Tuesday, May 28, 2013

Orang-orang di Kereta

Suatu hari ketika aku duduk di dalam suatu gerbong kereta ekonomi yang membawaku pergi meraih mimpiku. Aku duduk bersama 5 penumpang lainnya. Tiga orang yang duduk di hadapanku adalah seorang ibu, gadis sebayaku dan juga seorang remaja putri. Dua orang lagi di sampingku adalah sepasang kekasih.

Ku perkirakan Sang Ibu berusia lebih dari 50 tahun. Karena beliau yang pertama duduk di kursi depanku, aku sempat mengobrol sedikit dengannya. Beliau bercerita ini pertama kalinya beliau meninggalkan kota ini. Beliau pergi untuk menemui anak lelaki tunggalnya yang sudah 4 tahun menikah dan baru dikaruniai seorang putri. 
"Nak, nanti Ibu dikasih tahu ya, kalau sudah sampai di Stasiun Cirebon."
Aku hanya tersenyum mengiyakan permintaan Sang Ibu. Kemudian beliau bercerita tentang Rudi, anak lelaki tunggalnya itu dan juga Ratih, istrinya.
"Sebetulnya ibu kurang suka dengan Ratih. Karena hidup berkecukupan dia jadi agak manja, kurang prihatin. Awalnya Ibu agak khawatir, tapi mau gimana lagi, lah Rudi wes kadung tresno. Apapun Ibu lakukan asalkan Rudi bahagia."

Tak berapa lama kereta mulai penuh dengan orang-orang yang akan pergi meninggalkan kota ini. Kemudian perlahan roda kereta mulai berputar meninggalkan stasiun. Di sampingku, Si Remaja Putri mulai sibuk dengan gadgetnya. Kebiasaan anak muda jaman sekarang. Smartphone-nya tak henti berdenting menandakan beberapa notifikasi yang masuk. 

"Adek mau kemana?" Sapaku pada Si Remaja Putri.
"Ke Purwokerto, Kak." Aku sebetulnya agak risih kalau dipanggil dengan sebutan kakak. Kurang akrab di telingaku. Dari sapaannya padaku aku bisa menebak dia adalah mahasiswi baru di kota ini.
"Kuliah di sini?" Tanyaku dan dijawab hanya mengangguk.
"Ambil jurusan apa?" Lanjutku.
"Komunikasi." Kemudian dia kembali sibuk dengan gadgetnya.

Kereta makin menjauh dari kotaku, tetapi belum juga mendekat ke kota tujuan. Satu-satu para penumpang terlelap. Sang Ibu di sebelahku juga sudah terlelap jauh ke alam mimpi. Sementara Si Remaja Putri telah turun beberapa saat yang lalu tanpa permisi. Gadis yang sebaya denganku masih tetap duduk menghadap jendela. Entah tertidur atau hanya memandang kosong pohon-pohon yang seolah bergerak mundur seiring laju kereta. 

Kemudian kereta berhenti beberapa saat di Stasiun Prupuk. Sepasang kekasih itu terbangun. Si laki-laki berpamitan sebentar keluar hendak merokok. Lalu si wanita tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya dan bertanya beberapa pertanyaan basa-basi. 
"Mau kemana, Mbak?" Tanyaku.
"Ini, mau ke rumah Mas saya. Dia ngajak saya untuk ketemu sama orang tuanya. Kalau Mbak sendiri?" Jawabnya ramah.
"Oh, Saya ke Jakarta, untuk lanjut ke tempat lain. Panggilan kerjaan." Kataku.
"Wah, sepertinya menyenangkan. Saya gak pernah boleh kerja jauh-jauh dari orang tua saya. Makanya kuper. Ini aja kalau gak diajak Mase saya gak bakal pergi sejauh ini," katanya. "Saya sebenernya takut, Mbak ketemu sama orang tuanya Mas Arno. Saya takut gak disukai. Ini pertama kalinya buat saya ketemu sama orang tuanya pacar saya. Orang jauh lagi," Lanjutnya.
"Oh, gitu ya, Mbak. Saya malah belum pernah tuh," kataku sambil tersenyum. Pikiranku kemudian melayang sesaat. Wajahnya kembali terbayang. Wajahnya yang aku rindukan, tapi bahkan hingga aku meninggalkan kotaku dia tak juga memunculkan dirinya sekedar berkata "selamat tinggal."
"Mbak sepertinya kerjanya jauh ya? Saya kadang pengen seperti Mbak, bisa kemana-mana," katanya.
"Gimana kalo gak usah panggil 'mbak', panggil aja namaku, Dewi. Kerjaanku itu main. Cari duit buat keluarga, sisanya di pake main-main. Yah, mumpung masih sendiri," kataku tersenyum. 
"Namaku Ayu. Tapi tetep aku pengen seperti kamu, Wi. Aku dan Mas Arno kerja di satu perusahaan dan perusahaan tidak memperkenankan suami istri bekerja di sana. Salah satu dari kami harus keluar. Sepertinya aku yang harus keluar. Mas Arno pernah bilang dia gak mau aku kerja nanti setelah kami menikah."

Kemudian Mas Arno masuk ke dalam kereta, seketika itu percakapan terhenti. Kami sibuk dengan urusan kami lagi. Aku mulai mendengarkan musik, dan kedua pasangan itu mulai mengobrol lagi. Mendekati Stasiun Cirebon aku membangunkan Sang Ibu perlahan. Membantunya untuk menurunkan beberapa tasnya. Sampai di Stasiun Cirebon Sang Ibu dan kedua pasangan itu turun.  

Kereta makin mendekati tujuan akhirnya. Kini tinggal aku dan Si Gadis yang sedari tadi duduk menatap keluar jendela. Kemudian dia menatapku dan tersenyum. "Mbak mau kemana?" Dia bertanya padaku.

"Jakarta. Kalau Mbak sendiri?" Tanyaku balik padanya.
"Saya mau pulang, Mbak. Ke rumah orang tua saya. Tapi saya khawatir. Saya takut. Saya sudah melakukan kesalahan besar," dia berbicara setengah melamun. 
"Setiap orang punya kesalahan, Mbak." Jawabku berusaha sekedar menghiburnya.
"Dulu, saya kabur dengan orang yang saya cinta. Laki-laki itu yang sekarang mencampakkan saya. Orang tua saya tak pernah setuju saya berhubungan dengannya. Jadinya saya kabur, Mbak. Sekarang saya tahu apa kekhawatiran orang tua saya. Saya menyesal, tapi waktu tak pernah berputar kembali kan? Saya bingung, saya harus kemana lagi. Satu-satunya harapan dari saya adalah saya pulang dan minta maaf sama orang tua saya walaupun saya takut sekali." Ceritanya seperti menahan rasa pedih yang dalam. 

Aku diam mendengar ceritanya.  Aku mendengar ceritanya sambil merenungkan kisahku. Aku iri padanya. Dia sangat berani menerima kesalahannya dan mungkin menanggung akibat dari kesalahannya. Akankah orang tuanya memaafkannya? Aku yakin mereka memaafkannya. Tak ada orang tua yang tak sayang dengan anaknya. Ibuku pernah bercerita, sebesar apapun kesalahan seorang anak, orang tua pasti akan dengan tangan terbuka memaafkannya dan menerimanya kembali. 

Wajah orang tuaku terkenang. Aku pergi hanya dengan restu orang tuaku. Aku mulai membayangkan wajah orang tuaku ketika nantinya mereka menyambutku pulang. Akankah mereka bahagia? Akankah mereka memaafkan segala kesalahan dan ketidakpedulianku pada mereka? Lalu aku mengingat remaja putri di sebelahku. 

Seorang remaja putri yang sangat tidak peduli sekitarnya. Aku pun pernah begitu. Tak peduli dengan sekitarku. Aku berjalan terus tanpa mempedulikan apa kata orang. Apa yang aku mau lakukan akan aku lakukan. Orang-orang di sekitarku hanyalah sebuah peramai dalam hidupku. Tokoh utama dalam hidupku adalah aku. Dulu, jika aku tak menyukai seseorang aku akan berkata tidak padanya. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya. 

Aku pergi tanpa sedikit pun melihat wajah orang itu. Fikiranku mulai terpenuhi olehnya. Dimana dia sekarang? Masihkah dia akan menungguku seperti yang pernah dia isyaratkan? Aku telah lama tak mendengar suaranya. Aku telah lama tak melihat senyumnya. Aku kemudian teringat Ayu. 

Dia bersama kekasihnya akan meminta restu pada orang tua si lelaki. Lalu akankah ada waktuku untuk merasakan apa yang Ayu rasakan? Kekhawatiran dia, rasa senangnya, rasa gugupnya. Aku iri pada Ayu. Dia telah sampai di titik itu.  

Kemudian wajah Sang Ibu di sebelahku terkenang. Seorang ibu yang sangat bahagia karena akan menemui cucu pertamanya. Walaupun awalnya kurang menyukai Si menantu tetapi toh dia tetap merasakan kebahagiaan atas kelahiran cucu pertamanya. Wajah ibuku kembali terkenang. Walaupun bukan anak tunggal, aku adalah satu-satunya anak perempuan dengan dua kakak lelaki. Sudahkah Ibu berharap aku segera mengkahiri masa lajangku?

Keretaku kali ini membawa banyak cerita, membawa banyak harapan, membawa banyak pelajaran. Keretaku mulai melambat dan sampai akhirnya berhenti di tujuan akhirnya. Pada akhirnya akupun akan berhenti di tujuan akhirku, hanya saja aku masih mencarinya.


Tuesday, May 21, 2013

Bivak and Be F*cked

Today, in my English course we had to make a group of 3 and discussed about obligation and permission of our English Course. We must create the name of our English Course the rule for teachers and students. Today i was in group with Bondan and Karin.

Then, Karin said that the name of our English Course must be BVK. Suddenly I said how if the name of our English Course is BIVAK, and it was approve.

The lecturer said that each group must tell about their English Course. And viola, when Baron said that our English Course name was Bivak they all think that it was  be f*cked.


Moral message : Bivak and be f*cked has a different meaning even sounded almost same

Apa Artinya Cermin

Kenapa kita membrengsekan keadaan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan?

Aku mengingat cerita tadi pagi. Seseorang berkata padaku apa artinya cermin. Cermin itu untuk memandang diri. Sebelum kita memandang orang lain, pandang diri sendiri dulu. Ketika ada seseorang yang lebih buruk dari kita, tak perlu kita merasa dia hina. Lebih baik jika bersyukur kita diberi keadaan yang lebih baik dari dirinya. 

Ketika kita kurang dari orang lain, kenapa mesti iri. Kita boleh kok untuk menirunya selama itu baik untuk diri kita. Semakin kita mengoceh buruk tentang kelebihan orang lain, semakin kita terlihat iri dan tidak mampu. Kenapa kita tidak belajar untuk menjadi lebih dan lebih baik lagi. Meniru itu bukan berarti kita harus menjadi dia. Orang diciptakan berbeda-beda sifat. Tapi tidak ada salahnya untuk berusaha menjadi lebih baik.

Kenapa harus mengumpat? Mengumpat berarti tidak mau bersaing dengan sehat. Semakin banyak mengumpat semakin terlihat tidak percaya diri. Semakin banyak mengumpat semakin terlihat kelemahannya. Semakin terlihat tidak mampu. Kenapa mesti tidak percaya diri? Toh pasti setiap manusia memiliki kelebihannya sendiri yang tak dimiliki orang lain.

Lihat lagi di cermin. Di sana ada semua tentang dirimu. Kebaikanmu, keburukanmu. Kelebihanmu, kekuranganmu. Buka lagi fikiran, lihat lagi dari lebih banyak sudut pandang, jadilah lebih baik dan lebih bijak dalam hidup.


===SEBUAH RENUNGAN===

Sunday, May 5, 2013

Wedding

Akhir-akhir ini aku semakin banyak mendapat undangan pernikahan yang datang dari teman-temanku, baik teman semasa sekolah ataupun teman semasa kuliah. Irikah aku? Mungkin ada sedikit terbesit rasa iri, tapi aku kembali melihat hidupku. Aku bahkan belum memulai hidupku sendiri. Yang aku maksud di sini adalah aku belum bisa mencari dan membiayai hidupku sendiri, aku masih belum bisa mandiri sepenuhnya, lalu bagaimana aku harus memulai hidupku bersama orang lain?

Ada yang lucu di salah satu comment seorang teman yang mau menikah besok hari ini. Salah satu temannya memposting percakapannya dan ibunya. Kira-kira begini percakapannya dalam bahasa keseharianku:

Mom: Son, kie ana undangan kancamu minggu ngesuk mbojo.. (Son, ini ada undangan temanmu minggu besok nikah)
Son: Oh ya Alhmdulillah, melu seneng kulo Bu..(Oh ya Alhamdulillah, ikut senang saya Bu)
Mom: lah kowe kapan??? kancamu sing liyane wes pada nikah kabeh lohh.. (Lah kamu kapan? Temenmu yang lainnya udah pada nikah semua lohh)
Son: he.. insyaAlloh sekedap malih Bu.. tunggu wae, syarate namung kurang KALIH kok.. (InsyaAlloh sebentar lagi Bu.. tunggu aja, syaratnya kurang dua kok)
Mom: alah alah.. syarat KALIH kuwe apa bae emange... ( ya ampun, syarat dua itu apa aja emangnya?
Son: KALIH Sinten..... :D ( Dengan Siapa :D )

Mungkin itu juga yang akan aku katakan ketika ditanya, kamu kapan menikah? Jalanku masih panjang, setidaknya aku masih bisa menunggu beberapa tahun lagi. Masih banyak yang harus aku lakukan. Seperti saat ini, aku masih harus belajar untuk ujian Bahasa Belandaku nanti pukul 8 pagi. Lalu, kenapa aku malah menghabiskan waktuku di depan komputer dan bercerita tentang pernikahan? Ah, tak apalah hanya sekedar membagi apa yang terlintas di otak bodohku saat ini.

Satu lagi, selamat untuk teman-temanku yang akan dan telah menempuh hidup baru. Semoga membawa kebahagiaan dan ketenangan hati. 

Thursday, May 2, 2013

Waktu Minum Teh

Pernah membaca karya-karya Enid Blyton? Aku salah satu penggemar bukunya saat masih kecil, sampai sekarang aku juga masih menyukai ceritanya. Walaupun tak punya lengkap semua seri karya Enid Blyton, tapi aku mempunyai beberapa karangannya seperti Lima Sekawan, Malory Towers dan serial dengan cerita lepas seperti Si Babi Ungu, Si Gadis Penakut, Monyet Mike, Tommy si Pengadu, Tiga Permintaan, Cermin Ajaib, Gadis Kaya yang Sombong dan Anak dalam Cermin. 

gambar diambil dari google
Dari beberapa buku itu aku mendapat gambaran atau mungkin khayalan tentang kehidupan di Asrama Putri di Inggris sana, ataupun kehidupan orang-orang Barat, seperti jamuan minum teh. Aku hanya bisa membayangkan seperti apa jamuan minum teh itu. Di beberapa cerita, Enid Blyton sempat mennyebutkan makanan apa saja yang ada pada jamuan minum teh itu. Ada gula-gula, kue plum dengan taburan gula halus (yang sampai saat ini aku tak bisa membayangkan seperti apa bentuknya), roti jahe dan tentu saja secangkir teh hangat. Biasanya kue-kue itupun masih fresh dari panggangan. Mereka menjamu tamunya dengan kue-kue yang hangat. 

gambar diambil dari google
Kalau aku bandingkan di Indonesia, sepertinya ada juga suasana seperti itu. Walaupun kebanyakan bukan menjadi suatu tradisi atau kebiasaan. Ada juga waktu kumpul bersama, minum teh dengan beberapa camilan, walaupun camilannya bukan kue plum ataupun kue jahe. Kalau di keluargaku teman minum teh biasanya adalah pisang goreng, ubi goreng, mendoan atau terkadang serabi. Tentunya mereka nikmat dinikmati hangat. Apalagi di hari yang cukup berangin (mengingat kotaku dekat dengan pantai) atau di saat hujan. Menyenangkan rasanya menghangatkan diri bersama orang-orang terkasih ditemani segelas teh manis hangat dan teman-temannya.

Berawal dari konsep itu, aku mempunyai mimpi mengelola suatu tempat yang menawarkan kehangatan dalam kesederhanaan. Seperti layaknya jamuan minum teh di Inggris ataupun kumpul keluarga di Indonesia. Itu masih menjadi mimpi bagiku. Belum ada suatu rencana yang jelas untuk mewujudkannya. Tapi, cukuplah kali ini dengan segelas cokelat hangat di samping si Lepi aku menuliskan sedikit cerita dan mimpiku. Setidaknya semuanya berawal dari mimpi bukan?