Musim puasa kali ini jauh berbeda dengan musim-musim puasa yang pernah saya lalui sebelumnya. Ini adalah kali pertama saya puasa di tengah hiruk pikuk kita yang menyebut dirinya metropolitan.
Ini adalah kali pertama saya puasa ditemani dengan hujan debat, debat memperebutkan kursi nomor 1 di Indonesia. Saya tidak akan membahasnya di sini, saya terlalu lelah mendengarkan debat-debat yang bahkan diperdebatkan oleh orang-orang yang hanya akan mendukung salah satunya. Puasa kali ini saya sepertinya harus banyak sabar dan menyumpel kuping nakal saya dengan nyanyian yang menenangkan dan menghayalkan kembali puasa-puasa yang lalu.
Tidak ada lagi tangan yang saya paksa untuk berbuka bersama di lembah kampus. Tidak akan saya dengar lagi tawa berderai kami yang terlepas saat kami melontarkan khayalan-khayalan liar masa depan. Oops saya sudah mulai melantur.
Ah, disinilah saya berpuasa sekarang. Ditengah hiruk pikuk kota. Di tengah-tengah debat kusir yang hanya memacu emosi ketika kata tak bisa terucap dan hanya terpendam. And here I am. Jakarta, ditengah ketegangan perebutan kursi nomor 1 di Indonesia.
No comments:
Post a Comment