Teman, apa kabarmu di sana? Masih ingatkah kamu tentang laut biru dan semburat fajar yang menyambut kedatangan kita hampir setiap Minggu pagi? Dengan sepeda tua yang kini terlantar di garasi kita pernah bermimpi menaklukan kota kecil itu. Dengan celana lusuh dan topi seadanya kita tertawa dan menikmati belaian angin pagi.
Teman, apa kabarmu di sana? Ingatkah kamu akan mimpi-mimpi kita setelah beranjak dewasa. Ingatkah kamu kita pernah menertawakan orang dewasa yang melakukan suatu kebodahan. Dan ketika kita dewasa, kita melakukan kebodohan itu. Kebodohan yang sama yang pernah kita tertawakan dulu.
Teman, apa kabarmu di sana? Ingatkah kamu, kamu pernah menceritakan semua masalahmu padaku. Kamu tak menangis, aku tak pernah melihatmu menangis. aku hanya melihatmu menumpahkan segala kekesalanmu. Dan aku diam.
Ingatkah kamu akupun melakukan hal yang sama. Aku tak menangis, kau tak pernah melihatku menangis. Kau hanya melihatku menumpahkan segala kekesalanku. Dan kamu diam.
Teman, masihkah kau seperti dulu? Aku ingin kembali seperti dulu. Menantang dunia dengan mimpi-mimpi yang jauh lebih matang. Dengan rencana-rencana sempurna untuk diraih.
Teman, masihkah kau seperti dulu? Kau akan selalu mendengarku walau kau jenuh dengan semua ceritaku. Kau akan mencari sesuatu yang lucu yang tak kusadari dari kisahku dan kita tertawa bersama. Kamu akan mengertiku ketika aku bilang aku tersakiti.
Teman, aku hanya ingin katakan aku merindukan masa-masa itu. Terlebih aku merindukan menghabiskan waktu bersamamu.
No comments:
Post a Comment