Wednesday, May 18, 2016

Surat Untuk Jono

Hai Jono, untuk kesekian kalinya aku mengirimu kabar.

Bertanya tentang kabarmu ku rasa tak lagi perlu, karena aku tahu, aku mendengar cerita tentangmu kini. Kamu banyak kehilangan orang-orang baik di sekitarmu. Aku, tak bisa berkata apapun, karena ku rasa sekedar kata-kata tak akan cukup mengobati lukamu.

Di sisi lain, aku akan sedikit bercerita tentangku. Tentangku yang tak pernah kau dengar dari mulut siapapun. Aku tak pernah berkata dengan benar-bener jujur padamu. Ada hal lain yang aku sembunyikan darimu, sama seperti kau menyembunyikan hal lain dariku. Di sini, aku akan mengatakan itu, karena aku tahu aku tak akan bisa menghadapimu ketika kau tahu hal ini.

Aku tetaplah seorang perempuan. Aku tahu kau lebih mengerti sifatku daripada siapapun termasuk diriku. Maafkan aku atas kekuranganku itu. Aku merasa aku tak akan pernah bisa sepenuhnya masuk dalam hidupmu. Kamu memiliki duniamu sendiri, tanpa aku. Selama kita berpisah, aku tak pernah tau sedikitpun tentang kamu. Berbeda dengan mereka yang ada di duniamu. Percaya padaku, bukan aku menarik diri, aku hanya tak ada di dalam kenanganmu, dan aku merasa kamu masih hidup dalam kenangan itu. 

Aku tak bisa mengungkapkan itu karena aku berjanji aku akan selalu ada untukmu. Hanya saja aku berada di luar lingkaran itu. Aku tak bisa menjagamu dalam lingkaran itu. Aku hanya ada di kehidupanmu yang lain. Aku tak pernah bermaksud memaksamu keluar, kemudian mengoyak lingkaran itu. Mengertilah, ketidakmampuanku untuk menjagamu. Dan itu melukaiku.  

Dan aku tak kuasa mengatakan ini karena aku tak pernah mau membebanimu, seperti yang kurasa selama ini aku lakukan padamu. Bersabarlah padaku.



Yuka

Monday, February 22, 2016

Cowok Pinter VS Cewek Pinter

Ada satu hal yang aku pelajari akhir-akhir ini. Oke sebenarnya ini adalah kasus yang umum dan sepertinya mulai di-iya-kan oleh hampir semua kaum adam, "Cewek itu adalah makhluk paling ribet sedunia". Mau tau ribetnya cewek? Banyak! Banyak banget malah. Aku sebagai cewek merasa ribet juga? Hmm aku jawab, kadang iya! Ribet kan kalau mikirin aku maunya seperti apa, tapi usaha yang aku jalankan untuk menjadi seperti yang aku inginkan malah berbuah sebaliknya. Setiap cewek itu pengen terlihat sempurna, cantik apalagi di depan cowoknya. Itu salah satu yang bikin cewek itu ribet. Mereka (kadang termasuk aku sendiri) sibuk memikirkan apa yang dia ingin orang lain lihat dari dirinya.

Hasil perenungan aku beberapa hari ini menyimpulkan bahwa cewek itu suka cowok yang pinter. Pernah gak sih kita (sebagai cewek) dan kalian (sebagai cowok) tanya ke cewek, kenapa dia suka ama seorang cowok. Jawabannya, biasanya selain baik pasti ada pinternya. Entah pinter itu dalam kategori apa. 

Tapi emang bener, menurut analisis yang aku lakukan terhadap diri sendiri dan beberapa sosok cewek baik di kantor ataupun di rumah, cowok pinter itu menarik. Pinter disini bisa macem-macem. Pinter dalam artian sesungguhnya di bidang akademis misalnya, atau pinter ngibul dan pinter bikin cewek sakit hati :P (yang disebutkan terakhir hanya ada pada kasus tertentu).

Jadi nih, saran aja buat para cowok yang sedang mencari cewek, jadilah cowok yang pinter. Walaupun kalian itu cuman pinter ngibul, karena percayalah sesungguhnya cewek itu mudah di jatuhkan hatinya oleh lelaki yang pintar, pintar menjatuhkan hati wanita tentunya. 

Karena tulisanku ini, aku gak pernah bermaksud bilang bahwa cewek itu gampang di kibulin ya. Cewek juga punya kepintarannya sendiri. Pintar dandan, jadi cowoknya betah lama-lama makan malem berdua. Pinter ngerayu, jadi cowoknya gak sadar berapa banyak duit di dompetnya berpindah tangan ke si cewek, (yaps, dua kepintaran ini sayangnya ga pernah ada di diriku :P) Pinter masak, jadi cowoknya bisa ngirit selalu makan masakan si cewek. Tapi ada juga cewek yang pinter bikin cowoknya nyaman dan akhirnya sering jadi tempat curhat dan kemudian mereka pun terjebak dalam zona pertemanan saja, tapi 'gak semua. Dalam cerita pasti ada happy endingnya sendiri-sendiri, meskipun tidak semua cerita ber-ending happy.  

Well, inilah yang aku lakukan di tengah kebosanan rutinitas kantor yang itu-itu aja :P
Semoga mencerahkan :D

Lantai 3 suatu gedung yang tidak terlalu tinggi di Jakarta Selatan
Saat makan siang.

Friday, February 19, 2016

Hai Hai Apa Kabar

Hai hai apa kabar? Hampir satu tahun tidak berjumpa. Hampir satu tahun tidak memposting apa-apa di sini. Hampir satu tahun yang....yah mungkin sudah banyak yang berubah dengan aku.

Bagaimana kabarmu?
Kabarku? Ah iya, aku masih tetap ada di Jakarta dan mungkin membusuk di kota ini. Mungkin agak kejam kata-kataku. Iya memang, aku masih memandang sinis kehidupan di sini, tetapi jangan salah aku adalah salah satu makhluk yang kusinisi sendiri. Mungkin aku sudah berubah menjadi orang-orang kota yang cuek dan tak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekitarnya, dengan kata lain "yang penting gue..." lanjutkan sendiri lah kata-katanya.

Lama tak menulis
Tidak, jangan salah. Aku banyak menulis. Banyak draft yang aku hasilkan selama hampir setahun ini. Tetapi sepertinya aku sedang kehilangan separuh diriku untuk menulis. Aku seperti bukan aku. Seperti ada yang salah dengan diriku. Ah betul, mungkin bisa dibilang aku sedang berperang dengan diriku sendiri, menentukan sikap seperti apa yang akan aku ambil. Akan menjadi siapa aku nantinya dengan sikap itu. Maklumlah, usiaku sudah tidak semuda dulu dimana belum terlalu banyak pengalaman yang aku dapatkan sehingga jendela pikiranku lebih sempit dari diriku kini. Bukan berarti kali ini pengalamanku sudah banyak, ya. No. Aku yakin masih banyak hal di luar sana yang belum aku tahu dan belum aku coba, jalanku masih panjang kawan. Masih banyak bahan tulisan yang belum temukan, masih banyak kehidupan yang bisa aku jadikan bahan untuk tulisanku.

Menyimpan cerita
Aku menyimpan beberapa cerita sebenarnya. Hanya aku belum yakin aku harus menuliskan seperti apa. Tidak semua cerita itu aku alami sendiri, ada banyak cerita yang menurutku menarik untuk aku ceritakan, untuk menjadi catatan dalam hidupku. Sebagai pengingatku bahwa hidup itu tidak datar-datar saja.

Sementara.
Kali ini aku hanya sempat berbagi kabar, bukan berarti aku berhenti menulis. Sabarlah menanti. Aku hanya bisa menjanjikan aku akan menulis lagi tentunya, walaupun hanya satu huruf saja. Jadi, seperti biasa aku akan bilang, sampai nanti dan tunggulah ceritaku selanjutnya, karena aku akan terus bercerita.


Salah satu gedung yang 'enggak tinggi di Jakarta, Lantai 3, sebelum Jumatan
19 Februari 2016

Monday, April 27, 2015

Original Donutz by Me

"Bulet-bulet bolong tengahe...namanya kue donat" Masih inget dengan sepenggal lagu yang pernah dibawakan Joshua ini? Yaps kue donat.

Donat Bikinan Mamah dan Aku
Kemarin, aku iseng-iseng nyobain bikin kue yang menurut ingatan saya bikinnya lama dan bikin pegel tangan. Resep tentulah berasal dari koki paling hebat sepanjang masa, Mamah. Iseng waktu liburan long weekend awal bulan ini, aku praktek bikin kue donat di rumah. Gak tanggung-tanggung bikin lah 1 kali resep, yaitu sebanyak 1 kg tepung terigu. Hoohoho... Jujur, waktu di rumah lebih banyak Mamah yang bikin sih dari pada aku. Aku cuman bantu nguleni adonan yang berat itu. Itupun nguleninya dibantu Mamah juga hahahaha.... Gak sampai 30 menit, adonan donat pun jadi sudah. Sudah kalis, tinggal di diamkan bentar dan di bentuk bulet-bulet bolong tengahe.

Original Donutz by Me

Weekend kemarin, aku iseng bikin donatku sendiri di Jakarta. Aku buat 1/2 resep kali ini. Hasilnya? Gak kalah lah sama bikinan mamah di rumah, plus bonus tangan pegel-pegel hahaha... Tapi setidaknya aku seneng lah. Temen-temen kost yang nyobain donatnya bilang enak..hahaha (boleh lah ya berbangga hati dikiiiitttt, but thank's mamah).

So, karena kemarin banyak yang minta resepnya, ini aku kasi resep plus tips-tipsnya...hehehe (seenggaknya biar tanggannya ga terlalu pegel pas nguleni)

Walopun gedenya beda, rasa tetep sama
Bahan (untuk 1 resep) :
- Tepung terigu 1 kg (yang protein tinggi, contoh :  cakra)
- Kentang Kukus 1/2 kg ( ini kentangnya di tumbuk, tapi kemarin aku hancurin pake garpu)
- Pengembang 1 bungkus/11 gr (contoh : fermipan)
- Air 200cc (sekitar 1 gelas belimbing)
- Margarin 1 bungkus ( sekitar 200gr)
- Telor 3 butir
- Gula halus buat taburan
- Minyak untuk menggoreng

Cara membuat :
- Siapin wadah yang cukup lebar (ini berguna biar pas nguleni gak terlalu pegel tangannya)
- Campur air dan pengembang ( larutin dulu biar jadi 1)
- Masukin tepung terigu dan campuran air + pengembang. Aduk aduk sampai agak rata (pake tangan ya, donat itu tanpa mixer kawan ;) )
- Masukan telur, kentang kukus yang ditumbung  dan margarin. Biar donatnya agak gurih boleh di kasi gula halus sedikit dan garam.
- Uleni terus sampai adonan bercampur dan kalis. Cara nguleninya di aduk-aduk ya, jangan di remas-remas.
- Setelah adonan kalis, tutup wadah yang berisi adonan dengan kain basah. Tunggu 30 hingga 60 menit supaya adonan mengembang. (Pengalaman sih, gak sampai 30 menit adonan udah mengembang)
- Setelah adonan mengembang, bentuk sesuai selera dan tinggal di goreng.
- Setelah di tiriskan beri taburan gula halus, atau bisa juga di kasi topping coklat.

Dan terakhir, selamat mencoba dan berkarya ;)





Thursday, March 19, 2015

Yes, I Remember

Jakarta selalu macet saat jam pulang kantor. Aku tak pernah memahami kenapa orang-orang betah tinggal di Jakarta dengan segala kemacetan itu. Namun, sekali waktu saat pulang kerja dengan kemacetan yang luar biasa di daerah Kemang aku bisa menikmati perjalanan pulangku.

Kala itu aku memang sedikit mengeluhkan jalanan yang terlalu macet. Aku mampir sebentar untuk membeli mendoan dan mengistirahatkan tanganku yang lelah memutar gas motor biruku. Tiba-tiba aku mendengar lagu yang entah bagaimana membawa ingatanku ke suatu ketika di kota tua itu. Kilasan-kilasan kejadian yang menyenangkan tiba-tiba muncul dan membawa kenangan seperti saat itu.

Dan tiba-tiba aku merasakannya lagi. I felt in love. I don't know for sure which one I'm in love to. What I know is I love both of it. The people and the place, both of them are special for me. Aku bahagia bisa merasakannya lagi. Bukan berarti sebelumnya rasa itu telah hilang. Tidak, dia tidak hilang hanya sedikit terlupakan oleh segala aktivitas di kota ini. Saat itu aku seperti merasakan kembali atmosfer kota tua itu dengan segala aktivitasku di dalamnya. Senyumku mengembang seolah aku berada di sana. Tidak ada yang berbeda, ada dia, mereka ataupun dia yang lain. Seolah aku bisa mencium tiap detil aroma yang keluar di kota itu. Ya, mungkin aku terlalu rindu akan kenyaman yang aku buat sendiri di kota itu. Aku memang rindu, bersamanya, aku rindu untuk pulang. 

Thank's God I could still have a memory of it and I could still have the same feeling. Not everyone could feel like this.  

i remember the way you read your books,
yes i remember the way you tied your shoes,
yes i remember the cake you loved the most,
yes i remember the way you drank you coffee,
i remember the way you glanced at me, 

yes i remember when we caught a shooting star,
yes i remember when we were dancing in the rain in that december
and the way you smile at me, yes i remember


 *penggalan lagu I remember - Mocca

 

Monday, January 12, 2015

Teh Hangat Manis

Hujan hari itu serasa tidak akan pernah berhenti. Sedari pagi matahari sudah malas menampakkan sinarnya walau sebentar saja, membuat hari yang malas bertambah malas. Tak banyak yang kukerjakan di kantorku hari itu. Januari, belum banyak kegiatan yang dilaksanakan. Aku hanya membereskan dokumen-dokumen pekerjaan tahun lalu yang morat-marit di mejaku serta menyusun rencana-rencana kegiatan di tahun ini. Hal yang sebenarnya bisa dikerjakan dalam waktu singkat, jika tidak malas.

Hujan mulai turun siang itu. Dari gerimis kecil-kecil yang membasahi jendela hingga menjadi siraman-siraman air yang terbawa angin terhempas ke jendela dan dinding, menimbulkan suara yang khas. Aku sedikit melongok ke bawah. Jalanan lumayan lengang. Beberapa mobil melintas satu-satu dalam beberapa menit. Rupanya orang malas keluar di cuaca seperti ini. Kopi yang semula berasap mulai kehilangan panasnya setelah setengah jam disajikan, membuatku tak berminat lagi meminumnya.

Menjelang malam, hujan malah semakin deras. Daun pohon-pohon palem bergoyang menandakan derasnya hujan yang turun. Jalanan mulai ramai meski tidak padat seperti layaknya jam pulang kantor. Hanya mobil-mobil yang mengantre untuk berbalik arah. Jarang sekali motor yang melintas. Ah, siapa pula yang mau berbasah-basah ria menaiki motor di tengah dingin hujan. Akupun malas beranjak. Di cuaca begini aku malas harus berjalan kaki dan berbecek-becek ke terminal dan menunggu bus yang mengantarku pulang. Aku menunggu dan berharap hujan mereda hingga aku bisa pulang. Pulang, rasanya aku malas sekali pulang. Pulang berarti mengingat semua masalahku. Pulang berarti menghadapi masalah lain dalam hidup.  Di kantor, masalah-masalah tersebut seolah lenyap tertutup beragam pekerjaan dan cerita dari teman.

Malam makin gelap. Hujan tetap saja riuh, meskipun tanpa angin yang menerpa. Malam itu aku memutuskan untuk pulang, tidak nyaman juga rasanya harus pulang terlalu malam. Kali itu angkutan tidak terlalu ramai penumpang. Mungkin orang-orang lebih memilih naik taksi daripada hujan-hujanan nunggu bus yang lewat, belum lagi bonus terciprat air hujan dari kendaraan yang lewat.

Lewat pukul sembilan malam aku sampai di rumah. Pagar hitam besi telah terkunci meski belum digembok. Hujan gerimis masih saja turun meskipun tidak sederas sore tadi. Langkahku gontai menuju pintu kayu yang dibiarkan tanpa pelitur itu. Pintu tidak terkunci, berarti Ibu belum tidur. Raut lelah tak bisa ku sembunyikan dari wajahku.
“Kok malam sekali, Nduk, pulangnya,” Tanya Ibu yang kala itu telah selesai membereskan meja makan.
“Hujan Bu,” kataku sambil menutup pintu kamarku. Rasa lelah dan semua permasalahan tiba-tiba menyerang. Ingatan buruk cerita yang telah lalu masih saja membayangi. Aku merebahkan diri di kasur tanpa dipan tanpa mengganti bajuku terlebih dahulu. Tas selempang yang aku kenakan aku singkirkan di tepian kasur.
“Mandi dulu, Nduk. Itu di termos ada air panas buat mandi kamu. Tadi kamu kehujanan, tho? Cepet sana mandi biar gak sakit,” kata Ibu dari luar kamarku.

Perlahan aku melangkahkan kaki keluar dari kamarku menuju kamar mandi. Ibu masih uplek di dapur, entah menyiapkan apa. Ember sudah ada di kamar mandi. Termos air yang seharusnya ada di dapur pun telah berpindah ke kamar mandi. Ibu telah menyiapkan semuanya. Cepat-cepat aku mandi. Aku tak suka mandi malam hari. Rasa dingin akan menyerangku selepas aku mandi meskipun aku telah menggunakan air panas untuk membasuh tubuhku.  
Selesai mandi, aku dapati Ibu sedang menaruh segelas teh hangat untukku.
“Teh anget, Nduk,” katanya tersenyum.
“Nggih, Bu,” jawabku sebelum menyeruput teh yang dibuat untukku. Rasanya pas, tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin. Tidak terlalu manis yang membuat tenggorokan sakit, tidak juga hambar.

Ibu tidak beranjak dari kamarku. Mata tuanya masih memperhatikanku, seolah meyakinkan dirinya bahwa anaknya telah dewasa dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Ibu tidak pernah banyak bertanya. Namun, di matanya terbesit banyak pertanyaan yang tidak terucap. Aku merebahkan diri di kasur.
“Kamu pasti capek sekali ya, Nduk,” kata Ibu sambil duduk di tepian kasur. Tangannya perlahan membelai kepalaku.
“Enggak kok, Bu” kataku mencoba menyembunyikan masalahku.
“Oalah, Nduk. Meskipun kamu bilang begitu, Ibu juga paham. Gusti ora sare, Nduk. Semoga apa yang kamu inginkan, kamu panjatkan di setiap doamu dikabulkan. Ibu cuma pingin kamu bahagia, Nduk. Ibu mana yang nggak sakit lihat anaknya sakit, Ibu mana yang nggak bahagia kalau anaknya juga bahagia,” kata Ibu sambil tetap mengusap kepalaku.
Aku tersenyum, mencoba menghapuskan segala keresahan di wajah Ibuku.
“Iya, Bu. Aku baik-baik aja,”
“Ya sudah. Istirahat,” kata Ibu saat beranjak dari kasurku.
“Bu. Ibu tidur sini, ya malam ini. Udah lama kita nggak cerita-cerita sebelum tidur,” kataku menahan Ibu saat akan menutup pintu kamar.

Hujan beserta angin mengamuk lagi di luar, memukul-mukul jendela di rumahku. Kilat menyala disertai petir menambah suramnya malam itu. Namun, cerita yang mengalir dari ibu dan anak di kamar dua kali tiga itu mampu menghangatkan suasana. Tidak ada dingin menusuk yang kurasakan malam itu. Segelas teh hangat dari Ibu mampu menghangatkan badanku. Sepenggal cerita dari Ibu mampu menenangkan hatiku. Dan belaian dari Ibu mampu melelapkan tidurku.



                                                                                                                                Buat Mamah,


                                                                                                                         Jakarta, 10 Januari 2015

Friday, January 2, 2015

Catatan Akhir Tahun

Awal tahun 2014, aku memulai hidup yang baru, keluar dari zona nyaman, keluar dari kota  yang membuatku tenang. 2014 aku resmi pindah ke Jakarta. Akhir tahun 2014, aku bisa menapakkan kakiku ke beberapa kota di Indonesia. 

Tiap kota punya cerita. Tiap kota memberikan pengalamannya. Pertama kalinya pergi, aku ditugaskan di Lampung selama 3 bulan. Ada beberapa cerita yang tercipta di sana. Walaupun berada di tanah melayu, aku merasakan kehidupan yang hampir sama seperti di Jawa. Orang-orangnya ramah, bahasanya pun masih ramah di kupingku. Pulang dari Lampung, saya mendapat tugas keluar kota. Tidak tanggung-tanggung saya ditugaskan ke Balikpapan, kota pertama yang kudatangi di Borneo sana. 

Tidak banyak cerita selama di Balikpapan, tidak banyak kata tercipta di Balikpapan. Kali itu tenagaku seperti terkuras untuk bekerja. Kembali dari Balikpapan, aku harus melakukan perjalanan ke Bandung. Seiring berjalannya waktu, perjalanan ke Bandung seperti menjadi rutinitas selain bekerja di kantor Jakarta. Lepas dari Bandung, saya mengalami long rute trip ke Gorontalo-Bandung-Medan. Ada kain Karawo dan Milu Siram dari Gorontalo. Ada Pancake Durian dan sedikit cerita perjalanan di Medan. 

Kata orang, Balikpapan adalah kota yang tertib. Ketika kita menyeberang jalan, maka otomatis orang-orang yang berkendara akan membiarkan kita menyeberang dengan selamat, selama kita menyeberang di tempat yang benar. Sayangnya, aku sendiri belum dapat membuktikannya, karena seharian melakukan pekerjaanku. Bahkan untuk sekedar membeli oleh-oleh, kami lakukan di malam hari dimana toko-toko juga sudah tutup. Sedangkan kami harus meninggalkan Balikpapan pagi-pagi untuk kembali ke Jakarta.

Milu Siram
Lain cerita dengan Gorontalo. Di sini, aku mendapatkan oleh-oleh dari kakak temanku, lebih tepatnya aku dititipi pia Gorontalo. Pia isi coklat dengan coklat lembut yang yummi banget. Makan satu sebenarya cukup, tapi coklatnya beneran nagih minta lagi. Selain itu ada kain karawo. Sebenarnya ini bukan kain sih, kainnya bisa dari kain apa aja (termasuk kain paris yang biasa buat jilbab), tapi uniknya serat dari ini ini di lepas, untuk kemudian di rajut lagi. Ada lagi Milu Siram. Ini adalah semacam sup jagung khasnya Gorontalo. Isinya, pastinya jagung, parutan kelapa, seledri dan (harusnya) ikan. Rasanya, hmm aku kasi 8.5/10 untuk makanan luar jawa. Milu siram ini punya rasa yang sedikit manis tapi gurih, yang seingatku tidak ada di cita rasa jawa. 

Tiketnya gak dibolongin, tapi di sobek
Cerita menarik datang dari Medan. Aku sempat merasa sedikit takut saat mau mendarat di Kuala Namu, Medan. Pesawat yang kutumpangi berputar mengelilingi laut. Ada terbesit pikiran negative tentang bagaimana jika nantinya harus mendarat darurat di laut. Demi menghindari pikiran-pikiran aneh, aku mengalihkan pandanganku dari jendela dan kembali membaca novel yang kubawa. Setelah menapakkan kaki ke bumi lagi, aku bersama teman kantor langsung menuju ke stasiun bandara Kuala Namu buat menuju ke Medan. Keretenya bagus, bersih dan nyaman, kalau kata temen, mirip-mirip MRT. Ada harga ada rupa. Untuk sampai ke Medan, masing-masing dari kami harus mengeluarkan Rp80.000,00 untuk sampai ke Medan dengan lama waktu tempuh lebih kurang 1 jam.
Yummy durian's pancake

Selesai semua pekerjaanku di Medan, aku sempat berjalan-jalan mencari oleh-oleh khas Medan. Tujuan utamaku adalah pancake durian. Pancake yang rasanya Dureeeeeeennnnn sekali itu membuatku tak sabar ingin segera mencicipnya di Jakarta. Jadilah 2 pack pancake durian plus 2 pack titipan teman menambah bagasiku untuk pulang ke Jakarta. Sate Kerang titipan Mbak Kost juga menjadi tambahan bawaan dari Medan. 
Namun, ada yang mengesalkan. Setibanya di Hotel, aku sempat menitipkan pancake itu ke pihak hotel. Dan ternyata pancakenya gak dimasukkan ke dalam freezer seperti yang ku minta, padahal pancake durian tidak akan bertahan lama di luar freezer. Untungnya pancake itu telah di pack dengan menggunakan dus steroform yang membuatnya tetap dingin dan tetap yummy setibanya di Jakarta (hmm....jadi pengen lagi, kapan ya ada temen ke Medan, hohoho)

Berenang Bareng Ikan
Lepas dengan seabreg kegiatan disela-sela pekerjaan, aku juga menyempatkan diri untuk kondangan sekaligus main di Karanganyar, Jawa Tengah. Kondangannya di Karanganyar, main-mainnya di Ponggok, Klaten. Saat seorang teman menawarkan untuk bermain di Ponggok, berenang-renang dengan ikan air tawar, ku pikir Ponggok itu ada di jalan yang belum tersentuh dan tertutup gua. Ternyata Ponggok adalah sebuah pemandian umum, di pinggir jalan, yang memang menyediakan fasilitas untuk berenang-renang dengan ikan. Katanya air di Ponggok ini adalah air tanah yang keluar secara alami. Sayangnya waktu kesana, hujan turun dan membuat suasana makin dingin. Jadi aku tak bisa melanjutkan bermain-main dengan ikan-ikan ini (baca : aku sudah menggigil sebelum akhirnya kakiku kram).

Lagi Akur
Say "Cheese"
Dan, akhir dari perjalanan akhir tahunku adalah RUMAH. Ya, aku sempat pulang sebentar dan mengobrol di ruang makan bersama orang tuaku, sebelum akhirnya dirusuhi oleh dua sepupu kecilku. Sepupuku yang jadi bahan kesibukan Mamah di rumah dan jadi hiburan Bapak kalau pulang kerja. Dua bocah cilik yang nggemesin dan kadang bikin kesel karena keingintahuan mereka, tapi juga bikin kangen dengan suara cempreng khas mereka.