Angin malam
terasa dingin menyentuh kulit tanganku. Hujan sedari pagi menyisakan hawa
dingin dan jalan-jalan yang menjadi becek akibat tidak berfungsinya saluran
drainase jalan. Tanpa sadar aku mengusap lenganku, berharap sedikit gesekan
dari telapak tangan menyisakan kehangatan.
“Dingin? Tadi
kamu gak pake jaket,” katamu.
“Malas. Lagian
kamu juga nyuruh buru-buru,” balasku.
Aku kembali
melihat sekelilingku, sembari menunggu pesanan yang kami pesan. Aku memang
penyuka martabak telur. Setelah isya adalah waktu yang tepat untuk menikmati
secangkir teh hangat dengan satu piring martabak telur hangat. Dinginnya malam
sempurna untuk menambah kenikmatan menikmati martabak telur kesukaanku.
Aku melihat si
penjual sibuk melayani pelanggannya. Dia memutar mutar adonan kulit martabak
hingga menjadi satu lembar tipis yang lebar. Aku selalu menyukai melihat mereka
bekerja, menyulap adonan tepung bulat menjadi lembaran-lembaran tipis yang
lebar sebelum di letakkan ke wajan datar berisi minyak panas.
Rupaya yang
tertarik melihat proses membuat martabak telur bukan hanya aku saja. Beberapa
anak kecil berdiri di belakang si pembuat martabak, menghalangi
pemandanganku.
“Itu anak siapa?”
celetukku pelan, sedikit terganggu dengan keberadaan anak-anak kecil itu.
“Bukan anak
kita, kan?” jawabmu tersenyum melihat kejengkelan di mataku.
Kamu selalu
bercanda mengenai hal itu. Anak-anak. Kamu tahu benar, aku dan kamu sama-sama
menyukai anak-anak. Tetapi mungkin sesuatu bernama “anak-anak kita” belum bisa
diwujudkan dan hanya akan ada dalam hayalanku saja. Walaupun begitu kamu
berhasil membuatku tersenyum.
“Mbak, ini
pesanannya,” seorang pramusaji membawakan sebuah kantong plastik berisi 2 kotak
berisi martabak telur. Hayalanku hilang, kau pun lenyap. Aku kembali ke duniaku.
Aku berjalan menuju sebuah mobil yang menungguku. Aku membuka pintu penumpang
di sebelah sopir.
“Kenapa gak kita
makan di sini aja sih?” Tanya seseorang di sebelahku.
“Enakan makan
bareng sama temen-temen kan,” jawabku. Dingin AC mobil menerpa lenganku yang
terbuka. Tanpa sadar aku mengusap lenganku.
“Dingin? Tadi
kamu gak pake jaket,” katanya. Seketika ingatanku kembali padamu.
To be continue...
8 Septermber 2014
Garuntang, Bandar Lampung
Garuntang, Bandar Lampung
No comments:
Post a Comment