Senja
sore itu begitu indah. Aku selalu menyukai senja, walaupun tak pernah ku
pungkiri indah senja itu tak sebanding dengan suatu magis yang ada pada dirimu.
Aku bisa mengalihkan perhatianku pada raja siang yang hendak tenggelam itu
hanya untuk melihatmu. Entahlah saat itu naluri perempuanku berkata aku tak
akan lagi sama melihatmu. Itulah mengapa aku melihatmu begitu mendetail.
Beberapa rambut tipis yang tumbuh di pipi, kumis yang mulai tumbuh karna
mungkin belum sempat kau cukur, dan potongan rambutmu yang entah mengapa kurasa
kurang cocok untukmu. Aku memandangmu dalam diam, entah kau menyadarinya atau
tidak. Kamu masih asyik melihat matahari
tertelan luasnya laut tepat di garis horizon.
“Bahkan
matahari yang segitu besarnya bisa
terbenam,” ucapmu memecah keheningan.
“Hah?”
aku tak mengerti apa yang kau maksudkan.
“Udah
sore, yuk pulang.” Ajakmu. Sepanjang perjalanan aku tidak membahas kata-katamu
tadi. Tak ada yang bersuara. Nampaknya kendaraan bermotor yang lalu lalang
sudah cukup untuk meramaikan jalan, tak perlu ada kata-kata tambahan dariku
ataupun darimu untuk meramaikan jalan.
Naluri
perempuanku makin gelisah. Ada yang akan terjadi tapi aku tak tahu apa. Aku
makin gelisah. Aku letakkan telingaku di punggungmu mencoba mencari jawaban
dari detak jantungmu. Cepat, tidak beraturan. Tanganku yang semula diam di
kanan dan kiri pinggangmu kini merambah hingga ke perutmu. Aku memelukmu. Entah
siapa yang mengizinkan aku melakukan ini, hanya saja naluri perempuanku terlalu
berkuasa pada saat itu. Aku tahu kau merasakannya, aku tahu degub jantungmu
makin cepat. Aku hanya tak mau kehilanganmu. Tidak sedetik pun.
Aku
memelukmu selama perjalanan pulang. Tak sekalipun aku melepaskan pendengaranku
dari degub jantungmu. Aku mencoba menyamakan degub jantungmu dan degub
jantungku bahkan hingga kamu mematikan mesin motormu di depan rumahku.
“Aku
pulang. Ini terakhir kali kita jalan berdua. Mulai sekarang aku harus tahu diri
kalau ada orang lain yang deketin kamu. Aku harap kamu juga begitu.” Kamu menyalakan
kembali mesin motormu dan pergi. Aku mendengar suaramu bergetar. Aku tak
mendengar sepatah kata pun keluar dari mulutku sampai kau menghilang dari
pandanganku. Aku hancur.
Aku
hanya merasakan pedih di mataku. Aku hampir menangis. Aku segera menarik nafas
panjang, aku tak mau menangis di sini. Tidak. Setidaknya aku harus berada di
tempat yang menurutku aman untuk menangis.
Sampai
di kamarku aku melihat sekelilingku. Pandanganku terhenti di sebuah bingkai
foto. Dua orang tersenyum dalam foto itu. Foto yang diambil karena si pemotret
salah mengira tentang aku dan kamu. Saat itu aku ingat, aku masih bersahabat
denganmu. Aku mengambil foto itu, melihatnya dan membawanya dalam mimpiku. Aku
menangis dalam tidurku.
Esoknya
aku terbangun dengan mata sembab. Aku tak sadar menangis semalaman. Untunglah
mataku bisa diajak berkompromi. Mata sembabku tak akan bertahan lama. Aku
kembali menatap dua orang di bingkai itu. Akal sehatku mulai berkuasa. Dia
memikirkan cara agar aku tak lagi melihat foto itu. Sisi perempuanku ikut andil.
Aku hanya membalik bingkai itu tak lagi memanjangnya. Aku hanya tak ingin
menambah luka.
“Aku
masih punya banyak tujuan yang harus aku dapat. Aku punya banyak jadwal
kegiatan. Aku terlalu berharga untuk menangisinya.” Aku mengisi hariku dengan
kata-kata itu. Aku terus berlari dengan rutinitasku hanya untuk mengalihkan
pikiranku. Aku tidur tanpa memandang lagi senyuman anehmu di foto itu. Foto itu
tetap terbalik tak tersentuh. Hingga akhirnya satu pesan darimu untuk mengajak
bertemu.
“Tidak,
aku harus tahu diri. Aku bukan lagi orang terdekatnya. Aku bukan lagi orang
yang bisa memeluknya. Aku butuh waktu untuk bisa bertemu lagi dengannya.”
pikirku.
Pesan
itu terbengkalai beberapa hari. Hingga akhirnya kamu menelepon. Sisi
perempuanku sudah terlalu haus akan suaramu. Aku menjawab teleponmu.
Sayang?
Satu kata aneh yang muncul darimu setelah dia memutuskan untuk meninggalkan
aku. Kata sayang seharusnya tidak lagi muncul di percakapan itu. Namun aku
tetap diam. Aku hanya ingin mendengarmu.
“Kamu
beberapa hari ini kemana Sayang? Aku khawatir. Kamu gak kenapa-kenapa kan? Gak
sakit kan Sayang?” tanyamu.
“Aku
baik-baik aja. Agak sibuk akhir-akhir ini. Gimana harimu?” jawabku. Aku senang
kau mengkhawatirkan aku. Firasat perempuanku benar, kamu tetap memikirkanku.
Aku diam mendengarkan ceritamu. Duniaku seakan berjungkir balik akhir-akhir
ini. Kamu yang tiba-tiba meninggalkanku dan kemudian datang lagi seolah-olah
tidak pernah ada kejadian mellow dramatis itu.
“Sayang
kamu masih di sana?” Tanyamu ketika menyadari aku diam selama kau bercerita.
“Iya
aku masih di sini,” Jawabku pelan. Kamu mulai menyadari aku masih memikirkan
hal yang telah lalu itu.
“Kamu
masih mikir yang kemarin ya?” tanyamu.
“Iya.
Apa maksudnya semuanya? Kenapa kamu bisa bilang begitu? Trus kenapa sekarang
tiba-tiba datang lagi?” tuntutku. Kamu diam, mengatur nafas. Jantungmu berdegub
semakin cepat, eolah-olah aku bisa mendengar degub jantungmu yang tak
beraturan. Aku memang bisa mendengarnya dari sini. Sisi perempuanku yang
mendengar gedub jantungmu.
“Aku
gak bisa. Ternyata aku gak bisa nahan diriku untuk gak deket kamu. Aku gak
nyaman,” katamu setelah diam beberapa saat. “Maafin aku. Aku salah, aku cuma
mikirin kamu, gimana kamu nantinya kalau sama aku. Aku takut kamu gak bahagia,”
suaramu makin serak. Aku sempat mendengar satu isak tangimu.
“Schat,
are you crying?” tanyaku mulai khawatir. Amarahku reda seketika. Aku lebih
mengkhawatirkan tangismu. Belum pernah sebelumnya aku mendengar tangis seorang
laki-laki dewasa. Di ujung sana kau berusaha menenangkan dirimu dari tangismu.
“Schat…” aku bingung harus berucap apa. Aku tak pernah bisa meredakan tangis
seseorang.
Hening,
sampai akhirnya kau bisa menguasai dirimu. “I’m sorry Darl. Aku gak akan
ulangin lagi. Aku gak bisa kehilangan kamu, Aku sayang kamu” katamu.
“Ik
heb jou lief, Schat,” balasku. Jawaban yang cukup mengejutkan separuh diriku.
Kamu
memang berbeda. Jika ada laki-laki yang menangis depanku, mungkin aku akan
langsung meninggalkannya. Tapi tidak denganmu. Aku masih terlalu bersabar
untukmu. Mungkin karena aku tak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Tidak
walau sedetikpun. Kau memang laki-laki hebat. Kamu membuatku lebih toleran
padamu daripada laki-laki manapun yang berbuat kesalahan.
Aku
hanya ingin memelukmu saat itu. Meredakan tangismu, menenangkan hatiku. “Schat
aku cuma mau kamu. Tolong jangan fikirkan apa pun yang memberatkanmu. Aku tak
pernah ingin jadi bebanmu. Aku hanya ingin menjadi teman hidupmu. Akan selalu
ada kita diantara hidupku dan hidupmu.”
“Kok
diem lagi?” tanyamu. Aku tak pernah bisa mengatakannya. Aku hanya ingin kamu
mengerti. Tidak sekarang, belum saatnya.
Yogyakarta, November 2013