![]() |
| Stasiun Bogor Paledang By Google |
![]() |
| Peta Situ Gunung by Google |
![]() |
| Stasiun Bogor Paledang By Google |
![]() |
| Peta Situ Gunung by Google |
Aku pulang. Kembali ke kota ini berarti aku pulang. Kepadanya yang banyak menyimpan cerita, dia yang banyak bercerita tentang orang-orang yang datang, pergi ataupun tetap tinggal.
Di kota inilah sekali lagi aku belajar. Bukan hanya mengenai ilmu-ilmu pengetahuan dan hitungan-hitungan yang njlimet, tetapi juga kehidupan. Darinya aku belajar merelakan yang pergi dan menerima yang datang, darinya aku belajar menerima apa yang menjadi takdir di hidupku.
Kota ini memberikan damai. Aku tenang di sini. Hidup tidak harus selalu grusa-grusu seperti layaknya di kota-kota besar. Hidupku di sini mengalir seperti air. Selalu ada hukum alam yang berlaku.
Kota ini adalah rumah bagiku. Bukannya aku lelah berlari di kota-kota besar, hanya saja aku mudah bosan. Sejatinya rumah adalah tempat untuk kembali. Maka, aku kembali ke sini untuk pulang.
Yogyakarta.
"Abang masih memikirkan dia?" seperti kebanyakan lelaki berdarah Sumatera, dia pun aku panggil abang.
"Hm? Iya dan engga. Sudahlah. Cerita lama," katanya.
"Iya, Abang memang masih memikirkannya," pembicaraan selesai. Kami hanyut ke pikiran masing - masing.
Mobil berbelok ke satu warung bambu di pinggir jalan.
"Nyaris senja. Sayang untuk dilewatkan," katanya.
Dua buah kelapa muda menemani kami diiringi dengan ceritanya.
"Setiap bukit di sini menyimpan cerita," katanya mengawali ceritanya.
"Termasuk cerita Abang?" tanyaku.
"Dia cantik. Sama sepertimu, dia pun pernah tinggal di sini. Aku pernah tertarik padanya, dan pernah terucap pula dari mulutku akan menjaganya," kembali dia diam dan menghela nafasnya.
"Saat aku mengatakan aku tak akan meninggalkannya, dia hanya berkata dia tidak yakin padaku. Padahal kali itu aku sungguh-sungguh. Iya, aku tahu aku punya yang lain saat itu, tapi kali itu berbeda. Padanya, rasaku utuh,"
"Lanjutkan," kataku.
"Aku bertanya padanya, mungkinkah dia juga sepertiku. Jawabnya, dia hanya tak yakin dengan perasaannya padaku. Dia mencintaiku, tetapi katanya dia takkan bisa bersamaku. Entah saat itu ada firasat apa yg membuatnya berkata begitu. Dia bilang padaku tak perlu menunggunya," pandangannya jauh ke arah matahari terbenam.
"Sudahlah, ceritaku sudah berlalu. Aku tahu dia bahagia di sana. Lalu, bagaimana dengan bukit ini dan ceritamu?" tanyanya.
"Hmm.. Dia tak pernah menjanjikan apapun padaku. Hanya aku yang terlalu berharap banyak padanya," aku mulai bercerita.
"Hingga saat ini?" tanyanya.
"Aku sudah tidak senaif dahulu, Bang. Saat ini yang terpenting untukku adalah diriku, kebahagiaanku," jawabku.
"Bersamaku?" tanyanya lagi.
"Hahaha.. iya, mendengarmu bercerita di bukit ini juga merupakan kebahagianku," jawabku.
Bukit itu sekali lagi menyimpan cerita. Kali ini bahagia. Kemudian nanti atau kapan ada orang lain yang akan bercerita pada bukit itu. Bukit yang membuat orang nyaman untuk bercerita di belaian angin dan tatapan senja. Bukit yang meyimpan cerita-cerita dari kota. Bukit yang meneduhkan hati yang dilanda amarah dan dendam. Bukit yang meluaskan padangan bagi otak-otak yang berfikiran sempit. Senja yang menghilangkan lelah dan angin yang menepiskan lara.
Hari itu feedku dipenuhi banyaknya ucapan untuk ibu. Ah benar, itu adalah hari ibu. Terbesit dibenakku ingin mengucapkannya nanti setelah aku sampai di kantor. Berbahaya terlalu sering melihat hp saat berkendara.
Hari itu entah kenapa pekerjaan di kantor menumpuk. Belum selesai yang satu ada yang lain datang. Rencana makan siang terlewatkan begitu saja. Beberapa pesan dari ibu menanyakan kabar dan mengingatkan makan siang pun tak bisa aku tanggapi. Semua rencana yang awalnya ada di benak, terlupakan begitu saja. Hari itu adalah hari yang sibuk.
Malamnya beberapa kawan mengajak hang out untuk sekedar melepas penat. "Kenapa tidak?" batinku. Aku mengikuti mereka menuju tempat makan untuk memuaskan perut yang sedari siang tidak terurus dan bergossip ini dan itu.
"Eh, ini hari ibu ya? Kalian-kalian ada tradisi ngucapin ke emak-emak kalian nggak sih?" tanya salah seorang temanku.
"Gue udah ngucapin dong, ke nyokap gue sama sekalian calon mertua," timpal temanku yang lain.
Seketika itu aku teringat rencanaku tadi pagi. Perlahan aku melihat pesan yang hari ini ibuku kirim. Beliau memang rajin mengirimi aku pesan hanya sekedar menanyakan kegiatanku dan mengingatkan aku makan.
"Bentar ya, gue telp nyokap gue dulu. Jadi kepikiran," kataku sembari beranjak dari teman-temanku.
Pukul 9 lebih malam itu. Sebetulnya aku ragu ibuku belum terlelap. Beliau biasa bangun pagi dan tidur lebih cepat malam harinya. Nada sambung terdengar di ponselku. "Ah, pasti udah tidur," pikirku.
"Halo.." Suara yang sangat membuatku nyaman terdengar di ujung telepon.
"Mah, udah tidur ya?" tanyaku ragu
"Belum. Ini dimana, Dek? Belum pulang?" tanyanya.
"Belum mah, masih nongkrong sama anak-anak kantor. Mah, selamat hari ibu ya. Doa terbaik buat Mamah," kataku.
"Emang ini tanggal berapa? Mamah sih nggak penting hari ibu itu, yang penting Mamah tau kabarmu aja udah ayem" jawab ibuku.
Telepon berlanjut sekitar 10 menit. Beliau tidak suka menganggu waktuku bersama teman-temanku atau pekerjaanku. Katanya beliau sudah cukup tenang dengan hanya membaca jawaban pesanaku dan mendengarkan suaraku 5 sampai 10 menit sudah membuatnya yakin anaknya baik-baik saja di negeri orang. Sejak itu, kupikir tidak ada lagi hari ibu. Setiap hari harusnya adalah menjadi harinya. Hari dimana kita nggak boleh bikin beliau khawatir, kita mendoakan beliau untuk semua kebaikannya, kita memanjakan beliau, harusnya terjadi setiap hari. Bukan hanya tiap tanggal 22 Desember dan kemudian besoknya kita lupa.
Memang sih, terkadang ada saja pendapatku yang nggak sesuai dengan pendapatnya. Sering kali beliau juga kesal dengan segala pemikiran dan keegoisanku. Namun, kupikir terkadang beliau juga lupa bahwa caranya mungkin berbeda dengan cara kita mendapatkan kebahagiaan. Tapi yang pasti beliau ingin kita bahagia bukan.
Aku percaya tidak ada satu ibupun di dunia ini yang ingin anaknya tidak bahagia, dan tidak ada seorang anakpun di dunia ini yang ingin menyakiti ibunya. Terkadang jika keduanya tidak akur, mereka hanya lupa untuk melihat dari sisi satu sama lain, mereka terlalu fokus untuk melihat dari sisinya masing-masing.
![]() |
| by Huisvanvie |