Showing posts with label mydaily. Show all posts
Showing posts with label mydaily. Show all posts

Wednesday, September 17, 2014

When We're Walking from the Café

Mobil dan café mungkin suatu yang sulit dipisahkan. Jarang kan kalian lihat orang ke kafe jalan kaki? Tapi itu terjadi di sini. Yaps, kami di sini jalan kaki ke kafe karena jarak kafe dan kos-kosan kami gak lebih dari 500 meter.

Jam 7 malem kami berangkat dari kosan. Sebenarnya ini bukan kali pertama kami ke kafe itu, tapi ini kali pertama ke kafe itu malam hari. Kami menemukan kafe itu pertama kalinya secara tidak sengaja di saat kami berencana mencari jajanan sore "Omah Sosis", yang ternyata sudah tutup dan viola ada kafe itu di depan ex-"omah sosis". Pemandangan di kafe itu lumayan walaupun suasananya gak bisa dibilang cozy. Dari segi harga, mahal. Mahal karena saya bandingkan dengan harga di Jogja, dimana seongok es teler dihargai Rp 10.000,00 dapet 1 mangkok guede yang dijamin kenyang. 

Jadilah kami berlima mengulangi kunjungan kami ke kafe "mehong" dan gak cozy itu cuman buat liat pemandangan lampu-lampu rumah di Teluk Bitung sana. Dari rumah kami sudah berniat makan dulu, jadi bisa lebih ngirit, modal minuman 1 biji tiap orang dan ngobrol ampe puas. 

Waktu kami dateng ke sana, suasana kafe belum begitu ramai. Masih adek-adek muda yang lagi pacaran, beberapa keluarga kecil bahagia sejahtera bersama anak-anak kecil mereka. Kami memilih spot yang sama seperti kali pertama kami datang. Band kafe tersebut masih sibuk mengecek peralatan mereka sebelum tampil. Suasana kafe makin ramai. Jarum jam tangan saya mulai berotasi dan membentuk sudut siku-siku diantara angka 9 dan 12. 

Malam makin larut buat saya. Setelah bekerja, kriteria "larut malam" saya berubah dari semula di atas jam 1 pagi menjadi di atas jam 9 malam. Besoknya kami harus bangun pagi, niat untuk "jalan-jalan" di kawasan bebas kendaraan memaksa kami untuk pulang dan segera tidur. 

Saat membayar tagihan di kasir, saya agak terkesima dengan embak-embak dan abang-abang yang datang ke situ. Semuanya dandannya oke punya. Kita samakan persepsi dulu. Kalau kalian berpikir mereka cuantik-cuantik dan guanteng-guanteng kek layaknya foto model, saya bilang gak semua. Ganteng dan cantik itu selera bukan? (Saya masih gak rela menyebut cowok sini ganteng dan saya juga gak mau saingan sama cewek sini, hahahaha....skip itu hanya keegoisan saya). Intinya mereka ke kafe ini dengan dandanan yang "necis". Kami sadar kalau cewek-cewek begitu gak mungkin "dibawa" cuman bermodal motor matic trend masa kini. Mereka itu cewek-cewek "high maintenance" kalau kata teman saya. Cobalah bandingkan gaya mereka dengan gaya kami yang ala kadarnya. Kaos oblong dan jeans belel dan sendal ala kadarnya dibandingkan dengan mini dress plus high heels, kaos dengan luarkan kameja kotak-kotak dan sepatu.

Kami kemudian keluar dari kafe tersebut. Berlima kami sempat berbisik-bisik "wuih bawa mobing semua."
Teman saya, Dika, tiba-tiba menyeletuk, “Mobil kita dimana?”
Saya dan beberapa teman menimpali candaan dia.
“Di sana, gak parkir di sini,” kata saya sambil menunjuk arah kosan kami.
“Iya kan kita ga parkir di sini,” kata Eka.

Cuek, kami tetap berjalan pulang sambil tetap membahas ternyata kalau malam minggu seberang jalan kosan kami berubah jadi showroom mobil, dan membahas cewek-cewek "high maintenance" tadi. Tidak satupun dari kami sadar bahwa ada seorang tukang parkir yang menanggapi serius becandaan kami soal mobil tadi. Dia diam sambil tetap mengikuti kami. Baru tak lama kemudian salah satu dari kami sadar, dan mulai menyadarkan yang lainnya.

“Apaan sih kalian, gue sih jujur aja, orang gue gak bawa mobil ke sini,” kata Dama. Saya mulai sadar ada tukang parkir yang mengikuti.
“Eh, enggak, Bang. Kami jalan kaki, kami gak bawa mobil kok kesini,” kata Dika. 
"Iya, Bang. Orang deket kok rumahnya," timpal teman saya yang lain. 
Suasana menjadi canggung sedikit. Kami mulai mengecilkan suara dan mempercepat langkah. meninggalkan areal parkir kafe itu. Si tukang parkir sudah berhenti mengikuti kami dan berbalik menuju tempatnya semula. Entahlah mungkin dia sempat mengumpat kami 5 gerombolan anak aneh yang sok bawa mobil. 

Hohoho..maaf Abang Parkir, kami gak bermaksud ngerjain kok, cuman keisengan 5 orang bocah yang terkesima dengan keadaan kota yang sepi di depan sana tetapi kalau malam minggu mobil-mobil berjajar rapi di kafe-kafe seberang kosan kami yang sepi. Kami baru menyadari bahwa keramaian kota ada tepat dibalik pekarangan kosong seberang jalan kosan kami.





Malam minggu ke 5 di Lampung
Garuntang, Bandar Lampung

Tuesday, May 21, 2013

Bivak and Be F*cked

Today, in my English course we had to make a group of 3 and discussed about obligation and permission of our English Course. We must create the name of our English Course the rule for teachers and students. Today i was in group with Bondan and Karin.

Then, Karin said that the name of our English Course must be BVK. Suddenly I said how if the name of our English Course is BIVAK, and it was approve.

The lecturer said that each group must tell about their English Course. And viola, when Baron said that our English Course name was Bivak they all think that it was  be f*cked.


Moral message : Bivak and be f*cked has a different meaning even sounded almost same

Friday, January 18, 2013

Flashback

Ternyata saya menjadi blogger sudah hampir seusia kuliah saya. Mulai dari tahun 2006 saya sudah membuat blog, walaupun sempat berganti-ganti alamat karena lupa kata sandi untuk masuk ke blog itu.

Blog pertama saya ada di http://valoeries.blogspot.com/ Kenapa valoeries, mungkin karena saya saat itu masih merasa nama valoeries itu menyenangkan. Valoeries adalah nama gabungan saya dan kedua sahabat saya. Va dari Vanny, Loe dari Luthvia dan Rie dan Ria. Itu adalah awal saya bermain-main di dunia blogger. Isinya hanyalah curhatan awal seorang mahasiswa baru dan puisi-puisi konyol seorang anak lulusan SMA. Walaupun begitu sepertinya saat itu tidak ada syndrom alay jadi tulisan saya pun masih biasa saja. Saya menggunakan blog ini hanya 7 bulan dengan 10 kali posting yang berarti setiap bulan sekali saya posting. Saat ini blog ini masih belum bisa saya akses karena memang saya lupa kata sandi dan email dari blog ini. 

Blog kedua saya ada di http://birulangit-yuka.blogspot.com/ Kenapa biru langit, karena saya memang suka biru langit. Sepertinya sebelum ke alamat ini saya pun pernah menggunakan alamat wordpr*s. Namun, saya kesulitan untuk menggunakannya dan kembali pindah ke blogsp*t. Di alamat biru langit saya menggunakan nama yuka, sama seperti di valoeries. Nama yuka dipilih karena saya dulu pernah membaca komik dengan seseorang tokoh bernama yuna dan akio. Gabungan kedua nama ini yang membuat saya memilih nama Yuka untuk blog saya yang kedua. Di blog ini saya tidak bertahan lama tetapi cukup sering menulis. Saya menggunakan blog ini dari Juli 2007 hingga Mei 2008 dengan total 41 posting. Isinya, masih ada beberapa puisi (yang sebenarnya saya mulai iri karena saya rasanya sudah tak bisa lagi membuat puisi), tulisan-tulisan pengalaman saya dan beberapa hasil pemikiran saya dengan otak ala kadarnya saat itu. Sepertinya saat itu saya sedang tergila-gila dengan raditya dika, mengingat gaya tulisan saya yang hampir mirip dengannya, melihat suatu kejadian dari sisi yang konyol.

Lalu blog saya yang lain adalah yang saya pakai sekarang. Mungkin terlihat lebih formal akhir-akhir ini karena menggunakan kata ganti saya, bukan gw. Bukan tidak mungkin saya akan menggunakan gw lagi, tergantung apa yang mau saya ceritakan dan bagaimana harusnya saya menceritakannya.

Saya banyak belajar dari blog-blog saya. Mengenali perubahan apa saja yang terjadi pada diri saya selama ini. Mulai dari awal masuk kuliah, mengenal jogja, cara pandang hidup saya, kegiatan saya waktu itu dan pengalaman-pengalaman yang mungkin akan saya lupakan jika tidak saya tuliskan. Bahkan sebagian dari tulisan-tulisan itu khususnya puisi, saya tak ingat kenapa saya menulis itu dan apa maknanya. Tapi ya sudahlah. Itu adalah apa yang saya rasa saat itu dan saya bisa menilainya kini untuk menjadi lebih baik.

So, let's write.

Friday, February 17, 2012

It’s Called Letters

Zaman memang sudah berubah. Teknologi semakin maju yang memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan lebih cepat dan murah. Tetapi ada tak pernah ada salahnya kita mengingat zaman sebelum ada telepon seluler, blackberry, ataupun iphone. We have letters to communicate with others.

Beberapa hari yang lalu gw menemukan beberapa surat lama. Rata-rata ditulis tahun 2000. Kebanyakan dari surat itu sebenarnya adalah kartu ucapan lebaran yang dikirim beberapa teman. Yang lain adalah surat dari oom dan tante gw yang waktu itu masih kuliah di Yogyakarta. Ah, ada lagi 1 surat yang sebenarnya bukan ditujukan buat gw, tetapi buat teman duduk gw. Surat ucapan valentine. Surat itu ada di tangan gw karena temen duduk gw nitipin surat itu ke gw. Dulu, dia ngerasa bahwa surat itu adalah ‘penembakan’ secara tidak langsung. Tapi karena temen gw itu nggak suka sama si cowok, dia menolak surat itu dan nitipin ke gw.

Surat-surat itu udah ada di kantong serba guna gw selama 12 tahun. Waktu yang sangat lama buat menyimpan benda-benda kenangan. Bandingkan dengan sms atau instan message ataupun bbm. Biasanya kita menyimpan beberapa pesan yang menarik atau mungkin pesan dari beberapa orang yang kita suka. Namun, pesan itu tidak akan bertahan selama lebih dari 3 tahun. Kalaupun ada biasanya terbatas.

Beberapa surat yang gw temuin itu bikin gw sadar bahwa ada beberapa hal yang gak bisa tergantikan dari surat-menyurat.
1. Kita gak akan pernah bisa lupa siapa yang ngirim surat itu.
2. Kita akan inget apa yang pernah kita lakukan pada saat kita terima surat itu.
3. Surat itu suatu yang isa disimpen sampe bertahun-tahun.

Sebenernya masih ada lagi sih seninya dalam surat-menyurat. Gw seneng kalau tiba-tiba ada surat datang dari seorang temen lama. Setelah kirim balasan gw pasti bakal ngecek ada surat balasan lagi atau tidak.

So, gak pernah ada salahnya kita kembali pake teknologi dulu, surat-menyurat. Setidaknya di mulai dari kirim kartu ucapan. Karena sebenarnya (ini pendapat pribadi gw) kartu ucapan bakal terasa lebih mengena ketimbang sms atau bahkan instan message ataupun BBM.
Let’s write a letter :)

Tuesday, January 24, 2012

Gadgetsyndrom

Ada suatu fenomena yang kian menjadi di Jogja. Karena saya bukan psikolog yang tau apa nama fenomena ini, saya mengistilahkan fenomena ini dengan istilah saya sendiri, yaitu gadgetsyndrom. Kenapa gadgetsyndrom? Karena fenomena ini melanda para pengguna gadget.

Suatu ketika saat saya sedang suntuk dan butuh mengobrol bersama seorang teman, pergilah kami ke sebuah tempat makan 24 jam yang menyediakan tempat yang nyaman untuk mengobrol. Di situ kami mengobrol dari jam 9 malam hingga sekitar jam 12. Kami berdua mengobrol sembari membalas sms yang masuk ke hp masing-masing. Sebenarnya sedikit mengganggu, ketika seorang teman butuh ditemani mengobrol dan diselingi membalas sms. Ketika sms itu merupakan hal yang penting, it's ok saya bisa mengerti, tetapi jika sms itu tak ubahnya mengobrol via message. Bukankah sama juga kita harus membagi pikiran untuk 2 orang yang berbeda dengan masalah yang berbeda pula?

Kemudian saya melihat sekeliling saya. Di sofa sebelah ada 3 orang laki-laki, masih muda yang sibuk dengan gadgednya masing-masing. Anggaplah mereka si A, B, C. Si A sibuk dengan BBnya. Si B sibuk dengan HP touchscreennya dan si C sibuk dengan notebooknya. Kombinasi yang sangat luar biasa hingga membuat saya berfikir buat apa mereka hangout bareng tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Mereka tidak mengobrol tetapi sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Hal ini membuat saya bertanya apakah memang keluar bersama teman itu bukan lagi untuk mengobrol dan tertawa bersama, tetapi hanya sekedar bertemu, makan bersama sambil bersibuk ria dengan gadget masing-masing.

Jika memang begitu menurut saya tidak lagi ada gunanya makan bersama teman karena itu hanya seperti suatu rangkaian acara yang biasa disebut formalitas. Sebenarnya saya sangat menyanyangkan hal itu. Saya sangat menikmati malam yang saya habiskan dengan mengobrol dan tertawa bersama teman-teman saya. Jangan sampai hal seperti itu hilang hanya karena gadgetsyndrom yang saya sebut tadi. So, kapan lagi kita mengobrol, tertawa sembari menikmati hangatnya kopi untuk mengusir dinginnya malam? How about tonight?

Thursday, December 8, 2011

Cerita Tentang Rangin

Ceritanya semalam gw kelaparan. Kebetulan salah seorang teman yang nun jauh disana ngajak chatting. Padahal waktu itu gw lebih memilih buat tidur ketimbang chatting. Alasan lain menghindari chatting adalah biar gak ngomongin makanan dan membawangkan betapa enaknya makan makanan anget dan berkuah di malem yang dingin itu. Tapi ternyata percakapan tentang makanan gak bisa dihindari dan muncullah makanan yang udah lama gak gw makan. Rangin. Sebutan lain dari makanan ini adalah Bandros, Gandos, Serabi angin.

Ini adalah makanan yang udah lama banget gak gw makan. Terakhir gw makan rangin itu adalah masa-masa gw masih sekolah dulu, entah SMP atau SMA. Makanan ini juga jarang gw temuin di Jogja. Akhirnya, karena penasaran (atau saking putus asanya) gw googling makanan ini. Ketemu juga satu tulisan di kuniler kompasiana yang kebetulan ngasih informasi dimana tempat si rangin berada. Gw mengakhiri malem dengan berharap esok paginya bisa bangun pagi dan meluncur ke Jalan Suryodiningratan.

Jadi, pagi ini berjalan sempurna, seperti yang udah direncanain, sampai akhirnya sampai di jalan paris hujan deres. Perjalanan tetap berlanjut, gw menerobos hujan hanya berbekal atasan mantel andalan. Sampai di depan hotel Brongto Jl. Suryodiningratan ternyata bapak si penjual rangin gak ada. Sebenernya gw juga gak ngerasa heran, karena tulisan sumber informasi gw itu dibuat sekitar januari 2011, wajar kalo keadaan udah berubah dan si bapak gak jualan lagi di situ. Ditambah lagi hujan yang deras, mungkin aja bapak penjual rangin itu memutuskan untuk tidak berjualan. Hampir gw memutuskan buat puter balik dan pulang, sekilas gw liat ada penjual berteduh karena ujan di deket pos kamling bersebrangan dengan SD kanisius pugeran.

And this is it. Gw duduk menikmati 2 sisir rangin dengan keadaan celana jins basah kuyup dan badan kedinginan. Yummy. Lebih nikmat lagi kalo di nikmati sama teh anget. Gw bayangin duduk di teras rumah, nikmatin pemandangan hujan + teh anget + beberapa sisir rangin. Aish, salah satu nikmatnya hidup.

Gw sempet ngobrol sama si bapak, beliau bilang biasa jualan di depan Hotel Brongto sampai jam 8 pagi, trus biasanya muter lagi dan jualan di puskesmas Mantri Jeron sampai sekitar jam 11 siang.

Jadi, mari lestarikan makanan Indonesia :p


sumber informasi : http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/01/11/alkisah-gandos-rangin-suryodiningratan/

Wednesday, October 26, 2011

Arem-arem Isi Penasaran

Suatu pagi pada saat pelatihan speak up

Teman : "Ini isinya apa ya?" Sambil memungut isi dari dus snack yang diberikan
Gw : "Paling arem2, klo gak ayam ya sayur"

Satu gigitan dia makan, tetapi si arem2 belum menunjukkan isi dalemannya. Gw yang tadinya gak tertarik menjadi penasaran dengan isi si arem-arem (karena kebetulan saaat itu perut gw juga sudah bernyanyi)

Gw : "Gigit lagi, keknya isinya masih di dalem tuh,"
Gigitan kedua juga belum menampakkan tanda-tanda isi si arem-arem. Gw terus ngeliatin dan ngasih semangat temen gw buat makan arem-arem itu. Sampai akhirnya pada gigitan keempat.

Teman : "Ini gigitan terakhir, lu mau bilang isinya masih di bawah lagi. Habis ini yang ada cuman daonnya,"
Ternyata memang benar arem-arem temen gw gak ada isinya. Sepertinya memang sang pembuat arem-arem lupa menaruh isinya, karena temen yang lain menunjukkan isi arem-aremnya.

Arem-arem gw? Gw tinggalin di atas meja, karena gw pergi sebelum sempet makan arem-arem itu.

Soal speak upnya, gw suka pembicaranya cuman pemandunya bikin bosen, panitianya gak bisa bikin acara itu lebih menarik.

Tuesday, September 27, 2011

Our 'Little' Problem

Beberapa hari yang lalu saya diminta oleh salah satu teman membantunya mengerjakan penelitian untuk thesis S2-nya. Singkatnya bantuan yang diminta darinya adalah menghitung jumlah kendaraan yang melintas selama 1 jam. Tak perlu saya sebutkan bagaimana cara menghitungnya. Yang menarik bagi saya adalah percakapan yang terjadi antara saya dan bapak polisi yang kebetulan lewat di tempat saya bekerja.

"Mbak, saya mau tanya. Kenapa sih yang dihitung selalu volume kendaraannya, bukan kapasitas jalannya" Tanya pak polisi itu.
"Saya kurang tau, Pak. Ini bukan penelitian saya. Disini saya hanya membantu," jawab saya waktu itu.
"Menurut mbak, gimana nih caranya biar mengurasngi kemacetan? Yah, menurut mbaknya aja," tanya pak polisi.
"Pembatasan jumlah kendaraan sekaligus peningkatan fasilitas kendaraan umum." Jawab saya.
"Tapi mbak, orang beli kendaraan itukan pake duit sendiri-sendir, seharusnya pemerintah gak boleh ngelarang yang seperti itu. Gimana kalo solusinya pembedaan waktu. Misalnya waktu masuk sekolah jam 7, terus waktu masuk kantor jam 8, kan itu juga bisa mengurangi kemacetan" kata pak polisi itu.

Nah dari percakapan singkat itu, saya kembali memikirkan pertanyaan pak polisi itu. Kemacetan sekarang merupakan salah satu dari masalah bukan? Bagi yang tinggal (sebut saja) di Jakarta, mungkin sudah terbiasa dengan macet. Berangkat lebih awal sebagai salah satu cara 'menghindari' kemacetan, tetapi bukan solusi untuk mengurangi kemacetan bukan? Apa bedanya dengan perbedaan jam kantor dan jam sekolah? Apa itu bukan cara lain untuk menghindari kemacetan?

Saya pikir, sebenarnya pembatasan jumlah kendaraan di jalan bisa dilakukan. Misalnya dengan pelarangan penggunaan BBM bersubsidi. Namun, hal itu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan transportasi umum. Hal itu dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum lagi daripada kendaraan pribadi.

Kenyataannya, sekarang ini keamanan dalam kendaraan umum sangat kecil, ditambah lagi beberapa fasilitas lain yang tak mengenakan. Tempat duduk gak nyaman, kendaraan kotor, mesin tak terawat adalah beberapa dari 'fasilitas' yang kurang menyenangkan di kendaraan umum.

"Masalah Kecil" ini bisa jadi besar nantinya, tetapi masih ada kemungkinan 'masalah kecil' ini bisa teratasi, kalau kita sama-sama peduli.

Thursday, August 4, 2011

selingkuh

Ada sesuatu hal yang gw bingung dengan satu kata ini : "Selingkuh". Selingkuh itu apa sih? Yang dimaksud selingkuh itu yang seperti apa?

Dalam satu relationship banyak orang punya pendapat tentang selingkuh.
1. Selingkuh itu ketika lu jalan ma orang lain padahal lu masih punya pacar.
2. Selingkuh itu ketika lu punya pacar lain selain pacar lu
3. Selingkuh itu ketika lu ngelakuin hubungan badan ma orang lain selian pasangan lu.
4. Selingkuh itu ketika hati lu dah gak buat pacarlu.

Kalau buat gw sendiri, gw gak tau gw termasuk yang mana dalam memaknai kata selingkuh, karena saat ini gw sedang sendiri, gak ada satu ikatan apapun sama orang lain. Dan selingkuh itu terkadang hanyalah suatu kedok dari ketidaknyamanan suatu hubungan.

Wednesday, June 29, 2011

Then, so?

Apa yang bakalan kamu lakukan ketika bertemu dengan seseorang yang kamu kagumi? teriak histeris, ngejar dia minta tanda tangan, atau mungkin foto bareng?

Kalau saya...saya juga tak pernah memikirkan apa yang saya akan lakukan ketika bertemu dengan orang yang saya kagumi. Tapi itu terjadi pagi ini.

Lepas berenang saya makan di salah satu tempat makan dan bertemu dengan seseorang yang saya kagumi. Apa yang saya lakukan? saya hanya menyapanya menyebutkan nama dan berjabat tangan. Sekedar basa-basi dia bertanya : "sudah selesai makan?" Saya hanya menjawab "baru pesan" sambil tersenyum lalu berlalu ke meja saya.

Simple, tapi tak sesuai yang saya harapkan. Setelah kejadian singkat itu saya berandai-andai jika saja saya tadi sempat mengobrol atau apapun yang membuat saya bisa mengenal lebih dekat dirinya, pasti menyenangkan. Tetapi apa yang telah saya lakukan tidak bisa membuat dia bahkan mengingat wajah saya nantinya.

Kami begitu berbeda melihat satu sama lain. Buat saya, dia adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang saya kagumi, sedangkan buat dia saya hanyalah orang asing yang kebetulan mengenalnya.

So, ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu kagumi, apa yang akan kamu lakukan? Karena apapun yang kadang terlintas dipikiranmu tidak selalu sejalan dengan apa yang kamu lakukan saat situasi itu datang padamu.

Friday, June 17, 2011

Budayakan Sopan Yuk

Kejadian kemarin di salah satu tempat makan membuat saya menjadi ingat tentang nasihat mama untuk bersikap sopan dimanapun.
1. Kalo ada orang lain lagi duduk dan saya harus lewat di depannya, saya harus berkata permisi.
2 Ketika saya ingin mengambil sesuatu di depan orang lain saya juga harus berkata permisi dan menyapa entah itu, pak, bu, mbak, mas, oom, tante dan sebagainya.

Selain itu cerita dari seorang kakak angakatan saat awal datang ke Jogja juga selalu mengingatkan saya untuk menjaga kesopanan jika berbicara dengan orang lain.

Bukan saya gila hormat atau apapun sebutannya, saya hanya merasa masih ada norma kesopanan yang berlaku di masyarakat Indonesia. Atau mungkin saya yang terlalu berposistif thinking bahwa semua penduduk Indonesia masih ingat sopan santun dan adabnya. Tapi ternyata kemarin saya menemukan seorang perempuan Indonesia yang tiba-tiba mengambil sesuatu dari depan saya tanpa mengucapkan permisi atau apapun.

Entah saya yang sedang sensitif atau ada kesalahan lain pada otak saya, saya merasa jengah dengan sikapnya. Setidaknya jagalah kesopanan di tempat umum.

Tuesday, March 15, 2011

Komunikasi

Gw pikir salah satu masalah dalam hidup gw adalah komunikasi. Lebih tepatnya menjadi komunikator yang baik. Kadang, apa yang gw maksud dan apa yang temen gw tangkap dari cerita gw itu sangat berbeda. Setidaknya gw masih bisa meluruskan apa yang gw maksud di saat yang tepat.

Sebenernya ada oleh-oleh dari workshop yang gw ikutin kemaren, sedikit tips buat jadi komunikator yang baik :

1. Runtut. Kalo cerita itu harus runtut dan jelas, jadinya orang gak nebak-nebak apa yang gw mau ceritain, apa yang mau gw sampein. Contoh : "tadi sore, waktu gw praktek prokom di kampus, sekitar jam 3an tiba-tiba aja perut gw mules. Padahal praktikum itu masih 1 jam lagi. Gw udah panik gimana caranya kabur dari kampus. Untungnya aja gak berapa lama praktikumnya udahan. Lega deh gw." Kata-kata terakhir merupakan tambahan komentar gw biar suasanya lebih berasa. Jangan pernah cerita setengah-setengah, misalnya gini "tadi pagi di bis gw ketemu gebetan gw. Ya lu tau kan gmn gw kalo ketemu dia. lu mudeng kan maksud gw?"

2. Nyantai. Kalo ngomong itu nyantai aja, jangan kek dikejar setan. Karena cara kerja otak itu lebih cepet daripada apa yang isa mulut ucapin. Otak kita dah mikir mpe 4 kata, tapi mulut kita isa cuman ngomong 2 kata. Jadi nyantai aja, karna kalo engga sering blibet ngomongnya.

3. Sering latian. well, kalo ini sih bisa di praktekin ke temen-temen. Liat seberapa banyak mereka nangkep apa yang kita maksud dari cerita kita.

Lepas itu, ada juga sebenernya masalah teknis, kek intonasi, pelafalan. Tapi yang gw maksud komunikasi yang baik di sini dalam artian orang ngerti apa yang kita maksud, bukan komunikasi buat public.

Tambahan lagi dari gw, gunakan bahasa percakapan manusia. Kalo lo mau ngomong, pake bahasa percakapan jangan pake bahasa buku, karna itu bakal terkesan kaku dan aneh. Jangan pake istilah-istilah aneh yang belum tentu orang ngerti maksudnya.


Well, ini bukan gw mau menggurui atau apapun, hanya sekedar sharing dari apa yang gw dapet di workshop kemaren. Kalo emang ada yang sering dibilang "maksud lo apa sih?" sama temen-temennya waktu lagi cerita, mungkin ini isa jadi salah satu jalan to be better.

Jangan pernah ngukur sampai batas mana kemampuan kita, tapi cobalah untuk mengembangkan kemampuan itu hingga tanpa disadari kita bisa melakukan apa yang semula kita pikir tak mampu kita lakukan. Mengembangkan diri tak harus selalu sesuai dengan bidang yang kita tekuni saat ini.

Monday, January 17, 2011

Mencari Hok Gie yang Lain

Seorang temen bilang ke gw tadi siang "keknya susah cari cowok buat lu. Cari hok Gie yang lain."

Gw emang banyak terinspirasi sesosok orang yang bernama Hok Gie. Entah kenapa jadi seolah-olah gw suka dengan sosok cowok yang punya jalan pikiran seperti hok gie. Bukan jalannya yang sama tapi cara berfikirnya.

Sosok Hok Gie pertama kali gw kenal dari film yang dibintangi Nicholas Saputra. Enggak tau karena kepiawaian Mas Nico berakting atau karena emang gw terkesan sama perjuangan, semangat, romantisme yang dimiliki sosok Hok Gie yang idealis jadilah gw mencari sosok yang menurut gw punya beberapa sifat kek gitu.

Lainnya, mungkin karena sifat keras kepala gw yang engga ketulungan bikin gw jadi terlalu idealis. Atau mungkin karna gw memimpikan orang yang isa ngendaliin ego gw, tanpa gw ngerasa diajari. Jadi gw bisa berubah lebih dewasa bukan karna paksaan tapi emang gw sadar kalo gw emang harus berubah.

Selalu ada komentar menarik waktu gw mengeluh tentang cowok.
"Makanya jangan cari cowok, cari cewek."
"Nah, lu kan udah kek cowok. Yang namanya jodoh itu biasanya saling ngimbangi. Brarti ntar jodoh lu cowok yang kek cewek."


Padahal Hok Gie ataupun Mas Nico di mata gw itu cowok banget. Kalo standar itu ketinggian, gw masih punya isa bertoleransi. Syaratnya cuman : dia bisa bikin gw terkesan dengan jalan pikirannya.

Tuesday, December 28, 2010

Surat Terbuka buat Sahabat

Teman, apa kabarmu di sana? Masih ingatkah kamu tentang laut biru dan semburat fajar yang menyambut kedatangan kita hampir setiap Minggu pagi? Dengan sepeda tua yang kini terlantar di garasi kita pernah bermimpi menaklukan kota kecil itu. Dengan celana lusuh dan topi seadanya kita tertawa dan menikmati belaian angin pagi.

Teman, apa kabarmu di sana? Ingatkah kamu akan mimpi-mimpi kita setelah beranjak dewasa. Ingatkah kamu kita pernah menertawakan orang dewasa yang melakukan suatu kebodahan. Dan ketika kita dewasa, kita melakukan kebodohan itu. Kebodohan yang sama yang pernah kita tertawakan dulu.

Teman, apa kabarmu di sana? Ingatkah kamu, kamu pernah menceritakan semua masalahmu padaku. Kamu tak menangis, aku tak pernah melihatmu menangis. aku hanya melihatmu menumpahkan segala kekesalanmu. Dan aku diam.

Ingatkah kamu akupun melakukan hal yang sama. Aku tak menangis, kau tak pernah melihatku menangis. Kau hanya melihatku menumpahkan segala kekesalanku. Dan kamu diam.

Teman, masihkah kau seperti dulu? Aku ingin kembali seperti dulu. Menantang dunia dengan mimpi-mimpi yang jauh lebih matang. Dengan rencana-rencana sempurna untuk diraih.

Teman, masihkah kau seperti dulu? Kau akan selalu mendengarku walau kau jenuh dengan semua ceritaku. Kau akan mencari sesuatu yang lucu yang tak kusadari dari kisahku dan kita tertawa bersama. Kamu akan mengertiku ketika aku bilang aku tersakiti.

Teman, aku hanya ingin katakan aku merindukan masa-masa itu. Terlebih aku merindukan menghabiskan waktu bersamamu.

Tuesday, December 21, 2010

Tragedi Botol Kosong di Bioskop

Keknya gw pernah berbagi cerita tentang umpatan? Ah ya, mungkin saat ini justru gw yang butuh nasehat itu. Jaga mulut. Jangan ngumpat sembarangan. Karna emang semalem gw kena batunya gara-gara itu. Sakitnya emang ga seberapa, tapi malunya lebih-lebih ketimbang sakitnya.

Semalem, gw nonton narnia. Kebetulan gw dateng lebih awal, jadi isa ngeliat penonton yang pada dateng. Ternyata banyak dari penonton yang bawa trouble maker di bioskop (baca : anak-anak kecil). Jujur, gw gak seneng klo nonton banyak anak-anak gitu. Mesti rame ga isa nikmatin filmnya.

Ternyata pas nonton gak terlalu rame, mungkin juga karna mereka udah isa baca larangan (do not talk during the show). Tapi suatu kejadian terjadi justru setelah film usai. Tiba-tiba dari atas ada yang ngelempar botol minuman kosong ke kepala gw. Kata-kata sihir itupun keluar secara refleks dari mulut gw.

Gw : "Shit!". Di batin gw langsung mau ngambil itu botol dan nyari siapa yang ngelempar gw.
Ternyata dari belakang gw terdengar suara ibu-ibu "Tuh kan kena mbaknya. Ayo minta maaf sana."

Sebelum gw sadar apa yang terjadi ternyata dari samping ada anak kecil, cowok, menyodorkan tanggannya didampingi ibunya buat minta maaf.

Ooops...dengan cengiran gak jelas gw njabat tangan anak itu dan gak isa ngomong apa-apa waktu dia bilang "maaf". Mana wajahnya polos dan terdengar tulus.

Sementara temen gw dengan santainya ketawa puas banget ngeliat kesialan gw. Ah!!!! Malu..malu..malu....Parah nih. Udah kena botol, gak isa mbales ngelempar ke orang laen, malah dapet malu. Huft!

Mungkin memang kata-kata 'sihir' itu harus mulai pelan-pelan gw kendalikan.

Sunday, December 19, 2010

Relationship

Temen. Pacaran. Selingkuh. Putus. Musuhan. Kadang itu juga yang gw pikirin. Bukan bermaksud mau ngerusuhin hubungan orang lain. Cuma sekedar geli dan sedikit cerita itu memberikan inspirasi buat menuliskan kisahnya.

Ada 2 orang manusia. Pacaran. Ketika salah satunya udah merasa gak nyaman, atau mungkin bisa dibilang bosen sama pasangannya, adalah hal yang wajar kalo dia selingkuh. Masalahnya selingkuhannya tau kalau orang yang berselingkuh dengannya itu dah punya pacar.

Gak perlu dijelasin lebih detail akhirnya perselingkuhan itu terkuak. Yang disesalkan kenapa malah hubungan yang awalnya baik, jadi saling memusuhi. Kalo emang suka kenapa engga bilang suka. Akui aja. Jujur aja. Toh hati gak akan isa dibohongi. Lepas dari masalah bener atau salah, perasaan kita kadang emang ga terkontrol.

Bukankah hak tiap orang buat suka, sayang sama orang lain. Jadi buat gw sendiri orang lain gak berhak melarang orang buat suka sama dirinya, buat berharap suatu saat mereka bisa jadi satu. Gw bilang kek gini bukan karna gw berada pada posisi itu, lebih karena gw percaya tiap orang punya jalan hidup masing-masing, dan hak tiap orang buat ngisi hidupnya, ngewarnai hidupnya mau kek apa.

Jadi lucu ketika tau bahwa 2 temen gw sekarang musuhan cuman gara-gara apa yang pernah mereka lakukan bareng-bareng. Yaya...mungkin bener juga, cinta itu menawarkan sisi gelap dan terang.

Monday, December 13, 2010

Kesasar Jurusan Kuliah

Kemarin gw denger cerita dari temen gw tentang salah seorang mahasiswa baru di kampus gw.

Ceritanya si maba ini salah jurusan masuk di kampus gw. Harusnya dia masuk farmasi. Dia masuk lewat jalur yang gak pake biaya (maksudnya gada uang sumbangan). Karna warnetnya lelet, dia nitip data dirinya yang harusnya di log in ke operator warnet dan minta tolong untuk dimasukin ke jurusan farmasi.

Entah gimana ceritanya ternyata si operator memilihkan jurusan gw ke si maba ini. Jadilah dia mahasiswa baru di kampus gw yang memang sangat bertlak belakang dengan jurusan yang dia pilih. Dia akui agak susah buat ngikutin kuliah di kampus gw. Apalagi dia juga harus ngikutin kegiatan kampus yang bikin badan capek. Tapi katanya "mungkin ini jalan hidup dia."

Aih.....jadi ngerasa waktu awal-awal jadi mahasiswa dengan bejibun aktivitas dan tugas. Mungkin juga ini jalan gw buat kuliah di kampus ini, karna sebenernya dulu gw milih jurusan ini buat ngisi satu pilihan jurusan yang masih kosong di lembar formulir ujian gw. Bingung apakah harus seneng atau sedih.

Wednesday, December 1, 2010

Antara Moralitas, Hukum, Agama dan Kesehatan

Gw baca sesuatu yang menarik sore ini tentang pendekatan hukum dan agama yang malah memojokkan pendekatan kesehatan. Sebut aja ini adalah masalah menyebaran virus HIV/AIDS.

Gak perlu dipungkiri bahwa di negara kita kata-kata 'tabu' itu masih berlaku. Masih banyak orang yang menganggap hal-hal tertentu kek sex itu gak pantes buat dibicarakan. Padahal, justru pengetahuan tentang sex itu penting buat kesehatan dan keamanan dalam melakukan hubungan seksual.

Sama halnya kek pendekatan kesehatan masyarakat yang menganjurkan penggunaan kondom dalam melakukan hubungan sex yang tidak aman. Hal ini terkadang disalah artikan oleh orang2 yang terlalu (kalau boleh gw bilang) sok suci, halusnya orang2 yang terlalu mendewakan pendekatan hukum dan agama dalam penanggulangan HIV/AIDS. Mereka menganggap kampanye penggunaan kondom sama artinya dengan membiarkan sex bebas, atau membiarkan norma hukum, agama dan moral ternodai. Padahal kampanye ini hanya sebagai salah satu cara untuk menjaga kesehatan. Bukankah kesehatan itu merupakan salah satu hak manusia, terlepas dirinya menodai norma apapun.

Seperti pengakuan temen gw, cowok itu lebih 'nakal' daripada cewek. Kalau cowok selingkuh itu adalah hal yang sangat wajar. Nyatanya, 20% dari para pria dewasa melakukan sex diluar hubungan pernikahan. Kenapa sih, kita gak coba menerima hal itu? Pendekatan agama dan hukum emang penting, tapi kenapa mesti menganaktirikan pendekatan kesehatan?

Logikanya gini. Anggaplah kita semua "melek" dan menerima bahwa 20% cowok dewasa melakukan hubungan sex diluar nikah. Anggap sebagian dari mereka melakukan hubungan sex itu dengan PSK, tanpa pengaman. Lalu, si cowok itu tertular HIV. Kemudian si cowok yang udah tertular HIV itu melakukan hubungan sex lagi sama PSK yang lain, lagi-lagi tanpa kondom. Trus, si PSK yang seharusnya bersih dari virus HIV kemudian tertular HIV. Misalnya aja si laki-laki ini menikah, punya istri. Maka tertularlah virus ini ke si istri. Kemudian si Istri hamil. Tertular juga janin di kandungan istrinya. Jadi, jangan buru-buru salahkan PSK atas persebaran HIV/AIDS.

Tulisan gw ini bukan bermaksud kampanye penggunaan kondom. Gw bukan sales kondom. Apa yang yang gw tulis ini sebernya sebagai bentuk keprihatinan gw melihat pendekatan kesehatan yang dianaktirikan. Masalah orang mau melakukan hubungan sex di luar nikah, itu adalah pilihan masing-masing orangnya. Pendekatan agama dan hukum memang penting, tapi kenapa mesti dipertentangkan dengan pendekatan kesehatan masyarakat?


Sumber : Kompas, 1 Desember 2010 "Segitiga Pengaman Cegah HIV/AIDS"

Thursday, November 18, 2010

That's Why Jogja so Crowded

Gw gak suka macet. Itu alasan utama kenapa gw gak pengen kuliah di Jakarta. Kalo liat macet atau kejebak macet di jalan berasa ubun-ubun kepala mau pecah. Tapi, kayaknya fenomena macet di jalan bakal terjadi di Jogja.

Mungkin kasus macat di Jogja berbeda dengan kasus macet di Jakarta, karena macet di Jogja bukan disebabkan oleh banyaknya kendaraan yang melintas, tetapi lebih disebabkan karena kurangnya lahan parkir.

Lihat aja di daerah Rumah Sakit Sardjito Jogjakarta. Jalan depan rumah sakit terlalu lebar, tetapi kanan kiri jalan digunakan sebagai tempat parkir mobil, entah mobil dokter, pengunjung, pasien, dan juga taxi. Selain itu pedagang kaki lima juga pada mangkal di sana.

Gak isa dipungkiri, daerah tersebut emang jadi lahan basah buat para pedagang makanan kaki lima. Tetapi malah itu jadi nambah keruwetan jalan. Jalan tersebut merupakan jalan 2 arah, tetapi di sepanjang jalan banyak mobil yang parkir dan bikin jalan makin sempit. Makanya gw selalu senewen kalo siang-siang naek mootor lewat Sardjito.

Alternatifnya, kadang gw potong jalan lewat kedokteran ugm - Jl. Kaliurang. Gw lebih milih motong jalan lewat kedokteran - mipa ugm karna di perempatan MM UGM adalah salah satu perempatan dengan lampu merah yang lama. Tentu bisa dimengerti kalo gw juga gak mau panasan akibat kehalang lampu merah kan :)

Tuesday, November 16, 2010

Takbir Keliling

Serasa di Tarub waktu tadi denger ada anak kecil-kecil pada takbir keliling. Kebetulan gw baru selesai mandi. Jadilah gw ngintip dikit dari jendela kamar. Itu salah satu untungnya punya kamar paling depan, deket jalan.

Ini adalah lebaran pertama dimana gw gak ngerayain di rumah. Gak isa pulang karena emang harinya nanggung. Sedikit sedih sih tadi liat anak-anak kecil pada takbiran keliling. Serasa ada yang kurang di idul adha kali ini.

Tapi gak apalah. Mendengarkan dan melihat anak-anak kecil takbir keliling lewat depan kosan sedikit menghibur. Walaupun tak selengkap saat takbiran di rumah atau saat liat takbir keliling di Tarub, tapi takbir keliling ini cukup mengobati kangen.

Selamat idul Adha.