Hujan
hari itu serasa tidak akan pernah berhenti. Sedari pagi matahari sudah malas
menampakkan sinarnya walau sebentar saja, membuat hari yang malas bertambah
malas. Tak banyak yang kukerjakan di kantorku hari itu. Januari, belum banyak
kegiatan yang dilaksanakan. Aku hanya membereskan dokumen-dokumen pekerjaan
tahun lalu yang morat-marit di mejaku serta menyusun rencana-rencana kegiatan
di tahun ini. Hal yang sebenarnya bisa dikerjakan dalam waktu singkat, jika
tidak malas.
Hujan
mulai turun siang itu. Dari gerimis kecil-kecil yang membasahi jendela hingga
menjadi siraman-siraman air yang terbawa angin terhempas ke jendela dan
dinding, menimbulkan suara yang khas. Aku sedikit melongok ke bawah. Jalanan
lumayan lengang. Beberapa mobil melintas satu-satu dalam beberapa menit. Rupanya
orang malas keluar di cuaca seperti ini. Kopi yang semula berasap mulai
kehilangan panasnya setelah setengah jam disajikan, membuatku tak berminat lagi
meminumnya.
Menjelang
malam, hujan malah semakin deras. Daun pohon-pohon palem bergoyang menandakan
derasnya hujan yang turun. Jalanan mulai ramai meski tidak padat seperti
layaknya jam pulang kantor. Hanya mobil-mobil yang mengantre untuk berbalik
arah. Jarang sekali motor yang melintas. Ah, siapa pula yang mau berbasah-basah
ria menaiki motor di tengah dingin hujan. Akupun malas beranjak. Di cuaca
begini aku malas harus berjalan kaki dan berbecek-becek ke terminal dan
menunggu bus yang mengantarku pulang. Aku menunggu dan berharap hujan mereda
hingga aku bisa pulang. Pulang, rasanya aku malas sekali pulang. Pulang berarti
mengingat semua masalahku. Pulang berarti menghadapi masalah lain dalam
hidup. Di kantor, masalah-masalah
tersebut seolah lenyap tertutup beragam pekerjaan dan cerita dari teman.
Malam
makin gelap. Hujan tetap saja riuh, meskipun tanpa angin yang menerpa. Malam
itu aku memutuskan untuk pulang, tidak nyaman juga rasanya harus pulang terlalu
malam. Kali itu angkutan tidak terlalu ramai penumpang. Mungkin orang-orang
lebih memilih naik taksi daripada hujan-hujanan nunggu bus yang lewat, belum
lagi bonus terciprat air hujan dari kendaraan yang lewat.
Lewat
pukul sembilan malam aku sampai di rumah. Pagar hitam besi telah terkunci meski
belum digembok. Hujan gerimis masih saja turun meskipun tidak sederas sore tadi.
Langkahku gontai menuju pintu kayu yang dibiarkan tanpa pelitur itu. Pintu
tidak terkunci, berarti Ibu belum tidur. Raut lelah tak bisa ku sembunyikan
dari wajahku.
“Kok
malam sekali, Nduk, pulangnya,” Tanya Ibu yang kala itu telah selesai
membereskan meja makan.
“Hujan
Bu,” kataku sambil menutup pintu kamarku. Rasa lelah dan semua permasalahan
tiba-tiba menyerang. Ingatan buruk cerita yang telah lalu masih saja
membayangi. Aku merebahkan diri di kasur tanpa dipan tanpa mengganti bajuku
terlebih dahulu. Tas selempang yang aku kenakan aku singkirkan di tepian kasur.
“Mandi
dulu, Nduk. Itu di termos ada air panas buat mandi kamu. Tadi kamu kehujanan,
tho? Cepet sana mandi biar gak sakit,” kata Ibu dari luar kamarku.
Perlahan
aku melangkahkan kaki keluar dari kamarku menuju kamar mandi. Ibu masih uplek di dapur, entah menyiapkan apa.
Ember sudah ada di kamar mandi. Termos air yang seharusnya ada di dapur pun
telah berpindah ke kamar mandi. Ibu telah menyiapkan semuanya. Cepat-cepat aku
mandi. Aku tak suka mandi malam hari. Rasa dingin akan menyerangku selepas aku
mandi meskipun aku telah menggunakan air panas untuk membasuh tubuhku.
Selesai
mandi, aku dapati Ibu sedang menaruh segelas teh hangat untukku.
“Teh
anget, Nduk,” katanya tersenyum.
“Nggih,
Bu,” jawabku sebelum menyeruput teh yang dibuat untukku. Rasanya pas, tidak
terlalu panas ataupun terlalu dingin. Tidak terlalu manis yang membuat
tenggorokan sakit, tidak juga hambar.
Ibu
tidak beranjak dari kamarku. Mata tuanya masih memperhatikanku, seolah meyakinkan
dirinya bahwa anaknya telah dewasa dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
Ibu tidak pernah banyak bertanya. Namun, di matanya terbesit banyak pertanyaan
yang tidak terucap. Aku merebahkan diri di kasur.
“Kamu
pasti capek sekali ya, Nduk,” kata Ibu sambil duduk di tepian kasur. Tangannya
perlahan membelai kepalaku.
“Enggak
kok, Bu” kataku mencoba menyembunyikan masalahku.
“Oalah,
Nduk. Meskipun kamu bilang begitu, Ibu juga paham. Gusti ora sare, Nduk. Semoga
apa yang kamu inginkan, kamu panjatkan di setiap doamu dikabulkan. Ibu cuma
pingin kamu bahagia, Nduk. Ibu mana yang nggak sakit lihat anaknya sakit, Ibu
mana yang nggak bahagia kalau anaknya juga bahagia,” kata Ibu sambil tetap
mengusap kepalaku.
Aku
tersenyum, mencoba menghapuskan segala keresahan di wajah Ibuku.
“Iya,
Bu. Aku baik-baik aja,”
“Ya
sudah. Istirahat,” kata Ibu saat beranjak dari kasurku.
“Bu.
Ibu tidur sini, ya malam ini. Udah lama kita nggak cerita-cerita sebelum
tidur,” kataku menahan Ibu saat akan menutup pintu kamar.
Hujan
beserta angin mengamuk lagi di luar, memukul-mukul jendela di rumahku. Kilat
menyala disertai petir menambah suramnya malam itu. Namun, cerita yang mengalir
dari ibu dan anak di kamar dua kali tiga itu mampu menghangatkan suasana. Tidak
ada dingin menusuk yang kurasakan malam itu. Segelas teh hangat dari Ibu mampu
menghangatkan badanku. Sepenggal cerita dari Ibu mampu menenangkan hatiku. Dan
belaian dari Ibu mampu melelapkan tidurku.
Buat
Mamah,
Jakarta, 10 Januari 2015


.jpg)


