Tuesday, April 30, 2013

Cerita Tentang si Pinky

Kemarin, sehari setelah aku sampai di Cilacap aku dapet sms dari seorang teman yang menanyakan dompetnya padaku. Sebelum aku pulang kami memang bersama bahkan dia yang mengantarku. Dia memang sempat menitipkan dompetnya di tasku, waktu kami membelikan titipan kado. Saat itu aku belum packing dan saat packing aku sempat membongkar tas 4 lockerku itu. 

Isi smsnya "Lek...kemaren tuh dompet gw ketinggalan gak yah?? Gue luppa..udah gw ambil dari tas lw belom pas pulang??"

Dengan sekenanya (waktu itu aku baru selesai mandi dan belom sempat membongkar-bongkar isi tas) aku membalas "lah enggak. Kan maren gw bongkar dolo tasnya. Klopun ketinggalan paling di kasur gw :D" 

Ku tambah emot senyum lebar karena sedikit geli dengan kesialan temanku yg satu itu. Karena dompet dia itulah hartanya satu-satunya. Semua uang dan atmnya ada di dompet pink kotak-kotak itu.

Lalu, karena penasaran akupun kembali melihat isi tasku, khususnya dimana dia meletakkan dompetnya itu. Dan...violllaaa si pink kotak2 tergeletak dengan sangat kurang ajar disana.

Hehehe maaf ya teman, kadang ketelodaranku (dan tentu saja ketelodaranmu) selalu menyimpan cerita yang lucu walau menyebalkan. Paling tidak aku mempertemukanmu dengan si pink ini sehari lebih cepet dari jadwal yang seharusnya.

Saturday, April 13, 2013

Early Morning on the Weekend

Early morning in Jogja. Pagi-pagi begini aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu di Cilacap. Pagi-pagi begini, aku pernah bersepeda ke pantai sama mamah. Tidak ada acara yabg istimewa, hanya sekedar menemani mamahku bersepeda menghirup udara pagi yang masih segar. Berangkat setelah subuh dan sudah sampai di rumah lagi sekitar pukul 6.30. Lumayanlah untuk olahraga pagi sambil refreshing otak dan mata.

Pulangnya, kami mampir beli serabi hangat dan mendoan yang juga hangat untuk dimakan di rumah bersama segelas teh hangat.

Mmm....yummi. Sepertinya menyenangkan bila pagi ini akan berlalu seperti saat itu. Sayangnya sekarang aku ada di Jogja dan pagi ini mungkin hanya akan berakhir di warung bubur ayam. Yeah.

Friday, April 5, 2013

Alibi Di KRL

Di gerbong khusus wanita aku berada. Layaknya gerbong khusus wanita aku lihat di sana isinya cewek semua, kecuali anak-anak kecil ekornya para ibu-ibu. Walaupun gitu, aku tetep gak suka dengan suasananya. Walaupun sama-sama perempuan, harusnya yang muda ngalah dong sama yang tua ataupun sama anak-anak. Selama beberapa kali perjalanan naik kereta ini aku masih liat anak muda duduk, mainan mobile phonenya dan membiarkan ibu-ibu dan anak-anak berdiri di depannya. 

Seperti waktu itu, aku ke Salemba naik krl dari Pondok Cina ke Cikini. Seperti biasa, krl itu penuh, untungnya aku naik kereta gak saat jam berangkat kerja ataupun pulang kerja. Jadi walaupun berdiri aku masih bisa bernafas dengan agak lega. Di situ aku lihat ada beberpa wanita muda yang masih seger, padahal gak jauh dari mereka ada ibu-ibu setengah baya yang berdiri. Lalu, di stasiun berikutnya ada seorang ibu yang gendong anak masuk ke gerbong yang sama denganku. Dengan gayanya yang cuek, dia meminta orang di depanku untuk berdiri karena dia mau duduk karena bawa anak. Aku gak dengar jawaban Mbak di depanku itu, dia hanya memegang perutnya. Aku hanya mendengar si Ibu berkata bahwa Mbak di depanku lagi hamil. 

Tips yang aku dapet di KRL adalah : 
1. Bawalah anak kecil saat naik kereta, itu bisa jadi alibi anda untuk dapet tempat duduk di krl
2. Orang yang (maaf) gendut lebih bisa dapet tempat duduk, berpura-puralah hamil dan mungkin anda bisa dapet tempat duduk dan gak disuruh berdiri. Cukup pegang perut dan orang akan mengerti anda sedang hamil. 

Perlu di perhatikan tips ini efektif hanya untuk kaum hawa, khususnya nomor 2. Jika anda lelaki dan punya perut buncit, jangan pernah pura-pura hamil di krl. :) Selamat menikmati krl dan nikmatilah Jakarta, walaupun sampai kemarin aku gak ngerti apa nikmatnya di Jakarta!

A Little Boy And His Mom

When I was at Cikini Station, Ria asked me to go to restroom. In the restroom, I see a little boy who was arguing with his Mom.

Mom : Sini nak, nanti ibunya pergi kamu gak tahu.
Little Boy : Aku mau pipis di sini aja. Aku gak mau di situ.
Mom : Loh, kenapa? Udah sini aja sama Ibu.
Little Boy : Gak mau. Ini cowok, itu cewek. Aku mau pipis di tempat cowok aja.

That was a good answer which made his Mom silent suddenly. Sometimes a little child is more attentive than the grown person. Or perhaps they forget how to be attentive because they were busy with other thing such as earn money.

Once Upon A Time In Sentul International Circuit

Kemarin waktu di Jakarta Big Uncle-ku sempat membawaku mampir ke Sentul, tepatnya di Sirkuit Internasional Sentul. Tujuan utamanya adalah kerjaan dia, sebagai salah satu dari pegawai sponsor di acara itu. Tujuan sampingan jelas nonton balapan meski bukan di tribun penonton. 

Kami nonton balapan di sekitar arena balap. Aku jadi lebih tahu sebenernya nonton di situ itu bahaya. Bayangin kalau ada motor crash dan dia kepental keluar arena. Masih mending kalau cuman orangnya yang keluar arena, nah kalau motornya. Bayangan adegan film Final Destination 4 langsung berputar di otakku sekarang. 

Nonton balapan itu menurutku seru kalau ada yang tabrakan. Oke, bukan aku berharap bakal ada kecelakaan di setiap pertandingan balap tapi itu keren, pake banget! Pastilah sakit orang kecelakaan walaupun mereka udah pake jaket, helm dan semua safety yang melekat di badan mereka, tapi justru itu serunya (iya gak sih? kalau menurutku sih, iya!). Jadi, nonton di tv itu seru, tapi nonton kecelakaan pas balap motor langsung dengan mata kepala sendiri itu lebih seru, dan saya sempat tertawa puas dan high five sama si Big Uncle pas liat motor crash itu. Kejadiannya cepet banget. Pas di belokan, salah satu motor kegelincir dan ngenain motor lain. Aku lupa udah lap berapa waktu itu, tapi yang jelas mereka sebenernya udah cukup ada di depan. Urutan ke 3 dan 4 kalau aku gak salah hitung. 

Hal lain yang aku perhatikan waktu nonton di pinggir lapangan di bawah pohon  waktu itu. Aku nonton di tengah-tengah keluarga salah satu pembalap yang lagi berjuang. Aku bisa ngerti bahwa mereka berharap si pembalap ini menang. Tapi yang aku gak bisa ngerti adalah buat apa mereka teriak-teriak nyemangati si pembalap ini. Jelas-jelas si pembalap ini cuman fokus ke depan, kanan kiri pun kalau ada motor lain di sampingnya dan dengan suara motor yang bikin kupingku iritasi ini aku yakin dia juga gak akan denger suara teriakan semangat dari keluarganya. Okelah kalau dia ini lagi balap karung, dia masih bisa denger masih bisa liat keluarganya nyemangati dia, tapi ini balap motor dengan semua safety yang melekat. Ok, perhaps it's too much. I know they just cheer up their family but c'mon he didn't know and perhaps he didn't care. I just think why they don't just pray for his safety and being a winner, why should they're yelling him. That's a funny thing.

Emm, tapi mungkin jika aku adalah keluarga salah satu dari pembalap ini aku juga akan melakukan hal yang sama. Yeah, once upon a time in Sentul International Circuit.

Monday, April 1, 2013

Oh, Please

I don't know what happend to me. I don't know what a damn thing in my head which makes me want to cry in a train on my way to Jogja. I'm so excite back home, back to my normal life, normal activities, my commond people. But right now, I want somebody hugs me and tell me that everthing will be fine. I will be ok.