Mungkin banyak yang sudah tahu keberadaan tempat wisata satu ini. Bagi yang belum tahu, Guci adalah salah satu tempat wisata air panas di Jawa Tengah, tepatnya di daerah Bojong, Tegal.
Setelah sekian lama bolak-balik ke Tegal akhirnya saya punya kesempatan mengunjungi tempat wisata di kaki Gunung Slamet ini. Saya pergi bersama kedua orang tua saya seorang adek sepupu saya dan Pak dhe. Cukup menyenangkan perjalanan kali ini. Ayah dan Pak Dhe saya memiliki kenangan sendiri ketika masih muda di sini. Kata mereka, dulunya Guci tak seramai sekarang. Dulu masih sepi, belum bnayak rumah penduduk.
Jalanannya berkelak kelok dan menanjak. Di kanan kiri saya melihat banyak kebun kubis dan beberapa kebun strawberry, dataran tinggi memang cocok untuk mengembangkan kedua tanaman itu. Saya pun berniat membeli strowberry sepulangnya dari guci nanti.
Semakin naik, saya merasakan tekanan udara yang sudah agak berbeda. Kuping saya agak tidak nyaman dengan perbedaan tekanan ini. Berkali-kali saya menelan ludah untuk menyamankan kuping saya. Namun, saya tetap memanjakan mata saya dengan melihat kebun-kebun di sepanjang jalan.
Jalanan terlihat sepi pada awalnya, tetapi ternyata di spot parkir sudah macet. Kami agak susah mencari tempat parkir. Ini salah satu faktor yang sangat disayangkan. Terlalu banyak mobil dan kurang tersedianya lahan parkir. Yang lebih mengecewakan lagi kantor dinas pariwisata pun tidak bertindak. Saya hanya melihat segelintir orang di dalam kantor itu sedang bercakap-cakap ringan tanpa mau peduli dengan keadaan di sekitarnya yang macet, semrawut dan bisa dibilang kurang terurus. Saya menyadari mungkin itu faktor very long weekend, tetapi paling tidak ada dong sedikit pengaturan supaya terlihat lebih teratur.
Kami sampai sekitar pukul 11.00 siang. Kabut sudah mulai turun. Saya kurang bisa menikmati wisata ini karena terlalu banyak orang yang datang. Terlalu ramai, menurut saya.
Sebenarnya saya tertarik untuk menuju ke sumber air panas yang masih berbau belerang, hanya saja melihat ratusan orang yang sudah ada di sana mengurungkan niat saya untuk menuju tempat itu. Akhirnya saya hanya merendam kaki saya di pemandian air panas tertutup. Tempatnya seperti kamar mandi dengan satu bathtub setiap kamarnya. Air panas dari sumber mata air itu dialirkan lewat pipa-pipa ke bathtub itu, sehingga bathtub itu selalu penuh. Yang membuat sedikit kurang menarik, adalah airnya sudah tidak berbau belerang. Padahal saya ingin sedikit mencium bau belerang pada air itu.
Tidak lama kami ada di pemandian tertutup itu. Kabut sudah semakin tebal, udara makin dingin dan gerimis juga mulai turun. Pulangnya saya sempatkan membeli sedikit manisan cermai, makanan yang menurut saya jarang saya temui akhir-akhir ini. Perjalanan pulang saya masih merasa kurang puas untuk mengeksplor guci.
Menurut saya guci adalah salah satu tempat yang menyenangkan untuk melakukan perkumpulan keluarga, misalnya. Sayang saat itu pemilihan waktunya kurang tepat, sehingga kami tidak terlalu bisa menikmati guci. Mungkin suatu saat kami bisa mengambil libur dari pekerjaan kami dan meluangkan waktu bersama keluarga untuk menikmati tempat-tempat wisata seperti ini. Saya memang berharap untuk itu.