Wednesday, December 1, 2010

Antara Moralitas, Hukum, Agama dan Kesehatan

Gw baca sesuatu yang menarik sore ini tentang pendekatan hukum dan agama yang malah memojokkan pendekatan kesehatan. Sebut aja ini adalah masalah menyebaran virus HIV/AIDS.

Gak perlu dipungkiri bahwa di negara kita kata-kata 'tabu' itu masih berlaku. Masih banyak orang yang menganggap hal-hal tertentu kek sex itu gak pantes buat dibicarakan. Padahal, justru pengetahuan tentang sex itu penting buat kesehatan dan keamanan dalam melakukan hubungan seksual.

Sama halnya kek pendekatan kesehatan masyarakat yang menganjurkan penggunaan kondom dalam melakukan hubungan sex yang tidak aman. Hal ini terkadang disalah artikan oleh orang2 yang terlalu (kalau boleh gw bilang) sok suci, halusnya orang2 yang terlalu mendewakan pendekatan hukum dan agama dalam penanggulangan HIV/AIDS. Mereka menganggap kampanye penggunaan kondom sama artinya dengan membiarkan sex bebas, atau membiarkan norma hukum, agama dan moral ternodai. Padahal kampanye ini hanya sebagai salah satu cara untuk menjaga kesehatan. Bukankah kesehatan itu merupakan salah satu hak manusia, terlepas dirinya menodai norma apapun.

Seperti pengakuan temen gw, cowok itu lebih 'nakal' daripada cewek. Kalau cowok selingkuh itu adalah hal yang sangat wajar. Nyatanya, 20% dari para pria dewasa melakukan sex diluar hubungan pernikahan. Kenapa sih, kita gak coba menerima hal itu? Pendekatan agama dan hukum emang penting, tapi kenapa mesti menganaktirikan pendekatan kesehatan?

Logikanya gini. Anggaplah kita semua "melek" dan menerima bahwa 20% cowok dewasa melakukan hubungan sex diluar nikah. Anggap sebagian dari mereka melakukan hubungan sex itu dengan PSK, tanpa pengaman. Lalu, si cowok itu tertular HIV. Kemudian si cowok yang udah tertular HIV itu melakukan hubungan sex lagi sama PSK yang lain, lagi-lagi tanpa kondom. Trus, si PSK yang seharusnya bersih dari virus HIV kemudian tertular HIV. Misalnya aja si laki-laki ini menikah, punya istri. Maka tertularlah virus ini ke si istri. Kemudian si Istri hamil. Tertular juga janin di kandungan istrinya. Jadi, jangan buru-buru salahkan PSK atas persebaran HIV/AIDS.

Tulisan gw ini bukan bermaksud kampanye penggunaan kondom. Gw bukan sales kondom. Apa yang yang gw tulis ini sebernya sebagai bentuk keprihatinan gw melihat pendekatan kesehatan yang dianaktirikan. Masalah orang mau melakukan hubungan sex di luar nikah, itu adalah pilihan masing-masing orangnya. Pendekatan agama dan hukum memang penting, tapi kenapa mesti dipertentangkan dengan pendekatan kesehatan masyarakat?


Sumber : Kompas, 1 Desember 2010 "Segitiga Pengaman Cegah HIV/AIDS"

No comments: