Kali ini ada yang berbeda dalam "penghabisan" malam 2014 dan menyambut 2015. Pastinya berbeda. Tujuh tahun belakangan aku menghabiskan akhir tahunku di Jogja. Tidak selalu harus menghabiskan malam di 0 km bersama orang-orang yang memang sengaja buang waktu di lapangan terbuka sambil liat jedar jeder kembang api, tetapi yang jelas aku menghabiskan malam bersama teman sambil liat jedar jeder kembang api walaupun dari atap kosan (meskipun kemabang api yang terlihat adalah punya tetangga, dan bukan kembang api dari alun-alun kota yang gede-gede). Malam akhir tahun 2014 aku habiskan di Jakarta, dengan mbak-mbak kosan. Namanya di kosan, pastilah kami punya rencana buat menghabiskan malam tahun baru. Mulai dari masak-masak hingga maraton nonton film.
Seperti biasa, sore tanggal 31 Desember biasa hujan turun dengan cantiknya. Hujan masih turun saat aku pulang dari kantor. Hujan, dingin dan lapar. "Sepertinya menyenangkan kalau ngemil-ngemil dulu, mungkin martabak telor hangat di depan kosan bisa menjadi solusi", pikirku saat itu. Jadilah aku sedikit merelakan diri berhujan-hujan untuk membeli 2 box martabak telur. Sambil nonton dan menunggu kiriman ayam bakar, kami ngobrol-ngobrol dan ngemil martabak telor itu, dan tidak terasa dari 2 box martabak telor cuma tersisa 2 potong martabak.
Saat maghrib, ayam bakar pesanan kami pun sampai. Acara masak-memasak pun dimulai. Kami berencana hanya membuat sambal, lalapan, cumi goreng tepung dan sweet corn untuk camilan sambil menunggu pergantian tahun. Ibu kost menyumbangkan sup dagingnya (yang aku pun belum sempat cicipi). Rencana kami, setelah makan kami akan marathon movie.
Rencana tinggal rencana. Godaan kasur empuk dan selimut tebal di tengah hawa dingin membuatku beranjak dari "bioskop dadakan" dan "nglengkuer" di kasurku. Walaupun begitu, aku tak mau ketinggalan acara bakar-bakar kembang api, aku menyiapkan alarm untuk membangunkanku pukul 11.30 malam.
![]() |
| Amunisi Kiriman |
Malam itu, kami mendapat kiriman amunisi berupa 4 batang kembang api ukuran sedang dan 1 kembang api ukuran besar. Namun, karena tak satupun dari kami pernah bermain kembang api ini, kami mencari bala bantuan untuk menyalakannya. Walaupun belum menunjukkan pukul 12 malam, tetapi jedar-jeder kembang api sudah marak. Beberapa orang sengaja keluar untuk menikmati kembang api gratis. Kami berempat, clingak clinguk mencari orang yang dirasa bisa dan sanggup untuk menyalakan kembang api kami.
| Gada tanah pager pun jadi |
Lalu kami menghampiri kerumunan warga dan menanyakan siapa tahu dari mereka bisa menyalakan amunisi-amunisi ini. Kami berempat hanya bengong sembari melihat kembang api tersebut dinyalakan. Bersorak ketika percikan-percikan api itu meledak dan menimbulkan warna-warna cantik di udara meninggalkan bau khas kembang api. Kemudian sampailah kami pada kembang api yang paling besar. Bapak-bapak yang kami mintai pertolongan juga sempat bingung bagaimana harus menyalakan kembang api tersebut. Yang jelas, kembang api tersebut tidak boleh dipegang tangan dan harus ditancapkan di tanah. Beginilah susahnya orang kota. Rumah kosan kami ada di kompleks perumahan jadi agak sulit menemukan lokasi terbuka yang bisa menacapkan kembang api. Agak sedikit ragu, seorang warga berinisiatif untuk mengaitkan kembang api tersebut ke sebuah pagar pekarangan kosong. Tapi, whoops...ternyata bukannya meledak ke tepat atas, setelah kembang api ke 3 si kembang api malah meledak ke samping. Untung saja percikan api gak sempat membakar apa-apa di kanan kirinya.
Yah, apapun itu, sebenernya main kembang api di kompleks perumahan itu mengandung bahaya (*sok bijak*). Tapi gimanapun juga, ini adalah tahun baru di kota yang baru *sigh.
| Itu kembang apinya di depan, Mbak, malah foto2 |
"Pak, nyalain kembang api saya bisa, pak??"
|

No comments:
Post a Comment