Baru kali ini gw kena cacar. Penyakit yang temen-temen gw bilang "penyakit SD", karna biasanya penyakit ini nyerang anak2 SD.
Sebenernya cacar bukan penyakit yang "menyakitkan" tapi cukup menyengsarakan. Gw masih isa lari-lari walaupun di awal sakit ini gw sempet demam dan puyeng yang kalo jalan kek orang mabok. Kepala rasanya berat. Tapi setelah 3 hari demam tinggi, demamnya turun dan sebenernya gw masih isa lari-lari dan terlihat sangat sehat kalo gak liat benjolan-benjolan kecil (kira-kira segede kacang ijo) berisi air yang tumbuh di muka gw.
Kebetulan cacar gw ini tumbuh di muka, kepala dan badan gw. Paling banyak di kepala sama di muka yang bikin muka gw mirip banget kek nenek sihir. Di kepala bikin gw gak isa tidur. Kalopun tidur berasa bantalnya gak rata (dalam bahasa jawa grenjul-grenjul).
Dokter bilang gw gak boleh ngampus dolo, gak boleh keluar-keluar dulu. Boleh mandi asal jangan di kletekin cacarnya, biar lepas ndiri. Gw mulai kena cacar hari Selasa minggu lalu dan sekarang udah selasa lagi. Satu minggu full gw gak keluar-keluar. Adalah rekor terbesar gw gak keluar maen ataupun sekolah bahkan ngalahin waktu gw dulu kena gejala tifus waktu SD.
Huff...kangen maen-maen lagi. Kangen jalan-jalan sama si oren lagi. Kangen nikmatin angin dari atas motor lagi. Kangen keluar dari kosan....aaarrrhhhhh....
Tuesday, April 20, 2010
Wednesday, April 7, 2010
Saya, Aku, Gue, Inyong
"Kenapa sekarang ini banyak orang non Jakarta yang ngomong pake gue elu, walaupun ngomongnya masih medok jawa. Gue elu itu biar orang Betawi aja yang pake."
Dimana salahnya seseorang yang menggunakan kata gue-elu untuk menyatakan aku-kamu dalam percakapan sehari-hari jika seandainya dia bukan orang Jakarta atau tinggal di Jakarta? Memang terdengar sangat aneh di kuping jika ada seseorang dengan medok jawanya atau ngapaknya menggunakan gue-elu dalam percakapan. Tapi dimana salahnya?
Dengan alasan apapun, tak pernah ada salahnya seseorang memakai bahasa apapun dalam percakapan asalkan yang diajak bercakap-cakap mengerti. Bahasa adalah media berkomunikasi. Komunikasi yang baik adalah komunikasi bisa dimengerti satu sama lain. Bukan masalah bahasa apa yang digunakan dalam percakapan tersebut.
Gw adalah salah satu pengguna bahasa "gue-elu". Terbukti kebanyakan dari tulisan gw menggunakan kata gw untuk menunjukkan kata ganti orang pertama, bukan aku, saya, beta atau inyong. Gw bukan orang Betawi, tidak tinggal di Jakarta. Bahasa daerah gw adalah Inyong. Gw lahir di kota yang menggunakan "bahasa ngapak" dalam kesehariannya.
Gw gak malu pake bahasa ngapak. Gw memilih kata "gw" disini karena gw pikir kata itu adalah kata yang paling mewakili apa yang aku, sebagai seorang individu, rasakan saat menulis atau mengalami peristiwa atau memikirkan sesuatu hal, bukan aku, saya atau inyong.
Ketika temen gw bilang "gw-elu buat orang Jakarta aja," diri gw berontak. Kenapa mesti dibedakan begitu? Kenapa mesti dikhususkan begitu? Kalau iya, "Inyong Siaran" tidak akan pernah ada di Jogjakarta. Lagu "Okelah kalau begitu" tidak akan pernah populer.
Yang gw sayangin terkadang orang yang bicara dengan bahasa yang bukan bahasa induknya terkesan dibuat-buat. Kadang gw mikir dia nge-sok. Kesan lain dia merendahkan bahasa itu.
Tulisan ini sama sekali gak bermaksud menyinggung sara atau sejenisnya. Hanya unek-unek yang keluar dari beberapa patah kata yang sempat terucap dari bibir seorang teman semalam.
Dimana salahnya seseorang yang menggunakan kata gue-elu untuk menyatakan aku-kamu dalam percakapan sehari-hari jika seandainya dia bukan orang Jakarta atau tinggal di Jakarta? Memang terdengar sangat aneh di kuping jika ada seseorang dengan medok jawanya atau ngapaknya menggunakan gue-elu dalam percakapan. Tapi dimana salahnya?
Dengan alasan apapun, tak pernah ada salahnya seseorang memakai bahasa apapun dalam percakapan asalkan yang diajak bercakap-cakap mengerti. Bahasa adalah media berkomunikasi. Komunikasi yang baik adalah komunikasi bisa dimengerti satu sama lain. Bukan masalah bahasa apa yang digunakan dalam percakapan tersebut.
Gw adalah salah satu pengguna bahasa "gue-elu". Terbukti kebanyakan dari tulisan gw menggunakan kata gw untuk menunjukkan kata ganti orang pertama, bukan aku, saya, beta atau inyong. Gw bukan orang Betawi, tidak tinggal di Jakarta. Bahasa daerah gw adalah Inyong. Gw lahir di kota yang menggunakan "bahasa ngapak" dalam kesehariannya.
Gw gak malu pake bahasa ngapak. Gw memilih kata "gw" disini karena gw pikir kata itu adalah kata yang paling mewakili apa yang aku, sebagai seorang individu, rasakan saat menulis atau mengalami peristiwa atau memikirkan sesuatu hal, bukan aku, saya atau inyong.
Ketika temen gw bilang "gw-elu buat orang Jakarta aja," diri gw berontak. Kenapa mesti dibedakan begitu? Kenapa mesti dikhususkan begitu? Kalau iya, "Inyong Siaran" tidak akan pernah ada di Jogjakarta. Lagu "Okelah kalau begitu" tidak akan pernah populer.
Yang gw sayangin terkadang orang yang bicara dengan bahasa yang bukan bahasa induknya terkesan dibuat-buat. Kadang gw mikir dia nge-sok. Kesan lain dia merendahkan bahasa itu.
Tulisan ini sama sekali gak bermaksud menyinggung sara atau sejenisnya. Hanya unek-unek yang keluar dari beberapa patah kata yang sempat terucap dari bibir seorang teman semalam.
Subscribe to:
Posts (Atom)