Suatu hari ketika aku duduk di dalam suatu gerbong kereta ekonomi yang membawaku pergi meraih mimpiku. Aku duduk bersama 5 penumpang lainnya. Tiga orang yang duduk di hadapanku adalah seorang ibu, gadis sebayaku dan juga seorang remaja putri. Dua orang lagi di sampingku adalah sepasang kekasih.
Ku perkirakan Sang Ibu berusia lebih dari 50 tahun. Karena beliau yang pertama duduk di kursi depanku, aku sempat mengobrol sedikit dengannya. Beliau bercerita ini pertama kalinya beliau meninggalkan kota ini. Beliau pergi untuk menemui anak lelaki tunggalnya yang sudah 4 tahun menikah dan baru dikaruniai seorang putri.
"Nak, nanti Ibu dikasih tahu ya, kalau sudah sampai di Stasiun Cirebon."
Aku hanya tersenyum mengiyakan permintaan Sang Ibu. Kemudian beliau bercerita tentang Rudi, anak lelaki tunggalnya itu dan juga Ratih, istrinya.
"Sebetulnya ibu kurang suka dengan Ratih. Karena hidup berkecukupan dia jadi agak manja, kurang prihatin. Awalnya Ibu agak khawatir, tapi mau gimana lagi, lah Rudi wes kadung tresno. Apapun Ibu lakukan asalkan Rudi bahagia."
Tak berapa lama kereta mulai penuh dengan orang-orang yang akan pergi meninggalkan kota ini. Kemudian perlahan roda kereta mulai berputar meninggalkan stasiun. Di sampingku, Si Remaja Putri mulai sibuk dengan gadgetnya. Kebiasaan anak muda jaman sekarang. Smartphone-nya tak henti berdenting menandakan beberapa notifikasi yang masuk.
"Adek mau kemana?" Sapaku pada Si Remaja Putri.
"Ke Purwokerto, Kak." Aku sebetulnya agak risih kalau dipanggil dengan sebutan kakak. Kurang akrab di telingaku. Dari sapaannya padaku aku bisa menebak dia adalah mahasiswi baru di kota ini.
"Kuliah di sini?" Tanyaku dan dijawab hanya mengangguk.
"Ambil jurusan apa?" Lanjutku.
"Komunikasi." Kemudian dia kembali sibuk dengan gadgetnya.
Kereta makin menjauh dari kotaku, tetapi belum juga mendekat ke kota tujuan. Satu-satu para penumpang terlelap. Sang Ibu di sebelahku juga sudah terlelap jauh ke alam mimpi. Sementara Si Remaja Putri telah turun beberapa saat yang lalu tanpa permisi. Gadis yang sebaya denganku masih tetap duduk menghadap jendela. Entah tertidur atau hanya memandang kosong pohon-pohon yang seolah bergerak mundur seiring laju kereta.
Kemudian kereta berhenti beberapa saat di Stasiun Prupuk. Sepasang kekasih itu terbangun. Si laki-laki berpamitan sebentar keluar hendak merokok. Lalu si wanita tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya dan bertanya beberapa pertanyaan basa-basi.
"Mau kemana, Mbak?" Tanyaku.
"Ini, mau ke rumah Mas saya. Dia ngajak saya untuk ketemu sama orang tuanya. Kalau Mbak sendiri?" Jawabnya ramah.
"Oh, Saya ke Jakarta, untuk lanjut ke tempat lain. Panggilan kerjaan." Kataku.
"Wah, sepertinya menyenangkan. Saya gak pernah boleh kerja jauh-jauh dari orang tua saya. Makanya kuper. Ini aja kalau gak diajak Mase saya gak bakal pergi sejauh ini," katanya. "Saya sebenernya takut, Mbak ketemu sama orang tuanya Mas Arno. Saya takut gak disukai. Ini pertama kalinya buat saya ketemu sama orang tuanya pacar saya. Orang jauh lagi," Lanjutnya.
"Oh, gitu ya, Mbak. Saya malah belum pernah tuh," kataku sambil tersenyum. Pikiranku kemudian melayang sesaat. Wajahnya kembali terbayang. Wajahnya yang aku rindukan, tapi bahkan hingga aku meninggalkan kotaku dia tak juga memunculkan dirinya sekedar berkata "selamat tinggal."
"Mbak sepertinya kerjanya jauh ya? Saya kadang pengen seperti Mbak, bisa kemana-mana," katanya.
"Gimana kalo gak usah panggil 'mbak', panggil aja namaku, Dewi. Kerjaanku itu main. Cari duit buat keluarga, sisanya di pake main-main. Yah, mumpung masih sendiri," kataku tersenyum.
"Namaku Ayu. Tapi tetep aku pengen seperti kamu, Wi. Aku dan Mas Arno kerja di satu perusahaan dan perusahaan tidak memperkenankan suami istri bekerja di sana. Salah satu dari kami harus keluar. Sepertinya aku yang harus keluar. Mas Arno pernah bilang dia gak mau aku kerja nanti setelah kami menikah."
Kemudian Mas Arno masuk ke dalam kereta, seketika itu percakapan terhenti. Kami sibuk dengan urusan kami lagi. Aku mulai mendengarkan musik, dan kedua pasangan itu mulai mengobrol lagi. Mendekati Stasiun Cirebon aku membangunkan Sang Ibu perlahan. Membantunya untuk menurunkan beberapa tasnya. Sampai di Stasiun Cirebon Sang Ibu dan kedua pasangan itu turun.
Kereta makin mendekati tujuan akhirnya. Kini tinggal aku dan Si Gadis yang sedari tadi duduk menatap keluar jendela. Kemudian dia menatapku dan tersenyum. "Mbak mau kemana?" Dia bertanya padaku.
"Jakarta. Kalau Mbak sendiri?" Tanyaku balik padanya.
"Saya mau pulang, Mbak. Ke rumah orang tua saya. Tapi saya khawatir. Saya takut. Saya sudah melakukan kesalahan besar," dia berbicara setengah melamun.
"Setiap orang punya kesalahan, Mbak." Jawabku berusaha sekedar menghiburnya.
"Dulu, saya kabur dengan orang yang saya cinta. Laki-laki itu yang sekarang mencampakkan saya. Orang tua saya tak pernah setuju saya berhubungan dengannya. Jadinya saya kabur, Mbak. Sekarang saya tahu apa kekhawatiran orang tua saya. Saya menyesal, tapi waktu tak pernah berputar kembali kan? Saya bingung, saya harus kemana lagi. Satu-satunya harapan dari saya adalah saya pulang dan minta maaf sama orang tua saya walaupun saya takut sekali." Ceritanya seperti menahan rasa pedih yang dalam.
Aku diam mendengar ceritanya. Aku mendengar ceritanya sambil merenungkan kisahku. Aku iri padanya. Dia sangat berani menerima kesalahannya dan mungkin menanggung akibat dari kesalahannya. Akankah orang tuanya memaafkannya? Aku yakin mereka memaafkannya. Tak ada orang tua yang tak sayang dengan anaknya. Ibuku pernah bercerita, sebesar apapun kesalahan seorang anak, orang tua pasti akan dengan tangan terbuka memaafkannya dan menerimanya kembali.
Wajah orang tuaku terkenang. Aku pergi hanya dengan restu orang tuaku. Aku mulai membayangkan wajah orang tuaku ketika nantinya mereka menyambutku pulang. Akankah mereka bahagia? Akankah mereka memaafkan segala kesalahan dan ketidakpedulianku pada mereka? Lalu aku mengingat remaja putri di sebelahku.
Seorang remaja putri yang sangat tidak peduli sekitarnya. Aku pun pernah begitu. Tak peduli dengan sekitarku. Aku berjalan terus tanpa mempedulikan apa kata orang. Apa yang aku mau lakukan akan aku lakukan. Orang-orang di sekitarku hanyalah sebuah peramai dalam hidupku. Tokoh utama dalam hidupku adalah aku. Dulu, jika aku tak menyukai seseorang aku akan berkata tidak padanya. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya.
Aku pergi tanpa sedikit pun melihat wajah orang itu. Fikiranku mulai terpenuhi olehnya. Dimana dia sekarang? Masihkah dia akan menungguku seperti yang pernah dia isyaratkan? Aku telah lama tak mendengar suaranya. Aku telah lama tak melihat senyumnya. Aku kemudian teringat Ayu.
Dia bersama kekasihnya akan meminta restu pada orang tua si lelaki. Lalu akankah ada waktuku untuk merasakan apa yang Ayu rasakan? Kekhawatiran dia, rasa senangnya, rasa gugupnya. Aku iri pada Ayu. Dia telah sampai di titik itu.
Keretaku kali ini membawa banyak cerita, membawa banyak harapan, membawa banyak pelajaran. Keretaku mulai melambat dan sampai akhirnya berhenti di tujuan akhirnya. Pada akhirnya akupun akan berhenti di tujuan akhirku, hanya saja aku masih mencarinya.
