Friday, September 19, 2014

Next Chapter : Angkringan

Pulang. Aku pulang ke kotamu, ke kotaku, ke kota kita. Aku pulang membawa segudang cerita untukmu. Aku pulang dengan antusias untuk mendengar lagi ceritamu. Di benakku sudah terbesit pikiran untuk memelukmu ketika nanti aku melihatmu. Aku hanya memastikan bahwa kau memang benar adanya. Kamu adalah nyata.

Sehari sebelum kepulanganku aku memberimu kabar, memintamu untuk menjemputku seperti yang dulu pernah kau lakukan. Lalu kau pun ada di sana, menungguku kepulanganku. Dua detik adalah waktu yang cukup untuk mengambil tasku dan berjalan padamu. Aku membutuhkan waktu lebih dari itu. Dua detik adalah waktu yang cukup untuk duduk nyaman di belakang punggungmu. Dan aku membutuhkan waktu lebih dari itu untuk hanya untuk berdiri di sampingmu melihat detail wajahmu. 

"Yuk, mau makan dulu atau langsung pulang?" tanyamu.
"Aku laper, makan dulu yah, tadi masih males makan," jawabku.
"Kamu gak mau meluk aku?" Tersenyum sambil memasktikan aku sudah nyaman dan aman duduk bersamamu. Gaps. Tebakanmu tepat dan membuatku mengurungkan niat untuk memelukmu.

Kamu membawaku menuju angkringan kesukaanmu. Angkringan yang katamu enak buat ngobrol tanpa menguras dompet. Mbak pelayan menyapa kita ramah, salah satu yang sangat aku rindukan di kota ini. 
"Minumnya mau apa?" tanya si Pelayan ramah.
"Es teh," jawabku cepat.
"Jangan. Kamu kedinginan. Teh anget aja dua. Satu manis satu tawar, ya" katamu.
Kamu masih tetap sama. Teh tawar hangat menjadi pilihanmu tiap kali makan bersamaku. Perhatian kecilmu juga masih seperti dulu. Kamu tahu aku agak tidak mempedulikan kondisi badanku yang kedinginan terkena angin malam.
Kamu memberiku piring kecil untuk meletakkan lauk-lauk yg akan kita santap nanti. Sate usus menjadi favoritku disini. Aku merindukan makanan-makanan manis khas kota ini, salah satu yang faktor yang membuat kota ini semakin manis untukku.

Aku mengikutimu duduk di salah satu meja di sudut angkringan. Aku memilih duduk bersebelahan denganmu walaupun aku harus berkali-kali menolehkan kepalaku untuk melihatmu.
“Gak makan?” tanyaku.
“Gak, aku makan lauknya aja,” katamu.
“Cerita dong. Aku pengen denger ceritamu,” pintaku.
“Cerita apa,” katamu datar sambil mulai menyomot pecel dari piringku. Jawaban yang selalu kamu keluarkan ketika aku memintamu untuk bercerita. Kamu tahu aku sangat menikmati ceritamu.
“Apa?” katamu saat aku memandangmu lebih lama dari yang dibutuhkan. Aku menggelengkan kepalaku. Sebenarnya aku tidak suka membiarkankan hening ada diantara kita.
“Dari pada kita diem-dieman gini, kamu yang cerita. Ada yang baru?” tanyamu kalem, memancing reaksiku. Gaps kedua.
“Bukannya kamu yang punya. Aku masih sama,” kataku. Ada nada bicara yang tak pernah bisa aku kontrol jika membicarakan hal ini denganmu. Aku masih tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukaku.
“Udah makan dulu, gimana Jakarta?” katamu. Kamu selalu bisa mengatasi masalah ini dengan cepat. Mengatasi atau mengalihkan pembicaraan ini.
“Sama siapa lagi kamu sekarang,” jawabku.
“Udah. Gak usah dibahas. Ga usah mancing. Entar kamu cemburu lagi,” katamu sambil tersenyum. Gaps ketiga. Aku mulai curiga kamu bisa membaca pikiranku Ataukah memang tulisan “aku cemburu” ada di dahiku dan kamu bisa membacanya dengan jelas.

Aku mau membalas ucapanmu saat Mbak Pelayan mengantarkan 2 potong ayam bakar pesanan kita. Setelah si Mbak Pelayan pergi aku mulai membanjirimu dengan semua yang aku dengar tentangmu setelah aku tak lagi bersamamu. Semua cerita yang aku dengar aku sampaikan lagi padamu walaupun itu membuatku sesak dan sulit bernafas. Kemudian perlahan-lahan kamu menghilang. Aku tidak ada di kotamu. Aku tidak ada di kota kita. Aku berada di kamarku jauh dari kota kita. Aku terbangun sendiri. Saat aku sepenuhnya sadar, aku mendapati diriku di atas kasur kamarku terengah-engah menahan semua rasa yang bergolak.

“Jangan ngelamun,” katamu membuyarkan lamunanku. Aku menggelengkan kepalaku perlahan. Membuang jauh mimpiku. Aku sadar akhir-akhir ini aku memimpikanmu. Aku mengubah pikiranku. Aku tidak mau menceritakan padamu cerita-cerita yang pernah aku dengar tentangmu. Aku tidak mau kamu tiba-tiba menghilang dan aku terbangun sendiri di kamarku. Setidaknya tidak secepat ini. Aku masih mau melihatmu. Aku masih mau bersamamu.

Aku mengalihkan pembicaraan kita yang sempat tertunda tadi. Menceritakan pekerjaan adalah hal yang aman bersamamu. Aku tidak akan khawatir kita bertengkar hanya masalah pekerjaanku ataupun pekerjaanmu. Kamu pun akan bebas bercerita padaku. Hingga malam sudah dirasa terlalu larut, kau mengajakku untuk pulang. Aku memang butuh istirahat setelah perjalanan yang kutempuh. Kali ini aku memeluk pinggangmu erat. Rasanya masih sama seperti dulu, saat aku sering melakukannya.

Kemudian kamu perlahan menghilang. Setidaknya kali ini, kalaupun besok aku terbangun sendiri di kamarku jauh dari kotaku, mimpiku malam ini berakhir bahagia. Aku lalu mengambil hpku dan mengirimkan pesan padamu. Setidaknya jika pesan itu benar adanya aku tahu kali ini aku tak bermimpi.


'Nice Dream.'


19 September 2014
Garuntang, Bandar Lampung

Wednesday, September 17, 2014

When We're Walking from the Café

Mobil dan café mungkin suatu yang sulit dipisahkan. Jarang kan kalian lihat orang ke kafe jalan kaki? Tapi itu terjadi di sini. Yaps, kami di sini jalan kaki ke kafe karena jarak kafe dan kos-kosan kami gak lebih dari 500 meter.

Jam 7 malem kami berangkat dari kosan. Sebenarnya ini bukan kali pertama kami ke kafe itu, tapi ini kali pertama ke kafe itu malam hari. Kami menemukan kafe itu pertama kalinya secara tidak sengaja di saat kami berencana mencari jajanan sore "Omah Sosis", yang ternyata sudah tutup dan viola ada kafe itu di depan ex-"omah sosis". Pemandangan di kafe itu lumayan walaupun suasananya gak bisa dibilang cozy. Dari segi harga, mahal. Mahal karena saya bandingkan dengan harga di Jogja, dimana seongok es teler dihargai Rp 10.000,00 dapet 1 mangkok guede yang dijamin kenyang. 

Jadilah kami berlima mengulangi kunjungan kami ke kafe "mehong" dan gak cozy itu cuman buat liat pemandangan lampu-lampu rumah di Teluk Bitung sana. Dari rumah kami sudah berniat makan dulu, jadi bisa lebih ngirit, modal minuman 1 biji tiap orang dan ngobrol ampe puas. 

Waktu kami dateng ke sana, suasana kafe belum begitu ramai. Masih adek-adek muda yang lagi pacaran, beberapa keluarga kecil bahagia sejahtera bersama anak-anak kecil mereka. Kami memilih spot yang sama seperti kali pertama kami datang. Band kafe tersebut masih sibuk mengecek peralatan mereka sebelum tampil. Suasana kafe makin ramai. Jarum jam tangan saya mulai berotasi dan membentuk sudut siku-siku diantara angka 9 dan 12. 

Malam makin larut buat saya. Setelah bekerja, kriteria "larut malam" saya berubah dari semula di atas jam 1 pagi menjadi di atas jam 9 malam. Besoknya kami harus bangun pagi, niat untuk "jalan-jalan" di kawasan bebas kendaraan memaksa kami untuk pulang dan segera tidur. 

Saat membayar tagihan di kasir, saya agak terkesima dengan embak-embak dan abang-abang yang datang ke situ. Semuanya dandannya oke punya. Kita samakan persepsi dulu. Kalau kalian berpikir mereka cuantik-cuantik dan guanteng-guanteng kek layaknya foto model, saya bilang gak semua. Ganteng dan cantik itu selera bukan? (Saya masih gak rela menyebut cowok sini ganteng dan saya juga gak mau saingan sama cewek sini, hahahaha....skip itu hanya keegoisan saya). Intinya mereka ke kafe ini dengan dandanan yang "necis". Kami sadar kalau cewek-cewek begitu gak mungkin "dibawa" cuman bermodal motor matic trend masa kini. Mereka itu cewek-cewek "high maintenance" kalau kata teman saya. Cobalah bandingkan gaya mereka dengan gaya kami yang ala kadarnya. Kaos oblong dan jeans belel dan sendal ala kadarnya dibandingkan dengan mini dress plus high heels, kaos dengan luarkan kameja kotak-kotak dan sepatu.

Kami kemudian keluar dari kafe tersebut. Berlima kami sempat berbisik-bisik "wuih bawa mobing semua."
Teman saya, Dika, tiba-tiba menyeletuk, “Mobil kita dimana?”
Saya dan beberapa teman menimpali candaan dia.
“Di sana, gak parkir di sini,” kata saya sambil menunjuk arah kosan kami.
“Iya kan kita ga parkir di sini,” kata Eka.

Cuek, kami tetap berjalan pulang sambil tetap membahas ternyata kalau malam minggu seberang jalan kosan kami berubah jadi showroom mobil, dan membahas cewek-cewek "high maintenance" tadi. Tidak satupun dari kami sadar bahwa ada seorang tukang parkir yang menanggapi serius becandaan kami soal mobil tadi. Dia diam sambil tetap mengikuti kami. Baru tak lama kemudian salah satu dari kami sadar, dan mulai menyadarkan yang lainnya.

“Apaan sih kalian, gue sih jujur aja, orang gue gak bawa mobil ke sini,” kata Dama. Saya mulai sadar ada tukang parkir yang mengikuti.
“Eh, enggak, Bang. Kami jalan kaki, kami gak bawa mobil kok kesini,” kata Dika. 
"Iya, Bang. Orang deket kok rumahnya," timpal teman saya yang lain. 
Suasana menjadi canggung sedikit. Kami mulai mengecilkan suara dan mempercepat langkah. meninggalkan areal parkir kafe itu. Si tukang parkir sudah berhenti mengikuti kami dan berbalik menuju tempatnya semula. Entahlah mungkin dia sempat mengumpat kami 5 gerombolan anak aneh yang sok bawa mobil. 

Hohoho..maaf Abang Parkir, kami gak bermaksud ngerjain kok, cuman keisengan 5 orang bocah yang terkesima dengan keadaan kota yang sepi di depan sana tetapi kalau malam minggu mobil-mobil berjajar rapi di kafe-kafe seberang kosan kami yang sepi. Kami baru menyadari bahwa keramaian kota ada tepat dibalik pekarangan kosong seberang jalan kosan kami.





Malam minggu ke 5 di Lampung
Garuntang, Bandar Lampung

Monday, September 8, 2014

Chapter : Martabak Telor

Angin malam terasa dingin menyentuh kulit tanganku. Hujan sedari pagi menyisakan hawa dingin dan jalan-jalan yang menjadi becek akibat tidak berfungsinya saluran drainase jalan. Tanpa sadar aku mengusap lenganku, berharap sedikit gesekan dari telapak tangan menyisakan kehangatan.
“Dingin? Tadi kamu gak pake jaket,” katamu.
“Malas. Lagian kamu juga nyuruh buru-buru,” balasku.

Aku kembali melihat sekelilingku, sembari menunggu pesanan yang kami pesan. Aku memang penyuka martabak telur. Setelah isya adalah waktu yang tepat untuk menikmati secangkir teh hangat dengan satu piring martabak telur hangat. Dinginnya malam sempurna untuk menambah kenikmatan menikmati martabak telur kesukaanku.

Aku melihat si penjual sibuk melayani pelanggannya. Dia memutar mutar adonan kulit martabak hingga menjadi satu lembar tipis yang lebar. Aku selalu menyukai melihat mereka bekerja, menyulap adonan tepung bulat menjadi lembaran-lembaran tipis yang lebar sebelum di letakkan ke wajan datar berisi minyak panas.

Rupaya yang tertarik melihat proses membuat martabak telur bukan hanya aku saja. Beberapa anak kecil berdiri di belakang si pembuat martabak, menghalangi pemandanganku. 
“Itu anak siapa?” celetukku pelan, sedikit terganggu dengan keberadaan anak-anak kecil itu.
“Bukan anak kita, kan?” jawabmu tersenyum melihat kejengkelan di mataku.
Kamu selalu bercanda mengenai hal itu. Anak-anak. Kamu tahu benar, aku dan kamu sama-sama menyukai anak-anak. Tetapi mungkin sesuatu bernama “anak-anak kita” belum bisa diwujudkan dan hanya akan ada dalam hayalanku saja. Walaupun begitu kamu berhasil membuatku tersenyum.

“Mbak, ini pesanannya,” seorang pramusaji membawakan sebuah kantong plastik berisi 2 kotak berisi martabak telur. Hayalanku hilang, kau pun lenyap. Aku kembali ke duniaku. Aku berjalan menuju sebuah mobil yang menungguku. Aku membuka pintu penumpang di sebelah sopir.
“Kenapa gak kita makan di sini aja sih?” Tanya seseorang di sebelahku.
“Enakan makan bareng sama temen-temen kan,” jawabku. Dingin AC mobil menerpa lenganku yang terbuka. Tanpa sadar aku mengusap lenganku.
“Dingin? Tadi kamu gak pake jaket,” katanya. Seketika ingatanku kembali padamu.



To be continue...



8 Septermber 2014
Garuntang, Bandar Lampung


Saturday, August 16, 2014

Untuk Perempuan

Untuk perempuan dimana pun kalian berada.

Aku, kamu, dia, mereka, kalian, kita yang semuanya adalah perempuan. Aku hanya sekedar mengingatkan, termasuk diriku sendiri. Di balik wajah, warna kulit, bentuk tubuh, pekerjaan, disitu melekat kepribadian kita. Di balik sifat keras kepala kita tersimpan satu kelembutan hati. Dibalik kerapuhan hati, terdapat kekuatan untuk bertahan hidup. Di balik kebaikan perempuan-perempuan lain, terdapat kelemahan mereka masing-masing.

Tidak perlu merasa iri dengan perempuan lain, karena kamu memiliki kelebihan yang dia tidak miliki. Tidak perlu merasa rendah diri dengan dirimu, keluarkan saja dirimu apa adanya, itu akan lebih mudah untukmu menjalani hidup. Tak perlulah menjadi sempurna menurutmu, jadilah dirimu sendiri. Sempurna menurutmu belum tentu sempurna menurut orang lain. Jangan juga terlalu membanggakan diri. Di atas langit masih ada langit, kawan.

Lebih pentingnya lagi, nikmatilah hidupmu. Hidup terlalu berharga untuk menangisi hal yang telah lalu. Banyak hal yang lebih berarti akan datang.


Spesial voor mijn kamergenoot niet te rouwen van een gebroken hart. Je hebt lastige situatie in de kamer.







Monday, June 30, 2014

Orang-orang Kota : Puasa di Tengah perebutan Kursi Kuasa

Musim puasa kali ini jauh berbeda dengan musim-musim puasa yang pernah saya lalui sebelumnya. Ini adalah kali pertama saya puasa di tengah hiruk pikuk kita yang menyebut dirinya metropolitan.

Ini adalah kali pertama saya puasa ditemani dengan hujan debat, debat memperebutkan kursi nomor 1 di Indonesia. Saya tidak akan membahasnya di sini, saya terlalu lelah mendengarkan debat-debat yang bahkan diperdebatkan oleh orang-orang yang hanya akan mendukung salah satunya. Puasa kali ini saya sepertinya harus banyak sabar dan menyumpel kuping nakal saya dengan nyanyian yang menenangkan dan menghayalkan kembali puasa-puasa yang lalu.

Tidak ada lagi tangan yang saya paksa untuk berbuka bersama di lembah kampus. Tidak akan saya dengar lagi tawa berderai kami yang terlepas saat kami melontarkan khayalan-khayalan liar masa depan. Oops saya sudah mulai melantur.

Ah, disinilah saya berpuasa sekarang. Ditengah hiruk pikuk kota. Di tengah-tengah debat kusir yang hanya memacu emosi ketika kata tak bisa terucap dan hanya terpendam. And here I am. Jakarta, ditengah ketegangan perebutan kursi nomor 1 di Indonesia.

Sunday, June 22, 2014

Surat Untuk Jono

Hai Jono,

Kali ini aku mau cerita tentang duniaku, iya dunianya para cewek biar kalian para cowok ngerti. Kan kaum kamu sendiri yang bilang cewek itu susah dimengerti. Iya, aku sebagai cewek juga mengakui aku susah di mengerti apa lagi itu bila menyangkut kamu.

Kamu tahu kenapa cewek itu maunya selalu ada cowok yang dia suka di sisinya? Bukan karena dia butuh di bantu, bukan karena dia butuh bersandar, bukan juga karena dia tidak mampu melakukannya sendiri. Dia butuh kamu karena dia ingin ada kamu. Tanpamu dia bisa melakukannya sendiri. 

Cewek itu bisa kok kemana-mana sendiri tanpa harus dianterin cowoknya. Cuma dia mau kamu menemaninya. Cewek itu bisa kok bawa kendaraan dia sendiri ke bengkel, cuma lagi-lagi dia mau kamu menemaninya. Cewek itu bisa beli makan sendiri tanpa kamu menemani, cuman dia pengen dengar cerita kamu dan mengerti kamu. Gimana dia bisa dengar ceritamu atau mengerti kamu bila kamu gak bercerita padanya? Lagi-lagi dia minta kamu menemanimu.

Cewek itu suka banget, ngepoin pacar walaupun dia tahu kadang gak ada apa-apa di facebook, tweeter, email atau apapun. Cewek itu masih suka kepo mantan pacar, mantan bakal calon gebetan atau mantan-mantan yang lain yang mereka suka walaupun mereka tahu itu menyakitkan. Mereka cuman pengen tahu gimana kabar si cowok. Apalagi si cowok yang gak pernah ngasih kabar. Mereka tuh sebenernya gatel tahu pengen nyapa, sekedar bilang Halo, apa kabar, atau yang lainnya. Atau dalam kasus yang berpacaran nih si cewek itu cuman pengen memastikan bahwa cuma dia yang kalian sayang. 

Dalam kasusku ke kamu, aku sendiri bisa melakukan apa saja tanpamu. Aku bisa berjalan kesana kemari, aku masih bisa mengejar impianku yang lain, aku masih bisa melakukan banyak hal. Tapi yang aku mau cuma ada kamu. Aku memang tak banyak mencari tahu tentangmu. Aku terlalu malas untuk menyakiti diriku sendiri. Toh tak banyak yang bisa aku lakukan untuk mencari tahu tentangmu. Ya, mungkin aku berbeda dari kebanyakan perempuan lain. Tapi aku sama dengan mereka, aku mau kamu di sini, bersamaku, bukan karena aku butuh kamu aku hanya ingin kamu ada.

Ah, sudahlah. Sudah berapa surat dariku yang kau tumpuk dan taruh di sudut meja? Kau terkejut aku tahu tentang itu? Itu karena aku juga perempuan Jono, aku mau tahu kau apakan surat-surat dariku.


Salam, 


Yuka

Tuesday, June 3, 2014

Orang-orang Kota : Si Kecil Penjaja Tissue

Si Kecil menggigil dalam dinginnya hujan sore itu. Perempatan besar seperti ini memang cocok digunakan untuk menawarkan beberapa dagangan diantara mobil-mobil yang terjebak macet sambil menunggu lampu hijau menyala. Beberapa kali dia mengusap mukanya yang basah oleh air hujan. Terkadang dia menggigil kemudian mengusap lengan kurusnya, mengharap sedikit kehangat dari gesekan tangan basahnya mengaliri tubuh kecilnya. 

Saya masih nyaman di dalam mobil yang semakin dingin karena ac mobil. Walaupun dingin, setidaknya baju saya tidak basah. Kecil kemungkinan saya akan masuk angin malam nanti. Lampu merah masih menyala dan timer di atas lampu tersebut masih menunjukkan angka 100. Di depan sana masih banyak lampu-lampu merah dari kendaraan-kendaraan yang berhenti. Pengendara sepeda motor yang tak memakai mantel berhenti di pinggiran jalan dan membiarkan motornya tertimpa hujan sedang pengendaranya menepi mencegah air semakin membasahi baju mereka. Motor mereka mempersempit ruang gerak bagi pengendara lain, menambah macetnya jalan sore itu. 

Mobil yang kutumpangi berjalan berlahan saat lampu hijau menyala. Kemudian berhenti lagi. Sudah tiga kali lampu merah menyala dan mobil yang kutumpangi itu belum berhasil membawaku keluar dari kemacetan di perempatan itu.

Si Kecil kembali ke jalan setelah menepi sebentar mempersilakan kendaraan-kendaraan melewatinya untuk lepas dari kemacetan di perempatan itu. Si Kecil kembali melewati kendaraan-kendaraan dan menjajakan dagangannya. Dia mengernyitkan wajahnya untuk menepis air hujan yang menghalangi pemandangannya. Satu per satu kaca mobil di datanginya berharap seseorang akan membuka dan membeli tissue yang dijualnya seharga 2000 rupiah. Hujan sore itu terlalu deras. Telak, tak ada yang rela membuka sedikit jendela mobil dan membiarkan air hujan memasuki mobil yang nyaman. Tissue seharga 2000 rupiah tak laku sore itu.

Mobil yang kutumpangi berjalan perlahan, kemudian makin cepat dan makin cepat. Dia berhasil membawaku pergi dari perempatan macet itu. Dia membawaku pergi meninggalkan Si Kecil penjaja tissue di jalan. Di kala bocah-bocah seusianya nyaman di dalam mobil yang dingin karena AC, dia pun berdingin-dingin tetapi karena guyuran hujan sore hari itu. Di saat anak-anak merasa senang karena diajak orang tuanya ke kebun binatang di akhir minggu, Si Kecil penjaja tissue menjajakan dagangannya di tengah hujan deras Minggu sore itu. Inilah Jakarta, dimana orang-orang bisa melakukan apa saja untuk bertahan hidup.



Blok M, Jakarta,    April 2014