Pulang. Aku pulang ke kotamu, ke kotaku, ke kota kita. Aku pulang
membawa segudang cerita untukmu. Aku pulang dengan antusias untuk mendengar
lagi ceritamu. Di benakku sudah terbesit pikiran untuk memelukmu ketika nanti
aku melihatmu. Aku hanya memastikan bahwa kau memang benar adanya. Kamu adalah
nyata.
Sehari sebelum kepulanganku aku memberimu kabar, memintamu untuk
menjemputku seperti yang dulu pernah kau lakukan. Lalu kau pun ada di sana,
menungguku kepulanganku. Dua detik adalah waktu yang cukup untuk mengambil
tasku dan berjalan padamu. Aku membutuhkan waktu lebih dari itu. Dua detik
adalah waktu yang cukup untuk duduk nyaman di belakang punggungmu. Dan aku
membutuhkan waktu lebih dari itu untuk hanya untuk berdiri di sampingmu melihat
detail wajahmu.
"Yuk, mau makan dulu atau langsung pulang?" tanyamu.
"Aku laper, makan dulu yah, tadi masih males makan,"
jawabku.
"Kamu gak mau meluk aku?" Tersenyum sambil memasktikan
aku sudah nyaman dan aman duduk bersamamu. Gaps. Tebakanmu tepat dan membuatku
mengurungkan niat untuk memelukmu.
Kamu membawaku menuju angkringan kesukaanmu. Angkringan yang
katamu enak buat ngobrol tanpa menguras dompet. Mbak pelayan menyapa kita
ramah, salah satu yang sangat aku rindukan di kota ini.
"Minumnya mau apa?" tanya si Pelayan ramah.
"Es teh," jawabku cepat.
"Jangan. Kamu kedinginan. Teh anget aja dua. Satu manis satu
tawar, ya" katamu.
Kamu masih tetap sama. Teh tawar hangat menjadi pilihanmu tiap
kali makan bersamaku. Perhatian kecilmu juga masih seperti dulu. Kamu tahu aku
agak tidak mempedulikan kondisi badanku yang kedinginan terkena angin malam.
Kamu memberiku piring kecil untuk meletakkan lauk-lauk yg akan
kita santap nanti. Sate usus menjadi favoritku disini. Aku merindukan
makanan-makanan manis khas kota ini, salah satu yang faktor yang membuat kota
ini semakin manis untukku.
Aku mengikutimu duduk di salah satu meja di sudut angkringan. Aku
memilih duduk bersebelahan denganmu walaupun aku harus berkali-kali menolehkan
kepalaku untuk melihatmu.
“Gak makan?” tanyaku.
“Gak, aku makan lauknya aja,” katamu.
“Cerita dong. Aku pengen denger ceritamu,” pintaku.
“Cerita apa,” katamu datar sambil mulai menyomot pecel dari
piringku. Jawaban yang selalu kamu keluarkan ketika aku memintamu untuk
bercerita. Kamu tahu aku sangat menikmati ceritamu.
“Apa?” katamu saat aku memandangmu lebih lama dari yang
dibutuhkan. Aku menggelengkan kepalaku. Sebenarnya aku tidak suka membiarkankan
hening ada diantara kita.
“Dari pada kita diem-dieman gini, kamu yang cerita. Ada yang
baru?” tanyamu kalem, memancing reaksiku. Gaps kedua.
“Bukannya kamu yang punya. Aku masih sama,” kataku. Ada nada
bicara yang tak pernah bisa aku kontrol jika membicarakan hal ini denganmu. Aku
masih tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukaku.
“Udah makan dulu, gimana Jakarta?” katamu. Kamu selalu bisa
mengatasi masalah ini dengan cepat. Mengatasi atau mengalihkan pembicaraan ini.
“Sama siapa lagi kamu sekarang,” jawabku.
“Udah. Gak usah dibahas. Ga usah mancing. Entar kamu cemburu
lagi,” katamu sambil tersenyum. Gaps ketiga. Aku mulai curiga kamu bisa membaca
pikiranku Ataukah memang tulisan “aku cemburu” ada di dahiku dan kamu bisa
membacanya dengan jelas.
Aku mau membalas ucapanmu saat Mbak Pelayan mengantarkan 2 potong
ayam bakar pesanan kita. Setelah si Mbak Pelayan pergi aku mulai membanjirimu
dengan semua yang aku dengar tentangmu setelah aku tak lagi bersamamu. Semua
cerita yang aku dengar aku sampaikan lagi padamu walaupun itu membuatku sesak
dan sulit bernafas. Kemudian perlahan-lahan kamu menghilang. Aku tidak ada di
kotamu. Aku tidak ada di kota kita. Aku berada di kamarku jauh dari kota kita. Aku
terbangun sendiri. Saat aku sepenuhnya sadar, aku mendapati diriku di atas
kasur kamarku terengah-engah menahan semua rasa yang bergolak.
“Jangan ngelamun,” katamu membuyarkan lamunanku. Aku menggelengkan
kepalaku perlahan. Membuang jauh mimpiku. Aku sadar akhir-akhir ini aku
memimpikanmu. Aku mengubah pikiranku. Aku tidak mau menceritakan padamu
cerita-cerita yang pernah aku dengar tentangmu. Aku tidak mau kamu tiba-tiba
menghilang dan aku terbangun sendiri di kamarku. Setidaknya tidak secepat ini.
Aku masih mau melihatmu. Aku masih mau bersamamu.
Aku mengalihkan pembicaraan kita yang sempat tertunda tadi.
Menceritakan pekerjaan adalah hal yang aman bersamamu. Aku tidak akan khawatir
kita bertengkar hanya masalah pekerjaanku ataupun pekerjaanmu. Kamu pun akan
bebas bercerita padaku. Hingga malam sudah dirasa terlalu larut, kau mengajakku
untuk pulang. Aku memang butuh istirahat setelah perjalanan yang kutempuh. Kali
ini aku memeluk pinggangmu erat. Rasanya masih sama seperti dulu, saat aku
sering melakukannya.
Kemudian kamu perlahan menghilang. Setidaknya kali ini, kalaupun
besok aku terbangun sendiri di kamarku jauh dari kotaku, mimpiku malam ini
berakhir bahagia. Aku lalu mengambil hpku dan mengirimkan pesan padamu.
Setidaknya jika pesan itu benar adanya aku tahu kali ini aku tak bermimpi.
'Nice Dream.'
19 September 2014
Garuntang, Bandar Lampung
No comments:
Post a Comment