Thursday, December 8, 2011

Cerita Tentang Rangin

Ceritanya semalam gw kelaparan. Kebetulan salah seorang teman yang nun jauh disana ngajak chatting. Padahal waktu itu gw lebih memilih buat tidur ketimbang chatting. Alasan lain menghindari chatting adalah biar gak ngomongin makanan dan membawangkan betapa enaknya makan makanan anget dan berkuah di malem yang dingin itu. Tapi ternyata percakapan tentang makanan gak bisa dihindari dan muncullah makanan yang udah lama gak gw makan. Rangin. Sebutan lain dari makanan ini adalah Bandros, Gandos, Serabi angin.

Ini adalah makanan yang udah lama banget gak gw makan. Terakhir gw makan rangin itu adalah masa-masa gw masih sekolah dulu, entah SMP atau SMA. Makanan ini juga jarang gw temuin di Jogja. Akhirnya, karena penasaran (atau saking putus asanya) gw googling makanan ini. Ketemu juga satu tulisan di kuniler kompasiana yang kebetulan ngasih informasi dimana tempat si rangin berada. Gw mengakhiri malem dengan berharap esok paginya bisa bangun pagi dan meluncur ke Jalan Suryodiningratan.

Jadi, pagi ini berjalan sempurna, seperti yang udah direncanain, sampai akhirnya sampai di jalan paris hujan deres. Perjalanan tetap berlanjut, gw menerobos hujan hanya berbekal atasan mantel andalan. Sampai di depan hotel Brongto Jl. Suryodiningratan ternyata bapak si penjual rangin gak ada. Sebenernya gw juga gak ngerasa heran, karena tulisan sumber informasi gw itu dibuat sekitar januari 2011, wajar kalo keadaan udah berubah dan si bapak gak jualan lagi di situ. Ditambah lagi hujan yang deras, mungkin aja bapak penjual rangin itu memutuskan untuk tidak berjualan. Hampir gw memutuskan buat puter balik dan pulang, sekilas gw liat ada penjual berteduh karena ujan di deket pos kamling bersebrangan dengan SD kanisius pugeran.

And this is it. Gw duduk menikmati 2 sisir rangin dengan keadaan celana jins basah kuyup dan badan kedinginan. Yummy. Lebih nikmat lagi kalo di nikmati sama teh anget. Gw bayangin duduk di teras rumah, nikmatin pemandangan hujan + teh anget + beberapa sisir rangin. Aish, salah satu nikmatnya hidup.

Gw sempet ngobrol sama si bapak, beliau bilang biasa jualan di depan Hotel Brongto sampai jam 8 pagi, trus biasanya muter lagi dan jualan di puskesmas Mantri Jeron sampai sekitar jam 11 siang.

Jadi, mari lestarikan makanan Indonesia :p


sumber informasi : http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/01/11/alkisah-gandos-rangin-suryodiningratan/

Saturday, November 19, 2011

Sementara

Ini lirik lagunya float yang kebetulan dinyanyiin temen gw barusan, walaupun suara rada putus2 and kresek2 gara2 koneksi parah gw, tapi paling gak bisa gw denger dan bisa sedikit meredakan kegalauan malming kelabu gw.
Thx udah mau nyanyi + maen gitar buat gw, walaupun koneksi gw parahnya ampun2an sampe2 bikin kesel. And thank's for singing this song and make ​​me realize that we just not yet find the right person


Here's the lyrics.


Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini


Song : Sementara by Float

Wednesday, October 26, 2011

Arem-arem Isi Penasaran

Suatu pagi pada saat pelatihan speak up

Teman : "Ini isinya apa ya?" Sambil memungut isi dari dus snack yang diberikan
Gw : "Paling arem2, klo gak ayam ya sayur"

Satu gigitan dia makan, tetapi si arem2 belum menunjukkan isi dalemannya. Gw yang tadinya gak tertarik menjadi penasaran dengan isi si arem-arem (karena kebetulan saaat itu perut gw juga sudah bernyanyi)

Gw : "Gigit lagi, keknya isinya masih di dalem tuh,"
Gigitan kedua juga belum menampakkan tanda-tanda isi si arem-arem. Gw terus ngeliatin dan ngasih semangat temen gw buat makan arem-arem itu. Sampai akhirnya pada gigitan keempat.

Teman : "Ini gigitan terakhir, lu mau bilang isinya masih di bawah lagi. Habis ini yang ada cuman daonnya,"
Ternyata memang benar arem-arem temen gw gak ada isinya. Sepertinya memang sang pembuat arem-arem lupa menaruh isinya, karena temen yang lain menunjukkan isi arem-aremnya.

Arem-arem gw? Gw tinggalin di atas meja, karena gw pergi sebelum sempet makan arem-arem itu.

Soal speak upnya, gw suka pembicaranya cuman pemandunya bikin bosen, panitianya gak bisa bikin acara itu lebih menarik.

Sunday, October 16, 2011

Belajar Memimpin

Gw percaya tiap orang ditakdirkan menjadi pemimpin. Tiap orang wajib memimpin dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dalam hidupnya.

Jadi pemimpin itu gak gampang. Apalagi mimpin orang lain, memimpin diri sendiri gw rasa juga cukup berat. Mulai dari mendisiplinkan diri, tau mana yang menjadi prioritas dan menjalankannya. Gw terkadang masih suka bandel dengan aturan-aturan hidup yang gw bikin sendiri.

Kalo jadi pemimpin buat orang lain idealnya orang tersebut udah isa memimpin dirinya dengan baik dulu. Tapi seperti teori lain, keadaan ideal itu sangat jarang ditemui atau bahkan nyaris gak mungkin terjadi. Seorang pemimpin harus mampu menilai mana yang lebih prioritas, mengambil keputusan dengan cepat dan satu hal lagi bisa bersikap profesional. Salah satu sikap profesional yang isa terlihat dari seorang pemimpin adalah isa mengontrol diri baik ucapan maupun berbuatan.

Harusnya seorang pemimpin isa dengan lugas memilih mana yang baik dan mana yang salah. Bisa dengan cepat mengambil keputusan dan meraih kesempatan yang jarang ada. Seorang pemimpin juga harusnya isa bersikap optimis dan memberikan semangat pada anak buahnya ketika mereka terjatuh. Gw pikir hal itu harus dimulai dari sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila dia masih belum tau mana yang menjadi prioritas untuk dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa mengambil kesempatan yang mungkin ada.
Bagaimana mungkin seseorang dihaapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa menyemangati dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dan hanya pasrah dengan keadaan
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila kata-kata "ya memang tidak mampu" kerap keluar dari mulutnya tanpa usaha untuk memperbaiki diri.
Dan terahir, bagaimana mungkin seseorang yang tak tahan kritik diharapkan untuk menjadi payung bagi anggotanya.

Gw pikir, gw masih termasuk salah satu di antaranya. Gak pernah ada salahnya sesekali bercermin dan menilai diri sendiri, "sudah mampukah gw untuk menjadi pemimpin buat diri gw sendiri?"

Saturday, October 15, 2011

Kenapa Takut?

Kenapa takut kalau memang benar. Dalam kasus yang bakal gw ceritain kali ini lebih cocok kalo kalimat tadi gw ganti dengan "kenapa takut kalo emang ngerasa mampu".

Kita ambil contoh mudah, ketika kamu memang merasa mampu di bidang matematika, ujian matematika tentunya bukan suatu hal yang menakutkan. Tidak akan pernah ada kata "kenapa mesti ada ujian matematika? Ini tidak adil buatku," akan terucap dari mulut seseorang yang memang mampu di bidang matematika.

Suatu kompetisi menjadi tidak fair ketika seseorang yang bukan di bidang matematika ditandingkan di bidang matematika tanpa sepengatahuannya. Kompetisi menjadi tidak fair ketika seorang anak SD disuruh berlomba dengan anak SMA dengan materi yang baru disampaikan di SMA.

Jadi, kenapa mesti takut dikompetisikan kalau memang mampu. Kenapa mesti harus mengandalkan menjadi calon tunggal. Kenapa mesti harus takut untuk bertanding. Gw rasa orang yang bilang "ini gak fair buat kami" adalah orang yang takut melihat kekalahannya. Dengan kata lain dia tidak bisa menerima kekurangannya. Orang tersebut adalah seorang pengecut, dan biasanya seorang pengecut tak lebih dari seorang pencundang. Jadi, Kenapa Takut?

Saturday, October 8, 2011

Curcol Saya Hari Ini

Memahami perbedaan makna mungkin agak sulit bagi sebagian orang. Saya sendiri terkadang mengalaminya. Contohnya, tidak menyiarkan bukan berarti menutupi. Anggaplah keluarga anda sendiri memiliki suatu cacat, bukankah cacat tersebut tak perlu ditutupi ataupun di siarkan pada semua yang tak berkepentingan. Sebuah organisasi juga teradang memiliki kekurangan, tetapi jika kita akan melalukan promosi tentang suatu organisasi bukankah tak perlu untuk menyebarluaskan kekurangan organisasi tersebut? Logikanya adalah jika kita melukan suatu promosi, kita akan mengajak seseorang dengan memperlihatkan daya tarik yang dimiliki organisasi tersebut, bukan malah menyebarkan kekurangan organisasi yang bersangkutan. Kekurangan tersebut seharusnya hanya menjadi problem anggotanya untuk diselesaikan dan dicari jalan keluar yang terbaik.

**ungkapan kekecewaan seorang 'mantan' anggota organisasi tersebut**

Tuesday, September 27, 2011

Our 'Little' Problem

Beberapa hari yang lalu saya diminta oleh salah satu teman membantunya mengerjakan penelitian untuk thesis S2-nya. Singkatnya bantuan yang diminta darinya adalah menghitung jumlah kendaraan yang melintas selama 1 jam. Tak perlu saya sebutkan bagaimana cara menghitungnya. Yang menarik bagi saya adalah percakapan yang terjadi antara saya dan bapak polisi yang kebetulan lewat di tempat saya bekerja.

"Mbak, saya mau tanya. Kenapa sih yang dihitung selalu volume kendaraannya, bukan kapasitas jalannya" Tanya pak polisi itu.
"Saya kurang tau, Pak. Ini bukan penelitian saya. Disini saya hanya membantu," jawab saya waktu itu.
"Menurut mbak, gimana nih caranya biar mengurasngi kemacetan? Yah, menurut mbaknya aja," tanya pak polisi.
"Pembatasan jumlah kendaraan sekaligus peningkatan fasilitas kendaraan umum." Jawab saya.
"Tapi mbak, orang beli kendaraan itukan pake duit sendiri-sendir, seharusnya pemerintah gak boleh ngelarang yang seperti itu. Gimana kalo solusinya pembedaan waktu. Misalnya waktu masuk sekolah jam 7, terus waktu masuk kantor jam 8, kan itu juga bisa mengurangi kemacetan" kata pak polisi itu.

Nah dari percakapan singkat itu, saya kembali memikirkan pertanyaan pak polisi itu. Kemacetan sekarang merupakan salah satu dari masalah bukan? Bagi yang tinggal (sebut saja) di Jakarta, mungkin sudah terbiasa dengan macet. Berangkat lebih awal sebagai salah satu cara 'menghindari' kemacetan, tetapi bukan solusi untuk mengurangi kemacetan bukan? Apa bedanya dengan perbedaan jam kantor dan jam sekolah? Apa itu bukan cara lain untuk menghindari kemacetan?

Saya pikir, sebenarnya pembatasan jumlah kendaraan di jalan bisa dilakukan. Misalnya dengan pelarangan penggunaan BBM bersubsidi. Namun, hal itu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan transportasi umum. Hal itu dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum lagi daripada kendaraan pribadi.

Kenyataannya, sekarang ini keamanan dalam kendaraan umum sangat kecil, ditambah lagi beberapa fasilitas lain yang tak mengenakan. Tempat duduk gak nyaman, kendaraan kotor, mesin tak terawat adalah beberapa dari 'fasilitas' yang kurang menyenangkan di kendaraan umum.

"Masalah Kecil" ini bisa jadi besar nantinya, tetapi masih ada kemungkinan 'masalah kecil' ini bisa teratasi, kalau kita sama-sama peduli.

Saturday, August 6, 2011

Only Time

Gw inget satu pertanyaan yang terlontar dari mulut gw ke temen gw "kalo emang Tuhan menciptakan rasa sayang itu buat kebahagiaan, kenapa gw mesti sakit karena sayang sama orang lain?"

Jawaban dari temen gw "Yah, itu sih karna apes aja, kayak gw, lu. Yang namanya orang yang pernah sakit itu pasti ninggalin bekas, dan bekas itu kalo dikorek masih tetep sakit."

Saat jawaban dari temen gw terlontar gw gak tau apa yang harus gw lakuin. Gw gak tau apa jawaban itu bener apa engga. Secara tiba-tiba gw ngerasa ngilu sendiri, gw ngerasain lagi sakit yang sempet gw lupain.

Ah, sudahlah. Toh luka itu makin lama akan mengering dengan sendirinya. Jaringan kulit akan membentuk sel-sel baru yang akan menggantikan sel lama yang telah mati. Yang dibutuhkan hanyalah waktu. Ada saatnya nanti rasa sayang itu terbalaskan, walaupun bukan dengan orang yang kita sayang saat ini. Mungkin memang harus begini dahulu, mungkin memang belom saatnya.

Thursday, August 4, 2011

selingkuh

Ada sesuatu hal yang gw bingung dengan satu kata ini : "Selingkuh". Selingkuh itu apa sih? Yang dimaksud selingkuh itu yang seperti apa?

Dalam satu relationship banyak orang punya pendapat tentang selingkuh.
1. Selingkuh itu ketika lu jalan ma orang lain padahal lu masih punya pacar.
2. Selingkuh itu ketika lu punya pacar lain selain pacar lu
3. Selingkuh itu ketika lu ngelakuin hubungan badan ma orang lain selian pasangan lu.
4. Selingkuh itu ketika hati lu dah gak buat pacarlu.

Kalau buat gw sendiri, gw gak tau gw termasuk yang mana dalam memaknai kata selingkuh, karena saat ini gw sedang sendiri, gak ada satu ikatan apapun sama orang lain. Dan selingkuh itu terkadang hanyalah suatu kedok dari ketidaknyamanan suatu hubungan.

Wednesday, June 29, 2011

Then, so?

Apa yang bakalan kamu lakukan ketika bertemu dengan seseorang yang kamu kagumi? teriak histeris, ngejar dia minta tanda tangan, atau mungkin foto bareng?

Kalau saya...saya juga tak pernah memikirkan apa yang saya akan lakukan ketika bertemu dengan orang yang saya kagumi. Tapi itu terjadi pagi ini.

Lepas berenang saya makan di salah satu tempat makan dan bertemu dengan seseorang yang saya kagumi. Apa yang saya lakukan? saya hanya menyapanya menyebutkan nama dan berjabat tangan. Sekedar basa-basi dia bertanya : "sudah selesai makan?" Saya hanya menjawab "baru pesan" sambil tersenyum lalu berlalu ke meja saya.

Simple, tapi tak sesuai yang saya harapkan. Setelah kejadian singkat itu saya berandai-andai jika saja saya tadi sempat mengobrol atau apapun yang membuat saya bisa mengenal lebih dekat dirinya, pasti menyenangkan. Tetapi apa yang telah saya lakukan tidak bisa membuat dia bahkan mengingat wajah saya nantinya.

Kami begitu berbeda melihat satu sama lain. Buat saya, dia adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang saya kagumi, sedangkan buat dia saya hanyalah orang asing yang kebetulan mengenalnya.

So, ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu kagumi, apa yang akan kamu lakukan? Karena apapun yang kadang terlintas dipikiranmu tidak selalu sejalan dengan apa yang kamu lakukan saat situasi itu datang padamu.

Friday, June 17, 2011

Budayakan Sopan Yuk

Kejadian kemarin di salah satu tempat makan membuat saya menjadi ingat tentang nasihat mama untuk bersikap sopan dimanapun.
1. Kalo ada orang lain lagi duduk dan saya harus lewat di depannya, saya harus berkata permisi.
2 Ketika saya ingin mengambil sesuatu di depan orang lain saya juga harus berkata permisi dan menyapa entah itu, pak, bu, mbak, mas, oom, tante dan sebagainya.

Selain itu cerita dari seorang kakak angakatan saat awal datang ke Jogja juga selalu mengingatkan saya untuk menjaga kesopanan jika berbicara dengan orang lain.

Bukan saya gila hormat atau apapun sebutannya, saya hanya merasa masih ada norma kesopanan yang berlaku di masyarakat Indonesia. Atau mungkin saya yang terlalu berposistif thinking bahwa semua penduduk Indonesia masih ingat sopan santun dan adabnya. Tapi ternyata kemarin saya menemukan seorang perempuan Indonesia yang tiba-tiba mengambil sesuatu dari depan saya tanpa mengucapkan permisi atau apapun.

Entah saya yang sedang sensitif atau ada kesalahan lain pada otak saya, saya merasa jengah dengan sikapnya. Setidaknya jagalah kesopanan di tempat umum.

Friday, May 20, 2011

14 mei

Sudah lama aku tak menulis. Bahkan sekedar mengotori buku catatan kecil yang kupunya. Entahlah, bukan tak ada yang ingin ku katakan untuk ku ingat nantinya, hanya mungkin aku masih tak tau pasti apa yang kuinginkan.

Aku ingin bisa kembali berpuisi, sekedar mengatakan sesuatu dengan lebih indah. Hanya akhir-akhir ini aku merasa hambar, perasaanku nyaris mati.

Ada satu cerita yang terjadi beberapa hari ini. Sesuatu yang sebenarnya ingin aku tuliskan, ingin aku ceritakan. Masih kembali tentang dia.

2 Minggu yang lalu ketika aku datang ke rumahnya ada sedikit harapanku untuk bisa melihatnya lagi 1 minggu kemudian. Harapan yang aku tau itu kosong. Saat itu aku sadar sepenuhnya aku tak pernah jadi bagian dari hidupnya, sedangkan dia, aku yang memaksanya masuk dalam hidupku.

Pertemuan kami tak pernah lama, setidaknya bagiku waktu berjalan terlalu cepat. Saat terakhir aku berkata padanya "So, haruskah sekarang atau aku bilang happy b'day minggu depan?"

Sambil tersenyum kamu bilang "jangan bikin aku inget tentang itu."

Hari ini, nyaris 1 minggu lepas dari ulang tahunmu. Sesuai janjiku, aku tak mengingatkanmu tentang bertambahnya usiamu. Aku tak pernah mengucapkannya karna aku tak pernah berani.

AKu tak pernah lagi bisa menuliskan kata2 puitis atau sesuatu yang indah. Bagiku saat ini keindahan, ketenangan ada padamu. Betapa kata-katamu terlalu mempengaruhi hidupku. Aku mulai takut tentang itu.

And finaly, Selamat hari lahir lebih 1 minggu. Good luck.

Tuesday, March 15, 2011

Komunikasi

Gw pikir salah satu masalah dalam hidup gw adalah komunikasi. Lebih tepatnya menjadi komunikator yang baik. Kadang, apa yang gw maksud dan apa yang temen gw tangkap dari cerita gw itu sangat berbeda. Setidaknya gw masih bisa meluruskan apa yang gw maksud di saat yang tepat.

Sebenernya ada oleh-oleh dari workshop yang gw ikutin kemaren, sedikit tips buat jadi komunikator yang baik :

1. Runtut. Kalo cerita itu harus runtut dan jelas, jadinya orang gak nebak-nebak apa yang gw mau ceritain, apa yang mau gw sampein. Contoh : "tadi sore, waktu gw praktek prokom di kampus, sekitar jam 3an tiba-tiba aja perut gw mules. Padahal praktikum itu masih 1 jam lagi. Gw udah panik gimana caranya kabur dari kampus. Untungnya aja gak berapa lama praktikumnya udahan. Lega deh gw." Kata-kata terakhir merupakan tambahan komentar gw biar suasanya lebih berasa. Jangan pernah cerita setengah-setengah, misalnya gini "tadi pagi di bis gw ketemu gebetan gw. Ya lu tau kan gmn gw kalo ketemu dia. lu mudeng kan maksud gw?"

2. Nyantai. Kalo ngomong itu nyantai aja, jangan kek dikejar setan. Karena cara kerja otak itu lebih cepet daripada apa yang isa mulut ucapin. Otak kita dah mikir mpe 4 kata, tapi mulut kita isa cuman ngomong 2 kata. Jadi nyantai aja, karna kalo engga sering blibet ngomongnya.

3. Sering latian. well, kalo ini sih bisa di praktekin ke temen-temen. Liat seberapa banyak mereka nangkep apa yang kita maksud dari cerita kita.

Lepas itu, ada juga sebenernya masalah teknis, kek intonasi, pelafalan. Tapi yang gw maksud komunikasi yang baik di sini dalam artian orang ngerti apa yang kita maksud, bukan komunikasi buat public.

Tambahan lagi dari gw, gunakan bahasa percakapan manusia. Kalo lo mau ngomong, pake bahasa percakapan jangan pake bahasa buku, karna itu bakal terkesan kaku dan aneh. Jangan pake istilah-istilah aneh yang belum tentu orang ngerti maksudnya.


Well, ini bukan gw mau menggurui atau apapun, hanya sekedar sharing dari apa yang gw dapet di workshop kemaren. Kalo emang ada yang sering dibilang "maksud lo apa sih?" sama temen-temennya waktu lagi cerita, mungkin ini isa jadi salah satu jalan to be better.

Jangan pernah ngukur sampai batas mana kemampuan kita, tapi cobalah untuk mengembangkan kemampuan itu hingga tanpa disadari kita bisa melakukan apa yang semula kita pikir tak mampu kita lakukan. Mengembangkan diri tak harus selalu sesuai dengan bidang yang kita tekuni saat ini.

Sunday, February 6, 2011

Suatu ketika selepas hujan

Senyum kecilku tak bisa kusembunyikan ketika aku lihat kamu. Tak pernah ada yang lucu dari dirimu, hanya sosok unikmu yang buat aku tersenyum. Hanya sesuatu dalam dirimu yang bisa kembangkan senyumku.

Kebiasaanmu, bisikan tiap kata-katamu, senyummu, aromamu, jalan pikiranmu. Suatu ketika aku datang, kamu persiapkan tempatku duduk. Sungguh unik melihatmu bekerja, seperti aku takkan pernah melihatnya di lain tempat selain dirimu. Dan saat kamu bilang "sstt, jangan ketawa" membuat senyumku makin mengembang menjadi tawa.

Salah satu alasan kenapa bersamamu menjadi saat-saat yang paling menyenangkan dalam hidupku. Salah satu alasan mengapa hujan selalu mengingatkanku pada dirimu.

Monday, January 17, 2011

Mencari Hok Gie yang Lain

Seorang temen bilang ke gw tadi siang "keknya susah cari cowok buat lu. Cari hok Gie yang lain."

Gw emang banyak terinspirasi sesosok orang yang bernama Hok Gie. Entah kenapa jadi seolah-olah gw suka dengan sosok cowok yang punya jalan pikiran seperti hok gie. Bukan jalannya yang sama tapi cara berfikirnya.

Sosok Hok Gie pertama kali gw kenal dari film yang dibintangi Nicholas Saputra. Enggak tau karena kepiawaian Mas Nico berakting atau karena emang gw terkesan sama perjuangan, semangat, romantisme yang dimiliki sosok Hok Gie yang idealis jadilah gw mencari sosok yang menurut gw punya beberapa sifat kek gitu.

Lainnya, mungkin karena sifat keras kepala gw yang engga ketulungan bikin gw jadi terlalu idealis. Atau mungkin karna gw memimpikan orang yang isa ngendaliin ego gw, tanpa gw ngerasa diajari. Jadi gw bisa berubah lebih dewasa bukan karna paksaan tapi emang gw sadar kalo gw emang harus berubah.

Selalu ada komentar menarik waktu gw mengeluh tentang cowok.
"Makanya jangan cari cowok, cari cewek."
"Nah, lu kan udah kek cowok. Yang namanya jodoh itu biasanya saling ngimbangi. Brarti ntar jodoh lu cowok yang kek cewek."


Padahal Hok Gie ataupun Mas Nico di mata gw itu cowok banget. Kalo standar itu ketinggian, gw masih punya isa bertoleransi. Syaratnya cuman : dia bisa bikin gw terkesan dengan jalan pikirannya.

Pintu Istimewa Buat Rumah Unikku

Lama aku tak melihat ke dalam rumahku. Rumah yang porak porada, tanpa pintu. Sudah tak ada lagi pintu di rumahku sejak aku kehilangan kuncinya. Aku tak lagi mencari dan memikirkan kunci itu. Aku membiarkan rumahku terbengkalai tanpa pintu. Aku sengaja membongkar pintu lama dan berharap ada satu pintu baru yang akan menutupnya, menjaga isi rumahku.

Sekarang, rumah tanpa pintu itu punya penghuni baru. Sayangnya dia tak tau apa yang harus dilakukannya dengan rumahku. Aku berharap dia bisa membenahi sedikit ini dan sedikit itu di rumahku. Sepertinya aku harus bersabar untuk itu. Dia harus biasa dengan rumah itu jika mau tinggal. Kalaupun tidak toh rumah itu tak lagi berpintu, dia bisa pergi kapan saja.

Sebenarnya bukan aku tak ingin memperbaiki rumahku sendiri. Aku pernah melihat pintu yang unik yang kurasa akan cocok menjaga rumahku. Barang unik tentulah mahal harganya. Rumah pun harus sesuai untuk pintu itu. Sedikit-sedikit aku menata rumah itu agar tampilan, isi dan pintunya serasi. Tapi kapan ya, aku bisa dapat pintu itu.

Pilihan kedua, aku harus menemukan pintu lain yang cocok untuk rumah unikku. Mungkin dengan harga yang sedikit lebih murah, walaupun tak sesempurna pintu yang satu itu.

Dari teras rumahku, aku masih memandang harap satu pintu istimewa itu, sembari mengawasi penghuni barunya. Aku tak mau rumahku hancur berantakan karenanya.

Tuesday, January 11, 2011

Toleransi

Sebenernya gw prihatin sama beberapa kebijakan kampus yang menurut gw sedikit tidak berperikemahasiswaan.

Bukankah tiap orang bisa sakit, dan saat sakit bahkan seorang pekerja pun berhak mendapatkan cuti atau libur dengan keterangan surat dari dokter. Seharusnya surat dokter itu bisa menjadi bukti bahwa seseorang memang benar-benar sedang sakit dan harus beristirahat, walaupun tanpa rawat inap.

Ayolah. Mari sedikit menggunakan otak kita. Aturan itu ada bukan untuk dilanggar memang. Namun, bagaimana seharusnya suatu aturan itu dibuat tanpa merugikan pihak lain, dan bagaimana seharusnya mengerti penerapan aturan tersebut. Tak perlulah terlalu saklek terhadap suatu aturan tertentu, buatlah kebijakan terhadap aturan-aturan supaya pelaksanaannya tidak menyusahkan orang lain.

Seharusnya tak perlu ada kasus seperti yang menipa temen gw. Dia dengan surat dokter dinyatakan sakit dan tak bisa mengikuti perkuliahan atau ujian pada hari ini, tetapi ternyata surat pernyataan itu tak bisa digunakan untuk meminta ijin tak mengikuti ujian hari ini dan meminta ujian susulan lain hari.

Gw jadi bertanya, adakah suatu alasan yang lebih masuk akal untuk menolak surat ijin tersebut disamping ketetapan yang mengatur bahwa yang diperbolehkan mengikuti ujian susulan adalah mereka yang sakit dan dirawat di rumah sakit. Seharusnya kita bisa sedikit bertoleransi terhadap hal-hal semacam itu. Gunakan otak dan hati kita untuk menjalankan aturan yang telah di tetapkan. Lebih lagi gunakan otak dan hati kita untuk menentukan suatu keputusan.

Otak mencegah kita untuk dibodohi dan hati mencegah kita untuk berbuat semena-mena terhadap orang lain. Harusnya orang-orang yang memegang kuasa untuk mengambil keputusan mengingat dan mengamalkan hal kecil yang terkadang terlupakan ini. Hal kecil yang bisa disebut TOLERANSI.