Wednesday, October 26, 2011

Arem-arem Isi Penasaran

Suatu pagi pada saat pelatihan speak up

Teman : "Ini isinya apa ya?" Sambil memungut isi dari dus snack yang diberikan
Gw : "Paling arem2, klo gak ayam ya sayur"

Satu gigitan dia makan, tetapi si arem2 belum menunjukkan isi dalemannya. Gw yang tadinya gak tertarik menjadi penasaran dengan isi si arem-arem (karena kebetulan saaat itu perut gw juga sudah bernyanyi)

Gw : "Gigit lagi, keknya isinya masih di dalem tuh,"
Gigitan kedua juga belum menampakkan tanda-tanda isi si arem-arem. Gw terus ngeliatin dan ngasih semangat temen gw buat makan arem-arem itu. Sampai akhirnya pada gigitan keempat.

Teman : "Ini gigitan terakhir, lu mau bilang isinya masih di bawah lagi. Habis ini yang ada cuman daonnya,"
Ternyata memang benar arem-arem temen gw gak ada isinya. Sepertinya memang sang pembuat arem-arem lupa menaruh isinya, karena temen yang lain menunjukkan isi arem-aremnya.

Arem-arem gw? Gw tinggalin di atas meja, karena gw pergi sebelum sempet makan arem-arem itu.

Soal speak upnya, gw suka pembicaranya cuman pemandunya bikin bosen, panitianya gak bisa bikin acara itu lebih menarik.

Sunday, October 16, 2011

Belajar Memimpin

Gw percaya tiap orang ditakdirkan menjadi pemimpin. Tiap orang wajib memimpin dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dalam hidupnya.

Jadi pemimpin itu gak gampang. Apalagi mimpin orang lain, memimpin diri sendiri gw rasa juga cukup berat. Mulai dari mendisiplinkan diri, tau mana yang menjadi prioritas dan menjalankannya. Gw terkadang masih suka bandel dengan aturan-aturan hidup yang gw bikin sendiri.

Kalo jadi pemimpin buat orang lain idealnya orang tersebut udah isa memimpin dirinya dengan baik dulu. Tapi seperti teori lain, keadaan ideal itu sangat jarang ditemui atau bahkan nyaris gak mungkin terjadi. Seorang pemimpin harus mampu menilai mana yang lebih prioritas, mengambil keputusan dengan cepat dan satu hal lagi bisa bersikap profesional. Salah satu sikap profesional yang isa terlihat dari seorang pemimpin adalah isa mengontrol diri baik ucapan maupun berbuatan.

Harusnya seorang pemimpin isa dengan lugas memilih mana yang baik dan mana yang salah. Bisa dengan cepat mengambil keputusan dan meraih kesempatan yang jarang ada. Seorang pemimpin juga harusnya isa bersikap optimis dan memberikan semangat pada anak buahnya ketika mereka terjatuh. Gw pikir hal itu harus dimulai dari sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila dia masih belum tau mana yang menjadi prioritas untuk dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa mengambil kesempatan yang mungkin ada.
Bagaimana mungkin seseorang dihaapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa menyemangati dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dan hanya pasrah dengan keadaan
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila kata-kata "ya memang tidak mampu" kerap keluar dari mulutnya tanpa usaha untuk memperbaiki diri.
Dan terahir, bagaimana mungkin seseorang yang tak tahan kritik diharapkan untuk menjadi payung bagi anggotanya.

Gw pikir, gw masih termasuk salah satu di antaranya. Gak pernah ada salahnya sesekali bercermin dan menilai diri sendiri, "sudah mampukah gw untuk menjadi pemimpin buat diri gw sendiri?"

Saturday, October 15, 2011

Kenapa Takut?

Kenapa takut kalau memang benar. Dalam kasus yang bakal gw ceritain kali ini lebih cocok kalo kalimat tadi gw ganti dengan "kenapa takut kalo emang ngerasa mampu".

Kita ambil contoh mudah, ketika kamu memang merasa mampu di bidang matematika, ujian matematika tentunya bukan suatu hal yang menakutkan. Tidak akan pernah ada kata "kenapa mesti ada ujian matematika? Ini tidak adil buatku," akan terucap dari mulut seseorang yang memang mampu di bidang matematika.

Suatu kompetisi menjadi tidak fair ketika seseorang yang bukan di bidang matematika ditandingkan di bidang matematika tanpa sepengatahuannya. Kompetisi menjadi tidak fair ketika seorang anak SD disuruh berlomba dengan anak SMA dengan materi yang baru disampaikan di SMA.

Jadi, kenapa mesti takut dikompetisikan kalau memang mampu. Kenapa mesti harus mengandalkan menjadi calon tunggal. Kenapa mesti harus takut untuk bertanding. Gw rasa orang yang bilang "ini gak fair buat kami" adalah orang yang takut melihat kekalahannya. Dengan kata lain dia tidak bisa menerima kekurangannya. Orang tersebut adalah seorang pengecut, dan biasanya seorang pengecut tak lebih dari seorang pencundang. Jadi, Kenapa Takut?

Saturday, October 8, 2011

Curcol Saya Hari Ini

Memahami perbedaan makna mungkin agak sulit bagi sebagian orang. Saya sendiri terkadang mengalaminya. Contohnya, tidak menyiarkan bukan berarti menutupi. Anggaplah keluarga anda sendiri memiliki suatu cacat, bukankah cacat tersebut tak perlu ditutupi ataupun di siarkan pada semua yang tak berkepentingan. Sebuah organisasi juga teradang memiliki kekurangan, tetapi jika kita akan melalukan promosi tentang suatu organisasi bukankah tak perlu untuk menyebarluaskan kekurangan organisasi tersebut? Logikanya adalah jika kita melukan suatu promosi, kita akan mengajak seseorang dengan memperlihatkan daya tarik yang dimiliki organisasi tersebut, bukan malah menyebarkan kekurangan organisasi yang bersangkutan. Kekurangan tersebut seharusnya hanya menjadi problem anggotanya untuk diselesaikan dan dicari jalan keluar yang terbaik.

**ungkapan kekecewaan seorang 'mantan' anggota organisasi tersebut**