Seorang temen bilang ke gw tadi siang "keknya susah cari cowok buat lu. Cari hok Gie yang lain."
Gw emang banyak terinspirasi sesosok orang yang bernama Hok Gie. Entah kenapa jadi seolah-olah gw suka dengan sosok cowok yang punya jalan pikiran seperti hok gie. Bukan jalannya yang sama tapi cara berfikirnya.
Sosok Hok Gie pertama kali gw kenal dari film yang dibintangi Nicholas Saputra. Enggak tau karena kepiawaian Mas Nico berakting atau karena emang gw terkesan sama perjuangan, semangat, romantisme yang dimiliki sosok Hok Gie yang idealis jadilah gw mencari sosok yang menurut gw punya beberapa sifat kek gitu.
Lainnya, mungkin karena sifat keras kepala gw yang engga ketulungan bikin gw jadi terlalu idealis. Atau mungkin karna gw memimpikan orang yang isa ngendaliin ego gw, tanpa gw ngerasa diajari. Jadi gw bisa berubah lebih dewasa bukan karna paksaan tapi emang gw sadar kalo gw emang harus berubah.
Selalu ada komentar menarik waktu gw mengeluh tentang cowok.
"Makanya jangan cari cowok, cari cewek."
"Nah, lu kan udah kek cowok. Yang namanya jodoh itu biasanya saling ngimbangi. Brarti ntar jodoh lu cowok yang kek cewek."
Padahal Hok Gie ataupun Mas Nico di mata gw itu cowok banget. Kalo standar itu ketinggian, gw masih punya isa bertoleransi. Syaratnya cuman : dia bisa bikin gw terkesan dengan jalan pikirannya.
Monday, January 17, 2011
Pintu Istimewa Buat Rumah Unikku
Lama aku tak melihat ke dalam rumahku. Rumah yang porak porada, tanpa pintu. Sudah tak ada lagi pintu di rumahku sejak aku kehilangan kuncinya. Aku tak lagi mencari dan memikirkan kunci itu. Aku membiarkan rumahku terbengkalai tanpa pintu. Aku sengaja membongkar pintu lama dan berharap ada satu pintu baru yang akan menutupnya, menjaga isi rumahku.
Sekarang, rumah tanpa pintu itu punya penghuni baru. Sayangnya dia tak tau apa yang harus dilakukannya dengan rumahku. Aku berharap dia bisa membenahi sedikit ini dan sedikit itu di rumahku. Sepertinya aku harus bersabar untuk itu. Dia harus biasa dengan rumah itu jika mau tinggal. Kalaupun tidak toh rumah itu tak lagi berpintu, dia bisa pergi kapan saja.
Sebenarnya bukan aku tak ingin memperbaiki rumahku sendiri. Aku pernah melihat pintu yang unik yang kurasa akan cocok menjaga rumahku. Barang unik tentulah mahal harganya. Rumah pun harus sesuai untuk pintu itu. Sedikit-sedikit aku menata rumah itu agar tampilan, isi dan pintunya serasi. Tapi kapan ya, aku bisa dapat pintu itu.
Pilihan kedua, aku harus menemukan pintu lain yang cocok untuk rumah unikku. Mungkin dengan harga yang sedikit lebih murah, walaupun tak sesempurna pintu yang satu itu.
Dari teras rumahku, aku masih memandang harap satu pintu istimewa itu, sembari mengawasi penghuni barunya. Aku tak mau rumahku hancur berantakan karenanya.
Sekarang, rumah tanpa pintu itu punya penghuni baru. Sayangnya dia tak tau apa yang harus dilakukannya dengan rumahku. Aku berharap dia bisa membenahi sedikit ini dan sedikit itu di rumahku. Sepertinya aku harus bersabar untuk itu. Dia harus biasa dengan rumah itu jika mau tinggal. Kalaupun tidak toh rumah itu tak lagi berpintu, dia bisa pergi kapan saja.
Sebenarnya bukan aku tak ingin memperbaiki rumahku sendiri. Aku pernah melihat pintu yang unik yang kurasa akan cocok menjaga rumahku. Barang unik tentulah mahal harganya. Rumah pun harus sesuai untuk pintu itu. Sedikit-sedikit aku menata rumah itu agar tampilan, isi dan pintunya serasi. Tapi kapan ya, aku bisa dapat pintu itu.
Pilihan kedua, aku harus menemukan pintu lain yang cocok untuk rumah unikku. Mungkin dengan harga yang sedikit lebih murah, walaupun tak sesempurna pintu yang satu itu.
Dari teras rumahku, aku masih memandang harap satu pintu istimewa itu, sembari mengawasi penghuni barunya. Aku tak mau rumahku hancur berantakan karenanya.
Tuesday, January 11, 2011
Toleransi
Sebenernya gw prihatin sama beberapa kebijakan kampus yang menurut gw sedikit tidak berperikemahasiswaan.
Bukankah tiap orang bisa sakit, dan saat sakit bahkan seorang pekerja pun berhak mendapatkan cuti atau libur dengan keterangan surat dari dokter. Seharusnya surat dokter itu bisa menjadi bukti bahwa seseorang memang benar-benar sedang sakit dan harus beristirahat, walaupun tanpa rawat inap.
Ayolah. Mari sedikit menggunakan otak kita. Aturan itu ada bukan untuk dilanggar memang. Namun, bagaimana seharusnya suatu aturan itu dibuat tanpa merugikan pihak lain, dan bagaimana seharusnya mengerti penerapan aturan tersebut. Tak perlulah terlalu saklek terhadap suatu aturan tertentu, buatlah kebijakan terhadap aturan-aturan supaya pelaksanaannya tidak menyusahkan orang lain.
Seharusnya tak perlu ada kasus seperti yang menipa temen gw. Dia dengan surat dokter dinyatakan sakit dan tak bisa mengikuti perkuliahan atau ujian pada hari ini, tetapi ternyata surat pernyataan itu tak bisa digunakan untuk meminta ijin tak mengikuti ujian hari ini dan meminta ujian susulan lain hari.
Gw jadi bertanya, adakah suatu alasan yang lebih masuk akal untuk menolak surat ijin tersebut disamping ketetapan yang mengatur bahwa yang diperbolehkan mengikuti ujian susulan adalah mereka yang sakit dan dirawat di rumah sakit. Seharusnya kita bisa sedikit bertoleransi terhadap hal-hal semacam itu. Gunakan otak dan hati kita untuk menjalankan aturan yang telah di tetapkan. Lebih lagi gunakan otak dan hati kita untuk menentukan suatu keputusan.
Otak mencegah kita untuk dibodohi dan hati mencegah kita untuk berbuat semena-mena terhadap orang lain. Harusnya orang-orang yang memegang kuasa untuk mengambil keputusan mengingat dan mengamalkan hal kecil yang terkadang terlupakan ini. Hal kecil yang bisa disebut TOLERANSI.
Bukankah tiap orang bisa sakit, dan saat sakit bahkan seorang pekerja pun berhak mendapatkan cuti atau libur dengan keterangan surat dari dokter. Seharusnya surat dokter itu bisa menjadi bukti bahwa seseorang memang benar-benar sedang sakit dan harus beristirahat, walaupun tanpa rawat inap.
Ayolah. Mari sedikit menggunakan otak kita. Aturan itu ada bukan untuk dilanggar memang. Namun, bagaimana seharusnya suatu aturan itu dibuat tanpa merugikan pihak lain, dan bagaimana seharusnya mengerti penerapan aturan tersebut. Tak perlulah terlalu saklek terhadap suatu aturan tertentu, buatlah kebijakan terhadap aturan-aturan supaya pelaksanaannya tidak menyusahkan orang lain.
Seharusnya tak perlu ada kasus seperti yang menipa temen gw. Dia dengan surat dokter dinyatakan sakit dan tak bisa mengikuti perkuliahan atau ujian pada hari ini, tetapi ternyata surat pernyataan itu tak bisa digunakan untuk meminta ijin tak mengikuti ujian hari ini dan meminta ujian susulan lain hari.
Gw jadi bertanya, adakah suatu alasan yang lebih masuk akal untuk menolak surat ijin tersebut disamping ketetapan yang mengatur bahwa yang diperbolehkan mengikuti ujian susulan adalah mereka yang sakit dan dirawat di rumah sakit. Seharusnya kita bisa sedikit bertoleransi terhadap hal-hal semacam itu. Gunakan otak dan hati kita untuk menjalankan aturan yang telah di tetapkan. Lebih lagi gunakan otak dan hati kita untuk menentukan suatu keputusan.
Otak mencegah kita untuk dibodohi dan hati mencegah kita untuk berbuat semena-mena terhadap orang lain. Harusnya orang-orang yang memegang kuasa untuk mengambil keputusan mengingat dan mengamalkan hal kecil yang terkadang terlupakan ini. Hal kecil yang bisa disebut TOLERANSI.
Subscribe to:
Posts (Atom)