Aku masih ragu pada yang ku lakukan saat ini. Aku tau aku takkan pernah berhasil untuk jujur pada diriku sendiri, walaupun semua hal tersebut telah aku ketahui. Aku hanya tak mau mengakui bahwa aku memang membutuhkan orang lain untuk membuka ruang kosong itu. Terlebih lagi aku tak mau mengakui bahwa hanya ada satu yang bisa membuatnya terbuka.
Aku bahkan tak bisa menjawab satu pertanyaan dari hatiku sendiri, kenapa aku membiarkan ruang itu kosong selama ini. Harusnya ruang itu telah terisi. Beberapa sudah berusaha memasukinya. Namun, kenyataannya ruang itu tetap dibiarkan kosong. Aku tak tau mengapa aku belum bisa membuka ruang itu.
Andai saja aku bisa meminta kunci yang selama ini dipegangnya. Andai aku mampu bicara kembali padanya. Andai aku masih punya sedikit tenaga untuk menemuinya. Memikirkannya saja menguras habis semua energi dalam tubuhku. Buat aku lemas tak berdaya.
Seluruhnya hampir rumtuh dalam tubuhku. Hanya ruang itu saja yang masih tetap kokoh berdiri, namun terluka terkunci dan kosong. Bilakah sang pemilik akan kembali dan membuka ruang tersebut. Ruang yang selama ini membuatku tertatih menahan lukanya. Ruangan yang sebenarnya ingin aku rubuhkan karena lukanya.
Aku berhayal bila ruangan itu terbuka, aku pasti akan bisa membangun seluruh ruangan lagi untuk membuatnya lebih baik. Aku bahkan berkhayal andai saja ada orang yang bisa membantuku untuk membuka ruangan itu dan membangun ruangan lainnya.
No comments:
Post a Comment