Pukul 05.00 bulan Agustus di sudut Kota Jogja. Pagi itu mendung, seakan menandakan matahari akan tertutup awan seharian. Harapan Lastri masih sama seperti hari-hari sebelumnya, bahwa hari ini matahari akan terik menyengat. Jika hujan, maka wisatawan yang menjadi target penjualan minumannya di kawasan Malioboro akan makin sedikit. Apalagi Malioboro saat ini tidak seramai dulu, ketika lorong-lorong pertokoan masih dipenuhi penjaja kaki lima dan pengunjung pencari oleh-oleh khas Jogja, sewaktu usianya jauh lebih muda. Selain kontrakan, Lastri juga butuh menabung untuk biaya sekolah anaknya kelak. Kamar seharga lima ratus ribu per bulan saja sudah membuat pusing, lalu bagaimana dengan biaya sekolah anaknya nanti. Walaupun yang Lastri dengan sekarang sekolah gratis, tapi seragam dan buku-buku tetap perlu dibeli.
Anaknya menggeliat karena usapan Lastri. Diusianya yang menginjak 25 tahun saat ini dia harus menghidupi anaknya yang masih berusia 5 tahun. Sejenak pikirannya melayang pada saat dia memutuskan untuk merelakan Anto, suaminya, untuk merantau ke Jakarta. "Demi hidup yang lebih baik," kata Anto sebelum menaiki bus yang membawanya ke Jakarta. Lastri tidak pernah tahu apa yang dikerjakan Anto di Jakarta, namun saat itu sesekali dia menerima pesan dari Anto yang mengakatan bahwa dia masih berjuang di sana. Pesan terakhir yang dia terima dari nomor HP Anto adalah kabar Anto akan dikuburkan bersama orang-orang yang terkena virus COVID-19. Saat itu dirinya tengah hamil besar dan berharap Anto bisa pulang untuk menemaninya melahirkan buah hati pertama mereka. Lastri kembali mengusap pelan rambut anak perempuannya. Jauh di lubuk hatinya, dia tidak rela anaknya menjajakan tissue di sepanjang lampu merah, atau terpaksa bertepuk tangan dan menyanyi ala kadarnya. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin anaknya bisa sekolah seperti seharusnya. Tetapi untuk itu dia harus bekerja lebih keras.
"Nduk, ayo bangun. Sudah siang. Ibu mau ke rumah Bu Ika, siapa tau butuh bantuan untuk setrika baju, setelah itu kewarung Bu Sum untuk ambil minuman," ujar Lastri pelan kepada anaknya.
"Ikut Bu, aku mau ikut ke rumah Bu Ika ben entuk jajan," jawab anak perempuannya. Lastri tersenyum mendengar celotehan anaknya. Bu Ika adalah harapan lain anaknya bisa sekolah. Lastri mengenal Bu Ika dari tetangga kosnya yang terkadang memotong rumput di rumah Bu Ika. Saat itu Bu Ika perlu bantuan untuk bersih-bersih karena asisten rumah tangganya terkilir dan belum bisa bekerja. Lastri sekedar membantu bersih-bersih dan menyetrika baju. Saat itu, Lastri menitipkan anaknya di warung Bu Sum, dan situlah anaknya mulai belajar untuk menjajakan tissue. Lastri tidak banyak bercerita tentang hidupnya kepada Bu Ika, tetapi ketika tahu bahwa Lastri memiliki anak kecil, terkadang Bu Ika membekali Lastri dengan beberapa jajanan yang ada di rumah Bu Ika.
Namun, sepertinya hari ini bukan hari yang baik untuk Lastri. Pintu rumah Bu Ika tertutup rapat, dan tidak terlihat adanya seorang pun di rumah. Dengan langkah gontai, Lastri melanjutkan perjalanan kembali menuju ke salah satu kios di pinggiran Malioboro.
"Kok esuk banget nduk? Parjo mau wes keliling, jare iseh sepi. Wong yo toko-toko rung do buka. Nyoh, kowe ngewangi ibukmu nggowo tissue" sapa Bu Sum sembari menyerahkan minuman-minuman yang akan Lastri jajakan dan beberapa tissue kepada anak perempuan Lastri.
Lastri berjalan gontai menyusuri Malioboro. Benar kata Bu Sum, toko-toko belum buka, belum banyak pengunjung di Malioboro. Saat ini orang-orang lebih suka membawa minum sendiri daripada beli minum di kaki lima, atau mereka lebih memilih es dengan tampilan yang lebih menarik di toko-toko. Sesekali Lastri menawarkan jualannya ke para pelari yang sedang beristirahat sejenak, dan dijawab dengan gelengan atau gestur tangan penolakan. Lastri menggandeng anak perempuannya untuk melanjutkan menyelusuri tepi Malioboro.
"Mbak Lastri," panggil suara yang tak asing. Lastri menoleh ke arah datangnya suara kemudian tersenyum menghampiri. Bu Ika menyambut Lastri dan anak perempuannya. "Wah, alhamdulillah ketemu di sini. Aku nggak punya nomormu mbak, njuk aku ingat, katanya kamu jualan es teh di Malioboro. Mbak, kamu bisa nggak kalau bantu-bantu aku dulu beberapa hari ini? Pulang pergi nggak masalah, nanti aku gaji di akhir minggu. Mbak Yanti, yang biasa di rumah itu semalam harus pulang ke Gunung Kidul dan sepertinya nggak akan kembali lagi. Aku masih cari gantinya," cerita Bu Ika penuh harap sambil menggengam tangan Lastri.
Lastri terdiam. Dalam hatinya dia masih tidak percaya doa yang selalu dia panjatkan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih pasti, mendapatkan jalannya.
"Bu, apa boleh saya yang gantikan? Tapi, saya nggak bisa tinggalin dia sendirian, jadi mungkin dia saya bawa, apa boleh, Bu?" jawab Lastri sambil memandang anak perempuannya.
"Alhamdulillah, boleh Mbak Lastri. Ini anaknya Mbak Lastri? Siapa namanya, Nak?" Ujar Bu Ika sambil mengelus kepala anak perempuan Lastri.
"Atin." ucap anak perempuan Lastri sambil salim kepada Bu Ika.
"Atin?" ulang Bu Ika.
"Iya Bu, namanya Prihatin, dia biasa dipanggil Atin." terang Lastri.
Lastri tersenyum lega. Setidaknya dia akan punya kesempatan untuk menyekolahnya anaknya, Atin. Anak yang dia beri nama sesuai dengan kondisinya saat melahirkannya, Prihatin. Anak yang diharapkan akan senantiasa hati-hati dalam bertindak hingga dia dewasa. Harapan Lastri, Atin, anaknya tidak akan berakhir seperti dirinya, menjadi seorang penjual minuman keliling.

