Monday, September 8, 2014

Chapter : Martabak Telor

Angin malam terasa dingin menyentuh kulit tanganku. Hujan sedari pagi menyisakan hawa dingin dan jalan-jalan yang menjadi becek akibat tidak berfungsinya saluran drainase jalan. Tanpa sadar aku mengusap lenganku, berharap sedikit gesekan dari telapak tangan menyisakan kehangatan.
“Dingin? Tadi kamu gak pake jaket,” katamu.
“Malas. Lagian kamu juga nyuruh buru-buru,” balasku.

Aku kembali melihat sekelilingku, sembari menunggu pesanan yang kami pesan. Aku memang penyuka martabak telur. Setelah isya adalah waktu yang tepat untuk menikmati secangkir teh hangat dengan satu piring martabak telur hangat. Dinginnya malam sempurna untuk menambah kenikmatan menikmati martabak telur kesukaanku.

Aku melihat si penjual sibuk melayani pelanggannya. Dia memutar mutar adonan kulit martabak hingga menjadi satu lembar tipis yang lebar. Aku selalu menyukai melihat mereka bekerja, menyulap adonan tepung bulat menjadi lembaran-lembaran tipis yang lebar sebelum di letakkan ke wajan datar berisi minyak panas.

Rupaya yang tertarik melihat proses membuat martabak telur bukan hanya aku saja. Beberapa anak kecil berdiri di belakang si pembuat martabak, menghalangi pemandanganku. 
“Itu anak siapa?” celetukku pelan, sedikit terganggu dengan keberadaan anak-anak kecil itu.
“Bukan anak kita, kan?” jawabmu tersenyum melihat kejengkelan di mataku.
Kamu selalu bercanda mengenai hal itu. Anak-anak. Kamu tahu benar, aku dan kamu sama-sama menyukai anak-anak. Tetapi mungkin sesuatu bernama “anak-anak kita” belum bisa diwujudkan dan hanya akan ada dalam hayalanku saja. Walaupun begitu kamu berhasil membuatku tersenyum.

“Mbak, ini pesanannya,” seorang pramusaji membawakan sebuah kantong plastik berisi 2 kotak berisi martabak telur. Hayalanku hilang, kau pun lenyap. Aku kembali ke duniaku. Aku berjalan menuju sebuah mobil yang menungguku. Aku membuka pintu penumpang di sebelah sopir.
“Kenapa gak kita makan di sini aja sih?” Tanya seseorang di sebelahku.
“Enakan makan bareng sama temen-temen kan,” jawabku. Dingin AC mobil menerpa lenganku yang terbuka. Tanpa sadar aku mengusap lenganku.
“Dingin? Tadi kamu gak pake jaket,” katanya. Seketika ingatanku kembali padamu.



To be continue...



8 Septermber 2014
Garuntang, Bandar Lampung


No comments: