Thursday, February 12, 2009
Cerita, Film, Sudut Pandang
Jawaban yang keluar dari mulut gw mengingat gw dah nonton pilemnya "ga tau juga yah, vampir itu ada apa engga. Tapi kalopun ada vampir baik nan cakep kek si edward itu aku sih mao2 ajah jadi pacarnya, huehehehehe...."
Obrolanpun berlanjut masalah filmya. Masalah beda film2 Indonesia dibanding film2 luar. Dari masalah terlalu banyak film hantu2an di Indonesia yang mana unsur ketakutannya lebih dikarenakan suara musik yang ngagetin waktu si hantu itu tiba2 muncul. Bukan karena ketegangan ceritanya. Ditambah lagi make up over yang dipake ma si hantu...Bandingin ajah ma film2 hantu di luar. Hantunya biasa2 ajah, paling juga dibuat rada pucet dan berdarah-darah dikit. Atopun kalo mau di bikin sosok yang baru, sosok itu bener2 baru. Idenya rata2 baru walopun dia terinspirasi sama cerita lain.
Masalah make up. Gw pernah denger, di luat negri make up termasuk salah satu nominasi di ajang penghargaan terhadap suatu film. Tapi di Indonesia itu ga ada. Jadinya tata rias yang di pake kadang ga sesuai ma film itu sendiri. Jadi filmnya kurang bisa bikin gw (entah penonton lain) berimaginasi. Sangat di sayangkan.
Tabu, mungkin itu yang terkaang bikin film2 kritikan di Indonesia ga maju2. Gw denger dari temen gw katanya perempuan berkalung sorban itu ada yang ngelarang...Gw tanya alesannya. Kata dia lagi itu kek menghina agama dimana perempuan sangat di kekang dalam agama itu...
Gw sempet kecewa ma orang2 yang bilang film itu menghina salah satu agama. Padahal itu cuman film. Dalam film itu ada tokoh antagonis ada yang proagonis. Itu bakal jadi konflik yang bisa di renungkan penonton. Terserah penonton seutuhnya mau menganggap pihak mana yang antagonis dan protagonis. Pesan yang di tangkep penonton juga beda2, tergantung cara pandang penonton itu kan?? Gw emang belom liat sendiri filmnya kek apa, tapi dari sinopsisnya gw pikir jalan cerita itu tentang konflik dimana dia pengen bebas bi bawah ketentuan2 agamanya. Bukan karena agamanya menekan bahwa dia tak bisa bebas...
Gw jadi inget salah satu temen gw yang lain bilang, bahwa perempuan selalu di bawah laki2. Itu takdirnya. Gw sejujurnya ga suka dengan pemikiran dia. Gw lebih percaya bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki2 dan situlah kedudukan perempuan itu sendiri. Bukan di kepala atopun juga di kaki. Bukan jadi pemimpin laki2 tapi jadi pendamping. Itu pandangan gw. Mungkin beda ma pandangan orang lain. Tapi bukan berarti gw nyalahin pandangan orang lain kan?
Trus masalah ide cerita. Emang bener kok orang Indonesia itu rada latah. Begitu sukses film bertema satu muncul film lain dengan tema yang sama. Kesannya basi gitu...Sebenernya di luar pun hampir sama, cuman ide mereka lebih bervariatif. Dan mereka juga bisa mengeluarkan ide2 itu jadi suatu yang baru. Something fresh... Gitu juga kek cerita.
Sebenernya di Indonesia punya banyak banyak cerita daerah yang mungkin kalo diliat dari sudut pandang lain bisa jadi suatu yang menarik untuk di ceritakan. Bukan hanya kancil yang mencuri timun, ataupun legenda malin kundang yang emang gitu-gitu ajah. Banyak cerita atopun mitos yang beredar di Indonesia, tapi kemasannya pun tetep sama. Cerita-cerita tersebut diulang-ulang di turunkan dari generasi ke generasi. Sama juga kek cerita vampir penghisap darah ma penyihir yang dibakar di abad pertengahan. Cerita2 itu bakal stuck mpe disitu kalo gada orang yang mau ngembangin. Kenyataanya sekarang banyak versi dan film dibuat dari ide bahwa di dunia ini ada makhluk yang bernama vampir sama penyihir.
Tapi kok cerita tentang dewa-dewi yang tinggal di kayangan ma gatotkaca ga pernah tersentuh dan jadi populer di langan anak muda yah? Apa yang salah dengan itu? Padahal kalo cerita itu di lakonkan dengan tata rias, setting ma aktor yang baik, gw pikir bisa kok jadi salah satu cerita yang lumayan ok. Tapi mungkin ada sedikit unsur budaya yang membuatnya terikat. Gw sadar c, kebanyakan orang (termasuk gw)lebih suka menikmati ketimbang mencipta. Apalagi kalo lagi ga ada ide sama sekali. Ga ada sesuatu yang dianggap menarik.
Sebenernya masih ada 1 bagian lagi yang kemaren gw obrolin ma temen gw. Tapi berhubung gwnya juga lupa sampe sini dulu keknya posting gw. Ntar klo gw inget gw tambahin lagi di sini. So, kapan yah gw bisa produktipp???
Monday, February 9, 2009
Sangat Sendiri
Dia begitu dibenci. Sulit untuk mengungkapkan mereka akan mau menolongnya dengan suka hati. Dia kembali merenung. aku memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat. Pastilah sangat fatal. Hingga dia begitu terabaikan, begitu sendiri.
Tak salah pikirku jika dia memilih untuk menenangan dirinya sendiri dan memilih bersama yang lain. Tapi dia akan tetap membutuhkan mereka. Lalu bagaimana dia bisa mendekati mereka jika mereka selalu menjauhinya. Apa yang dipikirkannya saat ini. Apa yang akan membawanya keluar dari situasi laknat ini?
Seleranya dan selera mereka begitu berbeda. Tingkatan mereka begitu berbeda. Aku di sisi luar melihat dari masing-masing sudut pandang. Dia yang sendiri, mereka yang bersama. Seandainya dia dan mereka bisa sebentar keluar dari lingkaran itu, mungkin dia dan mereka bisa mengambil tindakan yang lebih bijak. Dia tidak akan sangat sendiri. Dan mereka juga bisa menilai berapa harga yang harus mereka bayar ketika dia memutuskan untuk keluar dari lingkaran itu sebelum dia memutuskannya.
Sunday, February 8, 2009
Looking for Something
Seperempat perjalanan aku mulai mengenal suatu tempat yang mungkin bisa membuatku nyaman. Separuh pikiranku berkata cukuplah sampai sini. Namun egoku sendiri berkata aku bisa tanpa bantuan orang lain. Aku tetap memacunya. Pikiranku terpecah, mampukah aku sampai tempat itu?? Mungkinkah aku kembali. Aku baru sekali menuju ke sana. Jalannya pun tak ku kenal. Aku hanya berpatokan pada papan yang tertampang di jalan.
Separuh perjalanan aku hampir putuskan untuk kembali. Namun, egoku mengendalikan segalanya. Dia mempercepat lajuku. Hingga aku sendiri ngeri untuk melihatnya. Tikungan demi tikungan aku lewati dan berharap aku bisa kembali. Otakku mengingatkan egoku tentang siapa diriku. Egoku merespon otakku akan betapa berani dan tangguhnya aku dulu. Mereka terus beradu. Namun, otakku hanya berfikir, egoku bergerak cepat.
Kemudian sampailah aku di pintu masukknya. Egoku berteriak senang. Otakku mengalah. Kami melaju cepat menuju tempat yang ku maui. Jalan terjal dan berbatu bukan halangan untuk mencarinya. Sesampainya di sana aku diam. Aku memandang dan mengingat. Ada yang berbeda disini. Aku sendiri. Dulu tempat ini sepi, tapi ramai. Yang ku rasa tempat itu ramai, tapi aku sepi. Aku sendiri.
Aku berteduh di bawah tanaman yang menghalangiku dari sengatan matahari. Duduk diam dan melihat ke langit. Biru. Aku tertegun melihatnya sebiru itu. Akhir-akhir ini langit kelabu, tertutup awan mendung...Seandainya ia melihat ini" batinku. Seandainya?? Itu hanyalah angan-angan. Toh dia tak di sini. Toh dia telah mati. Aku kembali memandang langit biru itu. Seekor burung melayang-layang sendiri di atasnya. "Kenapa dia sendiri? Mana kawanannya?? Dia di tempat yang salah. Toh tak ada apa-aa untuk dimakannya," pikirku.
Sejauh mata memandang lagit masih biriu. Namun aku melihat satu awan mendung di balik punggungku. Saatnya aku pulang. Kini egoku mengikuti akal sehatku. Aku pulang. Berpacu dengan awan mendung. Di tengah jalan, hujan menghampiri. Ternyata aku tak bisa menghindari hujan itu. Seakan memberi tahuku bahwa cepat atau lambat, lari ataupun diam dia akan datang.
Aku banyak dapatkan pelajaran dan cerita hari ini. Kisah si burung, awan, ombak, pohon, jalan, bukit, kisahku sendiri. Belajar dari apa yang ku dapatkan tanpa harus ku cari. Sadar akan apa yng ku lihat tanpa harus ku ingini. Mengertii lebih jauh apa yang terjadi di sekitarku. Mengerti dan menyayangi diriku.
Not always what you want is what you got. But someday i know what i've got is of use
Friday, February 6, 2009
Hilang
Aku kembali menatap bintang. Kali ini bukan bintang yang ku lihat. Perlahan dia keluar dari tutupan awan hitam. Ku pikir dia akan bulat sempurna ketika aku melihatnya dalam warna keemasan. Ternyata dia hanyalah bulan cembung dengan cahaya yang terlalu terang untuknya. Dia menceritakan salah satu kisahnya. Kebodohan yang dilakukannya di masanya dulu. Aku mengamati wajahnya saat bercerita. Kami tertawa dengan cerita itu. Giliranku untuk bercerita suatu cerita tentang kebodohan seseorang. Kembali kami tertawa. Tawaku lepas saat itu.
Kemudian aku kembali melihat bintang yang telah muncul. Awan telah pergi entah kemana. Hanya meninggalkan segurat tipis bagai kain gelap transparan. Termenung dia ungkapkan keletihan hatinya. Kematiannya. Dengan degub jantung yang mengeras aku mendengarkannya, menyadari bahwa aku memiliki kisah yang sama dengannya. Satu alasan yang membuatku seperti ini. Aku diam hingga dia menyelesaikan cerita itu. Begitukah yang dirasanya? Aku bertanya-tanya sendiri pada diriku. Apa yang membuatku seperti ini. Apa yang membuat aku, dia, kami begitu rapuh.
Aku menatapnya. Aku bertanya "Kamu pernah merasa sakit disini?" sambil menunjukkan letak sakitku pada tubuhnya. Tepat di jantungnya. Dia diam pertanda tak ada lagi cerita tentang itu. Entah dia mau menguburnya atau dia akan menyimpannya sendiri. Sebagai gantinya dia berkata "Langit dah mulai cerah". "Hari baru" batinku. Hari yang indah melihat langit berubah biru. Menunggu hingga dia terlihat jelas olehku.
Aku menunduk menatap air, mendengus, menertawakan diriku sehari sebelumnya. Kemudian bayanganku berteriak, "kenapa kamu tersenyum padaku? Mana tawa lepasmu?" Aku begitu terkejut. Aku melihatnya, tapi dia telah hilang entah kemana. Aku mencoba memanggilnya, dia tetap tak menjawab dan meninggalkanku sendiri. Aku tau ini akan terjadi setelah aku mengetahui hatinya. Tapi aku tetap berlari mencarinya. Berteriak hingga suaraku hilang. Sampai ketakutan itu datang menghampiriku. Kematianku dengan kesendiriannya berkata "mana tawa lepasmu?". Aku mencoba berteriak, dan kemudian aku terbangun terengah-engah. Ya, aku sadar aku kehilangan dia untuk kesekian kalinya. Perlahan aku mulai sadar aku juga kehilangan sebagian dari diriku. Tawa lepasku.
Thursday, February 5, 2009
This Is the Perfec Day I Ever Had
Pagi yang indah untuk melihat matahari terbit di timur. Sayang tempat yang kami pilih tak begitu strategis, Namun tak menghalangiku untuk menikmati pagi mengganti malam. Melihat salib selatan menghilang. Melihat lapisan ozon terkena cahaya matahari. Berfikir mengapa Dia menciptakan segalanya. Memikirkan hati kami yang telah mati. Mati, itulah yang dipilihnya yang membuatku kembali tertegun membenarkan perkataannya.
Siangnya sms dari toko buku yang memberitahu bahwa buku yang ku pesan bisa diambil menambah semangatku beraktifitas di hari ini. Setelah itu aku menuju ke mencari buruanku yang lain. Baterai c lepi. Ternyata itupun sudah ada...ah...senangnya hatiku. Semua masalahku beres. Esok hati menanti dengan seabreg kegiatan yang harus ku lakukan.
Berharap esok akan sebaik hari ini.
Wednesday, February 4, 2009
Something New
Aku masih meraba hidupku sendiri. Aku masih tak mengenal diriku sendiri. Oleh karenanya terkadang aku sering menyakiti diriku sendiri tanpa sadar aku telah melakukannya. Aku hanya bisa berharap menertawakan diriku sendiri atas kebodohan konyol yang ku lakukan sebelumnya.
Tapi terkadang ada sisi lain daridiriku yang penuh dengan kegoisan dan kesombongan yang menyebabkan aku menjadi mempunyai karakter seperti itu. Aku rasa itu cukup. Cukup aku menyakiti diriku sendiri. Cukup aku merasa kecil karena itu. Cukup aku menyombongkan diriku diatas diriku yang lainnya.
Aku hanya ingin bebas. Merasakan kebebasan, membentung diriku yang baru. Dewasa, serius tapi bisa menjadi aku dimanapun aku berada. Diterima, dicintai.
Tuesday, February 3, 2009
Help..help..help...
Sejenak melepaskan warna-warni hidup itu memang indah tapi kenapa aku malah menginginkan lebih. Tolonglah cukupkan saja sekian sehingga aku takkan bisa merasa bahwa aku ingin lagi dan lagi.
Keinginan itu bagiku adalah sebuah candu yang bukannya akan membantuku melalui masalah hidup tapi malah akan menyeretku. Aku sudah sedikit terseret ombaknya. Aku butuh pegangan. aku butuh penahan. Namun, jika penahan itu semakin jauh dari pangkalnya, maka penahan itupun akan jatuh bersamaku. Aku tak mau itu terjadi.
Andai ada 1 lagi kesempatan untuk merasakan harapna yang dulu, maka aku akan memilihnya. Namun, pilihan itu belum ada di jalanku kini. HIdup memang pilihan. Tapi pilihan itu terkadang bukan aku yang menentukan. Aku hanya bisa memilih dari beberapa pilihan yang tersedia untuk hidupku.
Andai aku bisa bermimpi seindah dulu tanpa aku harus kembali terbangun karena terjatuh. Tanpa aku harus takut untuk memimpikannya. Ternyata untuk menghayalnya saja aku takut. Mimpi indah itu bagaikan sesuatu monster yang bisa menelanku tanpa memberiki kesempatan untuk bernegosiasi.
Lalu jalan mana yang akan ku pilih di sini. Haruskah aku diam menunggu atau berlari menjauh.. Jika menunggu maka hampa menghampiri, jika belari akan ku temui hampa di tengah jalanku. Sekali lagi hanya berharap waktu akan cepat berlalu dan menyapu semuanya. Ataupun harapan paling konyol, waktu berlari kembali menuju masa lalu.