Monday, January 12, 2015

Teh Hangat Manis

Hujan hari itu serasa tidak akan pernah berhenti. Sedari pagi matahari sudah malas menampakkan sinarnya walau sebentar saja, membuat hari yang malas bertambah malas. Tak banyak yang kukerjakan di kantorku hari itu. Januari, belum banyak kegiatan yang dilaksanakan. Aku hanya membereskan dokumen-dokumen pekerjaan tahun lalu yang morat-marit di mejaku serta menyusun rencana-rencana kegiatan di tahun ini. Hal yang sebenarnya bisa dikerjakan dalam waktu singkat, jika tidak malas.

Hujan mulai turun siang itu. Dari gerimis kecil-kecil yang membasahi jendela hingga menjadi siraman-siraman air yang terbawa angin terhempas ke jendela dan dinding, menimbulkan suara yang khas. Aku sedikit melongok ke bawah. Jalanan lumayan lengang. Beberapa mobil melintas satu-satu dalam beberapa menit. Rupanya orang malas keluar di cuaca seperti ini. Kopi yang semula berasap mulai kehilangan panasnya setelah setengah jam disajikan, membuatku tak berminat lagi meminumnya.

Menjelang malam, hujan malah semakin deras. Daun pohon-pohon palem bergoyang menandakan derasnya hujan yang turun. Jalanan mulai ramai meski tidak padat seperti layaknya jam pulang kantor. Hanya mobil-mobil yang mengantre untuk berbalik arah. Jarang sekali motor yang melintas. Ah, siapa pula yang mau berbasah-basah ria menaiki motor di tengah dingin hujan. Akupun malas beranjak. Di cuaca begini aku malas harus berjalan kaki dan berbecek-becek ke terminal dan menunggu bus yang mengantarku pulang. Aku menunggu dan berharap hujan mereda hingga aku bisa pulang. Pulang, rasanya aku malas sekali pulang. Pulang berarti mengingat semua masalahku. Pulang berarti menghadapi masalah lain dalam hidup.  Di kantor, masalah-masalah tersebut seolah lenyap tertutup beragam pekerjaan dan cerita dari teman.

Malam makin gelap. Hujan tetap saja riuh, meskipun tanpa angin yang menerpa. Malam itu aku memutuskan untuk pulang, tidak nyaman juga rasanya harus pulang terlalu malam. Kali itu angkutan tidak terlalu ramai penumpang. Mungkin orang-orang lebih memilih naik taksi daripada hujan-hujanan nunggu bus yang lewat, belum lagi bonus terciprat air hujan dari kendaraan yang lewat.

Lewat pukul sembilan malam aku sampai di rumah. Pagar hitam besi telah terkunci meski belum digembok. Hujan gerimis masih saja turun meskipun tidak sederas sore tadi. Langkahku gontai menuju pintu kayu yang dibiarkan tanpa pelitur itu. Pintu tidak terkunci, berarti Ibu belum tidur. Raut lelah tak bisa ku sembunyikan dari wajahku.
“Kok malam sekali, Nduk, pulangnya,” Tanya Ibu yang kala itu telah selesai membereskan meja makan.
“Hujan Bu,” kataku sambil menutup pintu kamarku. Rasa lelah dan semua permasalahan tiba-tiba menyerang. Ingatan buruk cerita yang telah lalu masih saja membayangi. Aku merebahkan diri di kasur tanpa dipan tanpa mengganti bajuku terlebih dahulu. Tas selempang yang aku kenakan aku singkirkan di tepian kasur.
“Mandi dulu, Nduk. Itu di termos ada air panas buat mandi kamu. Tadi kamu kehujanan, tho? Cepet sana mandi biar gak sakit,” kata Ibu dari luar kamarku.

Perlahan aku melangkahkan kaki keluar dari kamarku menuju kamar mandi. Ibu masih uplek di dapur, entah menyiapkan apa. Ember sudah ada di kamar mandi. Termos air yang seharusnya ada di dapur pun telah berpindah ke kamar mandi. Ibu telah menyiapkan semuanya. Cepat-cepat aku mandi. Aku tak suka mandi malam hari. Rasa dingin akan menyerangku selepas aku mandi meskipun aku telah menggunakan air panas untuk membasuh tubuhku.  
Selesai mandi, aku dapati Ibu sedang menaruh segelas teh hangat untukku.
“Teh anget, Nduk,” katanya tersenyum.
“Nggih, Bu,” jawabku sebelum menyeruput teh yang dibuat untukku. Rasanya pas, tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin. Tidak terlalu manis yang membuat tenggorokan sakit, tidak juga hambar.

Ibu tidak beranjak dari kamarku. Mata tuanya masih memperhatikanku, seolah meyakinkan dirinya bahwa anaknya telah dewasa dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Ibu tidak pernah banyak bertanya. Namun, di matanya terbesit banyak pertanyaan yang tidak terucap. Aku merebahkan diri di kasur.
“Kamu pasti capek sekali ya, Nduk,” kata Ibu sambil duduk di tepian kasur. Tangannya perlahan membelai kepalaku.
“Enggak kok, Bu” kataku mencoba menyembunyikan masalahku.
“Oalah, Nduk. Meskipun kamu bilang begitu, Ibu juga paham. Gusti ora sare, Nduk. Semoga apa yang kamu inginkan, kamu panjatkan di setiap doamu dikabulkan. Ibu cuma pingin kamu bahagia, Nduk. Ibu mana yang nggak sakit lihat anaknya sakit, Ibu mana yang nggak bahagia kalau anaknya juga bahagia,” kata Ibu sambil tetap mengusap kepalaku.
Aku tersenyum, mencoba menghapuskan segala keresahan di wajah Ibuku.
“Iya, Bu. Aku baik-baik aja,”
“Ya sudah. Istirahat,” kata Ibu saat beranjak dari kasurku.
“Bu. Ibu tidur sini, ya malam ini. Udah lama kita nggak cerita-cerita sebelum tidur,” kataku menahan Ibu saat akan menutup pintu kamar.

Hujan beserta angin mengamuk lagi di luar, memukul-mukul jendela di rumahku. Kilat menyala disertai petir menambah suramnya malam itu. Namun, cerita yang mengalir dari ibu dan anak di kamar dua kali tiga itu mampu menghangatkan suasana. Tidak ada dingin menusuk yang kurasakan malam itu. Segelas teh hangat dari Ibu mampu menghangatkan badanku. Sepenggal cerita dari Ibu mampu menenangkan hatiku. Dan belaian dari Ibu mampu melelapkan tidurku.



                                                                                                                                Buat Mamah,


                                                                                                                         Jakarta, 10 Januari 2015

Friday, January 2, 2015

Catatan Akhir Tahun

Awal tahun 2014, aku memulai hidup yang baru, keluar dari zona nyaman, keluar dari kota  yang membuatku tenang. 2014 aku resmi pindah ke Jakarta. Akhir tahun 2014, aku bisa menapakkan kakiku ke beberapa kota di Indonesia. 

Tiap kota punya cerita. Tiap kota memberikan pengalamannya. Pertama kalinya pergi, aku ditugaskan di Lampung selama 3 bulan. Ada beberapa cerita yang tercipta di sana. Walaupun berada di tanah melayu, aku merasakan kehidupan yang hampir sama seperti di Jawa. Orang-orangnya ramah, bahasanya pun masih ramah di kupingku. Pulang dari Lampung, saya mendapat tugas keluar kota. Tidak tanggung-tanggung saya ditugaskan ke Balikpapan, kota pertama yang kudatangi di Borneo sana. 

Tidak banyak cerita selama di Balikpapan, tidak banyak kata tercipta di Balikpapan. Kali itu tenagaku seperti terkuras untuk bekerja. Kembali dari Balikpapan, aku harus melakukan perjalanan ke Bandung. Seiring berjalannya waktu, perjalanan ke Bandung seperti menjadi rutinitas selain bekerja di kantor Jakarta. Lepas dari Bandung, saya mengalami long rute trip ke Gorontalo-Bandung-Medan. Ada kain Karawo dan Milu Siram dari Gorontalo. Ada Pancake Durian dan sedikit cerita perjalanan di Medan. 

Kata orang, Balikpapan adalah kota yang tertib. Ketika kita menyeberang jalan, maka otomatis orang-orang yang berkendara akan membiarkan kita menyeberang dengan selamat, selama kita menyeberang di tempat yang benar. Sayangnya, aku sendiri belum dapat membuktikannya, karena seharian melakukan pekerjaanku. Bahkan untuk sekedar membeli oleh-oleh, kami lakukan di malam hari dimana toko-toko juga sudah tutup. Sedangkan kami harus meninggalkan Balikpapan pagi-pagi untuk kembali ke Jakarta.

Milu Siram
Lain cerita dengan Gorontalo. Di sini, aku mendapatkan oleh-oleh dari kakak temanku, lebih tepatnya aku dititipi pia Gorontalo. Pia isi coklat dengan coklat lembut yang yummi banget. Makan satu sebenarya cukup, tapi coklatnya beneran nagih minta lagi. Selain itu ada kain karawo. Sebenarnya ini bukan kain sih, kainnya bisa dari kain apa aja (termasuk kain paris yang biasa buat jilbab), tapi uniknya serat dari ini ini di lepas, untuk kemudian di rajut lagi. Ada lagi Milu Siram. Ini adalah semacam sup jagung khasnya Gorontalo. Isinya, pastinya jagung, parutan kelapa, seledri dan (harusnya) ikan. Rasanya, hmm aku kasi 8.5/10 untuk makanan luar jawa. Milu siram ini punya rasa yang sedikit manis tapi gurih, yang seingatku tidak ada di cita rasa jawa. 

Tiketnya gak dibolongin, tapi di sobek
Cerita menarik datang dari Medan. Aku sempat merasa sedikit takut saat mau mendarat di Kuala Namu, Medan. Pesawat yang kutumpangi berputar mengelilingi laut. Ada terbesit pikiran negative tentang bagaimana jika nantinya harus mendarat darurat di laut. Demi menghindari pikiran-pikiran aneh, aku mengalihkan pandanganku dari jendela dan kembali membaca novel yang kubawa. Setelah menapakkan kaki ke bumi lagi, aku bersama teman kantor langsung menuju ke stasiun bandara Kuala Namu buat menuju ke Medan. Keretenya bagus, bersih dan nyaman, kalau kata temen, mirip-mirip MRT. Ada harga ada rupa. Untuk sampai ke Medan, masing-masing dari kami harus mengeluarkan Rp80.000,00 untuk sampai ke Medan dengan lama waktu tempuh lebih kurang 1 jam.
Yummy durian's pancake

Selesai semua pekerjaanku di Medan, aku sempat berjalan-jalan mencari oleh-oleh khas Medan. Tujuan utamaku adalah pancake durian. Pancake yang rasanya Dureeeeeeennnnn sekali itu membuatku tak sabar ingin segera mencicipnya di Jakarta. Jadilah 2 pack pancake durian plus 2 pack titipan teman menambah bagasiku untuk pulang ke Jakarta. Sate Kerang titipan Mbak Kost juga menjadi tambahan bawaan dari Medan. 
Namun, ada yang mengesalkan. Setibanya di Hotel, aku sempat menitipkan pancake itu ke pihak hotel. Dan ternyata pancakenya gak dimasukkan ke dalam freezer seperti yang ku minta, padahal pancake durian tidak akan bertahan lama di luar freezer. Untungnya pancake itu telah di pack dengan menggunakan dus steroform yang membuatnya tetap dingin dan tetap yummy setibanya di Jakarta (hmm....jadi pengen lagi, kapan ya ada temen ke Medan, hohoho)

Berenang Bareng Ikan
Lepas dengan seabreg kegiatan disela-sela pekerjaan, aku juga menyempatkan diri untuk kondangan sekaligus main di Karanganyar, Jawa Tengah. Kondangannya di Karanganyar, main-mainnya di Ponggok, Klaten. Saat seorang teman menawarkan untuk bermain di Ponggok, berenang-renang dengan ikan air tawar, ku pikir Ponggok itu ada di jalan yang belum tersentuh dan tertutup gua. Ternyata Ponggok adalah sebuah pemandian umum, di pinggir jalan, yang memang menyediakan fasilitas untuk berenang-renang dengan ikan. Katanya air di Ponggok ini adalah air tanah yang keluar secara alami. Sayangnya waktu kesana, hujan turun dan membuat suasana makin dingin. Jadi aku tak bisa melanjutkan bermain-main dengan ikan-ikan ini (baca : aku sudah menggigil sebelum akhirnya kakiku kram).

Lagi Akur
Say "Cheese"
Dan, akhir dari perjalanan akhir tahunku adalah RUMAH. Ya, aku sempat pulang sebentar dan mengobrol di ruang makan bersama orang tuaku, sebelum akhirnya dirusuhi oleh dua sepupu kecilku. Sepupuku yang jadi bahan kesibukan Mamah di rumah dan jadi hiburan Bapak kalau pulang kerja. Dua bocah cilik yang nggemesin dan kadang bikin kesel karena keingintahuan mereka, tapi juga bikin kangen dengan suara cempreng khas mereka. 




Happy New Year 2015

Kali ini ada yang berbeda dalam "penghabisan" malam 2014 dan menyambut 2015. Pastinya berbeda. Tujuh tahun belakangan aku menghabiskan akhir tahunku di Jogja. Tidak selalu harus menghabiskan malam di 0 km bersama orang-orang yang memang sengaja buang waktu di lapangan terbuka sambil liat jedar jeder kembang api, tetapi yang jelas aku menghabiskan malam bersama teman sambil liat jedar jeder kembang api walaupun dari atap kosan (meskipun kemabang api yang terlihat adalah punya tetangga, dan bukan kembang api dari alun-alun kota yang gede-gede). Malam akhir tahun 2014 aku habiskan di Jakarta, dengan mbak-mbak kosan. Namanya di kosan, pastilah kami punya rencana buat menghabiskan malam tahun baru. Mulai dari masak-masak hingga maraton nonton film. 
Seperti biasa, sore tanggal 31 Desember biasa hujan turun dengan cantiknya. Hujan masih turun saat aku pulang dari kantor. Hujan, dingin dan lapar. "Sepertinya menyenangkan kalau ngemil-ngemil dulu, mungkin martabak telor hangat di depan kosan bisa menjadi solusi", pikirku saat itu. Jadilah aku sedikit merelakan diri berhujan-hujan untuk membeli 2 box martabak telur. Sambil nonton dan menunggu kiriman ayam bakar, kami ngobrol-ngobrol dan ngemil martabak telor itu, dan tidak terasa dari 2 box martabak telor  cuma tersisa 2 potong martabak. 

Saat maghrib, ayam bakar pesanan kami pun sampai. Acara masak-memasak pun dimulai. Kami berencana hanya membuat sambal,  lalapan, cumi goreng tepung dan sweet corn untuk camilan sambil menunggu pergantian tahun. Ibu kost menyumbangkan sup dagingnya (yang aku pun belum sempat cicipi). Rencana kami, setelah makan kami akan marathon movie. 

Rencana tinggal rencana. Godaan kasur empuk dan selimut tebal di tengah hawa dingin membuatku beranjak dari "bioskop dadakan" dan "nglengkuer" di kasurku. Walaupun begitu, aku tak mau ketinggalan acara bakar-bakar kembang api, aku menyiapkan alarm untuk membangunkanku pukul 11.30 malam. 

Amunisi Kiriman

Malam itu, kami mendapat kiriman amunisi berupa 4 batang kembang api ukuran sedang dan 1 kembang api ukuran besar. Namun, karena tak satupun dari kami pernah bermain kembang api ini, kami mencari bala bantuan untuk menyalakannya. Walaupun belum menunjukkan pukul 12 malam, tetapi jedar-jeder kembang api sudah marak. Beberapa orang sengaja keluar untuk menikmati kembang api gratis. Kami berempat, clingak clinguk mencari orang yang dirasa bisa dan sanggup untuk menyalakan kembang api kami. 


Gada tanah pager pun jadi
Lalu kami menghampiri kerumunan warga dan menanyakan siapa tahu dari mereka bisa menyalakan amunisi-amunisi ini. Kami berempat hanya bengong sembari melihat kembang api tersebut dinyalakan. Bersorak ketika percikan-percikan api itu meledak dan menimbulkan warna-warna cantik di udara meninggalkan bau khas kembang api. Kemudian sampailah kami pada kembang api yang paling besar. Bapak-bapak yang kami mintai pertolongan juga sempat bingung bagaimana harus menyalakan kembang api tersebut. Yang jelas, kembang api tersebut tidak boleh dipegang tangan dan harus ditancapkan di tanah. Beginilah susahnya orang kota. Rumah kosan kami ada di kompleks perumahan jadi agak sulit menemukan lokasi terbuka yang bisa menacapkan kembang api. Agak sedikit ragu, seorang warga berinisiatif untuk mengaitkan kembang api tersebut ke sebuah pagar pekarangan kosong. Tapi, whoops...ternyata bukannya meledak ke tepat atas, setelah kembang api ke 3 si kembang api malah meledak ke samping. Untung saja percikan api gak sempat membakar apa-apa di kanan kirinya. 

Yah, apapun itu, sebenernya main kembang api di kompleks perumahan itu mengandung bahaya (*sok bijak*). Tapi gimanapun juga, ini adalah tahun baru di kota yang baru *sigh.


Itu kembang apinya di depan, Mbak, malah foto2


"Pak, nyalain kembang api saya bisa, pak??"





Thursday, November 20, 2014

Back

Yea I'm back after 10 months with fully surprising life. Mulai dari tiba-tiba di suruh pindah ke Jakarta, belajar hal-hal baru, di lempar ke Lampung buat belajar dan dag-dig-dug menunggu kota tempat bernaung buat beberapa tahun ke depan. Dan jeng..jeng...jeeeennnggg..... saya ada di Jakarta lagi. Walaupun sempat shock karena ternyata saya pindah bagian (yang artinya saya kudu belajar lagi dari NOL KECIL) tetapi untungnya di sini ilmu-ilmu kuliah saya kepake sekali (ralat : kali ini saya kudu bener-bener belajar apa yang HARUSNYA saya kuasai dulu waktu jaman kuliah, thank's).

So, let's rock this city again.

Monday, September 29, 2014

Pantai Klara - Pulau Pahawang

Oke...lupakan sejenak masalah kerjaan, ataupun ambisi-ambisi pribadi. Saatnya saya menulis review saya tentang "jalan-jalan" kemarin.

Jadi ceritanya, karena ini adalah minggu terakhir teman-teman saya di Lampung ini, kami memutuskan untuk mengajak mereka ke pantai. Kebetulan selama di Lampung ini saya pun belum sempat mengunjungi pantai-pantai di Lampung yang (katanya, dan memang) berpasir putih dan masih bersih itu.

Pintu Masuk Pantai Klara by Google
Jadilah kami berdelapan memutuskan pergi ke Pantai Klara (Klara kependekan dari Klapa Rapet), Lampung Selatan. Mulai hari Kamis saya sudah bertanya-tanya dengan narasumber terpercaya (baca : orang kantor) yang mengenali rute itu. Menurut beliau, kalau dari Garuntang, naik angkot hijau lalu turun di Bunderan Gajah, habis itu naik angkot ungu, turun di pertigaan (nah ini saya juga kurang jelas pertigaan mana), setelah itu naik pick up yang memang menuju ke arah Pantai Klara. FYI, Pantai Klara ada di pinggir jalan kok. 


Karena saya pikir ribet 3x naik angkutan, kami memutuskan untuk menyewa angkot. Kebetulan kost beberapa teman kami di lewati angkot ungu itu. Saya juga sudah menanyakan harga sewa angkot itu kepada narasumber saya. Saran dari beliau Rp 175.000,00. Saya pikir itu mungkin harga lama, jadilah saya wanti-wanti teman saya yang mau menyewa angkot, agar budget sewa angkot PP Rp 200.000,00 - Rp 250.000,00. Saran saya kalau sewa angkot 1 orang aja yang nego, yang lainnya "ngumpet" dulu dan jangan ketauan kita mau seneng-seneng, bisa kena harga lebih mahal. Singkat cerita kami menyewa angkot ungu dengan harga Rp 250.000,00

Perjalanan di mulai. Dari jalan yang enak-enak, sampai jalan yang berlobang dan membuat kami bergoyang-goyang di angkot. Sebagai gambaran, kondisi beberapa bagian jalan menuju ke Klara rusak dam berlubang plus berbelok-belok. Sekitar 1 jam kemudian, sampailah kami di Klara. Oh ya, kalau di tanya mau pantai 1 atau pantai 2, lebih bagus pantai 2. Pantainya lebih bersih, tapi lebih ramai. Biaya masuk ke pantai Klara Rp 30.000,00. Tips lagi : jangan lupa beli makan dulu sebelum ke Klara. Susah cari makan apalagi nasi di Pantai ini. Sebenarnya ini sudah di wanti-wanti oleh narasumber saya, sih, tetapi saya mengalami sedikit kecelakaan jadi soal "beli bekal" pun terlupakan. Kami beruntung karena "nemu" warung pecel di sana (1 porsi Rp 8.000,00)

Saat saya dan para cewek nyari "bekal" di Pantai, para cowok bernegosiasi sama abang perahu yang rencananya membawa kami ke Pahawang dan bersnorkling ria. Tujuan utama Pantai Klara dirasa tanggung oleh kami, sehingga kami memutuskan untuk menyeberang hingga ke Pulau Pahawang. Biaya untuk sewa perahu hasil negosiasi Rp 400.000,00 dan Rp 400.000,00 untuk sewa alat snorkling untuk 8 orang.

P. Pahawang Kecil
Kami pun di bawa menuju pulau Pahawang Kecil oleh Abang Perahu. Perjalanan ke sana memakan waktu lebih kurang 1/2 jam. Sesampainya di Pulau Pahawang Kecil, kami di kenai biaya lagi sebesar Rp 20.000,00 1 kapal. Kami makan di sana dan berfoto-foto di hamparan pasir putih. Kebetulan saat kami sampai air sedang surut. Untuk makan, kami tidak boleh jauh-jauh dari tempat bersandarnya kapal. Tidak ada tikar, kami makan di bawah pohon-pohon yang ada di pulau itu di atas hamparan pasir putih. Banyak juga yang datang ke Pulau ini, walaupun begitu untungnya kebersihannya masih agak terjaga. Ada kantong-kantong sampah yang dikelola agar pengunjung mudah membuang sampah dan tidak mengotori pantai. 


Puas bermain-main, kami pun berencana menuju spot snorkling. Spot snorkling ada di Pulau Pahawang Besar. Sambil menunggu si Abang perahu yang tiba-tiba hilang, kami pun menyempatkan diri mencari hewan-hewan laut yang kebetulan ada di situ. Teman saya sempat menemukan tiram dengan ukuran yang cukup besar. Karena laut terlalu surut, sebelum menuju spot snorkling, kami harus menyeret perahu ke tengah laut agar bisa melanjutkan perjalanan. 

Sampai di spot snorkling kami segera turun dan mencari Patrick dan teman-temannya. Tidak lama kaki saya mulai kram, untunglah saya menggunakan life jacket hingga saya tidak khawatir tenggelam. Mungkin karena saya habis jatuh dan tidak terbiasa menggunakan fin, sehingga kaki saya lebih cepat kram. Kami berenang makin menjauhi perahu kami. Sempat panik karena kram kaki, saya meminta teman saya untuk kembali ke dekat kapal. Ternyata kami berenang sudah cukup jauh. Di bawah saya sempat melihat aneka ikan (jangan tanya jenisnya), dan hewan-hewan invertebrata lainnya. Keadaan di bawah sana, bisa saya bilang, OK, keren. Foto snorkling masih di teman saya, dan foto di bawah laut gak ada, karena memang kami tidak ada persiapan sama sekali untuk snorkling :P

Makin lama kami berenang makin jauh. Untungnya salah satu teman kami ada yang kembali ke kapal dan meminta Abang Kapal untuk menghampiri kami. Saya merasakan air mulai pasang dan kami hanyut terbawa arus. Saya kembali panik dan berusaha berenang ke dekat kapal. Untunglah saya berhasil mendekati kapal walaupun sedikit melawan arus. Puas berfoto di air, satu persatu kami naik lagi ke kapal karena hari mulai sore. Jam 16.00 kami kembali pulang. Kami sempat di bawa berputar sedikit untuk melihat pelikan mecari makan di laut. 
Pulau Pahawang Besar

Kami tidak menuju ke Pantai Klara lagi. Kami menuju ke Ketapang. Di sana kami disediakan tempat untuk membilas badan Rp 5.000,00 per orang. Jangan lupa membawa handuk, baju ganti dan peralatan mandinya. Tepat jam 5 sore Abang Angkot telah menunggu kami. Kebetulan kami ketambahan 2 mbak-mbak cantik yang mau mengejar travel ke Jakarta. Dan selesailah satu hari saya yang menyengkan. Pulang dengan badan capai dan tangan pegal. Ya, saya sadar, saya sudah lama tidak berenang :D

Dan, bagi yang malas membaca cerita saya di atas dan hanya ingin tahu budget kami jalan-jalan, saya meringkasnya di sini :
Sewa Angkot (jurusan karang-teluk) : Rp 250.000,00
Sewa Kapal                                     : Rp 400.000,00
Sewa Alat Snorkling (8 alat)             : Rp 400.000,00
Masuk Klara                                    : Rp 30.000,00
Makan + Minum + Camilan              : Rp 100.000,00
Masuk Pulau Pahawang                    : Rp 20.000,00
Total                                                 : Rp 1.200.000,00
Dibagi 8 orang                                  : Rp 150.000,00/orang

Perlengkapan yang perlu di bawa dari rumah :
1. Makan + minum
2. Baju ganti
3. Anduk
4. Alat mandi
5. Kamera bagi yang suka narsis :P

Well, saya pikir udah cukup ya cerita saya kali ini. Semoga bisa membantu bagi yang pengen jalan-jalan di Lampung. Tot zien ;)













Friday, September 19, 2014

Next Chapter : Angkringan

Pulang. Aku pulang ke kotamu, ke kotaku, ke kota kita. Aku pulang membawa segudang cerita untukmu. Aku pulang dengan antusias untuk mendengar lagi ceritamu. Di benakku sudah terbesit pikiran untuk memelukmu ketika nanti aku melihatmu. Aku hanya memastikan bahwa kau memang benar adanya. Kamu adalah nyata.

Sehari sebelum kepulanganku aku memberimu kabar, memintamu untuk menjemputku seperti yang dulu pernah kau lakukan. Lalu kau pun ada di sana, menungguku kepulanganku. Dua detik adalah waktu yang cukup untuk mengambil tasku dan berjalan padamu. Aku membutuhkan waktu lebih dari itu. Dua detik adalah waktu yang cukup untuk duduk nyaman di belakang punggungmu. Dan aku membutuhkan waktu lebih dari itu untuk hanya untuk berdiri di sampingmu melihat detail wajahmu. 

"Yuk, mau makan dulu atau langsung pulang?" tanyamu.
"Aku laper, makan dulu yah, tadi masih males makan," jawabku.
"Kamu gak mau meluk aku?" Tersenyum sambil memasktikan aku sudah nyaman dan aman duduk bersamamu. Gaps. Tebakanmu tepat dan membuatku mengurungkan niat untuk memelukmu.

Kamu membawaku menuju angkringan kesukaanmu. Angkringan yang katamu enak buat ngobrol tanpa menguras dompet. Mbak pelayan menyapa kita ramah, salah satu yang sangat aku rindukan di kota ini. 
"Minumnya mau apa?" tanya si Pelayan ramah.
"Es teh," jawabku cepat.
"Jangan. Kamu kedinginan. Teh anget aja dua. Satu manis satu tawar, ya" katamu.
Kamu masih tetap sama. Teh tawar hangat menjadi pilihanmu tiap kali makan bersamaku. Perhatian kecilmu juga masih seperti dulu. Kamu tahu aku agak tidak mempedulikan kondisi badanku yang kedinginan terkena angin malam.
Kamu memberiku piring kecil untuk meletakkan lauk-lauk yg akan kita santap nanti. Sate usus menjadi favoritku disini. Aku merindukan makanan-makanan manis khas kota ini, salah satu yang faktor yang membuat kota ini semakin manis untukku.

Aku mengikutimu duduk di salah satu meja di sudut angkringan. Aku memilih duduk bersebelahan denganmu walaupun aku harus berkali-kali menolehkan kepalaku untuk melihatmu.
“Gak makan?” tanyaku.
“Gak, aku makan lauknya aja,” katamu.
“Cerita dong. Aku pengen denger ceritamu,” pintaku.
“Cerita apa,” katamu datar sambil mulai menyomot pecel dari piringku. Jawaban yang selalu kamu keluarkan ketika aku memintamu untuk bercerita. Kamu tahu aku sangat menikmati ceritamu.
“Apa?” katamu saat aku memandangmu lebih lama dari yang dibutuhkan. Aku menggelengkan kepalaku. Sebenarnya aku tidak suka membiarkankan hening ada diantara kita.
“Dari pada kita diem-dieman gini, kamu yang cerita. Ada yang baru?” tanyamu kalem, memancing reaksiku. Gaps kedua.
“Bukannya kamu yang punya. Aku masih sama,” kataku. Ada nada bicara yang tak pernah bisa aku kontrol jika membicarakan hal ini denganmu. Aku masih tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukaku.
“Udah makan dulu, gimana Jakarta?” katamu. Kamu selalu bisa mengatasi masalah ini dengan cepat. Mengatasi atau mengalihkan pembicaraan ini.
“Sama siapa lagi kamu sekarang,” jawabku.
“Udah. Gak usah dibahas. Ga usah mancing. Entar kamu cemburu lagi,” katamu sambil tersenyum. Gaps ketiga. Aku mulai curiga kamu bisa membaca pikiranku Ataukah memang tulisan “aku cemburu” ada di dahiku dan kamu bisa membacanya dengan jelas.

Aku mau membalas ucapanmu saat Mbak Pelayan mengantarkan 2 potong ayam bakar pesanan kita. Setelah si Mbak Pelayan pergi aku mulai membanjirimu dengan semua yang aku dengar tentangmu setelah aku tak lagi bersamamu. Semua cerita yang aku dengar aku sampaikan lagi padamu walaupun itu membuatku sesak dan sulit bernafas. Kemudian perlahan-lahan kamu menghilang. Aku tidak ada di kotamu. Aku tidak ada di kota kita. Aku berada di kamarku jauh dari kota kita. Aku terbangun sendiri. Saat aku sepenuhnya sadar, aku mendapati diriku di atas kasur kamarku terengah-engah menahan semua rasa yang bergolak.

“Jangan ngelamun,” katamu membuyarkan lamunanku. Aku menggelengkan kepalaku perlahan. Membuang jauh mimpiku. Aku sadar akhir-akhir ini aku memimpikanmu. Aku mengubah pikiranku. Aku tidak mau menceritakan padamu cerita-cerita yang pernah aku dengar tentangmu. Aku tidak mau kamu tiba-tiba menghilang dan aku terbangun sendiri di kamarku. Setidaknya tidak secepat ini. Aku masih mau melihatmu. Aku masih mau bersamamu.

Aku mengalihkan pembicaraan kita yang sempat tertunda tadi. Menceritakan pekerjaan adalah hal yang aman bersamamu. Aku tidak akan khawatir kita bertengkar hanya masalah pekerjaanku ataupun pekerjaanmu. Kamu pun akan bebas bercerita padaku. Hingga malam sudah dirasa terlalu larut, kau mengajakku untuk pulang. Aku memang butuh istirahat setelah perjalanan yang kutempuh. Kali ini aku memeluk pinggangmu erat. Rasanya masih sama seperti dulu, saat aku sering melakukannya.

Kemudian kamu perlahan menghilang. Setidaknya kali ini, kalaupun besok aku terbangun sendiri di kamarku jauh dari kotaku, mimpiku malam ini berakhir bahagia. Aku lalu mengambil hpku dan mengirimkan pesan padamu. Setidaknya jika pesan itu benar adanya aku tahu kali ini aku tak bermimpi.


'Nice Dream.'


19 September 2014
Garuntang, Bandar Lampung

Wednesday, September 17, 2014

When We're Walking from the Café

Mobil dan café mungkin suatu yang sulit dipisahkan. Jarang kan kalian lihat orang ke kafe jalan kaki? Tapi itu terjadi di sini. Yaps, kami di sini jalan kaki ke kafe karena jarak kafe dan kos-kosan kami gak lebih dari 500 meter.

Jam 7 malem kami berangkat dari kosan. Sebenarnya ini bukan kali pertama kami ke kafe itu, tapi ini kali pertama ke kafe itu malam hari. Kami menemukan kafe itu pertama kalinya secara tidak sengaja di saat kami berencana mencari jajanan sore "Omah Sosis", yang ternyata sudah tutup dan viola ada kafe itu di depan ex-"omah sosis". Pemandangan di kafe itu lumayan walaupun suasananya gak bisa dibilang cozy. Dari segi harga, mahal. Mahal karena saya bandingkan dengan harga di Jogja, dimana seongok es teler dihargai Rp 10.000,00 dapet 1 mangkok guede yang dijamin kenyang. 

Jadilah kami berlima mengulangi kunjungan kami ke kafe "mehong" dan gak cozy itu cuman buat liat pemandangan lampu-lampu rumah di Teluk Bitung sana. Dari rumah kami sudah berniat makan dulu, jadi bisa lebih ngirit, modal minuman 1 biji tiap orang dan ngobrol ampe puas. 

Waktu kami dateng ke sana, suasana kafe belum begitu ramai. Masih adek-adek muda yang lagi pacaran, beberapa keluarga kecil bahagia sejahtera bersama anak-anak kecil mereka. Kami memilih spot yang sama seperti kali pertama kami datang. Band kafe tersebut masih sibuk mengecek peralatan mereka sebelum tampil. Suasana kafe makin ramai. Jarum jam tangan saya mulai berotasi dan membentuk sudut siku-siku diantara angka 9 dan 12. 

Malam makin larut buat saya. Setelah bekerja, kriteria "larut malam" saya berubah dari semula di atas jam 1 pagi menjadi di atas jam 9 malam. Besoknya kami harus bangun pagi, niat untuk "jalan-jalan" di kawasan bebas kendaraan memaksa kami untuk pulang dan segera tidur. 

Saat membayar tagihan di kasir, saya agak terkesima dengan embak-embak dan abang-abang yang datang ke situ. Semuanya dandannya oke punya. Kita samakan persepsi dulu. Kalau kalian berpikir mereka cuantik-cuantik dan guanteng-guanteng kek layaknya foto model, saya bilang gak semua. Ganteng dan cantik itu selera bukan? (Saya masih gak rela menyebut cowok sini ganteng dan saya juga gak mau saingan sama cewek sini, hahahaha....skip itu hanya keegoisan saya). Intinya mereka ke kafe ini dengan dandanan yang "necis". Kami sadar kalau cewek-cewek begitu gak mungkin "dibawa" cuman bermodal motor matic trend masa kini. Mereka itu cewek-cewek "high maintenance" kalau kata teman saya. Cobalah bandingkan gaya mereka dengan gaya kami yang ala kadarnya. Kaos oblong dan jeans belel dan sendal ala kadarnya dibandingkan dengan mini dress plus high heels, kaos dengan luarkan kameja kotak-kotak dan sepatu.

Kami kemudian keluar dari kafe tersebut. Berlima kami sempat berbisik-bisik "wuih bawa mobing semua."
Teman saya, Dika, tiba-tiba menyeletuk, “Mobil kita dimana?”
Saya dan beberapa teman menimpali candaan dia.
“Di sana, gak parkir di sini,” kata saya sambil menunjuk arah kosan kami.
“Iya kan kita ga parkir di sini,” kata Eka.

Cuek, kami tetap berjalan pulang sambil tetap membahas ternyata kalau malam minggu seberang jalan kosan kami berubah jadi showroom mobil, dan membahas cewek-cewek "high maintenance" tadi. Tidak satupun dari kami sadar bahwa ada seorang tukang parkir yang menanggapi serius becandaan kami soal mobil tadi. Dia diam sambil tetap mengikuti kami. Baru tak lama kemudian salah satu dari kami sadar, dan mulai menyadarkan yang lainnya.

“Apaan sih kalian, gue sih jujur aja, orang gue gak bawa mobil ke sini,” kata Dama. Saya mulai sadar ada tukang parkir yang mengikuti.
“Eh, enggak, Bang. Kami jalan kaki, kami gak bawa mobil kok kesini,” kata Dika. 
"Iya, Bang. Orang deket kok rumahnya," timpal teman saya yang lain. 
Suasana menjadi canggung sedikit. Kami mulai mengecilkan suara dan mempercepat langkah. meninggalkan areal parkir kafe itu. Si tukang parkir sudah berhenti mengikuti kami dan berbalik menuju tempatnya semula. Entahlah mungkin dia sempat mengumpat kami 5 gerombolan anak aneh yang sok bawa mobil. 

Hohoho..maaf Abang Parkir, kami gak bermaksud ngerjain kok, cuman keisengan 5 orang bocah yang terkesima dengan keadaan kota yang sepi di depan sana tetapi kalau malam minggu mobil-mobil berjajar rapi di kafe-kafe seberang kosan kami yang sepi. Kami baru menyadari bahwa keramaian kota ada tepat dibalik pekarangan kosong seberang jalan kosan kami.





Malam minggu ke 5 di Lampung
Garuntang, Bandar Lampung