Jono sayang, apa kabar? Aku baik adanya di sini. Walaupun tidak sebaik seperti saat ada dirimu.
Jono sayang, sedikit-sedikit aku mulai mencari tahu tentang dirimu, tentang jiwamu dan juga tentang dirinya yang sering kau sebut-sebut saat kita bersama. Terkadang aku iri pada dirinya. Kau selalu menyebutnya berkali-kali. Dia begini dan dia begitu. Yah, karena saat itu hanya ada aku. Tak mungkin kau bercerita tentangku pada diriku sendiri kan? Jadi sekarang setelah kita tidak lagi bersama, apakah kau masih menceritakan tentang dia pada teman dekatmu kini, atau malah kau menceritakan tentang aku?
Jono sayang, tanpa ku sadari kini aku mulai merindukanmu. Aku kangen sekali dengan semua ceritamu, semua rencana masa depanmu, semua masalahmu dan apapun itu yang berasal darimu. Walaupun banyak hal yang tak kusepakati darimu aku toh tetap mendengarkanmu dan menikmati setiap detil ceritamu. Saat dia bilang dia menyukaimu misalnya. Kau mendengarnya langsung dari bibirnya. Saat itu kamu ragu. Aku tahu itu karena aku melihat ada keraguan di wajahmu. Tapi kamu menikmatinya. Jujurlah pada dirimu, Sayang. Kau tak akan bisa selamanya menahan perasaan itu. Kemungkinannya hanya ada dua, perasaan itu mati atau meledak.
Jono sahabatku, jangan pernah salahkan dia akan perasaannya. Kamu memang tahu perasaannya, tapi kamu tak tahu sedalam apa perasaannya padamu. Jangan pernah kamu menganggap kamu bisa mengukurnya dari apa yang terlihat padanya. Aku takut suatu saat kesoktauanmu itu akan menjadi bumerang untukmu. Wanita itu bisa menahan sakit hati lebih dari pada pria. Dia lebih kuat dari pada kamu. Percayalah padaku, aku mengenal baik dirinya dan aku juga tahu tentangmu.
Jono, apabila aku bilang aku sayang kamu apa yang akan kamu lakukan? Melihat setiap sosial media yang kumiliki kah? Lalu akankah kau akan memakannya mentah-mentah dan bilang aku terlalu hiperbolis, terlalu terburu-buru, terlalu expresif, terlalu frontal? Aku harap tidak. Banyak hal yang tak kau ketahui tentangku. Apa yang aku tulis belum tentu semuanya menggambarkan tentangku. Mungkin hanya lonjakan emosi sesaat. Mungkin juga karena aku tertarik dan mulai melamun dan akhirnya aku mendongengkan lamunanku dalam sebuah blog pribadi. Kau tahu, kau tak akan pernah tahu apakah aku berbohong padamu dan aku juga tak pernah tahu apakah yang kau ceritakan padaku benar adanya. Yang kita bisa lakukan adalah percaya satu sama lain tanpa ada jaminan apapun.
Kalau diteruskan, mungkin ceritaku akan lebih panjang lagi dan entah kapan berakhir. Aku akan terus mengabarimu sesempatku.
Salam manis,
Salam manis,
Yuka
Ps. Salam juga untuk teman-teman di sampingmu.
No comments:
Post a Comment