Friday, January 25, 2013

Katakan Saja

Katakan saja. Aku selalu disini untuk membantumu. Aku temanmu.
Katakan saja. Aku tak tahu isi hatimu. Aku tak akan pernah bisa menebaknya.
Katakan saja. Aku hanya melihat kau gundah akhir-akhir ini.
Katakan saja. Sepertu biasanya kau menceritakan padaku.
Katakan saja. Aku akan mendengarmu. Aku sahabatmu.
Katakan saja. Mungkin akan sedikit melegakanmu.
Aku katakan, aku hanya ingin melihat senyummu kembali.

Wednesday, January 23, 2013

Surat Biru

Aku sedang galau. Entahlah. Semalam tidurku tak nyenyak. Saat aku sepenuhnya tersadar aku melihat beberapa remasan kertas bertebaran di lantai kamarku serta sebuah pena dan kertas putih belum tersentuh di meja kerjaku. Aku ingat, sebenarnya aku ingin menulis padamu.

Aku mencoba mengingat mimpiku semalam. Tentang apa aku tak ingat yang aku ingat hanya wajahmu. Wajah yang sama yang membuatku terjaga beberapa kali semalam dalam keadaan lemas. Mimpi yang berulang tiga kali semalam.

Kopi pagi ini tak juga bisa menenangkanku. Aku bahkan tak lagi berharap menemui canduku untuk meringankan fikiranku. Aku ingin bertemu, kamu. Mungkin sedikit bicara padamu menyakinkanku tak ada kejadian buruk menimpamu.

Sisi lain membuatmu diam. Perkataanku yang mungkin sedikit mengejutkanmu. Aku tahu sepertinya aku menghancurkan semuanya. Aku bahkan tak bisa lagi merangkai kata yang kiranya membuatmu kembali mengerti. Maaf. Kata yang tak mudah keluar dari mulutku tapi itu yang ingin ku ucap. Aku hanya tak bisa ungkapkan alasanku mengatakan maaf padamu. Aku hanya takut terbawa perasaan, hal yang sangat tak kupahami.

Aku selalu bilang aku benci hal ini. Aku membenci bila perasaanku mulai bicara. Otakku berhenti, mulutku bicara tak tahu arah. Aku hanya ingin kamu ada tetap seperti adanya dirimu. Aku pun akan begitu. Saat ini mungkin itu yang terbaik.

Ah sudahlah. Toh mungkin tulisan ini tak akan pernah kamu baca atau mungkin suatu saat dia akan menjadi remasan kertas lain yang tersebar di kamarku sebelum akhirnya masuk ke tong sampah. Kita lihat saja nanti.


Friday, January 18, 2013

Flashback

Ternyata saya menjadi blogger sudah hampir seusia kuliah saya. Mulai dari tahun 2006 saya sudah membuat blog, walaupun sempat berganti-ganti alamat karena lupa kata sandi untuk masuk ke blog itu.

Blog pertama saya ada di http://valoeries.blogspot.com/ Kenapa valoeries, mungkin karena saya saat itu masih merasa nama valoeries itu menyenangkan. Valoeries adalah nama gabungan saya dan kedua sahabat saya. Va dari Vanny, Loe dari Luthvia dan Rie dan Ria. Itu adalah awal saya bermain-main di dunia blogger. Isinya hanyalah curhatan awal seorang mahasiswa baru dan puisi-puisi konyol seorang anak lulusan SMA. Walaupun begitu sepertinya saat itu tidak ada syndrom alay jadi tulisan saya pun masih biasa saja. Saya menggunakan blog ini hanya 7 bulan dengan 10 kali posting yang berarti setiap bulan sekali saya posting. Saat ini blog ini masih belum bisa saya akses karena memang saya lupa kata sandi dan email dari blog ini. 

Blog kedua saya ada di http://birulangit-yuka.blogspot.com/ Kenapa biru langit, karena saya memang suka biru langit. Sepertinya sebelum ke alamat ini saya pun pernah menggunakan alamat wordpr*s. Namun, saya kesulitan untuk menggunakannya dan kembali pindah ke blogsp*t. Di alamat biru langit saya menggunakan nama yuka, sama seperti di valoeries. Nama yuka dipilih karena saya dulu pernah membaca komik dengan seseorang tokoh bernama yuna dan akio. Gabungan kedua nama ini yang membuat saya memilih nama Yuka untuk blog saya yang kedua. Di blog ini saya tidak bertahan lama tetapi cukup sering menulis. Saya menggunakan blog ini dari Juli 2007 hingga Mei 2008 dengan total 41 posting. Isinya, masih ada beberapa puisi (yang sebenarnya saya mulai iri karena saya rasanya sudah tak bisa lagi membuat puisi), tulisan-tulisan pengalaman saya dan beberapa hasil pemikiran saya dengan otak ala kadarnya saat itu. Sepertinya saat itu saya sedang tergila-gila dengan raditya dika, mengingat gaya tulisan saya yang hampir mirip dengannya, melihat suatu kejadian dari sisi yang konyol.

Lalu blog saya yang lain adalah yang saya pakai sekarang. Mungkin terlihat lebih formal akhir-akhir ini karena menggunakan kata ganti saya, bukan gw. Bukan tidak mungkin saya akan menggunakan gw lagi, tergantung apa yang mau saya ceritakan dan bagaimana harusnya saya menceritakannya.

Saya banyak belajar dari blog-blog saya. Mengenali perubahan apa saja yang terjadi pada diri saya selama ini. Mulai dari awal masuk kuliah, mengenal jogja, cara pandang hidup saya, kegiatan saya waktu itu dan pengalaman-pengalaman yang mungkin akan saya lupakan jika tidak saya tuliskan. Bahkan sebagian dari tulisan-tulisan itu khususnya puisi, saya tak ingat kenapa saya menulis itu dan apa maknanya. Tapi ya sudahlah. Itu adalah apa yang saya rasa saat itu dan saya bisa menilainya kini untuk menjadi lebih baik.

So, let's write.

Tuesday, January 8, 2013

Unpredictable Moment



Saya memang orang cilacap, tetapi ketika ditanya, "katanya nusakambangan itu bagus ya? Ada pantai pasir putihnya." saya hanya akan tersenyum dan menjawab "kebetulan saya belum pernah ke nusakambangan."

Karena malu selalu ditanya seperti itu, yang akan dilanjutkan dengan komentar "wah, orang cilacap kok belum pernah ke nusakambangan" jadilah saya punya cita-cita kapan kapan saya ingin ke nusakambangan.

Cita-cita itu sempat saya lupakan setelah peristiwa tsunami yang menghantam bagian selatan nusakambangan, dan status nusakambangan yang masih menjadi rebutan antara kementrian hukum dan ham serta dinas pariwisata. Ditambah lagi mama pernah berkata susah untuk masuk ke nusakambangan sekarang, karena harus ada ijin dan harus memiliki saudara di sana, padahal tak ada satupun saudara saya tinggal di daratan seberang Cilacap yang wilayahnya masih masuk kabupaten Cilacap itu.

Namun,kesempan itu selalu datang di saat yang tak terduga.  Tanggal 27 November yang lalu saya secara tidak direncanakan akhirnya datang ke sana bersama sahabat saya. Cerita bermula dari rasa kangen kami berdua terhadap makanan-makanan yang sering kami makan saat SMA dulu. Dimuali dari mi ayam depan SMA saya dulu dan berakhir di pantai teluk penyu hanya untuk mencari mendoan hangat yang pasti akan nikmat jika dimakan di pinggir pantai. Seingat saya dulu memang ada yang menjual mendoan di pinggir pantai. 

Kami tidak mendapatkan satupun penjual mendoan di pinggir pantai. Kami hanya mendapati serombongan orang yang mau naik kapal menuju ke nusakambangan. Saya berkata pada sahabat saya itu "Kok kayaknya enak ya ke nusakambangan. Kamu mau?" Awalnya kami sempat bingung dengan biaya sewa kapal. Siapa tahu mahal. Saya pernah dengar untuk sewa perahu harus membayar seharga 50 ribu. Akhirnya kami memberanikan diri untuk bertanya pada seorang bapak yang sepertinya mengkoordinir perahu yang akan menuju ke nusakambangan. Kami agak sedikit terkejut karena harga perorang untuk sampai ke nusakambangan hanya 15 ribu. Kami pun langsung menyetujui, padahal kalau saya pikir-pikir lagi sebenarnya masih bisa ditawar. 

Sekitar 15 menit kami berada di perahu. Perahu yang digunakan hanya perahu kecil dengan mesin diesel sebagai penggeraknya. Satu perahu terdiri dari 10 orang, kami berdua ditambah dengan rombongan keluarga dari daerah sokaraja. Kami duduk paling belakang. 



Hanya sebentar kami di nusakambangan. Kami hanya sempat masuk, membayar tiket seharga 5ribu per orang dan berjalan kira-kira 2 km dengan medan yang lumayan naik turun. Kami berdua sepakat mengikuti rombongan keluarga tadi, karena pulangnya pun kami harus bersama mereka. Kami tidak bisa lama-lama di nusakambangan karena batas waktu yang sudah ditentukan yaitu pukul 17.30 kami sudah harus kembali. Saat itu sudah menunjukan pukul 16.30, jadi kami hanya punya waktu 1 jam untuk menikmati pemandangan di nusakambangan yang katanya bagus. Lima belas menit berjalan, akhirnya sampailah kami ke tempat pertama. Saya lupa nama pantainya. Apabila naik ke atas sedikit lagi maka akan terlihat benteng yang konon merupakan terusan dari benteng pendem di dekat pantai teluk penyu. Karena batasan tenaga dan lebih lagi waktu, kami memutuskan untuk kembali ke pantai pertama sambil menunggu rombongan keluarga sokaraja tadi turun. Selain masalah waktu dan tenaga kami berdua merasa seram berada di beteng bekas jaman penjajahan Belanda dulu. 

Akhirnya rombongan keluarga Sokaraja turun dan menuju ke tempat perhentian kapal. Kami berdua mengikuti dari belakang. Mereka sempat menanyakan tentang diri kami, dan mungkin merasa sedikit heran bahwa kami adalah dua sahabat dari SD yang berbeda SMP, SMA dan tempat kuliah tetapi masih bisa sangat dekat. Sahabat saya memang kuliah di Depok sedang saya di Jogja. 

Sampai di tempat perhentian kapal, ternyata kapal  kami belum menjemput. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 17.15. Kami menunggu agak lama di sana. Hari sudah semakin gelap. Saat itu saya ingat untuk telepon ke rumah memberi tahu bahwa saya masih di nusakambangan. Saya tidak memberitahu orang rumah karena memang ini tidak direncanakan. Saya hanya berpamitan pergi bersama sahabat saya dan berjanji pulang sebelum maghrib. Saat itu sinyal di nusakambangan agak susah, jadi saya baru bisa memberitahu mama saat pulang dari nusakambangan.

Langit sudah terlalu gelap saat kami di jemput kapal yang sama seperti kapal yang membawa kami ke nusakambangan. Kami hanya bisa melihat lampu-lampu kapal sebagai titik-titik kecil yang indah. Waktu telah menunjukan pukul 17.45 ketika kami sampai di teluk penyu lagi. Kami segera membayar sewa perahu dan pulang. 











Wednesday, January 2, 2013

Susu jahe

Aku tak pernah menyukai jahe. Baunya yang cukup tajam dan rasanya yang pedas membuatku kurang begitu menyukainya. Walaupun jahe telah dicampur susu yang manis aku tetap tak menyukainya. Sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Kamu yang pertama kali mengenalkanku akan nikmatnya susu jahe. Bukan berarti aku kini menjadi penikmat jahe sepertimu. Aku tetap aku yang dulu walalupun kini aku tak akan menolak mentah-mentah minuman dengan campuran jahe di dalamnya.

Dinginnya malam dan hujan akan selalu mengingatkanku tentang susu jahe yang kemudian merambat tentangmu. Aih, mengapa aku sekarang jadi memikirkanmu. Kamu sahabatku, akan tetap menjadi sahabatku selama kamu tak memintanya. Namun, bila kamu meminta aku pun masih tak tahu apa jawabanku. Tak perlulah memikirkan tentang perasaan orang lain yang tak ku tahu. Kamu teman dekatku dan mungkin akan tetap begini. Ini yang terbaik.
Hujan selalu memberiku kenangan manis. Begitupun kenangan bersamamu. Kenangan-kenangan itu tercipta saat hujan.
Seperti susu jahe yang nikmat dinikmati malam hari saat hujan, kenangan bersamamu juga senikmat itu.