjaan di kantor menumpuk. Belum selesai yang satu ada yang lain datang. Rencana makan siang terlewatkan begitu saja. Beberapa pesan dari ibu menanyakan kabar dan mengingatkan makan siang pun tak bisa aku tanggapi. Semua rencana yang awalnya ada di benak, terlupakan begitu saja. Hari itu adalah hari yang sibuk. 

Malamnya beberapa kawan mengajak hang out untuk sekedar melepas penat. "Kenapa tidak?" batinku. Aku mengikuti mereka menuju tempat makan untuk memuaskan perut yang sedari siang tidak terurus dan bergossip ini dan itu. 

"Eh, ini hari ibu ya? Kalian-kalian ada tradisi ngucapin ke emak-emak kalian nggak sih?" tanya salah seorang temanku. 

"Gue udah ngucapin dong, ke nyokap gue sama sekalian calon mertua," timpal temanku yang lain. 

Seketika itu aku teringat rencanaku tadi pagi. Perlahan aku melihat pesan yang hari ini ibuku kirim. Beliau memang rajin mengirimi aku pesan hanya sekedar menanyakan kegiatanku dan mengingatkan aku makan. 

"Bentar ya, gue telp nyokap gue dulu. Jadi kepikiran," kataku sembari beranjak dari teman-temanku. 

Pukul 9 lebih malam itu. Sebetulnya aku ragu ibuku belum terlelap. Beliau biasa bangun pagi dan tidur lebih cepat malam harinya. Nada sambung terdengar di ponselku. "Ah, pasti udah tidur," pikirku.

"Halo.." Suara yang sangat membuatku nyaman terdengar di ujung telepon. 

"Mah, udah tidur ya?" tanyaku ragu

"Belum. Ini dimana, Dek? Belum pulang?" tanyanya.

"Belum mah, masih nongkrong sama anak-anak kantor. Mah, selamat hari ibu ya. Doa terbaik buat Mamah," kataku.

"Emang ini tanggal berapa? Mamah sih nggak penting hari ibu itu, yang penting Mamah tau kabarmu aja udah ayem" jawab ibuku. 

Telepon berlanjut sekitar 10 menit. Beliau tidak suka menganggu waktuku bersama teman-temanku atau pekerjaanku. Katanya beliau sudah cukup tenang dengan hanya membaca jawaban pesanaku dan mendengarkan suaraku 5 sampai 10 menit sudah membuatnya yakin anaknya baik-baik saja di negeri orang. Sejak itu, kupikir tidak ada lagi hari ibu. Setiap hari harusnya adalah menjadi harinya. Hari dimana kita nggak boleh bikin beliau khawatir, kita mendoakan beliau untuk semua kebaikannya, kita memanjakan beliau, harusnya terjadi setiap hari. Bukan hanya tiap tanggal 22 Desember dan kemudian besoknya kita lupa. 

Memang sih, terkadang ada saja pendapatku yang  nggak sesuai dengan pendapatnya. Sering kali beliau juga kesal dengan segala pemikiran dan keegoisanku. Namun, kupikir terkadang beliau juga lupa bahwa caranya mungkin berbeda dengan cara kita mendapatkan kebahagiaan. Tapi yang pasti beliau ingin kita bahagia bukan. 

Aku percaya tidak ada satu ibupun di dunia ini yang ingin anaknya tidak bahagia, dan tidak ada seorang anakpun di dunia ini yang ingin menyakiti ibunya. Terkadang jika keduanya tidak akur, mereka hanya lupa untuk melihat dari sisi satu sama lain, mereka terlalu fokus untuk melihat dari sisinya masing-masing.

Friday, July 5, 2019

Pukul 2 Pagi

Waktu menunjukkan pukul 6 petang. Aku berjalan gontai ke parkiran motor dimana Si Butut senantiasa menungguku. Siapa lagi temanku saat aku kesepian selain motorku? Pagi, siang bahkan tengah malam, hanya dia yang bersedia menemaniku membunuh waktu menikmati panas atau dinginnya udara saat itu. Malam ini, kita akan istirahat saja, aku lelah, pikirku. 

Aku mencoba merebahkan badanku sembari memejamkan mata seusai mandi sore. Berharap ada sedikit ide, ilham, wangsit, atau apapun namanya itu masuk ke dalam kepala kecilku. Aku butuh ide untuk menulis lagi. Seandainya inspirasi semudah itu datangnya. 

HPku bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Sebetulnya aku agak malas untuk mebukanya. Aku takut, pesan itu adalah pesan tagihan untuk semua hutang-hutangku.

"Sudah selesai? Mau kutemani mengerjakan?" 

Ternyata pesan darimu. Sebetulnya aku masih malas mengerjakan pekerjaan itu. Tapi, meluangkan waktu bersamamu entah mengapa selalu menjadi godaan tersendiri untukku. 
"Ok" balasaku. Segera aku mengganti bajuku dengan jeans dan jaket yang siap menghangatkanku sebelum kamu datang menjemputku. Tak perlu waktu lama untuk kita menemukan satu tempat yang cocok yang menurutmu baik untukku mencari inspirasi untuk menulis. 

Waktu perjalan cepat. Aku sendiri belum bisa menyelesaikan tulisanku. 

"Maaf, Mas, Mbak. Kami jam 2 sudah mau tutup, masih ada yang mau diorder lagi?" tanya seorang pramusaji yang tiba-tiba menghampiri meja kita. Sejenak, aku melepaskan pandanganku dari laptop yang dengan kursor yang berkedip menanti huruf-huruf perangkai kata. Aku memandang sekitarku, memang tinggal beberapa gelintir orang yang masih tertinggal di kafe ala mahasiswa itu. 

"Sudah, Mbak. Kami sebentar lagi selesai kok," jawabku dan dijawan dengan anggukan sopan pramusaji itu.

"Udah kelar?" tanyamu.
"Belum. Sedikit lagi. Pulang aja yuk, ini aku kelarin di kosan aja," ajakku. Kemudian aku menghabiskan minuman yang kau pesankan untukku. Walaupun sudah dingin, minuman itu masih mampu menghangatkan di udara malam yang dingin. Sudah hampir pukul 2 pagi ternyata. 

Beberapa malam kemudian, hal yang sama terjadi lagi. Kamu selalu ada di saat aku memang membutuhkan teman dalam merangkai kata. Kali itu, kita sudah mulai biasa untuk diusir jam 2 pagi, seolah ada kesepakatan kita akan pulang jam 2 kurang 15 menit. Memaksimalkan waktu yang diperbolehkan untuk menggunakan listrik kafe tanpa harus diusir secara halus karena karyawan kafe butuh pulang dan tidur. Dalam hati aku berterima kasih padamu karna membuat malam-malamku yang tadinya hampir tidak produktif sama sekali menjadi sedikit lebih produktif. Entah karena ada kamu yang membantuku atau karena memang ide datang ada karena kamu ada.

Lepas beberapa tahun setelah aku menyelesaikan semua drama di dunia perkuliahan, aku mulai tidak terbiasa dengan kehidupan malam. Aku bukan lagi orang yang bisa terjaga hingga pagi. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Suatu kebetulan, pekerjaan yang kamu kerjakan ternyata berkaitan dengan pekerjaan yang aku lakukan. Bertemu sahabat lama, pikirku saat itu. 

"Aku mau konsultasi. Pekerjaanku belum selesai buat presentasi besok. Please bantuin, udah nggak tau harus gimana" isi pesanmu yang masuk ke HPku.
"Boleh, mau dimana?" jawabku.

Tak berapa lama kamu sudah menungguku di depan hotel tempat aku menginap. Sembari mencari tempat untuk mengerjakan presentasi besok, kamu menceritakan ketidaksiapanmu untuk presentasi besok. Kamu berharap, aku tidak terlalu membantaimu dalam presentasi besok. Dunia ini lucu, kamu yang selalu mengajariku banyak hal, tetapi sekarang kamu harus presentasi hasil pekerjaanmu kepada timku. Jika aku bisa bertindak tidak profesional, aku hanya akan bilang, "lanjutkan saja, kamu lebih berpengalaman dariku. Aku tahu kamu tahu yang terbaik," tetapi atasanku pasti tidak akan memaklumi hal tersebut.

Kamu memilih restoran cepat saji di seberang hotel. Selain dekat, tidak ada kemungkinan kita untuk diursir, ujarmu. Rupanya pengalaman kita diusir jam 2 pagi masih melekat di benakmu. Aku tertawa mendengar penjelasanmu. Banyak hal yang terjadi diantara kita, tetapi ternyata hal tersebut masih ada dalam ingatanmu.

Malam berlalu. Entah berapa orang yang sudah duduk di samping kita. Sedang kita masih asyik berdiskusi untuk kemungkinan-kemungkinan yang besok terjadi. Mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak. Mana yang bisa membantumu dan mana yang akan menjebakmu. Harusnya aku tak boleh membantumu, karena keesokan harinya, harusnya aku yang akan bertanya padamu mengenai yang kau jelaskan padaku malam ini. 

"Permisi, selamat malam, Ibu, Bapak. Maaf, ruangan ini akan ditutup jam 2 pagi" kata seorang pramusaji yang tiba-tiba menghampiri.
"Bukanya ini buka 24 jam?" tanyamu.
"Iya betul, Pak. Ruangan yang dibuka 24 jam ada di lantai 2, Pak," jawab pramusaji itu.
"Outdoor?" tanyamu kembali.
"Betul, Pak," jawab pramusaji itu sambil berlalu. Outdoor berarti tidak ada stopkontak yang bisa kita gunakan untuk menjaga laptopmu tetap menyala. Laptop tidak menyala berarti tidak ada lagi alasan untuk berlama-lama berdiskusi tentang pekerjaan untuk besok.

Kita berdua saling pandang dan tersenyum. Mungkin menertawakan betapa kamu dan aku selalu dibatasi waktu sampai jam 2 jika mau bertemu. 

"Jadi, mau minum apa?" tanyamu. Aku melihat jam tangan yang selalu melingkar di tanganku. Pukul 2 pagi.
"Ini, kita nggak bakal diusir kan?" tanyaku.
"Kalau diusir ya kita bungkus aja, kita bawa pulang, minum di rumah" jawabmu sambil tersenyum.

Kali ini, tidak ada huruf yang perlu dirangkai menjadi kata. Tidak ada lagi paparan yang butuh untuk dijelaskan esok pagi. Tidak ada batasan jam 2 pagi. Kamu, aku dan dua buah minuman yang kita pesan adalah akhir bahagia dari kisah kita hari ini hingga akhirnya kita memejamkan mata sebelum tidur.

 

Monday, May 27, 2019

Coretan hati

Tenanglah, badai tidak akan selamanya. Bahkan matahari pun punya waktu untuk tenggelam, untuk bersinar kembali esok. 
Mungkin, ini waktunya untuk sedikit mereda memberi kesempatan untuk beristirahat supaya esok kembali mencerahkan dunia.

Tak semua akan berjalan sesuai rencana, bahkan terkadang siang terguyur hujan, tapi setelahnya petichor yang menenangkan akan menguak. Bersabarlah.

Kadang, aku merindukan masa lalu, dimana aku bisa menulis dengan mudahnya, ah mungkin kini aku yang kelewat sinis untuk menceritakan hidup.

Tenanglah, masa itu akan berlalu, segera. Dan hidup terus berjalan.