"Aku menang, kamu jaga. Itung sampe 20 ya," kataku.
"Aku pasti bisa nemuin kamu," katamu kemudian mulai
menghitung.
Hampir 15 tahun yang lalu kita bermain petak umpet untuk terakhir
kalinya, sebelum akhirnya keluargaku membawaku pergi dari dirimu, membuatku
jauh dari dirimu. Waktu berlalu dengan cepat, hingga akhirnya aku bertemu
denganmu dan menyadari aku sudah terlalu lama berpisah darimu.
Lima tahun lalu secara tidak sengaja aku kembali bertemu denganmu
tanpa aku tahu kamu adalah sahabat kecilku, tanpa kamu tahu aku adalah sahabat
kecilmu. Aku harus beradaptasi lagi dengamu. Tidak seperti dulu saat kita masih
kecil, lahir dan tumbuh di kompleks perumahan yang sama membuatku lebih mudah
mengenalmu, lebih mudah mengertimu. Anak-anak lebih mudah beradaptasi dengan
lingkungannya. Mereka masih terlalu polos untuk merasa gengsi. Dunia mereka
adalah berteman. Mungkin itu yang membuatmu bisa tetap bermain dengan segala
keegoisanku, tidak seperti sekarang.
Akhirnya aku punya waktu untuk berkunjung ke rumah sahabat
kecilku, ke rumahmu. Aku masih ingat rumahmu. Aku masih ingat jalan-jalan kecil
yang harus aku tempuh menuju rumahmu. Aku masih ingat letak taman yang kini
beralih fungsi menjadi perumahan-perumahan. Aku masih ingat ayunan bambu di
depan rumahmu. Ada pagar besi berwarna putih di depan rumahmu. Kini pagar itu
tetap berwarna putih, catnya masih baru. Mungkin kelurgamu tetap mengecatnya
supaya terlihat lebih indah. Di samping rumahmu ada rumahku dulu. Kini rumah
itu sudah memiliki penghuni baru. Pasangan muda rupanya. Mereka sudah
menanamkan rumput hijau di halaman depan rumah dan menambahkan garasi di
samping rumah. Rumah yang dulu sempat aku tempati.
Kemudian kamu keluar dari rumah milik teman kecilku itu. Kamu
terkejut mendapatiku duduk dengan santainya di ayunanmu. Tahukah kamu, aku pun
sama terkejutnya denganmu. Aku tidak menyangka kamu adalah sahabat kecilku. Suasana
tidak menyenangkan itu berakhir cepat. Untunglah ibumu keluar dan mengenaliku.
Aku masih ingat padanya. Ibu terbaik yang pernah ada, terbaik setelah bundaku.
Kerikuhanku padamu berakhir tawa saat kita saling mengenali satu sama lain
lagi. Aku kembali dekat denganmu.
Fisikmu berubah dengan cepat, membuatku tidak bisa mengenalimu di
pertemuan pertama setelah sekian lama. Lebih dewasa kataku, tidak ada lagi baju
monyet atau celana pendek ditemani sapu tangan untuk mengelap ingus. Kamu rapi
dan wangi. Tidak ada perubahan pada sikapmu sewaktu pertama kali bertemu dan
berkenalan kembali denganku, tetap hangat. Ramah dan murah senyum, walaupun
kamu tetap menjaga jarak dengan orang yang baru kamu kenal.
Waktu juga merubah fisikku, lebih berantakan katamu. Tidak ada rok
mini dan kaos lucu yang kupakai. Kini aku identik dengan kaos oblong, jeans
sobek di lutut, jaket dan topi. Jauh dari kesan gadis kecil yang lucu. Namun
waktu ternyata tidak mampu merubah watakku, membuatmu mungkin bertanya-tanya
makhluk apa yang membuatku masih tetap hidup dengan segala keegoisanku yang
katamu tumbuh dari masa kecil kita. Aku lebih keras kepala dari pada aku yang
dulu. Sore itu kita habiskan waktu untuk mengenang masa lalu kita. Sejak hari
itu dua sahabat lama kembali bertemu dan menjalin cerita lagi.
Dua tahun yang lalu, aku merasa ada yang lain denganmu. Sifatmu
padaku, perhatianmu padaku lebih dari seorang teman. Aku merasa terkadang kau
terlalu bersikap manis padaku. Semua senyum, candaan bahkan ucapan konyol
selamat tidur yang pernah kau ucapkan padaku. Semua itu kau lakukan hanya
untukku, untuk aku saja. Kamu mulai nyaman bercerita lebih banyak tentang rencana
hidupmu, tentang impianmu, tentang ketakutanmu, tentang masalahmu padaku dan
hanya padaku. Aku sudah tahu sedikit banyak tentang itu, tetapi kau
menceritakannya seolah membuka selembar kertas dihadapanku dan berkata, “inilah
aku.” Kita mulai menyendiri, hanya berdua, tidak ada tiga, empat atau lima.
Hanya ada kita, aku dan kamu dengan semua cerita, harapan, impian dan masalah,
baik dariku ataupun darimu.
Kemudian, aku merasa ada yang berbeda dari caraku melihatmu. Aku
merasa mulai menyukaimu, bukan sebagai teman. Lebih dari pada itu. Secara tak
sadar, aku mulai mengejarmu. Tak rela membagimu dengan yang lain. Aku mulai
memproteksi dirimu dari yang lain. Aku menampakkan rasa cemburu. Kamu menyadari
ada yang berbeda dariku. Kamu tetap bergeming seakan tidak pernah rasa yang
lain diantara kita. Ketika aku mengungkapkan keganjilan rasaku, kamu juga tetap
diam. “Biarkan mengalir. Rasa itu akan berubah, semakin dalam atau semakin
hilang,” katamu. Semakin aku mempertanyakannya padamu, aku merasa semakin
tersakiti oleh perasaan itu.
Kini aku mulai lelah mencari. Aku berhenti. Kini giliranmu. Hitunglah
sebanyak waktu yang kamu mau, lalu carilah aku. Aku tahu kamu bisa menemukan
aku, seperti dulu kamu selalu bisa menemukanku. Aku akan bersembunyi, melihatmu
dari jauh. Giliranku menunggumu, menemukanku dan membawaku keluar dari
persembunyian dan memulai babak baru.
Yogyakarta, 22 Desember 2013
No comments:
Post a Comment