Wednesday, December 23, 2020

Sepenggal Cerita di Bukit Aceh

Sepanjang jalan itu tidak ada yang bicara. Kami diam. Dia sibuk mengendarai mobil menuruni bukit kembali ke kota. Sayup-sayup terdengar lagu milik 5 Minutes, bercerita tentang kenangan yang ditinggalkan. Sama halnya kami meninggalkan kenangan yang terjadi di pantai di balik bukit yang kini kami tinggalkan.

"Abang masih memikirkan dia?" seperti kebanyakan lelaki berdarah Sumatera, dia pun aku panggil abang.
"Hm? Iya dan engga. Sudahlah. Cerita lama," katanya.
"Iya, Abang memang masih memikirkannya," pembicaraan selesai. Kami hanyut ke pikiran masing - masing.

Mobil berbelok ke satu warung bambu di pinggir jalan.
"Nyaris senja. Sayang untuk dilewatkan," katanya.
Dua buah kelapa muda menemani kami diiringi dengan ceritanya.
"Setiap bukit di sini menyimpan cerita," katanya mengawali ceritanya.
"Termasuk cerita Abang?" tanyaku.
"Dia cantik. Sama sepertimu, dia pun pernah tinggal di sini. Aku pernah tertarik padanya, dan pernah terucap pula dari mulutku akan menjaganya," kembali dia diam dan menghela nafasnya.
"Saat aku mengatakan aku tak akan meninggalkannya, dia hanya berkata dia tidak yakin padaku. Padahal kali itu aku sungguh-sungguh. Iya, aku tahu aku punya yang lain saat itu, tapi kali itu berbeda. Padanya, rasaku utuh,"
"Lanjutkan," kataku.
"Aku bertanya padanya, mungkinkah dia juga sepertiku. Jawabnya, dia hanya tak yakin dengan perasaannya padaku. Dia mencintaiku, tetapi katanya dia takkan bisa bersamaku. Entah saat itu ada firasat apa yg membuatnya berkata begitu. Dia bilang padaku tak perlu menunggunya," pandangannya jauh ke arah matahari terbenam.

"Sudahlah, ceritaku sudah berlalu. Aku tahu dia bahagia di sana. Lalu, bagaimana dengan bukit ini dan ceritamu?" tanyanya.
"Hmm.. Dia tak pernah menjanjikan apapun padaku. Hanya aku yang terlalu berharap banyak padanya," aku mulai bercerita. 

"Hingga saat ini?" tanyanya. 

"Aku sudah tidak senaif dahulu, Bang. Saat ini yang terpenting untukku adalah diriku, kebahagiaanku," jawabku. 

"Bersamaku?" tanyanya lagi.

"Hahaha.. iya, mendengarmu bercerita di bukit ini juga merupakan kebahagianku," jawabku. 

Bukit itu sekali lagi menyimpan cerita. Kali ini bahagia. Kemudian nanti atau kapan ada orang lain yang akan bercerita pada bukit itu. Bukit yang membuat orang nyaman untuk bercerita di belaian angin dan tatapan senja. Bukit yang meyimpan cerita-cerita dari kota. Bukit yang meneduhkan hati yang dilanda amarah dan dendam. Bukit yang meluaskan padangan bagi otak-otak yang berfikiran sempit. Senja yang menghilangkan lelah dan angin yang menepiskan lara.


 
Kala itu, Senja di Bukit Aceh sekitar tahun 2015. 

No comments: