Tuesday, June 3, 2014

Orang-orang Kota : Si Kecil Penjaja Tissue

Si Kecil menggigil dalam dinginnya hujan sore itu. Perempatan besar seperti ini memang cocok digunakan untuk menawarkan beberapa dagangan diantara mobil-mobil yang terjebak macet sambil menunggu lampu hijau menyala. Beberapa kali dia mengusap mukanya yang basah oleh air hujan. Terkadang dia menggigil kemudian mengusap lengan kurusnya, mengharap sedikit kehangat dari gesekan tangan basahnya mengaliri tubuh kecilnya. 

Saya masih nyaman di dalam mobil yang semakin dingin karena ac mobil. Walaupun dingin, setidaknya baju saya tidak basah. Kecil kemungkinan saya akan masuk angin malam nanti. Lampu merah masih menyala dan timer di atas lampu tersebut masih menunjukkan angka 100. Di depan sana masih banyak lampu-lampu merah dari kendaraan-kendaraan yang berhenti. Pengendara sepeda motor yang tak memakai mantel berhenti di pinggiran jalan dan membiarkan motornya tertimpa hujan sedang pengendaranya menepi mencegah air semakin membasahi baju mereka. Motor mereka mempersempit ruang gerak bagi pengendara lain, menambah macetnya jalan sore itu. 

Mobil yang kutumpangi berjalan berlahan saat lampu hijau menyala. Kemudian berhenti lagi. Sudah tiga kali lampu merah menyala dan mobil yang kutumpangi itu belum berhasil membawaku keluar dari kemacetan di perempatan itu.

Si Kecil kembali ke jalan setelah menepi sebentar mempersilakan kendaraan-kendaraan melewatinya untuk lepas dari kemacetan di perempatan itu. Si Kecil kembali melewati kendaraan-kendaraan dan menjajakan dagangannya. Dia mengernyitkan wajahnya untuk menepis air hujan yang menghalangi pemandangannya. Satu per satu kaca mobil di datanginya berharap seseorang akan membuka dan membeli tissue yang dijualnya seharga 2000 rupiah. Hujan sore itu terlalu deras. Telak, tak ada yang rela membuka sedikit jendela mobil dan membiarkan air hujan memasuki mobil yang nyaman. Tissue seharga 2000 rupiah tak laku sore itu.

Mobil yang kutumpangi berjalan perlahan, kemudian makin cepat dan makin cepat. Dia berhasil membawaku pergi dari perempatan macet itu. Dia membawaku pergi meninggalkan Si Kecil penjaja tissue di jalan. Di kala bocah-bocah seusianya nyaman di dalam mobil yang dingin karena AC, dia pun berdingin-dingin tetapi karena guyuran hujan sore hari itu. Di saat anak-anak merasa senang karena diajak orang tuanya ke kebun binatang di akhir minggu, Si Kecil penjaja tissue menjajakan dagangannya di tengah hujan deras Minggu sore itu. Inilah Jakarta, dimana orang-orang bisa melakukan apa saja untuk bertahan hidup.



Blok M, Jakarta,    April 2014  

No comments: