Sunday, November 30, 2008
Kado Mungil dari si Kecil
“Hem, siapakah yang memberikan kado untukku pada hari yang bukan special” batinku. Selembar surat pun tertempel di atasnya. Setelah ku baca baru ku tahu siapa dan kenapa.
Wita, ingatanku pada anak ini adalah fisiknya yang tidak begitu kuat. Saat ospek beberapa kali terpaksa beristirahat di “sarang” panitia. Tapi kenapa aku? Aku hanya membantu panitia lain yang bertugas di p3k. Entah, aku tidak mau memikirkannya terlalu jauh. Apa yang dia berikan ku anggap sebagai ketulusannya berterimakasih. Dan untuk itupun aku berterimakasih padanya karena mengingatku tanpa ku harus mengingatkannya untuk ingat padaku. Satu pilihan yang dia buat pada hidupnya.
Ingatanku kemudian beralih pada Dila, Anggi (atau Angun?!)dan Sufyan. Ketiganya adalah adik angkatku. Memang di acara ospek ini setiap mahasiswa baru harus mempunyai 4 kakak angkat dari panitia. Dan panitia mempunyai adik angkat maksimum 5. Adik angkatku yang lain adalah Ajeng dan Anggun. Sebagai kakak angkat seharusnya mempunyai suatu kewajiban untuk mendukung adik-adiknya dalam kehidupan barunya. Menceritakan pengalaman, saran demi kemajuan mereka. Bukan hanya sekedar untuk menjadi seorang kakak yang seusai acara cuek terhadap apa yang telah disepakati.
Menjadi kakak adalah menjadi panutan, menjadi contoh yang baik. TIap orang memang tidak pernah sempurna dan memiliki kesalahan. Namun, kesalahan itu tdak perlu dicontohkan yang membuat si adik menjadi bersikap sama dan mengulangi kesalahan kakaknya. Dan mungkin petuah itu adalah satu kado lain untuk renungan adik-adikku menjadi dewasa.
Saturday, November 29, 2008
Wibawa tak pernah sama dengan sombong
Kesombongan hanya akan menyisakan sisi perih hidup manusia dimana orang tunduk padanya hanyalah seorang penjilat pencari kekuasaan. Apa yang harus disombongkan atas hidup yang bukan sepenuhnya milik kita. Atas suatu kekuasaan yang diamanatkan pada kita.
Bibit-bibit itu kembali muncul bagai jamur di musim hujan. Mereka ada dan tertanam, pada suatu saat mereka akan muncul, tumbuh dan melepaskan sporanya untuk tumbuh di tempat lain. Bibit-bibit kesombongan itu.
Seorang anak tanpa dosa pun akan belajar banyak dari orang tuanya. Jika orang tuanya mengajarkan dia dengan penuh kasih, niscaya dia akan belajar mengasihi. Namun, jika orang tuanya mengajarkannya dengan kesombongan, dia akan tumbuh menjadi orang yang tingi hati dan bangga diri.
Haruskah aku menjadi orang yang bukan diriku? Ketika orang-orang tidak ada yang di pihakku aku tetap berdiri di satu pihak yang ku anggap itu benar. Aku tetap memilih menjadi orang besar dengan caraku sendiri.