Saturday, February 22, 2014

Orang-orang Kota : Sales Girl

Saya pernah punya kipas tangan kecil. Terbuat dari mika, berwarna biru dengan gagang putih. Kipas yang saya bilang sempurna untuk mengusir hawa panas di kendaraan umum. Namun, saya akan "ngiklan" jika menggunakan kipas ini. Kipas ini memang tidak saya beli, saya mendapatkannya dari seorang SPG asuransi di luar Stasiun Sudirman saat menuju ke Halte Transjakarta. 

Saat itu saya bersama seorang teman lama dan seorang teman baru. Mereka dengan sangat baik hati mengajak saya untuk sedikit mengenal Kota Jakarta. Kami saat itu akan menuju ke Blok M. Saat itu, saya yang sama sekali tidak mengenal daerah hanya mengikuti mereka berdua. Saat berjalan keluar dari Stasiun Sudirman saya didatangi seorang SPG. Dia hanya mendekati saya saat itu sedang kedua teman saya dibiarkan berlalu begitu saja. Saya paling malas berubungan dengan sales, hanya akan menyita waktu saya. Saya bukan orang yang gampang dirayu.

Sebisa mungkin saya menghindari mbak cantik itu. Mengerti saya menghindarinya, dengan cepat dia berkata "Ini mbak, cuman mau ngasih kipas."  Dia tetap tersenyum walaupun gerakan tubuh saya tadi menghindarinya. Oho, sebagai anak kost (yang terkadang tidak punya malu), saya dengan sumringah menyambut tawarannya dan menerima kipasnya. "Oh, iya ya? Makasih ya," kata saya dengan senyum termanis di wajah saya. Buat anak kost seperti saya, barang gretongan alias gratisan tentu haram hukumnya untuk di tolak. Teman saya, panggilah dia Abang Nokie, cuma cengar-cengir melihat perubahan ekspresi  di wajah saya dari "apaan sih, ini sales deket-deket" menjadi "Oho...siip sini-sini mana kipasnya :D". 

Lain kesempatan dia bercerita pengalamannya menghadapi sales. Dulu, hampir tiap pagi saat orang-orang berangkat kerja, selalu ada sales yang menawarkan kopi. Lumayan untukknya satu cangkir kecil kopi panas gratisan di pagi hari. 

Sepertinya sales di Jakarta ini baik-baik. Suka memberi barang gratisan bagi orang-orang penyuka gratisan seperti saya. Namun, setelah hampir 1 bulan saya bekerja di sini belum ada satupun sales kopi yang bagi-bagi kopi gratisan pagi-pagi. Mungkin karena saya berangkat terlalu pagi. Hmm.... Inilah Jakarta dimana orang-orang bisa melakukan apa saja untuk bertahan hidup.


Jakarta, Desember 2013

Orang-orang Kota : Sebuah Pengantar

Akhirnya aku punya kesempatan juga untuk mengunjungi dan (sementara) menetap di kota ini. Kota yang disebut sebagai kota metropolitan, dimana banyak orang dari berbagai daerah mengadu nasib. Mereka berharap dapat memperbaiki kehidupan mereka di sini, mengubah nasib dengan datang ke Jakarta.

Sementara aku masih punya kesempatan untuk tinggal di sini, aku akan menuliskan beberapa catatan kecil tentang secuil kehidupan mereka di sini, tentulah dari sisi pandanganku yang hanya sawang sinawang. Catatan kecil ini hanyalah bentuk pikiranku, yang mungkin sebagian telah tercampur dengan imajinasiku.'

Di sini aku akan bercerita tentang kehidupan orang-orang kota ini, dari hasil interaksiku dengan mereka. Di kota ini cerita baru akan dimulai. Di kota ini, dimana apapun bisa dilakukan untuk mempertahanakan hidup, aku akan bercerita.

Sunday, December 22, 2013

Petak Umpet

"Aku menang, kamu jaga. Itung sampe 20 ya," kataku.
"Aku pasti bisa nemuin kamu," katamu kemudian mulai menghitung.
Hampir 15 tahun yang lalu kita bermain petak umpet untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya keluargaku membawaku pergi dari dirimu, membuatku jauh dari dirimu. Waktu berlalu dengan cepat, hingga akhirnya aku bertemu denganmu dan menyadari aku sudah terlalu lama berpisah darimu.
Lima tahun lalu secara tidak sengaja aku kembali bertemu denganmu tanpa aku tahu kamu adalah sahabat kecilku, tanpa kamu tahu aku adalah sahabat kecilmu. Aku harus beradaptasi lagi dengamu. Tidak seperti dulu saat kita masih kecil, lahir dan tumbuh di kompleks perumahan yang sama membuatku lebih mudah mengenalmu, lebih mudah mengertimu. Anak-anak lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Mereka masih terlalu polos untuk merasa gengsi. Dunia mereka adalah berteman. Mungkin itu yang membuatmu bisa tetap bermain dengan segala keegoisanku, tidak seperti sekarang.
Akhirnya aku punya waktu untuk berkunjung ke rumah sahabat kecilku, ke rumahmu. Aku masih ingat rumahmu. Aku masih ingat jalan-jalan kecil yang harus aku tempuh menuju rumahmu. Aku masih ingat letak taman yang kini beralih fungsi menjadi perumahan-perumahan. Aku masih ingat ayunan bambu di depan rumahmu. Ada pagar besi berwarna putih di depan rumahmu. Kini pagar itu tetap berwarna putih, catnya masih baru. Mungkin kelurgamu tetap mengecatnya supaya terlihat lebih indah. Di samping rumahmu ada rumahku dulu. Kini rumah itu sudah memiliki penghuni baru. Pasangan muda rupanya. Mereka sudah menanamkan rumput hijau di halaman depan rumah dan menambahkan garasi di samping rumah. Rumah yang dulu sempat aku tempati.
Kemudian kamu keluar dari rumah milik teman kecilku itu. Kamu terkejut mendapatiku duduk dengan santainya di ayunanmu. Tahukah kamu, aku pun sama terkejutnya denganmu. Aku tidak menyangka kamu adalah sahabat kecilku. Suasana tidak menyenangkan itu berakhir cepat. Untunglah ibumu keluar dan mengenaliku. Aku masih ingat padanya. Ibu terbaik yang pernah ada, terbaik setelah bundaku. Kerikuhanku padamu berakhir tawa saat kita saling mengenali satu sama lain lagi. Aku kembali dekat denganmu.
Fisikmu berubah dengan cepat, membuatku tidak bisa mengenalimu di pertemuan pertama setelah sekian lama. Lebih dewasa kataku, tidak ada lagi baju monyet atau celana pendek ditemani sapu tangan untuk mengelap ingus. Kamu rapi dan wangi. Tidak ada perubahan pada sikapmu sewaktu pertama kali bertemu dan berkenalan kembali denganku, tetap hangat. Ramah dan murah senyum, walaupun kamu tetap menjaga jarak dengan orang yang baru kamu kenal.
Waktu juga merubah fisikku, lebih berantakan katamu. Tidak ada rok mini dan kaos lucu yang kupakai. Kini aku identik dengan kaos oblong, jeans sobek di lutut, jaket dan topi. Jauh dari kesan gadis kecil yang lucu. Namun waktu ternyata tidak mampu merubah watakku, membuatmu mungkin bertanya-tanya makhluk apa yang membuatku masih tetap hidup dengan segala keegoisanku yang katamu tumbuh dari masa kecil kita. Aku lebih keras kepala dari pada aku yang dulu. Sore itu kita habiskan waktu untuk mengenang masa lalu kita. Sejak hari itu dua sahabat lama kembali bertemu dan menjalin cerita lagi.
Dua tahun yang lalu, aku merasa ada yang lain denganmu. Sifatmu padaku, perhatianmu padaku lebih dari seorang teman. Aku merasa terkadang kau terlalu bersikap manis padaku. Semua senyum, candaan bahkan ucapan konyol selamat tidur yang pernah kau ucapkan padaku. Semua itu kau lakukan hanya untukku, untuk aku saja. Kamu mulai nyaman bercerita lebih banyak tentang rencana hidupmu, tentang impianmu, tentang ketakutanmu, tentang masalahmu padaku dan hanya padaku. Aku sudah tahu sedikit banyak tentang itu, tetapi kau menceritakannya seolah membuka selembar kertas dihadapanku dan berkata, “inilah aku.” Kita mulai menyendiri, hanya berdua, tidak ada tiga, empat atau lima. Hanya ada kita, aku dan kamu dengan semua cerita, harapan, impian dan masalah, baik dariku ataupun darimu.
Kemudian, aku merasa ada yang berbeda dari caraku melihatmu. Aku merasa mulai menyukaimu, bukan sebagai teman. Lebih dari pada itu. Secara tak sadar, aku mulai mengejarmu. Tak rela membagimu dengan yang lain. Aku mulai memproteksi dirimu dari yang lain. Aku menampakkan rasa cemburu. Kamu menyadari ada yang berbeda dariku. Kamu tetap bergeming seakan tidak pernah rasa yang lain diantara kita. Ketika aku mengungkapkan keganjilan rasaku, kamu juga tetap diam. “Biarkan mengalir. Rasa itu akan berubah, semakin dalam atau semakin hilang,” katamu. Semakin aku mempertanyakannya padamu, aku merasa semakin tersakiti oleh perasaan itu.  

Kini aku mulai lelah mencari. Aku berhenti. Kini giliranmu. Hitunglah sebanyak waktu yang kamu mau, lalu carilah aku. Aku tahu kamu bisa menemukan aku, seperti dulu kamu selalu bisa menemukanku. Aku akan bersembunyi, melihatmu dari jauh. Giliranku menunggumu, menemukanku dan membawaku keluar dari persembunyian dan memulai babak baru.


Yogyakarta, 22 Desember 2013

Monday, November 25, 2013

Hoe gaat het met u, Moeder, Vader?

"Udah gak jaman yang muda yang menyambangi, sekarang jamannya yang punya waktu yang menyambangi."

Saya agak sedikit terkejut dengan satu quote dari teman saya ini. Memang benar juga sekarang jamannya yang punya waktu yang datang, yang punya waktu yang bertamu. Namun, jika ini dikaitkan dengan mendatangi rumah orang tua setelah sekian lama tidak kembali ke tempat dimana dia tumbuh. Masih pantaskah kalimat "yang punya waktu yang datang" diucapkan? 

Saya juga bekerja dan ada kalanya saya sibuk. Bahkan ketika saya sibuk saya sangat tidak ingin diganggu bahkan oleh orang tua saya sendiri. Tetapi saya juga manusia, saya masih butuh kasih sayang dari orang tua saya, walaupun saya sudah menginjak usia dewasa saat ini. Saya masih tetap anak mamah dan bapa saya. 

Mungkin kali ini saya setuju dengan quote teman saya yang lain " Saya bekerja untuk hidup, saya tidak hidup untuk bekerja." Saya memang ingin mencapai banyak hal dalam hidup saya. Saya ingin punya rumah sendiri, saya ingin punya mobil pribadi, saya ingin punya usaha sendiri juga, dan semua yang saya ingin itu tentu butuh modal. Sebut saja frontalnya "butuh duit". Money can do lot but it's not everything for me.

Kadang saya juga merasa, ada kalanya saya yang 'dicuekin' orang tua saya. Tetapi akhir-akhir ini saya juga sadar, mereka juga punya kesibukan, dan yang lebih parahnya kadang mereka merasa saya yang sibuk dan takut mengganggu bila saya sedang sibuk. Mungkin sudah saatnya saya yang mencoba mengerti mereka. Bukan lagi mereka yang harus mengerti saya, tetapi saya yang harus mengerti mereka.


Jadi, sudah sempat pulang kah atau sekedar memberi kabar orang tua bahwa "saya baik-baik saja" dan menanyakan kabar mereka yang menantimu di rumah? Ma, Pa, het gaat goed met mij.


Pejaten Village, Jakarta, 20 Nopember 2013


Tidak Malam Ini

Aku duduk lagi di pojok ruang tunggu itu. Aku malas menanti keretaku dari dalam peron, aku memilih duduk di ruang tunggu luar, di satu sudut stasiun itu. Tidak ada cinta. Tapi cinta pernah duduk di sampingku. Aku pernah menyandarkan kepala kantukku padanya karena menunggu kereta paling malam. Tidak malam ini. Malam ini tidak ada cinta.

Aku duduk sendirian. Satu tas punggung dan satu tas berisi novel bersandar di kursi sebelahku. Aku menunggu kereta sambil membaca, mengamati orang-orang disekelilingku lalu lalang dengan barang-barangnya kemudian membaca lagi. Tak ada obrolan kali ini. Tak ada cinta maka tak ada obrolan.

Lima belas menit sebelum keberangkatan. Aku masuk ke peron menunggu kereta. Aku menutup novel yang tengah ku baca, memasukkannya ke dalam tas jinjingku. Menyiapkan tiket, dan kartu pengenalku. Aku berdiri melihat sekilas tempat yang tadi aku duduki. Aku memasuki peron. Tidak ada kecupan dan lambaian. Tidak ada cinta yang mengantarku malam ini.

Keretaku berjalan pelan meninggalkan stasiun. Semakin lama semakin cepat. Lalu keretaku meninggalkan kotaku. Tidak juga ada satu pesan pun yang kuterima dari cinta. Aku melihat sekelilingku. Satu keluarga bahagia dengan 3 gadis kecilnya. Aku mengamati sekelilingku, kemudian aku membaca novelku. Masih saja tak satu pun pesan kuterima. Aku melanjutkan membaca. Hingga lelah lalu tidur di kereta. Tidak ada cinta dikereta itu. Tidak ada cinta untukku.


Ruang Tunggu Stasiun Yogyakarta,  15 Nopember 2013,  22.45

Saat Kamu Menangis

Senja sore itu begitu indah. Aku selalu menyukai senja, walaupun tak pernah ku pungkiri indah senja itu tak sebanding dengan suatu magis yang ada pada dirimu. Aku bisa mengalihkan perhatianku pada raja siang yang hendak tenggelam itu hanya untuk melihatmu. Entahlah saat itu naluri perempuanku berkata aku tak akan lagi sama melihatmu. Itulah mengapa aku melihatmu begitu mendetail. Beberapa rambut tipis yang tumbuh di pipi, kumis yang mulai tumbuh karna mungkin belum sempat kau cukur, dan potongan rambutmu yang entah mengapa kurasa kurang cocok untukmu. Aku memandangmu dalam diam, entah kau menyadarinya atau tidak. Kamu masih asyik  melihat matahari tertelan luasnya laut tepat di garis horizon.
“Bahkan matahari yang segitu  besarnya bisa terbenam,” ucapmu memecah keheningan.
“Hah?” aku tak mengerti apa yang kau maksudkan.
“Udah sore, yuk pulang.” Ajakmu. Sepanjang perjalanan aku tidak membahas kata-katamu tadi. Tak ada yang bersuara. Nampaknya kendaraan bermotor yang lalu lalang sudah cukup untuk meramaikan jalan, tak perlu ada kata-kata tambahan dariku ataupun darimu untuk meramaikan jalan.
Naluri perempuanku makin gelisah. Ada yang akan terjadi tapi aku tak tahu apa. Aku makin gelisah. Aku letakkan telingaku di punggungmu mencoba mencari jawaban dari detak jantungmu. Cepat, tidak beraturan. Tanganku yang semula diam di kanan dan kiri pinggangmu kini merambah hingga ke perutmu. Aku memelukmu. Entah siapa yang mengizinkan aku melakukan ini, hanya saja naluri perempuanku terlalu berkuasa pada saat itu. Aku tahu kau merasakannya, aku tahu degub jantungmu makin cepat. Aku hanya tak mau kehilanganmu. Tidak sedetik pun.
Aku memelukmu selama perjalanan pulang. Tak sekalipun aku melepaskan pendengaranku dari degub jantungmu. Aku mencoba menyamakan degub jantungmu dan degub jantungku bahkan hingga kamu mematikan mesin motormu di depan rumahku.
“Aku pulang. Ini terakhir kali kita jalan berdua. Mulai sekarang aku harus tahu diri kalau ada orang lain yang deketin kamu. Aku harap kamu juga begitu.” Kamu menyalakan kembali mesin motormu dan pergi. Aku mendengar suaramu bergetar. Aku tak mendengar sepatah kata pun keluar dari mulutku sampai kau menghilang dari pandanganku. Aku hancur.
Aku hanya merasakan pedih di mataku. Aku hampir menangis. Aku segera menarik nafas panjang, aku tak mau menangis di sini. Tidak. Setidaknya aku harus berada di tempat yang menurutku aman untuk menangis.
Sampai di kamarku aku melihat sekelilingku. Pandanganku terhenti di sebuah bingkai foto. Dua orang tersenyum dalam foto itu. Foto yang diambil karena si pemotret salah mengira tentang aku dan kamu. Saat itu aku ingat, aku masih bersahabat denganmu. Aku mengambil foto itu, melihatnya dan membawanya dalam mimpiku. Aku menangis dalam tidurku.
Esoknya aku terbangun dengan mata sembab. Aku tak sadar menangis semalaman. Untunglah mataku bisa diajak berkompromi. Mata sembabku tak akan bertahan lama. Aku kembali menatap dua orang di bingkai itu. Akal sehatku mulai berkuasa. Dia memikirkan cara agar aku tak lagi melihat foto itu. Sisi perempuanku ikut andil. Aku hanya membalik bingkai itu tak lagi memanjangnya. Aku hanya tak ingin menambah luka.
“Aku masih punya banyak tujuan yang harus aku dapat. Aku punya banyak jadwal kegiatan. Aku terlalu berharga untuk menangisinya.” Aku mengisi hariku dengan kata-kata itu. Aku terus berlari dengan rutinitasku hanya untuk mengalihkan pikiranku. Aku tidur tanpa memandang lagi senyuman anehmu di foto itu. Foto itu tetap terbalik tak tersentuh. Hingga akhirnya satu pesan darimu untuk mengajak bertemu.
“Tidak, aku harus tahu diri. Aku bukan lagi orang terdekatnya. Aku bukan lagi orang yang bisa memeluknya. Aku butuh waktu untuk bisa bertemu lagi dengannya.” pikirku.
Pesan itu terbengkalai beberapa hari. Hingga akhirnya kamu menelepon. Sisi perempuanku sudah terlalu haus akan suaramu. Aku menjawab teleponmu.
“Sayang…” katamu.
Sayang? Satu kata aneh yang muncul darimu setelah dia memutuskan untuk meninggalkan aku. Kata sayang seharusnya tidak lagi muncul di percakapan itu. Namun aku tetap diam. Aku hanya ingin mendengarmu.
“Ya, ada apa?” tanyaku.
“Kamu beberapa hari ini kemana Sayang? Aku khawatir. Kamu gak kenapa-kenapa kan? Gak sakit kan Sayang?” tanyamu.
“Aku baik-baik aja. Agak sibuk akhir-akhir ini. Gimana harimu?” jawabku. Aku senang kau mengkhawatirkan aku. Firasat perempuanku benar, kamu tetap memikirkanku. Aku diam mendengarkan ceritamu. Duniaku seakan berjungkir balik akhir-akhir ini. Kamu yang tiba-tiba meninggalkanku dan kemudian datang lagi seolah-olah tidak pernah ada kejadian mellow dramatis itu.
“Sayang kamu masih di sana?” Tanyamu ketika menyadari aku diam selama kau bercerita.
“Iya aku masih di sini,” Jawabku pelan. Kamu mulai menyadari aku masih memikirkan hal yang telah lalu itu.
“Kamu masih mikir yang kemarin ya?” tanyamu.
“Iya. Apa maksudnya semuanya? Kenapa kamu bisa bilang begitu? Trus kenapa sekarang tiba-tiba datang lagi?” tuntutku. Kamu diam, mengatur nafas. Jantungmu berdegub semakin cepat, eolah-olah aku bisa mendengar degub jantungmu yang tak beraturan. Aku memang bisa mendengarnya dari sini. Sisi perempuanku yang mendengar gedub jantungmu.
“Aku gak bisa. Ternyata aku gak bisa nahan diriku untuk gak deket kamu. Aku gak nyaman,” katamu setelah diam beberapa saat. “Maafin aku. Aku salah, aku cuma mikirin kamu, gimana kamu nantinya kalau sama aku. Aku takut kamu gak bahagia,” suaramu makin serak. Aku sempat mendengar satu isak tangimu.
“Schat, are you crying?” tanyaku mulai khawatir. Amarahku reda seketika. Aku lebih mengkhawatirkan tangismu. Belum pernah sebelumnya aku mendengar tangis seorang laki-laki dewasa. Di ujung sana kau berusaha menenangkan dirimu dari tangismu. “Schat…” aku bingung harus berucap apa. Aku tak pernah bisa meredakan tangis seseorang.
Hening, sampai akhirnya kau bisa menguasai dirimu. “I’m sorry Darl. Aku gak akan ulangin lagi. Aku gak bisa kehilangan kamu, Aku sayang kamu” katamu.
“Ik heb jou lief, Schat,” balasku. Jawaban yang cukup mengejutkan separuh diriku.
Kamu memang berbeda. Jika ada laki-laki yang menangis depanku, mungkin aku akan langsung meninggalkannya. Tapi tidak denganmu. Aku masih terlalu bersabar untukmu. Mungkin karena aku tak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Tidak walau sedetikpun. Kau memang laki-laki hebat. Kamu membuatku lebih toleran padamu daripada laki-laki manapun yang berbuat kesalahan.
Aku hanya ingin memelukmu saat itu. Meredakan tangismu, menenangkan hatiku. “Schat aku cuma mau kamu. Tolong jangan fikirkan apa pun yang memberatkanmu. Aku tak pernah ingin jadi bebanmu. Aku hanya ingin menjadi teman hidupmu. Akan selalu ada kita diantara hidupku dan hidupmu.”

“Kok diem lagi?” tanyamu. Aku tak pernah bisa mengatakannya. Aku hanya ingin kamu mengerti. Tidak sekarang, belum saatnya.

Yogyakarta,  November 2013

Friday, October 25, 2013

Catatan Kecil (satu)

Saya tadi sempat mampir sebentar di toko buku. Sebenarnya toko buku adalah godaan terbesar saya dalam memegang uang, karena saya suka membaca novel. Hanya saja entah mengapa saya sedang malas untuk membaca novel-novel drama seperti metropop. Jujur novel itu kadang (atau bahkan selalu) sukses membuat saya galau dan mengingat-ingat lagi rasa yang sempat hadir dalam hidup saya. 

Saya sedang tidak ingin galau. Tapi saya ingin membuat orang lain galau. Bukan, saya tidak cari masalah. Saya hanya stuck dengan project pribadi saya yang gak kelar-kelar. Terkadang ganti alur yang malah membuat cerita makin rumit. Saya hanya ingin cerita itu sesimple mungkin. 

Lalu, kenapa saya membuat tulisan ini? Hanya catatan kecil bahwa saya mulai kehilangan rasa. Rasa yang mana, saya juga masih tak paham. Bukan karena tak ingin, hanya saja ada suatu yang lebih besar yang harus saya wujudkan dahulu. Mungkin memang saya harus berdamai dengan perasaan saya dan mulai menikmatinya. Mungkin. 

Setidaknya saya tidak kehilangan rasa untuk ingin menulis lagi :)