Musim puasa kali ini jauh berbeda dengan musim-musim puasa yang pernah saya lalui sebelumnya. Ini adalah kali pertama saya puasa di tengah hiruk pikuk kita yang menyebut dirinya metropolitan.
Ini adalah kali pertama saya puasa ditemani dengan hujan debat, debat memperebutkan kursi nomor 1 di Indonesia. Saya tidak akan membahasnya di sini, saya terlalu lelah mendengarkan debat-debat yang bahkan diperdebatkan oleh orang-orang yang hanya akan mendukung salah satunya. Puasa kali ini saya sepertinya harus banyak sabar dan menyumpel kuping nakal saya dengan nyanyian yang menenangkan dan menghayalkan kembali puasa-puasa yang lalu.
Tidak ada lagi tangan yang saya paksa untuk berbuka bersama di lembah kampus. Tidak akan saya dengar lagi tawa berderai kami yang terlepas saat kami melontarkan khayalan-khayalan liar masa depan. Oops saya sudah mulai melantur.
Ah, disinilah saya berpuasa sekarang. Ditengah hiruk pikuk kota. Di tengah-tengah debat kusir yang hanya memacu emosi ketika kata tak bisa terucap dan hanya terpendam. And here I am. Jakarta, ditengah ketegangan perebutan kursi nomor 1 di Indonesia.
Monday, June 30, 2014
Sunday, June 22, 2014
Surat Untuk Jono
Hai Jono,
Kali ini aku mau cerita tentang duniaku, iya dunianya para cewek biar kalian para cowok ngerti. Kan kaum kamu sendiri yang bilang cewek itu susah dimengerti. Iya, aku sebagai cewek juga mengakui aku susah di mengerti apa lagi itu bila menyangkut kamu.
Kamu tahu kenapa cewek itu maunya selalu ada cowok yang dia suka di sisinya? Bukan karena dia butuh di bantu, bukan karena dia butuh bersandar, bukan juga karena dia tidak mampu melakukannya sendiri. Dia butuh kamu karena dia ingin ada kamu. Tanpamu dia bisa melakukannya sendiri.
Cewek itu bisa kok kemana-mana sendiri tanpa harus dianterin cowoknya. Cuma dia mau kamu menemaninya. Cewek itu bisa kok bawa kendaraan dia sendiri ke bengkel, cuma lagi-lagi dia mau kamu menemaninya. Cewek itu bisa beli makan sendiri tanpa kamu menemani, cuman dia pengen dengar cerita kamu dan mengerti kamu. Gimana dia bisa dengar ceritamu atau mengerti kamu bila kamu gak bercerita padanya? Lagi-lagi dia minta kamu menemanimu.
Cewek itu suka banget, ngepoin pacar walaupun dia tahu kadang gak ada apa-apa di facebook, tweeter, email atau apapun. Cewek itu masih suka kepo mantan pacar, mantan bakal calon gebetan atau mantan-mantan yang lain yang mereka suka walaupun mereka tahu itu menyakitkan. Mereka cuman pengen tahu gimana kabar si cowok. Apalagi si cowok yang gak pernah ngasih kabar. Mereka tuh sebenernya gatel tahu pengen nyapa, sekedar bilang Halo, apa kabar, atau yang lainnya. Atau dalam kasus yang berpacaran nih si cewek itu cuman pengen memastikan bahwa cuma dia yang kalian sayang.
Dalam kasusku ke kamu, aku sendiri bisa melakukan apa saja tanpamu. Aku bisa berjalan kesana kemari, aku masih bisa mengejar impianku yang lain, aku masih bisa melakukan banyak hal. Tapi yang aku mau cuma ada kamu. Aku memang tak banyak mencari tahu tentangmu. Aku terlalu malas untuk menyakiti diriku sendiri. Toh tak banyak yang bisa aku lakukan untuk mencari tahu tentangmu. Ya, mungkin aku berbeda dari kebanyakan perempuan lain. Tapi aku sama dengan mereka, aku mau kamu di sini, bersamaku, bukan karena aku butuh kamu aku hanya ingin kamu ada.
Ah, sudahlah. Sudah berapa surat dariku yang kau tumpuk dan taruh di sudut meja? Kau terkejut aku tahu tentang itu? Itu karena aku juga perempuan Jono, aku mau tahu kau apakan surat-surat dariku.
Salam,
Yuka
Tuesday, June 3, 2014
Orang-orang Kota : Si Kecil Penjaja Tissue
Si Kecil menggigil dalam dinginnya hujan sore itu. Perempatan besar seperti ini memang cocok digunakan untuk menawarkan beberapa dagangan diantara mobil-mobil yang terjebak macet sambil menunggu lampu hijau menyala. Beberapa kali dia mengusap mukanya yang basah oleh air hujan. Terkadang dia menggigil kemudian mengusap lengan kurusnya, mengharap sedikit kehangat dari gesekan tangan basahnya mengaliri tubuh kecilnya.
Saya masih nyaman di dalam mobil yang semakin dingin karena ac mobil. Walaupun dingin, setidaknya baju saya tidak basah. Kecil kemungkinan saya akan masuk angin malam nanti. Lampu merah masih menyala dan timer di atas lampu tersebut masih menunjukkan angka 100. Di depan sana masih banyak lampu-lampu merah dari kendaraan-kendaraan yang berhenti. Pengendara sepeda motor yang tak memakai mantel berhenti di pinggiran jalan dan membiarkan motornya tertimpa hujan sedang pengendaranya menepi mencegah air semakin membasahi baju mereka. Motor mereka mempersempit ruang gerak bagi pengendara lain, menambah macetnya jalan sore itu.
Mobil yang kutumpangi berjalan berlahan saat lampu hijau menyala. Kemudian berhenti lagi. Sudah tiga kali lampu merah menyala dan mobil yang kutumpangi itu belum berhasil membawaku keluar dari kemacetan di perempatan itu.
Si Kecil kembali ke jalan setelah menepi sebentar mempersilakan kendaraan-kendaraan melewatinya untuk lepas dari kemacetan di perempatan itu. Si Kecil kembali melewati kendaraan-kendaraan dan menjajakan dagangannya. Dia mengernyitkan wajahnya untuk menepis air hujan yang menghalangi pemandangannya. Satu per satu kaca mobil di datanginya berharap seseorang akan membuka dan membeli tissue yang dijualnya seharga 2000 rupiah. Hujan sore itu terlalu deras. Telak, tak ada yang rela membuka sedikit jendela mobil dan membiarkan air hujan memasuki mobil yang nyaman. Tissue seharga 2000 rupiah tak laku sore itu.
Mobil yang kutumpangi berjalan perlahan, kemudian makin cepat dan makin cepat. Dia berhasil membawaku pergi dari perempatan macet itu. Dia membawaku pergi meninggalkan Si Kecil penjaja tissue di jalan. Di kala bocah-bocah seusianya nyaman di dalam mobil yang dingin karena AC, dia pun berdingin-dingin tetapi karena guyuran hujan sore hari itu. Di saat anak-anak merasa senang karena diajak orang tuanya ke kebun binatang di akhir minggu, Si Kecil penjaja tissue menjajakan dagangannya di tengah hujan deras Minggu sore itu. Inilah Jakarta, dimana orang-orang bisa melakukan apa saja untuk bertahan hidup.
Blok M, Jakarta, April 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)