Wednesday, November 3, 2021

Situ Gunung

Memanfaatkan libur 1 hari di tengah minggu, kenapa tidak? Tentunya tempat wisata yang nggak terlalu jauh dari Jakarta dan nggak bikin macet, karena kalau bisa dalam 12 jam kita sudah sampai di rumah lagi. Pilihan libur kali itu adalah ke Situ Gunung di Sukabumi. Situ Gunung ini berada di kawasan Gunung Gede Pangrango. Sebetulnya nggak sampai Sukabuminya juga sih, hanya sampai Cisaat.

Image result for stasiun bogor paledang (bogor - sukabumi) bogor city west java
Stasiun Bogor Paledang By Google
Kami (Mbak-mbak kost dan saya) memilih naik KRL dari Jakarta ke Bogor. Kereta ke Cisaat (Sukabumi) berangkat jam 7.50 dari Stasiun Bogor Paledang. Stasiun Bogor Paledang ini terletak nggak jauh dari Stasiun Bogor pemberhentian terakhir KRL itu, hanya di seberang jalan. Tiket kereta ke Cisaat adalah Rp 35.000,- untuk kelas ekonomi dan Rp 80.000,- untuk kelas executive. Karena waktu tempuh yang nggak terlalu lama, hanya 2 jam, kami memilih kelas ekonomi. Kereta ini kursi di kelas ekonomi 3 - 2, sudah ada AC juga jadi nggak perlu kepanasan. 

Sampai di Cisaat beberapa angkot sudah siap menunggu menuju ke Situ Gunung. Kalau pergi sendiri atau dalam rombongan kecil, lebih baik gabung atau ikut rombongan lain, biar biaya angkotnya murah. 1 angkot biasanya minta Rp 300.000,- pulang - pergi. Artinya si angkot akan jemput saat rombongan yang sama balik lagi ke stasiun. Kalaupun misalnya nggak sewa angkot, 1 orang dikenakan tarif Rp 15.000,- sampai Rp 20.000,- sekali jalan. Karena si Abang angkot nggak mau rugi, 1 angkot biasanya diisi 10 - 12 orang. Perjalanan naik dari Stasiun Cisaat ke Situ kira-kira butuh waktu sekitar 1 jam dengan kondisi jalan yang nggak mulus.
Belum sampai di depan gerbang situ, kami terpaksa turun karena jalan masuk ke Situ sudah macet. 
  
Image result for suspension bridge situ gunung site map
Peta Situ Gunung by Google
Untuk masuk kawasan situ, dikenakan biaya Rp 18.000,-. Untuk dapat melewati Suspension Bridge dikenakan biaya Rp 50.000,-. Biaya ini termasuk welcome snack (pisang rebus dan teh atau kopi panas). Setelah membayar tiket untuk Suspension Bridge ini, kita akan mendapat gelang kertas sebagai penanda pengunjung. 

Sebenarnya ada 1 lagi lokasi wisata di kawasan ini selain Curug Sarwer, yaitu Danau Situ Gunung. Kami tidak sempat berkunjung ke Danau ini, karena fokus menuju ke air terjun. Tapi kata pengunjung lain jalur menuju ke danau naik turun yang cukup menguras tenaga. Antrian untuk menikmati Suspension Bridge pada hari itu cukup panjang, karena jembatan inilah jalur tersingkat menuju Curug Sawer. Oleh karenanya kami memilih untuk lewat jalur darat, atau tracking menaiki jalur non Jembatan. Waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke air terjun via darat tanpa melalui jembatan sekitar 30 - 1 jam, tergantung kecepatan kita untuk mengajak kaki-kaki melintasi medan yang lumayan menguras tenaga saya yang nggak pernah olahraga tentunya. 

Di dekat lokasi air terjun, tersedia beberapa tempat makan seperti bakso, mi instan dan makanan-makanan lain yang bisa menghangatkan badan. Kami tidak sempat mampir dan mencicipi makanan di sini, kami pikir akan mampir makan nanti saja ketika pulang atau paling tidak sampai di bogor. 
 
Kami memutuskan untuk menaiki jembatan gantung ketika kembali ke pintu gerbang depan.  Ternyata pengalaman menaiki jembatan gantung cukup membuat saya berdebar-debar. Jembatan yang cukup tinggi dengan seutas tali cukup memacu adrenalin. Walaupun setiap orang yang akan melewati jembatan gantung diberikan pengaman, tetap saja jembatan yang mudah bergoyang-goyang jika dilalui banyak orang cukup membuat saya ingin cepat-cepat sampai ujung jembatan. Waktu tempuh jembatan tersebut mungkin hanya sekitar 10 menit. Saya melewatkan sesi foto-foto karena memang terlalu ngeri untuk berlama-lama di jembatan (ini bukannya saya menakut-nakuti, hanya saya saja yang penakut). Namun, jembatan ini memang merupakan spot foto yang keren (asal pas nggak banyak orang yang lewat dan berfoto juga). 
 
Waktu sudah cukup sore saat kami memutuskan pulang. Di luar area Situ Gunung sudah banyak angkot yang menunggu penumpang untuk kembali ke Stasiun Cisaat. Kemacetan tidak terhindarkan di dekat pintu keluar situ. Karenanya kami memutuskan berjalan kaki sedikit, demi menemukan angkutan yang terbebas dari macet. Beberapa angkutan sudah penuh terisi oleh para pengunjung yang hendak pulang, untungnya kami menemukan angkot lain yang masih bisa menampung kami. Sempat terjadi sedikit drama ketika angkutan yang kami milih, memutuskan untuk turun mogok di tengah jalan. Untunglah angkutan pengganti segera datang sehingga kami masih bisa mengejar kereta ke Stasiun Bogor. 
 
 
Note : perjalanan dilakukan sebelum masa pandemi C-19.

No comments: