Aku duduk lagi di pojok ruang tunggu itu. Aku malas
menanti keretaku dari dalam peron, aku memilih duduk di ruang tunggu luar, di
satu sudut stasiun itu. Tidak ada cinta. Tapi cinta pernah duduk di sampingku.
Aku pernah menyandarkan kepala kantukku padanya karena menunggu kereta paling
malam. Tidak malam ini. Malam ini tidak ada cinta.
Aku duduk sendirian. Satu tas punggung dan satu tas berisi
novel bersandar di kursi sebelahku. Aku menunggu kereta sambil membaca,
mengamati orang-orang disekelilingku lalu lalang dengan barang-barangnya
kemudian membaca lagi. Tak ada obrolan kali ini. Tak ada cinta maka tak ada
obrolan.
Lima belas menit sebelum keberangkatan. Aku masuk ke peron
menunggu kereta. Aku menutup novel yang tengah ku baca, memasukkannya ke dalam
tas jinjingku. Menyiapkan tiket, dan kartu pengenalku. Aku berdiri melihat
sekilas tempat yang tadi aku duduki. Aku memasuki peron. Tidak ada kecupan dan
lambaian. Tidak ada cinta yang mengantarku malam ini.
Keretaku berjalan pelan meninggalkan stasiun. Semakin lama
semakin cepat. Lalu keretaku meninggalkan kotaku. Tidak juga ada satu pesan pun
yang kuterima dari cinta. Aku melihat sekelilingku. Satu keluarga bahagia
dengan 3 gadis kecilnya. Aku mengamati sekelilingku, kemudian aku membaca
novelku. Masih saja tak satu pun pesan kuterima. Aku melanjutkan membaca.
Hingga lelah lalu tidur di kereta. Tidak ada cinta dikereta itu. Tidak ada
cinta untukku.
Ruang Tunggu Stasiun Yogyakarta, 15 Nopember 2013, 22.45
No comments:
Post a Comment