Tuesday, January 8, 2013

Unpredictable Moment



Saya memang orang cilacap, tetapi ketika ditanya, "katanya nusakambangan itu bagus ya? Ada pantai pasir putihnya." saya hanya akan tersenyum dan menjawab "kebetulan saya belum pernah ke nusakambangan."

Karena malu selalu ditanya seperti itu, yang akan dilanjutkan dengan komentar "wah, orang cilacap kok belum pernah ke nusakambangan" jadilah saya punya cita-cita kapan kapan saya ingin ke nusakambangan.

Cita-cita itu sempat saya lupakan setelah peristiwa tsunami yang menghantam bagian selatan nusakambangan, dan status nusakambangan yang masih menjadi rebutan antara kementrian hukum dan ham serta dinas pariwisata. Ditambah lagi mama pernah berkata susah untuk masuk ke nusakambangan sekarang, karena harus ada ijin dan harus memiliki saudara di sana, padahal tak ada satupun saudara saya tinggal di daratan seberang Cilacap yang wilayahnya masih masuk kabupaten Cilacap itu.

Namun,kesempan itu selalu datang di saat yang tak terduga.  Tanggal 27 November yang lalu saya secara tidak direncanakan akhirnya datang ke sana bersama sahabat saya. Cerita bermula dari rasa kangen kami berdua terhadap makanan-makanan yang sering kami makan saat SMA dulu. Dimuali dari mi ayam depan SMA saya dulu dan berakhir di pantai teluk penyu hanya untuk mencari mendoan hangat yang pasti akan nikmat jika dimakan di pinggir pantai. Seingat saya dulu memang ada yang menjual mendoan di pinggir pantai. 

Kami tidak mendapatkan satupun penjual mendoan di pinggir pantai. Kami hanya mendapati serombongan orang yang mau naik kapal menuju ke nusakambangan. Saya berkata pada sahabat saya itu "Kok kayaknya enak ya ke nusakambangan. Kamu mau?" Awalnya kami sempat bingung dengan biaya sewa kapal. Siapa tahu mahal. Saya pernah dengar untuk sewa perahu harus membayar seharga 50 ribu. Akhirnya kami memberanikan diri untuk bertanya pada seorang bapak yang sepertinya mengkoordinir perahu yang akan menuju ke nusakambangan. Kami agak sedikit terkejut karena harga perorang untuk sampai ke nusakambangan hanya 15 ribu. Kami pun langsung menyetujui, padahal kalau saya pikir-pikir lagi sebenarnya masih bisa ditawar. 

Sekitar 15 menit kami berada di perahu. Perahu yang digunakan hanya perahu kecil dengan mesin diesel sebagai penggeraknya. Satu perahu terdiri dari 10 orang, kami berdua ditambah dengan rombongan keluarga dari daerah sokaraja. Kami duduk paling belakang. 



Hanya sebentar kami di nusakambangan. Kami hanya sempat masuk, membayar tiket seharga 5ribu per orang dan berjalan kira-kira 2 km dengan medan yang lumayan naik turun. Kami berdua sepakat mengikuti rombongan keluarga tadi, karena pulangnya pun kami harus bersama mereka. Kami tidak bisa lama-lama di nusakambangan karena batas waktu yang sudah ditentukan yaitu pukul 17.30 kami sudah harus kembali. Saat itu sudah menunjukan pukul 16.30, jadi kami hanya punya waktu 1 jam untuk menikmati pemandangan di nusakambangan yang katanya bagus. Lima belas menit berjalan, akhirnya sampailah kami ke tempat pertama. Saya lupa nama pantainya. Apabila naik ke atas sedikit lagi maka akan terlihat benteng yang konon merupakan terusan dari benteng pendem di dekat pantai teluk penyu. Karena batasan tenaga dan lebih lagi waktu, kami memutuskan untuk kembali ke pantai pertama sambil menunggu rombongan keluarga sokaraja tadi turun. Selain masalah waktu dan tenaga kami berdua merasa seram berada di beteng bekas jaman penjajahan Belanda dulu. 

Akhirnya rombongan keluarga Sokaraja turun dan menuju ke tempat perhentian kapal. Kami berdua mengikuti dari belakang. Mereka sempat menanyakan tentang diri kami, dan mungkin merasa sedikit heran bahwa kami adalah dua sahabat dari SD yang berbeda SMP, SMA dan tempat kuliah tetapi masih bisa sangat dekat. Sahabat saya memang kuliah di Depok sedang saya di Jogja. 

Sampai di tempat perhentian kapal, ternyata kapal  kami belum menjemput. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 17.15. Kami menunggu agak lama di sana. Hari sudah semakin gelap. Saat itu saya ingat untuk telepon ke rumah memberi tahu bahwa saya masih di nusakambangan. Saya tidak memberitahu orang rumah karena memang ini tidak direncanakan. Saya hanya berpamitan pergi bersama sahabat saya dan berjanji pulang sebelum maghrib. Saat itu sinyal di nusakambangan agak susah, jadi saya baru bisa memberitahu mama saat pulang dari nusakambangan.

Langit sudah terlalu gelap saat kami di jemput kapal yang sama seperti kapal yang membawa kami ke nusakambangan. Kami hanya bisa melihat lampu-lampu kapal sebagai titik-titik kecil yang indah. Waktu telah menunjukan pukul 17.45 ketika kami sampai di teluk penyu lagi. Kami segera membayar sewa perahu dan pulang. 











No comments: