Aku duduk di sampingnya mendengar ceritanya. Sesekali aku melihat wajahnya yang familiar walaupun aku tak cukup mengenalnya. Aku mengadah ke langit berharap awan tak muncul menutup kerlip bintang sambil terus mendengar ceritanya. Sekali waktu dia menyelingi ceritanya sambil menunjuk jauh ke depan. Menunjuk salah satu lampu yang berkedip di antara sekian banyak lampu yang menghiasi malam kota di bawah sana. Pandanganku menuju ke arah yang ditunjuknya. Dari kedipan lampu hingga sesuatu yang mirip fotamorgana di siang hari. "Mungkin di kota hujan" itu katanya.
Aku kembali menatap bintang. Kali ini bukan bintang yang ku lihat. Perlahan dia keluar dari tutupan awan hitam. Ku pikir dia akan bulat sempurna ketika aku melihatnya dalam warna keemasan. Ternyata dia hanyalah bulan cembung dengan cahaya yang terlalu terang untuknya. Dia menceritakan salah satu kisahnya. Kebodohan yang dilakukannya di masanya dulu. Aku mengamati wajahnya saat bercerita. Kami tertawa dengan cerita itu. Giliranku untuk bercerita suatu cerita tentang kebodohan seseorang. Kembali kami tertawa. Tawaku lepas saat itu.
Kemudian aku kembali melihat bintang yang telah muncul. Awan telah pergi entah kemana. Hanya meninggalkan segurat tipis bagai kain gelap transparan. Termenung dia ungkapkan keletihan hatinya. Kematiannya. Dengan degub jantung yang mengeras aku mendengarkannya, menyadari bahwa aku memiliki kisah yang sama dengannya. Satu alasan yang membuatku seperti ini. Aku diam hingga dia menyelesaikan cerita itu. Begitukah yang dirasanya? Aku bertanya-tanya sendiri pada diriku. Apa yang membuatku seperti ini. Apa yang membuat aku, dia, kami begitu rapuh.
Aku menatapnya. Aku bertanya "Kamu pernah merasa sakit disini?" sambil menunjukkan letak sakitku pada tubuhnya. Tepat di jantungnya. Dia diam pertanda tak ada lagi cerita tentang itu. Entah dia mau menguburnya atau dia akan menyimpannya sendiri. Sebagai gantinya dia berkata "Langit dah mulai cerah". "Hari baru" batinku. Hari yang indah melihat langit berubah biru. Menunggu hingga dia terlihat jelas olehku.
Aku menunduk menatap air, mendengus, menertawakan diriku sehari sebelumnya. Kemudian bayanganku berteriak, "kenapa kamu tersenyum padaku? Mana tawa lepasmu?" Aku begitu terkejut. Aku melihatnya, tapi dia telah hilang entah kemana. Aku mencoba memanggilnya, dia tetap tak menjawab dan meninggalkanku sendiri. Aku tau ini akan terjadi setelah aku mengetahui hatinya. Tapi aku tetap berlari mencarinya. Berteriak hingga suaraku hilang. Sampai ketakutan itu datang menghampiriku. Kematianku dengan kesendiriannya berkata "mana tawa lepasmu?". Aku mencoba berteriak, dan kemudian aku terbangun terengah-engah. Ya, aku sadar aku kehilangan dia untuk kesekian kalinya. Perlahan aku mulai sadar aku juga kehilangan sebagian dari diriku. Tawa lepasku.
No comments:
Post a Comment