Thursday, November 13, 2025

Orang-orang kota : Lastri Si Penjual Minuman

Pukul 05.00 bulan Agustus di sudut Kota Jogja. Pagi itu mendung, seakan menandakan matahari akan tertutup awan seharian. Harapan Lastri masih sama seperti hari-hari sebelumnya, bahwa hari ini matahari akan terik menyengat. Jika hujan, maka wisatawan yang menjadi target penjualan minumannya di kawasan Malioboro akan makin sedikit. Apalagi Malioboro saat ini tidak seramai dulu, ketika lorong-lorong pertokoan masih dipenuhi penjaja kaki lima dan pengunjung pencari oleh-oleh khas Jogja,  sewaktu usianya jauh lebih muda. Selain kontrakan, Lastri juga butuh menabung untuk biaya sekolah anaknya kelak. Kamar seharga lima ratus ribu per bulan saja sudah membuat pusing, lalu bagaimana dengan biaya sekolah anaknya nanti. Walaupun yang Lastri dengan sekarang sekolah gratis, tapi seragam dan buku-buku tetap perlu dibeli. 

Anaknya menggeliat karena usapan Lastri. Diusianya yang menginjak 25 tahun saat ini dia harus menghidupi anaknya yang masih berusia 5 tahun. Sejenak pikirannya melayang pada saat dia memutuskan untuk merelakan Anto, suaminya, untuk merantau ke Jakarta. "Demi hidup yang lebih baik," kata Anto sebelum menaiki bus yang membawanya ke Jakarta. Lastri tidak pernah tahu apa yang dikerjakan Anto di Jakarta, namun saat itu sesekali dia menerima pesan dari Anto yang mengakatan bahwa dia masih berjuang di sana. Pesan terakhir yang dia terima dari nomor HP Anto adalah kabar Anto akan dikuburkan bersama orang-orang yang terkena virus COVID-19. Saat itu dirinya tengah hamil besar dan berharap Anto bisa pulang untuk menemaninya melahirkan buah hati pertama mereka. Lastri kembali mengusap pelan rambut anak perempuannya. Jauh di lubuk hatinya, dia tidak rela anaknya menjajakan tissue di sepanjang lampu merah, atau terpaksa bertepuk tangan dan menyanyi ala kadarnya. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin anaknya bisa sekolah seperti seharusnya. Tetapi untuk itu dia harus bekerja lebih keras.

 "Nduk, ayo bangun. Sudah siang. Ibu mau ke rumah Bu Ika, siapa tau butuh bantuan untuk setrika baju, setelah itu kewarung Bu Sum untuk ambil minuman," ujar Lastri pelan kepada anaknya. 

"Ikut Bu, aku mau ikut ke rumah Bu Ika ben entuk jajan," jawab anak perempuannya. Lastri tersenyum mendengar celotehan anaknya. Bu Ika adalah harapan lain anaknya bisa sekolah. Lastri mengenal Bu Ika dari tetangga kosnya yang terkadang memotong rumput di rumah Bu Ika. Saat itu Bu Ika perlu bantuan untuk bersih-bersih karena asisten rumah tangganya terkilir dan belum bisa bekerja. Lastri sekedar membantu bersih-bersih dan menyetrika baju. Saat itu, Lastri menitipkan anaknya di warung Bu Sum, dan situlah anaknya mulai belajar untuk menjajakan tissue. Lastri tidak banyak bercerita tentang hidupnya kepada Bu Ika, tetapi ketika tahu bahwa Lastri memiliki anak kecil, terkadang Bu Ika membekali Lastri dengan beberapa jajanan yang ada di rumah Bu Ika. 

Namun, sepertinya hari ini bukan hari yang baik untuk Lastri. Pintu rumah Bu Ika tertutup rapat, dan tidak terlihat adanya seorang pun di rumah. Dengan langkah gontai, Lastri melanjutkan perjalanan kembali menuju ke salah satu kios di pinggiran Malioboro. 

"Kok esuk banget nduk? Parjo mau wes keliling, jare iseh sepi. Wong yo toko-toko rung do buka. Nyoh, kowe ngewangi ibukmu nggowo tissue" sapa Bu Sum sembari menyerahkan minuman-minuman yang akan Lastri jajakan dan beberapa tissue kepada anak perempuan Lastri. 

Lastri berjalan gontai menyusuri Malioboro. Benar kata Bu Sum, toko-toko belum buka, belum banyak pengunjung di Malioboro. Saat ini orang-orang lebih suka membawa minum sendiri daripada beli minum di kaki lima, atau mereka lebih memilih es dengan tampilan yang lebih menarik di toko-toko. Sesekali Lastri menawarkan jualannya ke para pelari yang sedang beristirahat sejenak, dan dijawab dengan gelengan atau gestur tangan penolakan. Lastri menggandeng anak perempuannya untuk melanjutkan menyelusuri tepi Malioboro. 

"Mbak Lastri," panggil suara yang tak asing. Lastri menoleh ke arah datangnya suara kemudian tersenyum menghampiri. Bu Ika menyambut Lastri dan anak perempuannya. "Wah, alhamdulillah ketemu di sini. Aku nggak punya nomormu mbak, njuk aku ingat, katanya kamu jualan es teh di Malioboro. Mbak, kamu bisa nggak kalau bantu-bantu aku dulu beberapa hari ini? Pulang pergi nggak masalah, nanti aku gaji di akhir minggu. Mbak Yanti, yang biasa di rumah itu semalam harus pulang ke Gunung Kidul dan sepertinya nggak akan kembali lagi. Aku masih cari gantinya," cerita Bu Ika penuh harap sambil menggengam tangan Lastri. 

Lastri terdiam. Dalam hatinya dia masih tidak percaya doa yang selalu dia panjatkan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih pasti, mendapatkan jalannya. 

"Bu, apa boleh saya yang gantikan? Tapi, saya nggak bisa tinggalin dia sendirian, jadi mungkin dia saya bawa, apa boleh, Bu?" jawab Lastri sambil memandang anak perempuannya.

"Alhamdulillah, boleh Mbak Lastri. Ini anaknya Mbak Lastri? Siapa namanya, Nak?" Ujar Bu Ika sambil mengelus kepala anak perempuan Lastri. 

"Atin." ucap anak perempuan Lastri sambil salim kepada Bu Ika. 

"Atin?" ulang Bu Ika.

"Iya Bu, namanya Prihatin, dia biasa dipanggil Atin." terang Lastri. 

Lastri tersenyum lega. Setidaknya dia akan punya kesempatan untuk menyekolahnya anaknya, Atin. Anak yang dia beri nama sesuai dengan kondisinya saat melahirkannya, Prihatin. Anak yang diharapkan akan senantiasa hati-hati dalam bertindak hingga dia dewasa. Harapan Lastri, Atin, anaknya tidak akan berakhir seperti dirinya, menjadi seorang penjual minuman keliling. 

 

 

 

Wednesday, November 3, 2021

Situ Gunung

Memanfaatkan libur 1 hari di tengah minggu, kenapa tidak? Tentunya tempat wisata yang nggak terlalu jauh dari Jakarta dan nggak bikin macet, karena kalau bisa dalam 12 jam kita sudah sampai di rumah lagi. Pilihan libur kali itu adalah ke Situ Gunung di Sukabumi. Situ Gunung ini berada di kawasan Gunung Gede Pangrango. Sebetulnya nggak sampai Sukabuminya juga sih, hanya sampai Cisaat.

Image result for stasiun bogor paledang (bogor - sukabumi) bogor city west java
Stasiun Bogor Paledang By Google
Kami (Mbak-mbak kost dan saya) memilih naik KRL dari Jakarta ke Bogor. Kereta ke Cisaat (Sukabumi) berangkat jam 7.50 dari Stasiun Bogor Paledang. Stasiun Bogor Paledang ini terletak nggak jauh dari Stasiun Bogor pemberhentian terakhir KRL itu, hanya di seberang jalan. Tiket kereta ke Cisaat adalah Rp 35.000,- untuk kelas ekonomi dan Rp 80.000,- untuk kelas executive. Karena waktu tempuh yang nggak terlalu lama, hanya 2 jam, kami memilih kelas ekonomi. Kereta ini kursi di kelas ekonomi 3 - 2, sudah ada AC juga jadi nggak perlu kepanasan. 

Sampai di Cisaat beberapa angkot sudah siap menunggu menuju ke Situ Gunung. Kalau pergi sendiri atau dalam rombongan kecil, lebih baik gabung atau ikut rombongan lain, biar biaya angkotnya murah. 1 angkot biasanya minta Rp 300.000,- pulang - pergi. Artinya si angkot akan jemput saat rombongan yang sama balik lagi ke stasiun. Kalaupun misalnya nggak sewa angkot, 1 orang dikenakan tarif Rp 15.000,- sampai Rp 20.000,- sekali jalan. Karena si Abang angkot nggak mau rugi, 1 angkot biasanya diisi 10 - 12 orang. Perjalanan naik dari Stasiun Cisaat ke Situ kira-kira butuh waktu sekitar 1 jam dengan kondisi jalan yang nggak mulus.
Belum sampai di depan gerbang situ, kami terpaksa turun karena jalan masuk ke Situ sudah macet. 
  
Image result for suspension bridge situ gunung site map
Peta Situ Gunung by Google
Untuk masuk kawasan situ, dikenakan biaya Rp 18.000,-. Untuk dapat melewati Suspension Bridge dikenakan biaya Rp 50.000,-. Biaya ini termasuk welcome snack (pisang rebus dan teh atau kopi panas). Setelah membayar tiket untuk Suspension Bridge ini, kita akan mendapat gelang kertas sebagai penanda pengunjung. 

Sebenarnya ada 1 lagi lokasi wisata di kawasan ini selain Curug Sarwer, yaitu Danau Situ Gunung. Kami tidak sempat berkunjung ke Danau ini, karena fokus menuju ke air terjun. Tapi kata pengunjung lain jalur menuju ke danau naik turun yang cukup menguras tenaga. Antrian untuk menikmati Suspension Bridge pada hari itu cukup panjang, karena jembatan inilah jalur tersingkat menuju Curug Sawer. Oleh karenanya kami memilih untuk lewat jalur darat, atau tracking menaiki jalur non Jembatan. Waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke air terjun via darat tanpa melalui jembatan sekitar 30 - 1 jam, tergantung kecepatan kita untuk mengajak kaki-kaki melintasi medan yang lumayan menguras tenaga saya yang nggak pernah olahraga tentunya. 

Di dekat lokasi air terjun, tersedia beberapa tempat makan seperti bakso, mi instan dan makanan-makanan lain yang bisa menghangatkan badan. Kami tidak sempat mampir dan mencicipi makanan di sini, kami pikir akan mampir makan nanti saja ketika pulang atau paling tidak sampai di bogor. 
 
Kami memutuskan untuk menaiki jembatan gantung ketika kembali ke pintu gerbang depan.  Ternyata pengalaman menaiki jembatan gantung cukup membuat saya berdebar-debar. Jembatan yang cukup tinggi dengan seutas tali cukup memacu adrenalin. Walaupun setiap orang yang akan melewati jembatan gantung diberikan pengaman, tetap saja jembatan yang mudah bergoyang-goyang jika dilalui banyak orang cukup membuat saya ingin cepat-cepat sampai ujung jembatan. Waktu tempuh jembatan tersebut mungkin hanya sekitar 10 menit. Saya melewatkan sesi foto-foto karena memang terlalu ngeri untuk berlama-lama di jembatan (ini bukannya saya menakut-nakuti, hanya saya saja yang penakut). Namun, jembatan ini memang merupakan spot foto yang keren (asal pas nggak banyak orang yang lewat dan berfoto juga). 
 
Waktu sudah cukup sore saat kami memutuskan pulang. Di luar area Situ Gunung sudah banyak angkot yang menunggu penumpang untuk kembali ke Stasiun Cisaat. Kemacetan tidak terhindarkan di dekat pintu keluar situ. Karenanya kami memutuskan berjalan kaki sedikit, demi menemukan angkutan yang terbebas dari macet. Beberapa angkutan sudah penuh terisi oleh para pengunjung yang hendak pulang, untungnya kami menemukan angkot lain yang masih bisa menampung kami. Sempat terjadi sedikit drama ketika angkutan yang kami milih, memutuskan untuk turun mogok di tengah jalan. Untunglah angkutan pengganti segera datang sehingga kami masih bisa mengejar kereta ke Stasiun Bogor. 
 
 
Note : perjalanan dilakukan sebelum masa pandemi C-19.

Tuesday, November 2, 2021

Pulang

Aku pulang. Kembali ke kota ini berarti aku pulang. Kepadanya yang banyak menyimpan cerita, dia yang banyak bercerita tentang orang-orang yang datang, pergi ataupun tetap tinggal.

Di kota inilah sekali lagi aku belajar. Bukan hanya mengenai ilmu-ilmu pengetahuan dan hitungan-hitungan yang njlimet, tetapi juga kehidupan. Darinya aku belajar merelakan yang pergi dan menerima yang datang, darinya aku belajar menerima apa yang menjadi takdir di hidupku. 

Kota ini memberikan damai. Aku tenang di sini. Hidup tidak harus selalu grusa-grusu seperti layaknya di kota-kota besar. Hidupku di sini mengalir seperti air. Selalu ada hukum alam yang berlaku. 

Kota ini adalah rumah bagiku. Bukannya aku lelah berlari di kota-kota besar, hanya saja aku mudah bosan. Sejatinya rumah adalah tempat untuk kembali. Maka, aku kembali ke sini untuk pulang. 



Yogyakarta.

Wednesday, December 23, 2020

Sepenggal Cerita di Bukit Aceh

Sepanjang jalan itu tidak ada yang bicara. Kami diam. Dia sibuk mengendarai mobil menuruni bukit kembali ke kota. Sayup-sayup terdengar lagu milik 5 Minutes, bercerita tentang kenangan yang ditinggalkan. Sama halnya kami meninggalkan kenangan yang terjadi di pantai di balik bukit yang kini kami tinggalkan.

"Abang masih memikirkan dia?" seperti kebanyakan lelaki berdarah Sumatera, dia pun aku panggil abang.
"Hm? Iya dan engga. Sudahlah. Cerita lama," katanya.
"Iya, Abang memang masih memikirkannya," pembicaraan selesai. Kami hanyut ke pikiran masing - masing.

Mobil berbelok ke satu warung bambu di pinggir jalan.
"Nyaris senja. Sayang untuk dilewatkan," katanya.
Dua buah kelapa muda menemani kami diiringi dengan ceritanya.
"Setiap bukit di sini menyimpan cerita," katanya mengawali ceritanya.
"Termasuk cerita Abang?" tanyaku.
"Dia cantik. Sama sepertimu, dia pun pernah tinggal di sini. Aku pernah tertarik padanya, dan pernah terucap pula dari mulutku akan menjaganya," kembali dia diam dan menghela nafasnya.
"Saat aku mengatakan aku tak akan meninggalkannya, dia hanya berkata dia tidak yakin padaku. Padahal kali itu aku sungguh-sungguh. Iya, aku tahu aku punya yang lain saat itu, tapi kali itu berbeda. Padanya, rasaku utuh,"
"Lanjutkan," kataku.
"Aku bertanya padanya, mungkinkah dia juga sepertiku. Jawabnya, dia hanya tak yakin dengan perasaannya padaku. Dia mencintaiku, tetapi katanya dia takkan bisa bersamaku. Entah saat itu ada firasat apa yg membuatnya berkata begitu. Dia bilang padaku tak perlu menunggunya," pandangannya jauh ke arah matahari terbenam.

"Sudahlah, ceritaku sudah berlalu. Aku tahu dia bahagia di sana. Lalu, bagaimana dengan bukit ini dan ceritamu?" tanyanya.
"Hmm.. Dia tak pernah menjanjikan apapun padaku. Hanya aku yang terlalu berharap banyak padanya," aku mulai bercerita. 

"Hingga saat ini?" tanyanya. 

"Aku sudah tidak senaif dahulu, Bang. Saat ini yang terpenting untukku adalah diriku, kebahagiaanku," jawabku. 

"Bersamaku?" tanyanya lagi.

"Hahaha.. iya, mendengarmu bercerita di bukit ini juga merupakan kebahagianku," jawabku. 

Bukit itu sekali lagi menyimpan cerita. Kali ini bahagia. Kemudian nanti atau kapan ada orang lain yang akan bercerita pada bukit itu. Bukit yang membuat orang nyaman untuk bercerita di belaian angin dan tatapan senja. Bukit yang meyimpan cerita-cerita dari kota. Bukit yang meneduhkan hati yang dilanda amarah dan dendam. Bukit yang meluaskan padangan bagi otak-otak yang berfikiran sempit. Senja yang menghilangkan lelah dan angin yang menepiskan lara.


 
Kala itu, Senja di Bukit Aceh sekitar tahun 2015. 

22 Desember

Hari itu feedku dipenuhi banyaknya ucapan untuk ibu. Ah benar, itu adalah hari ibu. Terbesit dibenakku ingin mengucapkannya nanti setelah aku sampai di kantor. Berbahaya terlalu sering melihat hp saat berkendara. 

Hari itu entah kenapa pekerjaan di kantor menumpuk. Belum selesai yang satu ada yang lain datang. Rencana makan siang terlewatkan begitu saja. Beberapa pesan dari ibu menanyakan kabar dan mengingatkan makan siang pun tak bisa aku tanggapi. Semua rencana yang awalnya ada di benak, terlupakan begitu saja. Hari itu adalah hari yang sibuk. 

Malamnya beberapa kawan mengajak hang out untuk sekedar melepas penat. "Kenapa tidak?" batinku. Aku mengikuti mereka menuju tempat makan untuk memuaskan perut yang sedari siang tidak terurus dan bergossip ini dan itu. 

"Eh, ini hari ibu ya? Kalian-kalian ada tradisi ngucapin ke emak-emak kalian nggak sih?" tanya salah seorang temanku. 

"Gue udah ngucapin dong, ke nyokap gue sama sekalian calon mertua," timpal temanku yang lain. 

Seketika itu aku teringat rencanaku tadi pagi. Perlahan aku melihat pesan yang hari ini ibuku kirim. Beliau memang rajin mengirimi aku pesan hanya sekedar menanyakan kegiatanku dan mengingatkan aku makan. 

"Bentar ya, gue telp nyokap gue dulu. Jadi kepikiran," kataku sembari beranjak dari teman-temanku. 

Pukul 9 lebih malam itu. Sebetulnya aku ragu ibuku belum terlelap. Beliau biasa bangun pagi dan tidur lebih cepat malam harinya. Nada sambung terdengar di ponselku. "Ah, pasti udah tidur," pikirku.

"Halo.." Suara yang sangat membuatku nyaman terdengar di ujung telepon. 

"Mah, udah tidur ya?" tanyaku ragu

"Belum. Ini dimana, Dek? Belum pulang?" tanyanya.

"Belum mah, masih nongkrong sama anak-anak kantor. Mah, selamat hari ibu ya. Doa terbaik buat Mamah," kataku.

"Emang ini tanggal berapa? Mamah sih nggak penting hari ibu itu, yang penting Mamah tau kabarmu aja udah ayem" jawab ibuku. 

Telepon berlanjut sekitar 10 menit. Beliau tidak suka menganggu waktuku bersama teman-temanku atau pekerjaanku. Katanya beliau sudah cukup tenang dengan hanya membaca jawaban pesanaku dan mendengarkan suaraku 5 sampai 10 menit sudah membuatnya yakin anaknya baik-baik saja di negeri orang. Sejak itu, kupikir tidak ada lagi hari ibu. Setiap hari harusnya adalah menjadi harinya. Hari dimana kita nggak boleh bikin beliau khawatir, kita mendoakan beliau untuk semua kebaikannya, kita memanjakan beliau, harusnya terjadi setiap hari. Bukan hanya tiap tanggal 22 Desember dan kemudian besoknya kita lupa. 

Memang sih, terkadang ada saja pendapatku yang  nggak sesuai dengan pendapatnya. Sering kali beliau juga kesal dengan segala pemikiran dan keegoisanku. Namun, kupikir terkadang beliau juga lupa bahwa caranya mungkin berbeda dengan cara kita mendapatkan kebahagiaan. Tapi yang pasti beliau ingin kita bahagia bukan. 

Aku percaya tidak ada satu ibupun di dunia ini yang ingin anaknya tidak bahagia, dan tidak ada seorang anakpun di dunia ini yang ingin menyakiti ibunya. Terkadang jika keduanya tidak akur, mereka hanya lupa untuk melihat dari sisi satu sama lain, mereka terlalu fokus untuk melihat dari sisinya masing-masing.

Friday, July 5, 2019

Pukul 2 Pagi

Waktu menunjukkan pukul 6 petang. Aku berjalan gontai ke parkiran motor dimana Si Butut senantiasa menungguku. Siapa lagi temanku saat aku kesepian selain motorku? Pagi, siang bahkan tengah malam, hanya dia yang bersedia menemaniku membunuh waktu menikmati panas atau dinginnya udara saat itu. Malam ini, kita akan istirahat saja, aku lelah, pikirku. 

Aku mencoba merebahkan badanku sembari memejamkan mata seusai mandi sore. Berharap ada sedikit ide, ilham, wangsit, atau apapun namanya itu masuk ke dalam kepala kecilku. Aku butuh ide untuk menulis lagi. Seandainya inspirasi semudah itu datangnya. 

HPku bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Sebetulnya aku agak malas untuk mebukanya. Aku takut, pesan itu adalah pesan tagihan untuk semua hutang-hutangku.

"Sudah selesai? Mau kutemani mengerjakan?" 

Ternyata pesan darimu. Sebetulnya aku masih malas mengerjakan pekerjaan itu. Tapi, meluangkan waktu bersamamu entah mengapa selalu menjadi godaan tersendiri untukku. 
"Ok" balasaku. Segera aku mengganti bajuku dengan jeans dan jaket yang siap menghangatkanku sebelum kamu datang menjemputku. Tak perlu waktu lama untuk kita menemukan satu tempat yang cocok yang menurutmu baik untukku mencari inspirasi untuk menulis. 

Waktu perjalan cepat. Aku sendiri belum bisa menyelesaikan tulisanku. 

"Maaf, Mas, Mbak. Kami jam 2 sudah mau tutup, masih ada yang mau diorder lagi?" tanya seorang pramusaji yang tiba-tiba menghampiri meja kita. Sejenak, aku melepaskan pandanganku dari laptop yang dengan kursor yang berkedip menanti huruf-huruf perangkai kata. Aku memandang sekitarku, memang tinggal beberapa gelintir orang yang masih tertinggal di kafe ala mahasiswa itu. 

"Sudah, Mbak. Kami sebentar lagi selesai kok," jawabku dan dijawan dengan anggukan sopan pramusaji itu.

"Udah kelar?" tanyamu.
"Belum. Sedikit lagi. Pulang aja yuk, ini aku kelarin di kosan aja," ajakku. Kemudian aku menghabiskan minuman yang kau pesankan untukku. Walaupun sudah dingin, minuman itu masih mampu menghangatkan di udara malam yang dingin. Sudah hampir pukul 2 pagi ternyata. 

Beberapa malam kemudian, hal yang sama terjadi lagi. Kamu selalu ada di saat aku memang membutuhkan teman dalam merangkai kata. Kali itu, kita sudah mulai biasa untuk diusir jam 2 pagi, seolah ada kesepakatan kita akan pulang jam 2 kurang 15 menit. Memaksimalkan waktu yang diperbolehkan untuk menggunakan listrik kafe tanpa harus diusir secara halus karena karyawan kafe butuh pulang dan tidur. Dalam hati aku berterima kasih padamu karna membuat malam-malamku yang tadinya hampir tidak produktif sama sekali menjadi sedikit lebih produktif. Entah karena ada kamu yang membantuku atau karena memang ide datang ada karena kamu ada.

Lepas beberapa tahun setelah aku menyelesaikan semua drama di dunia perkuliahan, aku mulai tidak terbiasa dengan kehidupan malam. Aku bukan lagi orang yang bisa terjaga hingga pagi. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Suatu kebetulan, pekerjaan yang kamu kerjakan ternyata berkaitan dengan pekerjaan yang aku lakukan. Bertemu sahabat lama, pikirku saat itu. 

"Aku mau konsultasi. Pekerjaanku belum selesai buat presentasi besok. Please bantuin, udah nggak tau harus gimana" isi pesanmu yang masuk ke HPku.
"Boleh, mau dimana?" jawabku.

Tak berapa lama kamu sudah menungguku di depan hotel tempat aku menginap. Sembari mencari tempat untuk mengerjakan presentasi besok, kamu menceritakan ketidaksiapanmu untuk presentasi besok. Kamu berharap, aku tidak terlalu membantaimu dalam presentasi besok. Dunia ini lucu, kamu yang selalu mengajariku banyak hal, tetapi sekarang kamu harus presentasi hasil pekerjaanmu kepada timku. Jika aku bisa bertindak tidak profesional, aku hanya akan bilang, "lanjutkan saja, kamu lebih berpengalaman dariku. Aku tahu kamu tahu yang terbaik," tetapi atasanku pasti tidak akan memaklumi hal tersebut.

Kamu memilih restoran cepat saji di seberang hotel. Selain dekat, tidak ada kemungkinan kita untuk diursir, ujarmu. Rupanya pengalaman kita diusir jam 2 pagi masih melekat di benakmu. Aku tertawa mendengar penjelasanmu. Banyak hal yang terjadi diantara kita, tetapi ternyata hal tersebut masih ada dalam ingatanmu.

Malam berlalu. Entah berapa orang yang sudah duduk di samping kita. Sedang kita masih asyik berdiskusi untuk kemungkinan-kemungkinan yang besok terjadi. Mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak. Mana yang bisa membantumu dan mana yang akan menjebakmu. Harusnya aku tak boleh membantumu, karena keesokan harinya, harusnya aku yang akan bertanya padamu mengenai yang kau jelaskan padaku malam ini. 

"Permisi, selamat malam, Ibu, Bapak. Maaf, ruangan ini akan ditutup jam 2 pagi" kata seorang pramusaji yang tiba-tiba menghampiri.
"Bukanya ini buka 24 jam?" tanyamu.
"Iya betul, Pak. Ruangan yang dibuka 24 jam ada di lantai 2, Pak," jawab pramusaji itu.
"Outdoor?" tanyamu kembali.
"Betul, Pak," jawab pramusaji itu sambil berlalu. Outdoor berarti tidak ada stopkontak yang bisa kita gunakan untuk menjaga laptopmu tetap menyala. Laptop tidak menyala berarti tidak ada lagi alasan untuk berlama-lama berdiskusi tentang pekerjaan untuk besok.

Kita berdua saling pandang dan tersenyum. Mungkin menertawakan betapa kamu dan aku selalu dibatasi waktu sampai jam 2 jika mau bertemu. 

"Jadi, mau minum apa?" tanyamu. Aku melihat jam tangan yang selalu melingkar di tanganku. Pukul 2 pagi.
"Ini, kita nggak bakal diusir kan?" tanyaku.
"Kalau diusir ya kita bungkus aja, kita bawa pulang, minum di rumah" jawabmu sambil tersenyum.

Kali ini, tidak ada huruf yang perlu dirangkai menjadi kata. Tidak ada lagi paparan yang butuh untuk dijelaskan esok pagi. Tidak ada batasan jam 2 pagi. Kamu, aku dan dua buah minuman yang kita pesan adalah akhir bahagia dari kisah kita hari ini hingga akhirnya kita memejamkan mata sebelum tidur.

 

Monday, May 27, 2019

Coretan hati

Tenanglah, badai tidak akan selamanya. Bahkan matahari pun punya waktu untuk tenggelam, untuk bersinar kembali esok. 
Mungkin, ini waktunya untuk sedikit mereda memberi kesempatan untuk beristirahat supaya esok kembali mencerahkan dunia.

Tak semua akan berjalan sesuai rencana, bahkan terkadang siang terguyur hujan, tapi setelahnya petichor yang menenangkan akan menguak. Bersabarlah.

Kadang, aku merindukan masa lalu, dimana aku bisa menulis dengan mudahnya, ah mungkin kini aku yang kelewat sinis untuk menceritakan hidup.

Tenanglah, masa itu akan berlalu, segera. Dan hidup terus berjalan.

Thursday, August 16, 2018

Senyum Tulus dari Natsepa


Ada satu saat dimana saya berkesempatan menginjakan kaki di tanah Ambon. Indonesia bagian timur memang menyimpan sesuatu yang lain dari pada yang biasa saya dapat di tempat biasa saya tinggal. Panasnya luar biasa menyengat. Alamnya luar biasa memikat. Dalam kesempatan perjalanan wisata dinas ke Ambon kemarin saya sempat mampir sebentar ke Pantai Natsepa.

Sampai di sana, saya disambut senyum anak-anak usia sekolah yang menjajakan dagangannya berupa pisang dan sukun goreng. Saya sudah lupa berapa harga tiap buahnya, tetapi yang saya ingat tidak mahal, karena sukun dan pisang masih mudah ditemui di sana.


by Huisvanvie

Namun, yang paling saya ingat adalah senyum bahagia mereka ketika dagangannya laris. Dan ketika kami memintanya mengambil lagi dagangannya untuk kami bungkus, dia berlari dengan semangat dan ceria. Dan, sebari bercanda memberi tahu temannya "andai kamu datang lebih awal, daganganmu juga bakal laris seperti daganganku. Kakak-kakak ini beli banyak."

Senyuman itu sedikit dari senyuman indah yang saya jumpai di tengah senyum basa basi orang-orang. Konon, itu adalah senyum tulus yang hanya bisa hadir dari hati yang juga masih tulus.

Tuesday, January 2, 2018

Happy New Year 2018

Hurraaaayyy... Satu tahun telah berlalu.. dan parahnya saya sudah jarang sekali menulis di tahun lalu.

Harapan untuk tahun ini semoga setiap hari bisa menulis, walaupun isinya cuma cerita sampah di kantor (ini usulan si Mas yang sebel denger saya uring2an terus), atau hal2 menyenangkan yang terjadi di hidup saya, hehehe...

Setikdaknya, selama 1 tahun ke depan (semoga) blog ini ramai dengan tulisan saya lagi. Happy New Year, semoga tahun ini berjalan lebih baik setiap harinya dan semoga hari-hari kita menyenangkan..

Wednesday, November 22, 2017

Cerita Tentang Teman

Teman bisa jadi siapa saja. Teman bisa datang dari mana saja. Pertemanan bisa terjadi kapan saja. Saya punya sedikit cerita tentang teman. 

Saya "bertemu" dengannya sekitar tahun 2010. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa (yang nyaris abadi) sedangkan dia sudah bekerja. Saya "bertemu" dengannya dalam satu forum chatting. Kala itu Yahoo Messenger masih menyediakan fasilitas room untuk sekedar mengobrol dengan siapa saja yang kebetulan sedang online dan masuk ke forum yang sama. Dari situ obrolan berlanjut tentang siapa saya dan siapa dia, apa yang kami kerjakan saat itu. Pertemanan berlanjut dengan pertemanan di facebook.

Hari berganti. Kami mulai meninggalkan forum tersebut dan mulai sibuk dengan urusan masing-masing yang lebih penting daripada sekedar mengobrol. Tiga tahun lalu, saya kembali bertemu dengannya. Kala itu kebetulan saya sedang online di facebook begitupun dengannya. Lama tak mengobrol, kami pun bertukar kabar. Kala itu, saya sudah lulus dan masih On Job Training di Lampung. Sedangkan dia sedang melanjutkan kuliahnya setelah mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya. Saya sudah hijrah ke Jakarta kemudian untuk sementara waktu harus tinggal di Lampung, sedangkan dia masih betah tinggal di Bandung. Janji untuk bertemu mulai terucap saat itu. "Kalau sudah pulang ke Jakarta, kapan-kapan main ke Bandung" atau "kalau saya sudah di Jakarta, kapan-kapan mailah ke Jakarta."

Waktu berlalu hingga akhirnya masa On Job Training saya berakhir dan dia selesai sekolah. Saya sudah kembali ke Jakarta dan dia sudah kembali bekerja dan masih betah di Bandung. Padahal saat itu saya sudah sering bolak balik ke Bandung, karena kebetulan kantor saya ada yang di Bandung. Baru satu tahun belakangan ini kami bertukar nomor HP. Janji-janji bertemu pun berulang diucapkan. Saya bolak-balik ke Bandung tapi tak juga punya kesempatan bertemu dengannya secara langsung, bukan lewat FB, line ataupun whatsapp. 

Akhirnya, setelah sekian kali gagal, baru hari ini saya bertemu dengannya secara langsung. Janji bertemu di tempat nongkrong yang oke berujung di warung makan Ampera (tempatnya juga nggak kalah asyik!). Tak apalah kami banyak mengobrol tadi. Sedikit mengenang masa lalu saat masih sama-sama suka ngobrol ngalor ngidul dengan orang entah siapa hingga cerita tentang hari ini cukuplah untuk "perkenalan" kami di dunia nyata. 

Akhirnya, setelah 7 tahun, saya bisa bertemu dengannya. 

Hai teman, salam kenal dari termanmu yang cerewet ini.




Bandung, 22 November 2017

Buat Nia, sukses untuk semua progress tulisannya :)

Wednesday, May 18, 2016

Surat Untuk Jono

Hai Jono, untuk kesekian kalinya aku mengirimu kabar.

Bertanya tentang kabarmu ku rasa tak lagi perlu, karena aku tahu, aku mendengar cerita tentangmu kini. Kamu banyak kehilangan orang-orang baik di sekitarmu. Aku, tak bisa berkata apapun, karena ku rasa sekedar kata-kata tak akan cukup mengobati lukamu.

Di sisi lain, aku akan sedikit bercerita tentangku. Tentangku yang tak pernah kau dengar dari mulut siapapun. Aku tak pernah berkata dengan benar-bener jujur padamu. Ada hal lain yang aku sembunyikan darimu, sama seperti kau menyembunyikan hal lain dariku. Di sini, aku akan mengatakan itu, karena aku tahu aku tak akan bisa menghadapimu ketika kau tahu hal ini.

Aku tetaplah seorang perempuan. Aku tahu kau lebih mengerti sifatku daripada siapapun termasuk diriku. Maafkan aku atas kekuranganku itu. Aku merasa aku tak akan pernah bisa sepenuhnya masuk dalam hidupmu. Kamu memiliki duniamu sendiri, tanpa aku. Selama kita berpisah, aku tak pernah tau sedikitpun tentang kamu. Berbeda dengan mereka yang ada di duniamu. Percaya padaku, bukan aku menarik diri, aku hanya tak ada di dalam kenanganmu, dan aku merasa kamu masih hidup dalam kenangan itu. 

Aku tak bisa mengungkapkan itu karena aku berjanji aku akan selalu ada untukmu. Hanya saja aku berada di luar lingkaran itu. Aku tak bisa menjagamu dalam lingkaran itu. Aku hanya ada di kehidupanmu yang lain. Aku tak pernah bermaksud memaksamu keluar, kemudian mengoyak lingkaran itu. Mengertilah, ketidakmampuanku untuk menjagamu. Dan itu melukaiku.  

Dan aku tak kuasa mengatakan ini karena aku tak pernah mau membebanimu, seperti yang kurasa selama ini aku lakukan padamu. Bersabarlah padaku.



Yuka

Monday, February 22, 2016

Cowok Pinter VS Cewek Pinter

Ada satu hal yang aku pelajari akhir-akhir ini. Oke sebenarnya ini adalah kasus yang umum dan sepertinya mulai di-iya-kan oleh hampir semua kaum adam, "Cewek itu adalah makhluk paling ribet sedunia". Mau tau ribetnya cewek? Banyak! Banyak banget malah. Aku sebagai cewek merasa ribet juga? Hmm aku jawab, kadang iya! Ribet kan kalau mikirin aku maunya seperti apa, tapi usaha yang aku jalankan untuk menjadi seperti yang aku inginkan malah berbuah sebaliknya. Setiap cewek itu pengen terlihat sempurna, cantik apalagi di depan cowoknya. Itu salah satu yang bikin cewek itu ribet. Mereka (kadang termasuk aku sendiri) sibuk memikirkan apa yang dia ingin orang lain lihat dari dirinya.

Hasil perenungan aku beberapa hari ini menyimpulkan bahwa cewek itu suka cowok yang pinter. Pernah gak sih kita (sebagai cewek) dan kalian (sebagai cowok) tanya ke cewek, kenapa dia suka ama seorang cowok. Jawabannya, biasanya selain baik pasti ada pinternya. Entah pinter itu dalam kategori apa. 

Tapi emang bener, menurut analisis yang aku lakukan terhadap diri sendiri dan beberapa sosok cewek baik di kantor ataupun di rumah, cowok pinter itu menarik. Pinter disini bisa macem-macem. Pinter dalam artian sesungguhnya di bidang akademis misalnya, atau pinter ngibul dan pinter bikin cewek sakit hati :P (yang disebutkan terakhir hanya ada pada kasus tertentu).

Jadi nih, saran aja buat para cowok yang sedang mencari cewek, jadilah cowok yang pinter. Walaupun kalian itu cuman pinter ngibul, karena percayalah sesungguhnya cewek itu mudah di jatuhkan hatinya oleh lelaki yang pintar, pintar menjatuhkan hati wanita tentunya. 

Karena tulisanku ini, aku gak pernah bermaksud bilang bahwa cewek itu gampang di kibulin ya. Cewek juga punya kepintarannya sendiri. Pintar dandan, jadi cowoknya betah lama-lama makan malem berdua. Pinter ngerayu, jadi cowoknya gak sadar berapa banyak duit di dompetnya berpindah tangan ke si cewek, (yaps, dua kepintaran ini sayangnya ga pernah ada di diriku :P) Pinter masak, jadi cowoknya bisa ngirit selalu makan masakan si cewek. Tapi ada juga cewek yang pinter bikin cowoknya nyaman dan akhirnya sering jadi tempat curhat dan kemudian mereka pun terjebak dalam zona pertemanan saja, tapi 'gak semua. Dalam cerita pasti ada happy endingnya sendiri-sendiri, meskipun tidak semua cerita ber-ending happy.  

Well, inilah yang aku lakukan di tengah kebosanan rutinitas kantor yang itu-itu aja :P
Semoga mencerahkan :D

Lantai 3 suatu gedung yang tidak terlalu tinggi di Jakarta Selatan
Saat makan siang.

Friday, February 19, 2016

Hai Hai Apa Kabar

Hai hai apa kabar? Hampir satu tahun tidak berjumpa. Hampir satu tahun tidak memposting apa-apa di sini. Hampir satu tahun yang....yah mungkin sudah banyak yang berubah dengan aku.

Bagaimana kabarmu?
Kabarku? Ah iya, aku masih tetap ada di Jakarta dan mungkin membusuk di kota ini. Mungkin agak kejam kata-kataku. Iya memang, aku masih memandang sinis kehidupan di sini, tetapi jangan salah aku adalah salah satu makhluk yang kusinisi sendiri. Mungkin aku sudah berubah menjadi orang-orang kota yang cuek dan tak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekitarnya, dengan kata lain "yang penting gue..." lanjutkan sendiri lah kata-katanya.

Lama tak menulis
Tidak, jangan salah. Aku banyak menulis. Banyak draft yang aku hasilkan selama hampir setahun ini. Tetapi sepertinya aku sedang kehilangan separuh diriku untuk menulis. Aku seperti bukan aku. Seperti ada yang salah dengan diriku. Ah betul, mungkin bisa dibilang aku sedang berperang dengan diriku sendiri, menentukan sikap seperti apa yang akan aku ambil. Akan menjadi siapa aku nantinya dengan sikap itu. Maklumlah, usiaku sudah tidak semuda dulu dimana belum terlalu banyak pengalaman yang aku dapatkan sehingga jendela pikiranku lebih sempit dari diriku kini. Bukan berarti kali ini pengalamanku sudah banyak, ya. No. Aku yakin masih banyak hal di luar sana yang belum aku tahu dan belum aku coba, jalanku masih panjang kawan. Masih banyak bahan tulisan yang belum temukan, masih banyak kehidupan yang bisa aku jadikan bahan untuk tulisanku.

Menyimpan cerita
Aku menyimpan beberapa cerita sebenarnya. Hanya aku belum yakin aku harus menuliskan seperti apa. Tidak semua cerita itu aku alami sendiri, ada banyak cerita yang menurutku menarik untuk aku ceritakan, untuk menjadi catatan dalam hidupku. Sebagai pengingatku bahwa hidup itu tidak datar-datar saja.

Sementara.
Kali ini aku hanya sempat berbagi kabar, bukan berarti aku berhenti menulis. Sabarlah menanti. Aku hanya bisa menjanjikan aku akan menulis lagi tentunya, walaupun hanya satu huruf saja. Jadi, seperti biasa aku akan bilang, sampai nanti dan tunggulah ceritaku selanjutnya, karena aku akan terus bercerita.


Salah satu gedung yang 'enggak tinggi di Jakarta, Lantai 3, sebelum Jumatan
19 Februari 2016

Monday, April 27, 2015

Original Donutz by Me

"Bulet-bulet bolong tengahe...namanya kue donat" Masih inget dengan sepenggal lagu yang pernah dibawakan Joshua ini? Yaps kue donat.

Donat Bikinan Mamah dan Aku
Kemarin, aku iseng-iseng nyobain bikin kue yang menurut ingatan saya bikinnya lama dan bikin pegel tangan. Resep tentulah berasal dari koki paling hebat sepanjang masa, Mamah. Iseng waktu liburan long weekend awal bulan ini, aku praktek bikin kue donat di rumah. Gak tanggung-tanggung bikin lah 1 kali resep, yaitu sebanyak 1 kg tepung terigu. Hoohoho... Jujur, waktu di rumah lebih banyak Mamah yang bikin sih dari pada aku. Aku cuman bantu nguleni adonan yang berat itu. Itupun nguleninya dibantu Mamah juga hahahaha.... Gak sampai 30 menit, adonan donat pun jadi sudah. Sudah kalis, tinggal di diamkan bentar dan di bentuk bulet-bulet bolong tengahe.

Original Donutz by Me

Weekend kemarin, aku iseng bikin donatku sendiri di Jakarta. Aku buat 1/2 resep kali ini. Hasilnya? Gak kalah lah sama bikinan mamah di rumah, plus bonus tangan pegel-pegel hahaha... Tapi setidaknya aku seneng lah. Temen-temen kost yang nyobain donatnya bilang enak..hahaha (boleh lah ya berbangga hati dikiiiitttt, but thank's mamah).

So, karena kemarin banyak yang minta resepnya, ini aku kasi resep plus tips-tipsnya...hehehe (seenggaknya biar tanggannya ga terlalu pegel pas nguleni)

Walopun gedenya beda, rasa tetep sama
Bahan (untuk 1 resep) :
- Tepung terigu 1 kg (yang protein tinggi, contoh :  cakra)
- Kentang Kukus 1/2 kg ( ini kentangnya di tumbuk, tapi kemarin aku hancurin pake garpu)
- Pengembang 1 bungkus/11 gr (contoh : fermipan)
- Air 200cc (sekitar 1 gelas belimbing)
- Margarin 1 bungkus ( sekitar 200gr)
- Telor 3 butir
- Gula halus buat taburan
- Minyak untuk menggoreng

Cara membuat :
- Siapin wadah yang cukup lebar (ini berguna biar pas nguleni gak terlalu pegel tangannya)
- Campur air dan pengembang ( larutin dulu biar jadi 1)
- Masukin tepung terigu dan campuran air + pengembang. Aduk aduk sampai agak rata (pake tangan ya, donat itu tanpa mixer kawan ;) )
- Masukan telur, kentang kukus yang ditumbung  dan margarin. Biar donatnya agak gurih boleh di kasi gula halus sedikit dan garam.
- Uleni terus sampai adonan bercampur dan kalis. Cara nguleninya di aduk-aduk ya, jangan di remas-remas.
- Setelah adonan kalis, tutup wadah yang berisi adonan dengan kain basah. Tunggu 30 hingga 60 menit supaya adonan mengembang. (Pengalaman sih, gak sampai 30 menit adonan udah mengembang)
- Setelah adonan mengembang, bentuk sesuai selera dan tinggal di goreng.
- Setelah di tiriskan beri taburan gula halus, atau bisa juga di kasi topping coklat.

Dan terakhir, selamat mencoba dan berkarya ;)





Thursday, March 19, 2015

Yes, I Remember

Jakarta selalu macet saat jam pulang kantor. Aku tak pernah memahami kenapa orang-orang betah tinggal di Jakarta dengan segala kemacetan itu. Namun, sekali waktu saat pulang kerja dengan kemacetan yang luar biasa di daerah Kemang aku bisa menikmati perjalanan pulangku.

Kala itu aku memang sedikit mengeluhkan jalanan yang terlalu macet. Aku mampir sebentar untuk membeli mendoan dan mengistirahatkan tanganku yang lelah memutar gas motor biruku. Tiba-tiba aku mendengar lagu yang entah bagaimana membawa ingatanku ke suatu ketika di kota tua itu. Kilasan-kilasan kejadian yang menyenangkan tiba-tiba muncul dan membawa kenangan seperti saat itu.

Dan tiba-tiba aku merasakannya lagi. I felt in love. I don't know for sure which one I'm in love to. What I know is I love both of it. The people and the place, both of them are special for me. Aku bahagia bisa merasakannya lagi. Bukan berarti sebelumnya rasa itu telah hilang. Tidak, dia tidak hilang hanya sedikit terlupakan oleh segala aktivitas di kota ini. Saat itu aku seperti merasakan kembali atmosfer kota tua itu dengan segala aktivitasku di dalamnya. Senyumku mengembang seolah aku berada di sana. Tidak ada yang berbeda, ada dia, mereka ataupun dia yang lain. Seolah aku bisa mencium tiap detil aroma yang keluar di kota itu. Ya, mungkin aku terlalu rindu akan kenyaman yang aku buat sendiri di kota itu. Aku memang rindu, bersamanya, aku rindu untuk pulang. 

Thank's God I could still have a memory of it and I could still have the same feeling. Not everyone could feel like this.  

i remember the way you read your books,
yes i remember the way you tied your shoes,
yes i remember the cake you loved the most,
yes i remember the way you drank you coffee,
i remember the way you glanced at me, 

yes i remember when we caught a shooting star,
yes i remember when we were dancing in the rain in that december
and the way you smile at me, yes i remember


 *penggalan lagu I remember - Mocca

 

Monday, January 12, 2015

Teh Hangat Manis

Hujan hari itu serasa tidak akan pernah berhenti. Sedari pagi matahari sudah malas menampakkan sinarnya walau sebentar saja, membuat hari yang malas bertambah malas. Tak banyak yang kukerjakan di kantorku hari itu. Januari, belum banyak kegiatan yang dilaksanakan. Aku hanya membereskan dokumen-dokumen pekerjaan tahun lalu yang morat-marit di mejaku serta menyusun rencana-rencana kegiatan di tahun ini. Hal yang sebenarnya bisa dikerjakan dalam waktu singkat, jika tidak malas.

Hujan mulai turun siang itu. Dari gerimis kecil-kecil yang membasahi jendela hingga menjadi siraman-siraman air yang terbawa angin terhempas ke jendela dan dinding, menimbulkan suara yang khas. Aku sedikit melongok ke bawah. Jalanan lumayan lengang. Beberapa mobil melintas satu-satu dalam beberapa menit. Rupanya orang malas keluar di cuaca seperti ini. Kopi yang semula berasap mulai kehilangan panasnya setelah setengah jam disajikan, membuatku tak berminat lagi meminumnya.

Menjelang malam, hujan malah semakin deras. Daun pohon-pohon palem bergoyang menandakan derasnya hujan yang turun. Jalanan mulai ramai meski tidak padat seperti layaknya jam pulang kantor. Hanya mobil-mobil yang mengantre untuk berbalik arah. Jarang sekali motor yang melintas. Ah, siapa pula yang mau berbasah-basah ria menaiki motor di tengah dingin hujan. Akupun malas beranjak. Di cuaca begini aku malas harus berjalan kaki dan berbecek-becek ke terminal dan menunggu bus yang mengantarku pulang. Aku menunggu dan berharap hujan mereda hingga aku bisa pulang. Pulang, rasanya aku malas sekali pulang. Pulang berarti mengingat semua masalahku. Pulang berarti menghadapi masalah lain dalam hidup.  Di kantor, masalah-masalah tersebut seolah lenyap tertutup beragam pekerjaan dan cerita dari teman.

Malam makin gelap. Hujan tetap saja riuh, meskipun tanpa angin yang menerpa. Malam itu aku memutuskan untuk pulang, tidak nyaman juga rasanya harus pulang terlalu malam. Kali itu angkutan tidak terlalu ramai penumpang. Mungkin orang-orang lebih memilih naik taksi daripada hujan-hujanan nunggu bus yang lewat, belum lagi bonus terciprat air hujan dari kendaraan yang lewat.

Lewat pukul sembilan malam aku sampai di rumah. Pagar hitam besi telah terkunci meski belum digembok. Hujan gerimis masih saja turun meskipun tidak sederas sore tadi. Langkahku gontai menuju pintu kayu yang dibiarkan tanpa pelitur itu. Pintu tidak terkunci, berarti Ibu belum tidur. Raut lelah tak bisa ku sembunyikan dari wajahku.
“Kok malam sekali, Nduk, pulangnya,” Tanya Ibu yang kala itu telah selesai membereskan meja makan.
“Hujan Bu,” kataku sambil menutup pintu kamarku. Rasa lelah dan semua permasalahan tiba-tiba menyerang. Ingatan buruk cerita yang telah lalu masih saja membayangi. Aku merebahkan diri di kasur tanpa dipan tanpa mengganti bajuku terlebih dahulu. Tas selempang yang aku kenakan aku singkirkan di tepian kasur.
“Mandi dulu, Nduk. Itu di termos ada air panas buat mandi kamu. Tadi kamu kehujanan, tho? Cepet sana mandi biar gak sakit,” kata Ibu dari luar kamarku.

Perlahan aku melangkahkan kaki keluar dari kamarku menuju kamar mandi. Ibu masih uplek di dapur, entah menyiapkan apa. Ember sudah ada di kamar mandi. Termos air yang seharusnya ada di dapur pun telah berpindah ke kamar mandi. Ibu telah menyiapkan semuanya. Cepat-cepat aku mandi. Aku tak suka mandi malam hari. Rasa dingin akan menyerangku selepas aku mandi meskipun aku telah menggunakan air panas untuk membasuh tubuhku.  
Selesai mandi, aku dapati Ibu sedang menaruh segelas teh hangat untukku.
“Teh anget, Nduk,” katanya tersenyum.
“Nggih, Bu,” jawabku sebelum menyeruput teh yang dibuat untukku. Rasanya pas, tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin. Tidak terlalu manis yang membuat tenggorokan sakit, tidak juga hambar.

Ibu tidak beranjak dari kamarku. Mata tuanya masih memperhatikanku, seolah meyakinkan dirinya bahwa anaknya telah dewasa dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Ibu tidak pernah banyak bertanya. Namun, di matanya terbesit banyak pertanyaan yang tidak terucap. Aku merebahkan diri di kasur.
“Kamu pasti capek sekali ya, Nduk,” kata Ibu sambil duduk di tepian kasur. Tangannya perlahan membelai kepalaku.
“Enggak kok, Bu” kataku mencoba menyembunyikan masalahku.
“Oalah, Nduk. Meskipun kamu bilang begitu, Ibu juga paham. Gusti ora sare, Nduk. Semoga apa yang kamu inginkan, kamu panjatkan di setiap doamu dikabulkan. Ibu cuma pingin kamu bahagia, Nduk. Ibu mana yang nggak sakit lihat anaknya sakit, Ibu mana yang nggak bahagia kalau anaknya juga bahagia,” kata Ibu sambil tetap mengusap kepalaku.
Aku tersenyum, mencoba menghapuskan segala keresahan di wajah Ibuku.
“Iya, Bu. Aku baik-baik aja,”
“Ya sudah. Istirahat,” kata Ibu saat beranjak dari kasurku.
“Bu. Ibu tidur sini, ya malam ini. Udah lama kita nggak cerita-cerita sebelum tidur,” kataku menahan Ibu saat akan menutup pintu kamar.

Hujan beserta angin mengamuk lagi di luar, memukul-mukul jendela di rumahku. Kilat menyala disertai petir menambah suramnya malam itu. Namun, cerita yang mengalir dari ibu dan anak di kamar dua kali tiga itu mampu menghangatkan suasana. Tidak ada dingin menusuk yang kurasakan malam itu. Segelas teh hangat dari Ibu mampu menghangatkan badanku. Sepenggal cerita dari Ibu mampu menenangkan hatiku. Dan belaian dari Ibu mampu melelapkan tidurku.



                                                                                                                                Buat Mamah,


                                                                                                                         Jakarta, 10 Januari 2015

Friday, January 2, 2015

Catatan Akhir Tahun

Awal tahun 2014, aku memulai hidup yang baru, keluar dari zona nyaman, keluar dari kota  yang membuatku tenang. 2014 aku resmi pindah ke Jakarta. Akhir tahun 2014, aku bisa menapakkan kakiku ke beberapa kota di Indonesia. 

Tiap kota punya cerita. Tiap kota memberikan pengalamannya. Pertama kalinya pergi, aku ditugaskan di Lampung selama 3 bulan. Ada beberapa cerita yang tercipta di sana. Walaupun berada di tanah melayu, aku merasakan kehidupan yang hampir sama seperti di Jawa. Orang-orangnya ramah, bahasanya pun masih ramah di kupingku. Pulang dari Lampung, saya mendapat tugas keluar kota. Tidak tanggung-tanggung saya ditugaskan ke Balikpapan, kota pertama yang kudatangi di Borneo sana. 

Tidak banyak cerita selama di Balikpapan, tidak banyak kata tercipta di Balikpapan. Kali itu tenagaku seperti terkuras untuk bekerja. Kembali dari Balikpapan, aku harus melakukan perjalanan ke Bandung. Seiring berjalannya waktu, perjalanan ke Bandung seperti menjadi rutinitas selain bekerja di kantor Jakarta. Lepas dari Bandung, saya mengalami long rute trip ke Gorontalo-Bandung-Medan. Ada kain Karawo dan Milu Siram dari Gorontalo. Ada Pancake Durian dan sedikit cerita perjalanan di Medan. 

Kata orang, Balikpapan adalah kota yang tertib. Ketika kita menyeberang jalan, maka otomatis orang-orang yang berkendara akan membiarkan kita menyeberang dengan selamat, selama kita menyeberang di tempat yang benar. Sayangnya, aku sendiri belum dapat membuktikannya, karena seharian melakukan pekerjaanku. Bahkan untuk sekedar membeli oleh-oleh, kami lakukan di malam hari dimana toko-toko juga sudah tutup. Sedangkan kami harus meninggalkan Balikpapan pagi-pagi untuk kembali ke Jakarta.

Milu Siram
Lain cerita dengan Gorontalo. Di sini, aku mendapatkan oleh-oleh dari kakak temanku, lebih tepatnya aku dititipi pia Gorontalo. Pia isi coklat dengan coklat lembut yang yummi banget. Makan satu sebenarya cukup, tapi coklatnya beneran nagih minta lagi. Selain itu ada kain karawo. Sebenarnya ini bukan kain sih, kainnya bisa dari kain apa aja (termasuk kain paris yang biasa buat jilbab), tapi uniknya serat dari ini ini di lepas, untuk kemudian di rajut lagi. Ada lagi Milu Siram. Ini adalah semacam sup jagung khasnya Gorontalo. Isinya, pastinya jagung, parutan kelapa, seledri dan (harusnya) ikan. Rasanya, hmm aku kasi 8.5/10 untuk makanan luar jawa. Milu siram ini punya rasa yang sedikit manis tapi gurih, yang seingatku tidak ada di cita rasa jawa. 

Tiketnya gak dibolongin, tapi di sobek
Cerita menarik datang dari Medan. Aku sempat merasa sedikit takut saat mau mendarat di Kuala Namu, Medan. Pesawat yang kutumpangi berputar mengelilingi laut. Ada terbesit pikiran negative tentang bagaimana jika nantinya harus mendarat darurat di laut. Demi menghindari pikiran-pikiran aneh, aku mengalihkan pandanganku dari jendela dan kembali membaca novel yang kubawa. Setelah menapakkan kaki ke bumi lagi, aku bersama teman kantor langsung menuju ke stasiun bandara Kuala Namu buat menuju ke Medan. Keretenya bagus, bersih dan nyaman, kalau kata temen, mirip-mirip MRT. Ada harga ada rupa. Untuk sampai ke Medan, masing-masing dari kami harus mengeluarkan Rp80.000,00 untuk sampai ke Medan dengan lama waktu tempuh lebih kurang 1 jam.
Yummy durian's pancake

Selesai semua pekerjaanku di Medan, aku sempat berjalan-jalan mencari oleh-oleh khas Medan. Tujuan utamaku adalah pancake durian. Pancake yang rasanya Dureeeeeeennnnn sekali itu membuatku tak sabar ingin segera mencicipnya di Jakarta. Jadilah 2 pack pancake durian plus 2 pack titipan teman menambah bagasiku untuk pulang ke Jakarta. Sate Kerang titipan Mbak Kost juga menjadi tambahan bawaan dari Medan. 
Namun, ada yang mengesalkan. Setibanya di Hotel, aku sempat menitipkan pancake itu ke pihak hotel. Dan ternyata pancakenya gak dimasukkan ke dalam freezer seperti yang ku minta, padahal pancake durian tidak akan bertahan lama di luar freezer. Untungnya pancake itu telah di pack dengan menggunakan dus steroform yang membuatnya tetap dingin dan tetap yummy setibanya di Jakarta (hmm....jadi pengen lagi, kapan ya ada temen ke Medan, hohoho)

Berenang Bareng Ikan
Lepas dengan seabreg kegiatan disela-sela pekerjaan, aku juga menyempatkan diri untuk kondangan sekaligus main di Karanganyar, Jawa Tengah. Kondangannya di Karanganyar, main-mainnya di Ponggok, Klaten. Saat seorang teman menawarkan untuk bermain di Ponggok, berenang-renang dengan ikan air tawar, ku pikir Ponggok itu ada di jalan yang belum tersentuh dan tertutup gua. Ternyata Ponggok adalah sebuah pemandian umum, di pinggir jalan, yang memang menyediakan fasilitas untuk berenang-renang dengan ikan. Katanya air di Ponggok ini adalah air tanah yang keluar secara alami. Sayangnya waktu kesana, hujan turun dan membuat suasana makin dingin. Jadi aku tak bisa melanjutkan bermain-main dengan ikan-ikan ini (baca : aku sudah menggigil sebelum akhirnya kakiku kram).

Lagi Akur
Say "Cheese"
Dan, akhir dari perjalanan akhir tahunku adalah RUMAH. Ya, aku sempat pulang sebentar dan mengobrol di ruang makan bersama orang tuaku, sebelum akhirnya dirusuhi oleh dua sepupu kecilku. Sepupuku yang jadi bahan kesibukan Mamah di rumah dan jadi hiburan Bapak kalau pulang kerja. Dua bocah cilik yang nggemesin dan kadang bikin kesel karena keingintahuan mereka, tapi juga bikin kangen dengan suara cempreng khas mereka. 




Happy New Year 2015

Kali ini ada yang berbeda dalam "penghabisan" malam 2014 dan menyambut 2015. Pastinya berbeda. Tujuh tahun belakangan aku menghabiskan akhir tahunku di Jogja. Tidak selalu harus menghabiskan malam di 0 km bersama orang-orang yang memang sengaja buang waktu di lapangan terbuka sambil liat jedar jeder kembang api, tetapi yang jelas aku menghabiskan malam bersama teman sambil liat jedar jeder kembang api walaupun dari atap kosan (meskipun kemabang api yang terlihat adalah punya tetangga, dan bukan kembang api dari alun-alun kota yang gede-gede). Malam akhir tahun 2014 aku habiskan di Jakarta, dengan mbak-mbak kosan. Namanya di kosan, pastilah kami punya rencana buat menghabiskan malam tahun baru. Mulai dari masak-masak hingga maraton nonton film. 
Seperti biasa, sore tanggal 31 Desember biasa hujan turun dengan cantiknya. Hujan masih turun saat aku pulang dari kantor. Hujan, dingin dan lapar. "Sepertinya menyenangkan kalau ngemil-ngemil dulu, mungkin martabak telor hangat di depan kosan bisa menjadi solusi", pikirku saat itu. Jadilah aku sedikit merelakan diri berhujan-hujan untuk membeli 2 box martabak telur. Sambil nonton dan menunggu kiriman ayam bakar, kami ngobrol-ngobrol dan ngemil martabak telor itu, dan tidak terasa dari 2 box martabak telor  cuma tersisa 2 potong martabak. 

Saat maghrib, ayam bakar pesanan kami pun sampai. Acara masak-memasak pun dimulai. Kami berencana hanya membuat sambal,  lalapan, cumi goreng tepung dan sweet corn untuk camilan sambil menunggu pergantian tahun. Ibu kost menyumbangkan sup dagingnya (yang aku pun belum sempat cicipi). Rencana kami, setelah makan kami akan marathon movie. 

Rencana tinggal rencana. Godaan kasur empuk dan selimut tebal di tengah hawa dingin membuatku beranjak dari "bioskop dadakan" dan "nglengkuer" di kasurku. Walaupun begitu, aku tak mau ketinggalan acara bakar-bakar kembang api, aku menyiapkan alarm untuk membangunkanku pukul 11.30 malam. 

Amunisi Kiriman

Malam itu, kami mendapat kiriman amunisi berupa 4 batang kembang api ukuran sedang dan 1 kembang api ukuran besar. Namun, karena tak satupun dari kami pernah bermain kembang api ini, kami mencari bala bantuan untuk menyalakannya. Walaupun belum menunjukkan pukul 12 malam, tetapi jedar-jeder kembang api sudah marak. Beberapa orang sengaja keluar untuk menikmati kembang api gratis. Kami berempat, clingak clinguk mencari orang yang dirasa bisa dan sanggup untuk menyalakan kembang api kami. 


Gada tanah pager pun jadi
Lalu kami menghampiri kerumunan warga dan menanyakan siapa tahu dari mereka bisa menyalakan amunisi-amunisi ini. Kami berempat hanya bengong sembari melihat kembang api tersebut dinyalakan. Bersorak ketika percikan-percikan api itu meledak dan menimbulkan warna-warna cantik di udara meninggalkan bau khas kembang api. Kemudian sampailah kami pada kembang api yang paling besar. Bapak-bapak yang kami mintai pertolongan juga sempat bingung bagaimana harus menyalakan kembang api tersebut. Yang jelas, kembang api tersebut tidak boleh dipegang tangan dan harus ditancapkan di tanah. Beginilah susahnya orang kota. Rumah kosan kami ada di kompleks perumahan jadi agak sulit menemukan lokasi terbuka yang bisa menacapkan kembang api. Agak sedikit ragu, seorang warga berinisiatif untuk mengaitkan kembang api tersebut ke sebuah pagar pekarangan kosong. Tapi, whoops...ternyata bukannya meledak ke tepat atas, setelah kembang api ke 3 si kembang api malah meledak ke samping. Untung saja percikan api gak sempat membakar apa-apa di kanan kirinya. 

Yah, apapun itu, sebenernya main kembang api di kompleks perumahan itu mengandung bahaya (*sok bijak*). Tapi gimanapun juga, ini adalah tahun baru di kota yang baru *sigh.


Itu kembang apinya di depan, Mbak, malah foto2


"Pak, nyalain kembang api saya bisa, pak??"





Thursday, November 20, 2014

Back

Yea I'm back after 10 months with fully surprising life. Mulai dari tiba-tiba di suruh pindah ke Jakarta, belajar hal-hal baru, di lempar ke Lampung buat belajar dan dag-dig-dug menunggu kota tempat bernaung buat beberapa tahun ke depan. Dan jeng..jeng...jeeeennnggg..... saya ada di Jakarta lagi. Walaupun sempat shock karena ternyata saya pindah bagian (yang artinya saya kudu belajar lagi dari NOL KECIL) tetapi untungnya di sini ilmu-ilmu kuliah saya kepake sekali (ralat : kali ini saya kudu bener-bener belajar apa yang HARUSNYA saya kuasai dulu waktu jaman kuliah, thank's).

So, let's rock this city again.

Monday, September 29, 2014

Pantai Klara - Pulau Pahawang

Oke...lupakan sejenak masalah kerjaan, ataupun ambisi-ambisi pribadi. Saatnya saya menulis review saya tentang "jalan-jalan" kemarin.

Jadi ceritanya, karena ini adalah minggu terakhir teman-teman saya di Lampung ini, kami memutuskan untuk mengajak mereka ke pantai. Kebetulan selama di Lampung ini saya pun belum sempat mengunjungi pantai-pantai di Lampung yang (katanya, dan memang) berpasir putih dan masih bersih itu.

Pintu Masuk Pantai Klara by Google
Jadilah kami berdelapan memutuskan pergi ke Pantai Klara (Klara kependekan dari Klapa Rapet), Lampung Selatan. Mulai hari Kamis saya sudah bertanya-tanya dengan narasumber terpercaya (baca : orang kantor) yang mengenali rute itu. Menurut beliau, kalau dari Garuntang, naik angkot hijau lalu turun di Bunderan Gajah, habis itu naik angkot ungu, turun di pertigaan (nah ini saya juga kurang jelas pertigaan mana), setelah itu naik pick up yang memang menuju ke arah Pantai Klara. FYI, Pantai Klara ada di pinggir jalan kok. 


Karena saya pikir ribet 3x naik angkutan, kami memutuskan untuk menyewa angkot. Kebetulan kost beberapa teman kami di lewati angkot ungu itu. Saya juga sudah menanyakan harga sewa angkot itu kepada narasumber saya. Saran dari beliau Rp 175.000,00. Saya pikir itu mungkin harga lama, jadilah saya wanti-wanti teman saya yang mau menyewa angkot, agar budget sewa angkot PP Rp 200.000,00 - Rp 250.000,00. Saran saya kalau sewa angkot 1 orang aja yang nego, yang lainnya "ngumpet" dulu dan jangan ketauan kita mau seneng-seneng, bisa kena harga lebih mahal. Singkat cerita kami menyewa angkot ungu dengan harga Rp 250.000,00

Perjalanan di mulai. Dari jalan yang enak-enak, sampai jalan yang berlobang dan membuat kami bergoyang-goyang di angkot. Sebagai gambaran, kondisi beberapa bagian jalan menuju ke Klara rusak dam berlubang plus berbelok-belok. Sekitar 1 jam kemudian, sampailah kami di Klara. Oh ya, kalau di tanya mau pantai 1 atau pantai 2, lebih bagus pantai 2. Pantainya lebih bersih, tapi lebih ramai. Biaya masuk ke pantai Klara Rp 30.000,00. Tips lagi : jangan lupa beli makan dulu sebelum ke Klara. Susah cari makan apalagi nasi di Pantai ini. Sebenarnya ini sudah di wanti-wanti oleh narasumber saya, sih, tetapi saya mengalami sedikit kecelakaan jadi soal "beli bekal" pun terlupakan. Kami beruntung karena "nemu" warung pecel di sana (1 porsi Rp 8.000,00)

Saat saya dan para cewek nyari "bekal" di Pantai, para cowok bernegosiasi sama abang perahu yang rencananya membawa kami ke Pahawang dan bersnorkling ria. Tujuan utama Pantai Klara dirasa tanggung oleh kami, sehingga kami memutuskan untuk menyeberang hingga ke Pulau Pahawang. Biaya untuk sewa perahu hasil negosiasi Rp 400.000,00 dan Rp 400.000,00 untuk sewa alat snorkling untuk 8 orang.

P. Pahawang Kecil
Kami pun di bawa menuju pulau Pahawang Kecil oleh Abang Perahu. Perjalanan ke sana memakan waktu lebih kurang 1/2 jam. Sesampainya di Pulau Pahawang Kecil, kami di kenai biaya lagi sebesar Rp 20.000,00 1 kapal. Kami makan di sana dan berfoto-foto di hamparan pasir putih. Kebetulan saat kami sampai air sedang surut. Untuk makan, kami tidak boleh jauh-jauh dari tempat bersandarnya kapal. Tidak ada tikar, kami makan di bawah pohon-pohon yang ada di pulau itu di atas hamparan pasir putih. Banyak juga yang datang ke Pulau ini, walaupun begitu untungnya kebersihannya masih agak terjaga. Ada kantong-kantong sampah yang dikelola agar pengunjung mudah membuang sampah dan tidak mengotori pantai. 


Puas bermain-main, kami pun berencana menuju spot snorkling. Spot snorkling ada di Pulau Pahawang Besar. Sambil menunggu si Abang perahu yang tiba-tiba hilang, kami pun menyempatkan diri mencari hewan-hewan laut yang kebetulan ada di situ. Teman saya sempat menemukan tiram dengan ukuran yang cukup besar. Karena laut terlalu surut, sebelum menuju spot snorkling, kami harus menyeret perahu ke tengah laut agar bisa melanjutkan perjalanan. 

Sampai di spot snorkling kami segera turun dan mencari Patrick dan teman-temannya. Tidak lama kaki saya mulai kram, untunglah saya menggunakan life jacket hingga saya tidak khawatir tenggelam. Mungkin karena saya habis jatuh dan tidak terbiasa menggunakan fin, sehingga kaki saya lebih cepat kram. Kami berenang makin menjauhi perahu kami. Sempat panik karena kram kaki, saya meminta teman saya untuk kembali ke dekat kapal. Ternyata kami berenang sudah cukup jauh. Di bawah saya sempat melihat aneka ikan (jangan tanya jenisnya), dan hewan-hewan invertebrata lainnya. Keadaan di bawah sana, bisa saya bilang, OK, keren. Foto snorkling masih di teman saya, dan foto di bawah laut gak ada, karena memang kami tidak ada persiapan sama sekali untuk snorkling :P

Makin lama kami berenang makin jauh. Untungnya salah satu teman kami ada yang kembali ke kapal dan meminta Abang Kapal untuk menghampiri kami. Saya merasakan air mulai pasang dan kami hanyut terbawa arus. Saya kembali panik dan berusaha berenang ke dekat kapal. Untunglah saya berhasil mendekati kapal walaupun sedikit melawan arus. Puas berfoto di air, satu persatu kami naik lagi ke kapal karena hari mulai sore. Jam 16.00 kami kembali pulang. Kami sempat di bawa berputar sedikit untuk melihat pelikan mecari makan di laut. 
Pulau Pahawang Besar

Kami tidak menuju ke Pantai Klara lagi. Kami menuju ke Ketapang. Di sana kami disediakan tempat untuk membilas badan Rp 5.000,00 per orang. Jangan lupa membawa handuk, baju ganti dan peralatan mandinya. Tepat jam 5 sore Abang Angkot telah menunggu kami. Kebetulan kami ketambahan 2 mbak-mbak cantik yang mau mengejar travel ke Jakarta. Dan selesailah satu hari saya yang menyengkan. Pulang dengan badan capai dan tangan pegal. Ya, saya sadar, saya sudah lama tidak berenang :D

Dan, bagi yang malas membaca cerita saya di atas dan hanya ingin tahu budget kami jalan-jalan, saya meringkasnya di sini :
Sewa Angkot (jurusan karang-teluk) : Rp 250.000,00
Sewa Kapal                                     : Rp 400.000,00
Sewa Alat Snorkling (8 alat)             : Rp 400.000,00
Masuk Klara                                    : Rp 30.000,00
Makan + Minum + Camilan              : Rp 100.000,00
Masuk Pulau Pahawang                    : Rp 20.000,00
Total                                                 : Rp 1.200.000,00
Dibagi 8 orang                                  : Rp 150.000,00/orang

Perlengkapan yang perlu di bawa dari rumah :
1. Makan + minum
2. Baju ganti
3. Anduk
4. Alat mandi
5. Kamera bagi yang suka narsis :P

Well, saya pikir udah cukup ya cerita saya kali ini. Semoga bisa membantu bagi yang pengen jalan-jalan di Lampung. Tot zien ;)