Monday, January 12, 2015

Teh Hangat Manis

Hujan hari itu serasa tidak akan pernah berhenti. Sedari pagi matahari sudah malas menampakkan sinarnya walau sebentar saja, membuat hari yang malas bertambah malas. Tak banyak yang kukerjakan di kantorku hari itu. Januari, belum banyak kegiatan yang dilaksanakan. Aku hanya membereskan dokumen-dokumen pekerjaan tahun lalu yang morat-marit di mejaku serta menyusun rencana-rencana kegiatan di tahun ini. Hal yang sebenarnya bisa dikerjakan dalam waktu singkat, jika tidak malas.

Hujan mulai turun siang itu. Dari gerimis kecil-kecil yang membasahi jendela hingga menjadi siraman-siraman air yang terbawa angin terhempas ke jendela dan dinding, menimbulkan suara yang khas. Aku sedikit melongok ke bawah. Jalanan lumayan lengang. Beberapa mobil melintas satu-satu dalam beberapa menit. Rupanya orang malas keluar di cuaca seperti ini. Kopi yang semula berasap mulai kehilangan panasnya setelah setengah jam disajikan, membuatku tak berminat lagi meminumnya.

Menjelang malam, hujan malah semakin deras. Daun pohon-pohon palem bergoyang menandakan derasnya hujan yang turun. Jalanan mulai ramai meski tidak padat seperti layaknya jam pulang kantor. Hanya mobil-mobil yang mengantre untuk berbalik arah. Jarang sekali motor yang melintas. Ah, siapa pula yang mau berbasah-basah ria menaiki motor di tengah dingin hujan. Akupun malas beranjak. Di cuaca begini aku malas harus berjalan kaki dan berbecek-becek ke terminal dan menunggu bus yang mengantarku pulang. Aku menunggu dan berharap hujan mereda hingga aku bisa pulang. Pulang, rasanya aku malas sekali pulang. Pulang berarti mengingat semua masalahku. Pulang berarti menghadapi masalah lain dalam hidup.  Di kantor, masalah-masalah tersebut seolah lenyap tertutup beragam pekerjaan dan cerita dari teman.

Malam makin gelap. Hujan tetap saja riuh, meskipun tanpa angin yang menerpa. Malam itu aku memutuskan untuk pulang, tidak nyaman juga rasanya harus pulang terlalu malam. Kali itu angkutan tidak terlalu ramai penumpang. Mungkin orang-orang lebih memilih naik taksi daripada hujan-hujanan nunggu bus yang lewat, belum lagi bonus terciprat air hujan dari kendaraan yang lewat.

Lewat pukul sembilan malam aku sampai di rumah. Pagar hitam besi telah terkunci meski belum digembok. Hujan gerimis masih saja turun meskipun tidak sederas sore tadi. Langkahku gontai menuju pintu kayu yang dibiarkan tanpa pelitur itu. Pintu tidak terkunci, berarti Ibu belum tidur. Raut lelah tak bisa ku sembunyikan dari wajahku.
“Kok malam sekali, Nduk, pulangnya,” Tanya Ibu yang kala itu telah selesai membereskan meja makan.
“Hujan Bu,” kataku sambil menutup pintu kamarku. Rasa lelah dan semua permasalahan tiba-tiba menyerang. Ingatan buruk cerita yang telah lalu masih saja membayangi. Aku merebahkan diri di kasur tanpa dipan tanpa mengganti bajuku terlebih dahulu. Tas selempang yang aku kenakan aku singkirkan di tepian kasur.
“Mandi dulu, Nduk. Itu di termos ada air panas buat mandi kamu. Tadi kamu kehujanan, tho? Cepet sana mandi biar gak sakit,” kata Ibu dari luar kamarku.

Perlahan aku melangkahkan kaki keluar dari kamarku menuju kamar mandi. Ibu masih uplek di dapur, entah menyiapkan apa. Ember sudah ada di kamar mandi. Termos air yang seharusnya ada di dapur pun telah berpindah ke kamar mandi. Ibu telah menyiapkan semuanya. Cepat-cepat aku mandi. Aku tak suka mandi malam hari. Rasa dingin akan menyerangku selepas aku mandi meskipun aku telah menggunakan air panas untuk membasuh tubuhku.  
Selesai mandi, aku dapati Ibu sedang menaruh segelas teh hangat untukku.
“Teh anget, Nduk,” katanya tersenyum.
“Nggih, Bu,” jawabku sebelum menyeruput teh yang dibuat untukku. Rasanya pas, tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin. Tidak terlalu manis yang membuat tenggorokan sakit, tidak juga hambar.

Ibu tidak beranjak dari kamarku. Mata tuanya masih memperhatikanku, seolah meyakinkan dirinya bahwa anaknya telah dewasa dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Ibu tidak pernah banyak bertanya. Namun, di matanya terbesit banyak pertanyaan yang tidak terucap. Aku merebahkan diri di kasur.
“Kamu pasti capek sekali ya, Nduk,” kata Ibu sambil duduk di tepian kasur. Tangannya perlahan membelai kepalaku.
“Enggak kok, Bu” kataku mencoba menyembunyikan masalahku.
“Oalah, Nduk. Meskipun kamu bilang begitu, Ibu juga paham. Gusti ora sare, Nduk. Semoga apa yang kamu inginkan, kamu panjatkan di setiap doamu dikabulkan. Ibu cuma pingin kamu bahagia, Nduk. Ibu mana yang nggak sakit lihat anaknya sakit, Ibu mana yang nggak bahagia kalau anaknya juga bahagia,” kata Ibu sambil tetap mengusap kepalaku.
Aku tersenyum, mencoba menghapuskan segala keresahan di wajah Ibuku.
“Iya, Bu. Aku baik-baik aja,”
“Ya sudah. Istirahat,” kata Ibu saat beranjak dari kasurku.
“Bu. Ibu tidur sini, ya malam ini. Udah lama kita nggak cerita-cerita sebelum tidur,” kataku menahan Ibu saat akan menutup pintu kamar.

Hujan beserta angin mengamuk lagi di luar, memukul-mukul jendela di rumahku. Kilat menyala disertai petir menambah suramnya malam itu. Namun, cerita yang mengalir dari ibu dan anak di kamar dua kali tiga itu mampu menghangatkan suasana. Tidak ada dingin menusuk yang kurasakan malam itu. Segelas teh hangat dari Ibu mampu menghangatkan badanku. Sepenggal cerita dari Ibu mampu menenangkan hatiku. Dan belaian dari Ibu mampu melelapkan tidurku.



                                                                                                                                Buat Mamah,


                                                                                                                         Jakarta, 10 Januari 2015

Friday, January 2, 2015

Catatan Akhir Tahun

Awal tahun 2014, aku memulai hidup yang baru, keluar dari zona nyaman, keluar dari kota  yang membuatku tenang. 2014 aku resmi pindah ke Jakarta. Akhir tahun 2014, aku bisa menapakkan kakiku ke beberapa kota di Indonesia. 

Tiap kota punya cerita. Tiap kota memberikan pengalamannya. Pertama kalinya pergi, aku ditugaskan di Lampung selama 3 bulan. Ada beberapa cerita yang tercipta di sana. Walaupun berada di tanah melayu, aku merasakan kehidupan yang hampir sama seperti di Jawa. Orang-orangnya ramah, bahasanya pun masih ramah di kupingku. Pulang dari Lampung, saya mendapat tugas keluar kota. Tidak tanggung-tanggung saya ditugaskan ke Balikpapan, kota pertama yang kudatangi di Borneo sana. 

Tidak banyak cerita selama di Balikpapan, tidak banyak kata tercipta di Balikpapan. Kali itu tenagaku seperti terkuras untuk bekerja. Kembali dari Balikpapan, aku harus melakukan perjalanan ke Bandung. Seiring berjalannya waktu, perjalanan ke Bandung seperti menjadi rutinitas selain bekerja di kantor Jakarta. Lepas dari Bandung, saya mengalami long rute trip ke Gorontalo-Bandung-Medan. Ada kain Karawo dan Milu Siram dari Gorontalo. Ada Pancake Durian dan sedikit cerita perjalanan di Medan. 

Kata orang, Balikpapan adalah kota yang tertib. Ketika kita menyeberang jalan, maka otomatis orang-orang yang berkendara akan membiarkan kita menyeberang dengan selamat, selama kita menyeberang di tempat yang benar. Sayangnya, aku sendiri belum dapat membuktikannya, karena seharian melakukan pekerjaanku. Bahkan untuk sekedar membeli oleh-oleh, kami lakukan di malam hari dimana toko-toko juga sudah tutup. Sedangkan kami harus meninggalkan Balikpapan pagi-pagi untuk kembali ke Jakarta.

Milu Siram
Lain cerita dengan Gorontalo. Di sini, aku mendapatkan oleh-oleh dari kakak temanku, lebih tepatnya aku dititipi pia Gorontalo. Pia isi coklat dengan coklat lembut yang yummi banget. Makan satu sebenarya cukup, tapi coklatnya beneran nagih minta lagi. Selain itu ada kain karawo. Sebenarnya ini bukan kain sih, kainnya bisa dari kain apa aja (termasuk kain paris yang biasa buat jilbab), tapi uniknya serat dari ini ini di lepas, untuk kemudian di rajut lagi. Ada lagi Milu Siram. Ini adalah semacam sup jagung khasnya Gorontalo. Isinya, pastinya jagung, parutan kelapa, seledri dan (harusnya) ikan. Rasanya, hmm aku kasi 8.5/10 untuk makanan luar jawa. Milu siram ini punya rasa yang sedikit manis tapi gurih, yang seingatku tidak ada di cita rasa jawa. 

Tiketnya gak dibolongin, tapi di sobek
Cerita menarik datang dari Medan. Aku sempat merasa sedikit takut saat mau mendarat di Kuala Namu, Medan. Pesawat yang kutumpangi berputar mengelilingi laut. Ada terbesit pikiran negative tentang bagaimana jika nantinya harus mendarat darurat di laut. Demi menghindari pikiran-pikiran aneh, aku mengalihkan pandanganku dari jendela dan kembali membaca novel yang kubawa. Setelah menapakkan kaki ke bumi lagi, aku bersama teman kantor langsung menuju ke stasiun bandara Kuala Namu buat menuju ke Medan. Keretenya bagus, bersih dan nyaman, kalau kata temen, mirip-mirip MRT. Ada harga ada rupa. Untuk sampai ke Medan, masing-masing dari kami harus mengeluarkan Rp80.000,00 untuk sampai ke Medan dengan lama waktu tempuh lebih kurang 1 jam.
Yummy durian's pancake

Selesai semua pekerjaanku di Medan, aku sempat berjalan-jalan mencari oleh-oleh khas Medan. Tujuan utamaku adalah pancake durian. Pancake yang rasanya Dureeeeeeennnnn sekali itu membuatku tak sabar ingin segera mencicipnya di Jakarta. Jadilah 2 pack pancake durian plus 2 pack titipan teman menambah bagasiku untuk pulang ke Jakarta. Sate Kerang titipan Mbak Kost juga menjadi tambahan bawaan dari Medan. 
Namun, ada yang mengesalkan. Setibanya di Hotel, aku sempat menitipkan pancake itu ke pihak hotel. Dan ternyata pancakenya gak dimasukkan ke dalam freezer seperti yang ku minta, padahal pancake durian tidak akan bertahan lama di luar freezer. Untungnya pancake itu telah di pack dengan menggunakan dus steroform yang membuatnya tetap dingin dan tetap yummy setibanya di Jakarta (hmm....jadi pengen lagi, kapan ya ada temen ke Medan, hohoho)

Berenang Bareng Ikan
Lepas dengan seabreg kegiatan disela-sela pekerjaan, aku juga menyempatkan diri untuk kondangan sekaligus main di Karanganyar, Jawa Tengah. Kondangannya di Karanganyar, main-mainnya di Ponggok, Klaten. Saat seorang teman menawarkan untuk bermain di Ponggok, berenang-renang dengan ikan air tawar, ku pikir Ponggok itu ada di jalan yang belum tersentuh dan tertutup gua. Ternyata Ponggok adalah sebuah pemandian umum, di pinggir jalan, yang memang menyediakan fasilitas untuk berenang-renang dengan ikan. Katanya air di Ponggok ini adalah air tanah yang keluar secara alami. Sayangnya waktu kesana, hujan turun dan membuat suasana makin dingin. Jadi aku tak bisa melanjutkan bermain-main dengan ikan-ikan ini (baca : aku sudah menggigil sebelum akhirnya kakiku kram).

Lagi Akur
Say "Cheese"
Dan, akhir dari perjalanan akhir tahunku adalah RUMAH. Ya, aku sempat pulang sebentar dan mengobrol di ruang makan bersama orang tuaku, sebelum akhirnya dirusuhi oleh dua sepupu kecilku. Sepupuku yang jadi bahan kesibukan Mamah di rumah dan jadi hiburan Bapak kalau pulang kerja. Dua bocah cilik yang nggemesin dan kadang bikin kesel karena keingintahuan mereka, tapi juga bikin kangen dengan suara cempreng khas mereka. 




Happy New Year 2015

Kali ini ada yang berbeda dalam "penghabisan" malam 2014 dan menyambut 2015. Pastinya berbeda. Tujuh tahun belakangan aku menghabiskan akhir tahunku di Jogja. Tidak selalu harus menghabiskan malam di 0 km bersama orang-orang yang memang sengaja buang waktu di lapangan terbuka sambil liat jedar jeder kembang api, tetapi yang jelas aku menghabiskan malam bersama teman sambil liat jedar jeder kembang api walaupun dari atap kosan (meskipun kemabang api yang terlihat adalah punya tetangga, dan bukan kembang api dari alun-alun kota yang gede-gede). Malam akhir tahun 2014 aku habiskan di Jakarta, dengan mbak-mbak kosan. Namanya di kosan, pastilah kami punya rencana buat menghabiskan malam tahun baru. Mulai dari masak-masak hingga maraton nonton film. 
Seperti biasa, sore tanggal 31 Desember biasa hujan turun dengan cantiknya. Hujan masih turun saat aku pulang dari kantor. Hujan, dingin dan lapar. "Sepertinya menyenangkan kalau ngemil-ngemil dulu, mungkin martabak telor hangat di depan kosan bisa menjadi solusi", pikirku saat itu. Jadilah aku sedikit merelakan diri berhujan-hujan untuk membeli 2 box martabak telur. Sambil nonton dan menunggu kiriman ayam bakar, kami ngobrol-ngobrol dan ngemil martabak telor itu, dan tidak terasa dari 2 box martabak telor  cuma tersisa 2 potong martabak. 

Saat maghrib, ayam bakar pesanan kami pun sampai. Acara masak-memasak pun dimulai. Kami berencana hanya membuat sambal,  lalapan, cumi goreng tepung dan sweet corn untuk camilan sambil menunggu pergantian tahun. Ibu kost menyumbangkan sup dagingnya (yang aku pun belum sempat cicipi). Rencana kami, setelah makan kami akan marathon movie. 

Rencana tinggal rencana. Godaan kasur empuk dan selimut tebal di tengah hawa dingin membuatku beranjak dari "bioskop dadakan" dan "nglengkuer" di kasurku. Walaupun begitu, aku tak mau ketinggalan acara bakar-bakar kembang api, aku menyiapkan alarm untuk membangunkanku pukul 11.30 malam. 

Amunisi Kiriman

Malam itu, kami mendapat kiriman amunisi berupa 4 batang kembang api ukuran sedang dan 1 kembang api ukuran besar. Namun, karena tak satupun dari kami pernah bermain kembang api ini, kami mencari bala bantuan untuk menyalakannya. Walaupun belum menunjukkan pukul 12 malam, tetapi jedar-jeder kembang api sudah marak. Beberapa orang sengaja keluar untuk menikmati kembang api gratis. Kami berempat, clingak clinguk mencari orang yang dirasa bisa dan sanggup untuk menyalakan kembang api kami. 


Gada tanah pager pun jadi
Lalu kami menghampiri kerumunan warga dan menanyakan siapa tahu dari mereka bisa menyalakan amunisi-amunisi ini. Kami berempat hanya bengong sembari melihat kembang api tersebut dinyalakan. Bersorak ketika percikan-percikan api itu meledak dan menimbulkan warna-warna cantik di udara meninggalkan bau khas kembang api. Kemudian sampailah kami pada kembang api yang paling besar. Bapak-bapak yang kami mintai pertolongan juga sempat bingung bagaimana harus menyalakan kembang api tersebut. Yang jelas, kembang api tersebut tidak boleh dipegang tangan dan harus ditancapkan di tanah. Beginilah susahnya orang kota. Rumah kosan kami ada di kompleks perumahan jadi agak sulit menemukan lokasi terbuka yang bisa menacapkan kembang api. Agak sedikit ragu, seorang warga berinisiatif untuk mengaitkan kembang api tersebut ke sebuah pagar pekarangan kosong. Tapi, whoops...ternyata bukannya meledak ke tepat atas, setelah kembang api ke 3 si kembang api malah meledak ke samping. Untung saja percikan api gak sempat membakar apa-apa di kanan kirinya. 

Yah, apapun itu, sebenernya main kembang api di kompleks perumahan itu mengandung bahaya (*sok bijak*). Tapi gimanapun juga, ini adalah tahun baru di kota yang baru *sigh.


Itu kembang apinya di depan, Mbak, malah foto2


"Pak, nyalain kembang api saya bisa, pak??"