Monday, April 1, 2013

Oh, Please

I don't know what happend to me. I don't know what a damn thing in my head which makes me want to cry in a train on my way to Jogja. I'm so excite back home, back to my normal life, normal activities, my commond people. But right now, I want somebody hugs me and tell me that everthing will be fine. I will be ok.

Monday, March 18, 2013

Surat Untuk Jono


Jono sayang, apa kabar? Aku baik adanya di sini. Walaupun tidak sebaik seperti saat ada dirimu. 

Jono sayang, sedikit-sedikit aku mulai mencari tahu tentang dirimu, tentang jiwamu dan juga tentang dirinya yang sering kau sebut-sebut saat kita bersama. Terkadang aku iri pada dirinya. Kau selalu menyebutnya berkali-kali. Dia begini dan dia begitu. Yah, karena saat itu hanya ada aku. Tak mungkin kau bercerita tentangku pada diriku sendiri kan? Jadi sekarang setelah kita tidak lagi bersama, apakah kau masih menceritakan tentang dia pada teman dekatmu kini, atau malah kau menceritakan tentang aku?


Jono sayang, tanpa ku sadari kini aku mulai merindukanmu. Aku kangen sekali dengan semua ceritamu, semua rencana masa depanmu, semua masalahmu dan apapun itu yang berasal darimu. Walaupun banyak hal yang tak kusepakati darimu aku toh tetap mendengarkanmu dan menikmati setiap detil ceritamu. Saat dia bilang dia menyukaimu misalnya. Kau mendengarnya langsung dari bibirnya. Saat itu kamu ragu. Aku tahu itu karena aku melihat ada keraguan di wajahmu. Tapi kamu menikmatinya. Jujurlah pada dirimu, Sayang. Kau tak akan bisa selamanya menahan perasaan itu. Kemungkinannya hanya ada dua, perasaan itu mati atau meledak. 

Jono sahabatku, jangan pernah salahkan dia akan perasaannya. Kamu memang tahu perasaannya, tapi kamu tak tahu sedalam apa perasaannya padamu. Jangan pernah kamu menganggap kamu bisa mengukurnya dari apa yang terlihat padanya. Aku takut suatu saat kesoktauanmu itu akan menjadi bumerang untukmu. Wanita itu bisa menahan sakit hati lebih dari pada pria. Dia lebih kuat dari pada kamu. Percayalah padaku, aku mengenal baik dirinya dan aku juga tahu tentangmu.

Jono, apabila aku bilang aku sayang kamu apa yang akan kamu lakukan? Melihat setiap sosial media yang kumiliki kah? Lalu akankah kau akan memakannya mentah-mentah dan bilang aku terlalu hiperbolis, terlalu terburu-buru, terlalu expresif, terlalu frontal? Aku harap tidak. Banyak hal yang tak kau ketahui tentangku. Apa yang aku tulis belum tentu semuanya menggambarkan tentangku. Mungkin hanya lonjakan emosi sesaat. Mungkin juga karena aku tertarik dan mulai melamun dan akhirnya aku mendongengkan lamunanku dalam sebuah blog pribadi. Kau tahu, kau tak akan pernah tahu apakah aku berbohong padamu dan aku juga tak pernah tahu apakah yang kau ceritakan padaku benar adanya. Yang kita bisa lakukan adalah percaya satu sama lain tanpa ada jaminan apapun. 

Kalau diteruskan, mungkin ceritaku akan lebih panjang lagi dan entah kapan berakhir. Aku akan terus mengabarimu sesempatku.


Salam manis,


Yuka



Ps. Salam juga untuk teman-teman di sampingmu.

Sunday, March 17, 2013

When Women Become Lovers

Tiba-tiba aku teringat akan quote dari 2 temanku yang lagi dilanda asmara. Biasanya mereka bakal cerita baik secara sengaja ataupun engga sama orang terdekatnya tentang seseorang yang berhasil mencuri hatinya. Hal ini sering terjadi jika si korban adalah wanita. Yang aku maksud sebagai si korban adalah orang yang hatinya tercuri dan si pencuri itu yang akan selalu ada dalam cerita si wanita. 

Quote dari temen deketku adalah "Si A itu adalah cinta pertama gue, sedang Si B adalah cinta sejati gue." Walaupun kenyataannya kini Si B tidak berhasil menjadi cinta sejatinya. Ini adalah kata-kata yang diucapakan temen dekatku lebih dari 5 tahun yang lalu. Saat itu setiap kali kami mengobrol pasti ada percakapan tentang si B. Si B beginilah, Si B begitulah dan aku hampir mati bosan mendengar ceritanya tentang si B ini. Tambahan lagi saat seorang wanita sedang jatuh cinta biasanya dia tidak bisa melihat kekurangan dari si lelaki, atau kalaupun bisa dia menampik dan memaklumi kekurangan itu. 

Temanku yang lain memiliki quote yang berbeda. "Kenapa sih, tiap sudut kota ini mengingatkanku padanya." 'Nya' yang dia maksud di sini tentulah pacarnya. Padahal dia lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku untuk menjelajah kota ini dari pada dengan pacarnya. Aku sering berjalan-jalan sekedar lebih mengenali gang-gang kecil dan mencari tempat makan berdua bersama temanku ini. Tapi, karena sebelumnya dia berjalan-jalan bersama kekasihnya di kota ini jadilah dia mendeklarasikan bahwa tiap sudut kota ini akan mengingatkannya pada pacarnya itu.

Aku bukannya sirik, aku pun melakukan hal yang sama. Aku menyadari kekurangan orang yang ku suka, tapi aku memakluminya (kali ini hanya untuk diriku sendiri). Aku pun akan bercerita (lebih sering tanpa sadar) tentang dirinya tanpa diminta, dan mengulangi cerita yang sama hingga orang lain akan bosan mendengarnya. Aku akan mengingat tiap sudut yang aku datangi bersamanya dan mengenang apa saja yang kami lakukan di sana bahkan hingga kata-kata apa saja yang terucap dari mulutnya. 

Sedang quote dari aku adalah "Aku bahagia bisa mengenalnya, karna aku bahagia maka aku bersyukur atas tiap detik yang kuhabiskan bersamanya." Dan quote dari kamu?

Tuesday, March 5, 2013

Untuk Teman yang Kehilangan

Aku pernah merasa kehilangan yang sangat dalam. Saat aku kelas 2 SMA, aku kehilangan orang yang sangat aku sayang. Orang yang selalu melindungiku, orang yang selalu percaya padaku dan orang yang selalu berkata iya saat orang lain di sekelilingku berkata tidak. 

Saat beliau pergi aku limbung, aku goyah. Aku tak tahu lagi kemana lagi aku harus melangkah. Aku tak tahu lagi siapa yang akan mempercayaiku, siapa yang akan berdiri di sisiku saat semua orang menyalahkanku. Saat itu aku tidak sanggup lagi untuk menangis.

Sekarang, setelah aku lebih dewasa aku merasa beliau selalu ada di sisiku. Sebagian dari dirinya hidup di diriku. Segala nasihatnya dan kepercayaannya menumbuhkan kepercayaan diriku. Terkadang aku rindu padanya, rindu pada dongengnya sebelum aku tidur, rindu pada guyonannya, rindu pelukan hangatnya. Daripada mengenang kepergiannya aku memilih untuk percaya pada nasihatnya dan percaya beliau akan bahagia melihatku. 

Kawan, jangan nangis lagi ya. Aku tahu kamu rindu, tapi carilah dirinya pada dirimu. Setidaknya itu caraku untuk mengurangi kerinduanku pada orang yang tak lagi bisa kutemui.

Dia

Ada kata-kata bijak seperti  "manut critane tresno iku jalarane soko kulino. Biso gawe tentreming ati yen tresno iku biso mligi nyawiji mring siji ati," yang lebih kurangnya berarti bahwa suka itu datang karena biasa. Suka itu bisa membuat hati tentram jika ditujukan hanya untuk satu hati. Aku tidak sedang mencoba untuk berpuitis dengan meng-copy kata-kata di atas, aku hanya mencoba untuk menjalani apa yang aku rasakan dan menujukannya hanya pada satu hati. 

Ada yang beranggapan bahwa bahagia itu gak ribet.  Aku setuju dengan itu. Buatku bahagia adalah jika kita bersyukur, dan aku sangat bersyukur bahkan sekedar untuk mengenalnya. Benar juga saat bahagiaku adalah saat-saat bersamanya, duduk bersamanya dan bercerita dari A sampai Z dan kembali lagi ke A. 

Aku belajar sesuatu yang lain darinya. Mungkin karena aku suka padanya, maka aku akan mendengarkannya. Aku hanya mendengarkan beberapa lagu yang mengingatkanku pada saat-saat bersamanya.

Aku percaya bahwa orang-orang yang hadir di sekitar kita memiliki makna sendiri dalam hidup kita. Dia yang ini mungkin membuatku lebih dewasa dan kembali pada kodratku sebagai wanita, dia yang lain mungkin juga membuatku lebih sabar dan menikmati tiap perjalanan hidup yang aku tempuh. Dia yang di sana mungkin pernah mengajariku tentang bagaimana aku harus menjadi pendengar yang baik dan membuka wawasanku. 

Hidup akan terus berjalan. Seberapa banyak dia yang akan kutemui juga aku tak tahu. Yang aku yakin mereka akan memberikan warna dalam hidupku, karna untukku pada dasarnya hidup itu untuk belajar menjadi lebih baik lagi.

Tuesday, February 19, 2013

The Graduation

Hari ini saya resmi menjadi salah satu alumni dari salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Hari ini juga saya resmi mendapat tambahan huruf S dan T di belakang nama saya. Bangga? Mungkin ada sedikit rasa bangga. Tetapi menurut saya sendiri wisuda adalah pengesahan anda menjadi pengangguran kalau emang belom dapet pekerjaan seperti saya sekarang. Tapi di sini saya gak bakal bahas masalah pengangguran di Indonesia, cukuplah tadi sambutan dari pak rektor yang membahas panjang dan lebar mengenai pengangguran. 


Jadi, hari saya mendapat kejutan lain. Kejutan dari teman-teman kost saya. Cerita berawal dari saat saya pulang dari hotel ke kost. Saat sampai di depan pntu saya hanya sempat melihat ada kata "engineer" dan saat itu saya berfikir ada yang mencari seorang engineer, yang berarti peluang kerja buat saya. Setelah saya lihat...ternyata itu adalah ucapan selamat datang untuk saya dari teman-teman kost. 



Kemudian saya juga mengira akan ada surat-surat lain bertebaran di pintu kamar saya, dan viola inilah dia. Ternyata sudah ada kertas lipat warna warni dari mereka untuk saya. Sekali lagi terima kasih teman-teman.  





Belum bermaksud untuk merusaknya, saya teringat motor saya yang masih di luar dengan mesin menyala. Saat bermaksud masukin motor ke garasi depan saya melihat kertas putih yang tertempel pada jendela kamar saya. Kebetulan jendela kamar saya adalah satu-satunya jendela kamar yang langsung menghadap ke jalan. Walaupun sudah saya lepas dari jendela kamar (malu juga ketauan ma orang-orang lewat  nama si pemilik kamar paling depan yang suka nyanyi-nyanyi dengan suara ala kadarnya), tetapi ini adalah kertas yang "pernah" tertempel di jendela kamar saya yang menghadap ke jalan. 


Setelah motor aman dalam kandangnya, saya menuju kamar saya yang berada di sebelah kandang motor saya. Ternyata bukan saja di pintu kamar, tetapi di dinding ruang tamu yang berada di depan kamar saya ada beberapa tulisan tentang si empunya kamar yang notabene sudah sarjana (huhuhu...saya mengingatkan diri bahwa saya masih pengangguran)





Selain itu ada hal lain yang sebenarnya cukup menggoda sebelum sampai ke tulisan-tulisan warna warni di pintu kamar saya. Saya sebut itu sebagai daftar request mereka.

Request memang bisa macam-macam, termasuk aa' burjo nan imut (walaupun rada lola dan lama kalo masak) dan sembako + pita cantik. Khusus pita, sepertinya itu bisa di akali dengan tali rafia, kebetulan saya ada tali rafia warna pink (lol). Untuk yang lain-lainnya ada juga makanan wajar seperti es teh dan gorengan burjo tapi ada juga yang maruk minta salad buah + iga bakar + lumpia boom, padahal setahu saya yang request tiga hal ini sekaligus punya badan yang paling kecil. Yah biasanya yang paling kecil itu yang makannya banyak.

Hal terakhir yang saya lakukan sebelom masuk ke kamar saya dan menuliskan semua ini adalah membaca doa dari teman-teman kost. Ada satu ucapan yang menurut saya paling misterius. Ucapan ini entah mengapa agak tergulung dan di letakan di paling atas sebelah kiri. Saya harus jinjit-jinjit untuk membaca ucapan ini. Misteriusnya lagi ucapan ini di tulis di atas kertas berwarna ungu gelap dengan tinta yang tidak kalah gelapnya. 




Terima kasih teman-teman untuk segala pertemanan, kejuatan, cerita dan apapun itu yang terbagi di atap Niera kost khususnya bagian Selatan. Terima kasih, terima kasih dan terima kasih.

Wednesday, February 13, 2013

Januari

Sudah hampir 2 minggu Januari berlalu. Namun untukku Januari ini adalah Januari akhir, awal dan mungkin Januari yang paling beda dari Januari-Januari yang pernah aku lewati.

Januari ini, aku lulus. Akhir masa kuliahku, tapi bukan akhir dari proses pembelajaranku. Aku lulus hanyalah salah satu "hadiah" yang Tuhan berikan untukku.

Di akhir Januari, dia datang dengan sebuah kue ulang tahun dan beberapa lilin di atasnya. Surprise yang menyenangkan dari orang yang juga menyenangkan. Entahlah, saat itu aku bersyukur karena ada dia ada di sana. Mungkin penabuh genderangku terlalu bersemangat hingga terkadang aku letih menahannya. Ada lonjakan rasa seolah aku ingin memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Tapi aku masih bisa menahan diri.

Ah Januari telah lewat. Bagaimanapun aku memohon agar hari berhenti di saat itu tetap saja hari berganti, waktu berlalu. Walaupun masih suka tersenyum sendiri mengingatnya tetapi hidupku harus berjalan dengan atau tanpa dirinya. Cepat atau lambat aku mungkin akan meninggalkannya di kota ini.

Tuhan terima kasih, setidaknya dia pernah singgah dan membahagiakan diriku dengan atau tanpa disadarinya. Dan untukmu, mungkin kamu telah menumbuhkan rasa yang lain di sini. Berjanjilah takan pernah berubah.