Wednesday, September 17, 2014

When We're Walking from the Café

Mobil dan café mungkin suatu yang sulit dipisahkan. Jarang kan kalian lihat orang ke kafe jalan kaki? Tapi itu terjadi di sini. Yaps, kami di sini jalan kaki ke kafe karena jarak kafe dan kos-kosan kami gak lebih dari 500 meter.

Jam 7 malem kami berangkat dari kosan. Sebenarnya ini bukan kali pertama kami ke kafe itu, tapi ini kali pertama ke kafe itu malam hari. Kami menemukan kafe itu pertama kalinya secara tidak sengaja di saat kami berencana mencari jajanan sore "Omah Sosis", yang ternyata sudah tutup dan viola ada kafe itu di depan ex-"omah sosis". Pemandangan di kafe itu lumayan walaupun suasananya gak bisa dibilang cozy. Dari segi harga, mahal. Mahal karena saya bandingkan dengan harga di Jogja, dimana seongok es teler dihargai Rp 10.000,00 dapet 1 mangkok guede yang dijamin kenyang. 

Jadilah kami berlima mengulangi kunjungan kami ke kafe "mehong" dan gak cozy itu cuman buat liat pemandangan lampu-lampu rumah di Teluk Bitung sana. Dari rumah kami sudah berniat makan dulu, jadi bisa lebih ngirit, modal minuman 1 biji tiap orang dan ngobrol ampe puas. 

Waktu kami dateng ke sana, suasana kafe belum begitu ramai. Masih adek-adek muda yang lagi pacaran, beberapa keluarga kecil bahagia sejahtera bersama anak-anak kecil mereka. Kami memilih spot yang sama seperti kali pertama kami datang. Band kafe tersebut masih sibuk mengecek peralatan mereka sebelum tampil. Suasana kafe makin ramai. Jarum jam tangan saya mulai berotasi dan membentuk sudut siku-siku diantara angka 9 dan 12. 

Malam makin larut buat saya. Setelah bekerja, kriteria "larut malam" saya berubah dari semula di atas jam 1 pagi menjadi di atas jam 9 malam. Besoknya kami harus bangun pagi, niat untuk "jalan-jalan" di kawasan bebas kendaraan memaksa kami untuk pulang dan segera tidur. 

Saat membayar tagihan di kasir, saya agak terkesima dengan embak-embak dan abang-abang yang datang ke situ. Semuanya dandannya oke punya. Kita samakan persepsi dulu. Kalau kalian berpikir mereka cuantik-cuantik dan guanteng-guanteng kek layaknya foto model, saya bilang gak semua. Ganteng dan cantik itu selera bukan? (Saya masih gak rela menyebut cowok sini ganteng dan saya juga gak mau saingan sama cewek sini, hahahaha....skip itu hanya keegoisan saya). Intinya mereka ke kafe ini dengan dandanan yang "necis". Kami sadar kalau cewek-cewek begitu gak mungkin "dibawa" cuman bermodal motor matic trend masa kini. Mereka itu cewek-cewek "high maintenance" kalau kata teman saya. Cobalah bandingkan gaya mereka dengan gaya kami yang ala kadarnya. Kaos oblong dan jeans belel dan sendal ala kadarnya dibandingkan dengan mini dress plus high heels, kaos dengan luarkan kameja kotak-kotak dan sepatu.

Kami kemudian keluar dari kafe tersebut. Berlima kami sempat berbisik-bisik "wuih bawa mobing semua."
Teman saya, Dika, tiba-tiba menyeletuk, “Mobil kita dimana?”
Saya dan beberapa teman menimpali candaan dia.
“Di sana, gak parkir di sini,” kata saya sambil menunjuk arah kosan kami.
“Iya kan kita ga parkir di sini,” kata Eka.

Cuek, kami tetap berjalan pulang sambil tetap membahas ternyata kalau malam minggu seberang jalan kosan kami berubah jadi showroom mobil, dan membahas cewek-cewek "high maintenance" tadi. Tidak satupun dari kami sadar bahwa ada seorang tukang parkir yang menanggapi serius becandaan kami soal mobil tadi. Dia diam sambil tetap mengikuti kami. Baru tak lama kemudian salah satu dari kami sadar, dan mulai menyadarkan yang lainnya.

“Apaan sih kalian, gue sih jujur aja, orang gue gak bawa mobil ke sini,” kata Dama. Saya mulai sadar ada tukang parkir yang mengikuti.
“Eh, enggak, Bang. Kami jalan kaki, kami gak bawa mobil kok kesini,” kata Dika. 
"Iya, Bang. Orang deket kok rumahnya," timpal teman saya yang lain. 
Suasana menjadi canggung sedikit. Kami mulai mengecilkan suara dan mempercepat langkah. meninggalkan areal parkir kafe itu. Si tukang parkir sudah berhenti mengikuti kami dan berbalik menuju tempatnya semula. Entahlah mungkin dia sempat mengumpat kami 5 gerombolan anak aneh yang sok bawa mobil. 

Hohoho..maaf Abang Parkir, kami gak bermaksud ngerjain kok, cuman keisengan 5 orang bocah yang terkesima dengan keadaan kota yang sepi di depan sana tetapi kalau malam minggu mobil-mobil berjajar rapi di kafe-kafe seberang kosan kami yang sepi. Kami baru menyadari bahwa keramaian kota ada tepat dibalik pekarangan kosong seberang jalan kosan kami.





Malam minggu ke 5 di Lampung
Garuntang, Bandar Lampung

No comments: