Aku sedang galau. Entahlah. Semalam tidurku tak nyenyak. Saat aku sepenuhnya tersadar aku melihat beberapa remasan kertas bertebaran di lantai kamarku serta sebuah pena dan kertas putih belum tersentuh di meja kerjaku. Aku ingat, sebenarnya aku ingin menulis padamu.
Aku mencoba mengingat mimpiku semalam. Tentang apa aku tak ingat yang aku ingat hanya wajahmu. Wajah yang sama yang membuatku terjaga beberapa kali semalam dalam keadaan lemas. Mimpi yang berulang tiga kali semalam.
Kopi pagi ini tak juga bisa menenangkanku. Aku bahkan tak lagi berharap menemui canduku untuk meringankan fikiranku. Aku ingin bertemu, kamu. Mungkin sedikit bicara padamu menyakinkanku tak ada kejadian buruk menimpamu.
Sisi lain membuatmu diam. Perkataanku yang mungkin sedikit mengejutkanmu. Aku tahu sepertinya aku menghancurkan semuanya. Aku bahkan tak bisa lagi merangkai kata yang kiranya membuatmu kembali mengerti. Maaf. Kata yang tak mudah keluar dari mulutku tapi itu yang ingin ku ucap. Aku hanya tak bisa ungkapkan alasanku mengatakan maaf padamu. Aku hanya takut terbawa perasaan, hal yang sangat tak kupahami.
Aku selalu bilang aku benci hal ini. Aku membenci bila perasaanku mulai bicara. Otakku berhenti, mulutku bicara tak tahu arah. Aku hanya ingin kamu ada tetap seperti adanya dirimu. Aku pun akan begitu. Saat ini mungkin itu yang terbaik.
Ah sudahlah. Toh mungkin tulisan ini tak akan pernah kamu baca atau mungkin suatu saat dia akan menjadi remasan kertas lain yang tersebar di kamarku sebelum akhirnya masuk ke tong sampah. Kita lihat saja nanti.
No comments:
Post a Comment