Saya pernah punya kipas tangan kecil. Terbuat dari mika, berwarna biru dengan gagang putih. Kipas yang saya bilang sempurna untuk mengusir hawa panas di kendaraan umum. Namun, saya akan "ngiklan" jika menggunakan kipas ini. Kipas ini memang tidak saya beli, saya mendapatkannya dari seorang SPG asuransi di luar Stasiun Sudirman saat menuju ke Halte Transjakarta.
Saat itu saya bersama seorang teman lama dan seorang teman baru. Mereka dengan sangat baik hati mengajak saya untuk sedikit mengenal Kota Jakarta. Kami saat itu akan menuju ke Blok M. Saat itu, saya yang sama sekali tidak mengenal daerah hanya mengikuti mereka berdua. Saat berjalan keluar dari Stasiun Sudirman saya didatangi seorang SPG. Dia hanya mendekati saya saat itu sedang kedua teman saya dibiarkan berlalu begitu saja. Saya paling malas berubungan dengan sales, hanya akan menyita waktu saya. Saya bukan orang yang gampang dirayu.
Sebisa mungkin saya menghindari mbak cantik itu. Mengerti saya menghindarinya, dengan cepat dia berkata "Ini mbak, cuman mau ngasih kipas." Dia tetap tersenyum walaupun gerakan tubuh saya tadi menghindarinya. Oho, sebagai anak kost (yang terkadang tidak punya malu), saya dengan sumringah menyambut tawarannya dan menerima kipasnya. "Oh, iya ya? Makasih ya," kata saya dengan senyum termanis di wajah saya. Buat anak kost seperti saya, barang gretongan alias gratisan tentu haram hukumnya untuk di tolak. Teman saya, panggilah dia Abang Nokie, cuma cengar-cengir melihat perubahan ekspresi di wajah saya dari "apaan sih, ini sales deket-deket" menjadi "Oho...siip sini-sini mana kipasnya :D".
Lain kesempatan dia bercerita pengalamannya menghadapi sales. Dulu, hampir tiap pagi saat orang-orang berangkat kerja, selalu ada sales yang menawarkan kopi. Lumayan untukknya satu cangkir kecil kopi panas gratisan di pagi hari.
Sepertinya sales di Jakarta ini baik-baik. Suka memberi barang gratisan bagi orang-orang penyuka gratisan seperti saya. Namun, setelah hampir 1 bulan saya bekerja di sini belum ada satupun sales kopi yang bagi-bagi kopi gratisan pagi-pagi. Mungkin karena saya berangkat terlalu pagi. Hmm.... Inilah Jakarta dimana orang-orang bisa melakukan apa saja untuk bertahan hidup.
Jakarta, Desember 2013
Jakarta, Desember 2013